REVIEW: Psycopat Diary – Vasca Vannisa

Judul:Psycopat Diary
Penulis:Vasca Vannisa
Penerbit:Fatamorgana Publisher
Tahun Terbit:Mei 2014 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 58.000
Jumlah halaman:322 hal
ISBN: 978-602-97292-5-2

*

Blurb:

Seorang aktor yang baru menerima penghargaan pemeran pria terbaik, menghilang misterius di malam pembunuhan istrinya. Dia ditetapkan sebagai buronan hingga seorang intel berhasil menyibak rahasia di lembar-lembar naskah yang ditemukan di lokasi kejadian.

Naskah film yang dilakoni sang aktor diusut. Kecurigaan mengarah pada seorang pengusaha club malam, seorang Disc Jockey, mantan artis yang frustasi, hingga penulis skenario film tersebut.

Pembunuhan-pembunuhan baru terus bermunculan tanpa bisa dihentikan. Hingga sebuah aib masa kecil sang psikopat berhasil membuatnya melepas satu per satu topengnya.

Apa sesungguhnya motif sang pelaku di balik semua pembunuhan sadisnya?

Perjalanan ke kota masa lalu sang psikopat mengantarkan dua orang intel pada kejutan-kejutan yang sulit diterima logika. Seorang di antara mereka masuk terlalu dalam pada luka-luka masa lalu sang psikopat.

Akankah dia bisa keluar dari pergolakan batin dan menemukan pelaku yang sesungguhnya? Atau akan berakhir mengenaskan seperti korban-korban lainnya?

*

Review:

Sebenarnya udah ngincer buku ini semenjak terbit awal bulan Mei lalu. Kemudian, mendadak Om @achmadx datang dan nawarin beliin buku yang gue mau, maka jadilah kami ke toko buku dan akhirnya gue memilih buku ini (btw, dese senior gue, bukan om-om yang aneh-aneh #halah).

Kemudian, dalam tiga hari gue berhasil melahapnya hingga tamat. Sebenarnya nggak butuh waktu lama buat gue kalau jenisnya thriller. Thriller selalu berhasil membuat gue penasaran dan pengin menyelesaikan ceritanya cepat-cepat, pengin tahu siapa pelaku sebenarnya dan siapa saja korban-korban yang akan berjatuhan hingga ending cerita.

1. First impression

Ketika pertama kali memegang novel ini, nggak ada gambaran ceritanya akan seperti apa. Tapi dari blurbnya, gue bisa menduga bahwa tokohnya akan banyak sekali –sama seperti novel pertama Kak Vasca yang Don’t Tell Me Anything. Kalau dari covernya, sih, sebenarnya udah lumayan menarik dan seenggaknya cocok dengan isi bukunya. Ini penting, cover sebisa mungkin ya harus sesuai sama isi buku. Kenyataan bahwa hal ini seringkali ‘dilanggar’ beberapa pihak, membuat gue suka keki sama buku-buku yang covernya nggak sesuai sama isinya. Tapi, ketimbang Psycopat Diary, gue masih lebih suka cover novel Paranoid dulu :p

2. How did you experience the book?

Pada awalnya agak bingung, apalagi ketika karakter Alesa Kasandra bolak-balik berganti dengan Norma –anak yang katanya mirip dengan dia. Tapi menjelang bab 3 gue mulai melihat titik terang dan akhirnya menemukan arah menuju benang merah dan inti ceritanya. Walau memang, tokoh yang ikut andil di dalamnya sangat banyak dan kadang membingungkan ketika mengingat masing-masing nama mereka. Tapi nggak masalah, ketika di kasus Stella Haris, tokohnya juga kelewat banyak, toh akhirnya gue ngerti.

3. Characters

Ada lumayan banyak karakter di sini, berikut penjabarannya (dan gue sertakan foto-foto artis yang gue bayangkan memerankan tokoh tersebut ketika membaca novelnya. Hihi)

Alesa Kasandra: gadis yang hidupnya tertekan semenjak kecil, karena orangtuanya kerap mengistimewakan adiknya ketimbang dia. Hidup seperti berkonspirasi untuk menjatuhkan Alesa, bahkan di sekolah tidak ada yang berteman dengannya kecuali Rendi –seorang anak lelaki yang merasa berhutang budi pada Ale.

Trust me, nggak ada yang lebih jago memerankan Alesa selain Shareefa Daanish yang melegenda lewat Rumah Dara itu :p

Arumi: gadis manis berwajah blasteran dengan kulit seputih pualam. Anak ini kebiasaan dimanja dan kebiasaan melihat kakaknya ditindas di rumah sendiri, kelamaan jadi ikut-ikutan menindas Alesa dan besar kepala –mentang-mentang dia lebih disayang.

Gara-gara nama perannya Arumi, gue ngebayanginnya beneran Arumi Bachsin.

Zifa: intel dari kepolisian divisi kasus pembunuhan yang bertahun-tahun kemudian ditugaskan mengusut sebuah kasus pembunuhan aktor terkenal. Kasus ini kemudian menyeretnya pada beberapa orang asing yang sebenarnya telah dihubungkan si dalang pada satu benang merah.

Beda dengan karakter Rossa di Don’t Tell Me Anything yang menurut gue lebih kuat dan cocoknya sama muka Sausan, karakter Zifa agak rapuh dan cocoknya sama muka Nadine.

Reynal: Partner Zifa dalam timnya. Reynal adalah mantan pacar Zifa yang meminta komandan memindahkannya ke bagian pembunuhan agar bisa kerja bersama dengan Zifa (sebelumnya dia di divisi narkoba). Reynal ini termasuk tipe cowok yang menyenangkan di awal-awal cerita, sama seperti Verdi di novel Don’t Tell Me Anything. Tapi jujur, kelamaan gue jijik dan muak sendiri sama Reynal –terlebih ketika dia gampang kemakan jebakan Marisa –adik Zifa yang selalu ingin lebih unggul dari kakaknya. Reynal ini merasa dirinya lebih daripada Verdi, ternyata cuma lebih menjengkelkan aja.

Gue sih membayangkan Reynal kayak gini :)) Entah siapa nama dese. Kalau ada yang gak kenal, coba lebih sering lagi nonton sinema Indosiar #KaburNaikElang

Fardan: Aktor yang baru saja menerima penghargaan pemeran pria terbaik. Ia menghilang di malam pembunuhan istrinya.

Fahira: istri Fardan, wanita cantik nan soleha tapi malangnya nyawanya harus berakhir di tangan suaminya sendiri –akibat rekayasa kejadian yang dikerjakan oleh si psikopat.

Bramantyo: seorang psikiater tempat Fardan biasa berkunjung dan bercerita. Bram dinyatakan hilang tak lama setelah Fardan menghilang. Parahnya, Bram nggak hilang di Jakarta, tapi di Medan.

Sonia: seorang mantan artis yang pensiun dari karirnya setelah dinikahi Bram. Ia juga kabarnya sempat dirawat di rumah sakit jiwa karena mentalnya terganggu. Ia ditinggalkan Bram karena tidak bisa memberikan keturunan, hingga Sonia depresi dan ingin segera lepas dari masalah pencarian Bram, ingin segera kembali kepada dunia lamanya.

Ini Yana Zein, pemain sinetron senior yang biasa jadi tokoh antagonis itu. Udah cocok jadi Sonia? :)) Dari segi umur yang matang dan penampilan yang masih cantik seperti Sonia, gue kira sih cocok ya 😀

DJ Karen/Yellow Karen: Seorang Female Disc Jockey yang menjadi simpanan Bram di medan. Mereka berkenalan di salah satu club malam tempat Bram biasa berkunjung dan di mana Karen baru saja bekerja. Karena tidak disukai gadis-gadis striptis di club tersebut.

Diana Pungky as Yellow Karen, how?

Ayunda: Seorang gadis striptis yang dibodohi Bram; dibuat hamil kemudian ditinggal pergi ketika ia kepincut pada Karen. Ayunda dan teman-temannya membenci Karen karena menganggap DJ baru ini merebut Bram.

Elen Unsula: Biasa dipanggil Madam Elen. Ia adalah pemilik club tempat Bram biasa berkunjung. Selama tiga bulan menghilang dari Jakarta, Bram ternyata berada di Medan dan sering main ke club milik Elen. Di sana kisah cintanya dengan Ayunda dan Karen dimulai, di kota itu juga ia akhirnya dinyatakan hilang.

Imelda: penulis skrip dari film yang dibintangi Fardan. Ia pertama kali dicurigai karena semua tulisannya terkesan seperti kisah nyata. Hampir tidak ada yang salah dan meleset, semuanya persis seperti kejadian yang sebenarnya –kecelakaan Fahira, setiap gerak-gerik Fardan hingga menghilangnya, datangnya Zifa dan Reynal ke mess DJ Karen, dll. Tapi kemudian diketahui bahwa Melda hanya boneka sang psikopat dan malah sebenarnya nggak tahu apa-apa.

Ini juga efek nama perannya,, gue jadi ngebayangin Imelda Therine 😐 Tapi kebetulan banget, Imelda yang ini juga terbiasa main film thriller :))

Rendi: dulunya mantan teman sekelas Alesa di sekolah. Alesa pernah menyelamatkan harga diri Rendi ketika dicemooh guru matematika dan teman-teman sekelas mereka, ini membuatnya merasa punya hutang budi yang besar pada Alesa dan siap membantu Alesa kapanpun.

Aleksander dan Anissa: orangtua angkat Alesa yang baru saja kehilangan anaknya. Norma, anak mereka meninggal dan wajahnya mirip sekali dengan Alesa. Atas bantuan seorang psikiater, mereka mendapatkan Alesa dan mentransfer ingatan mengenai Norma ke dalam alam pikirannya. Membuat Alesa sempat hidup bersama mereka beberapa lama dan merasa bahwa dirinya memang Norma yang asli.

Profesor Stevanus: Psikiater terkenal yang sudah eksis di semua novel Kak Vasca :p Kalau pernah baca Don’t Tell Me Anything, beliau adalah psikiater yang merawat Stella Haris sang psikopat. Dia juga yang merawat Gabby di novel Paranoid dibantu Dokter Daniel. Namanya memang selalu disebut-sebut, dan dia cukup sukses serta punya banyak harta. Rumah istananya di Jakarta hanya ditempat Chiya –anak perempuannya, bersama pembantu. Stevanis sering muncul dan menghilang begitu saja, karena terlilit banyak kasus pasien.

Chiya: Putri tunggal Stevanus yang senang dandan gothic, selain itu Chiya termasuk tipe orang yang cuek dan songong –hampir tidak peduli pada apapun yang terjadi di sekitarnya, dan paling benci pada sosok penjilat.

Membayangkan Chiya seperti Leylarey Lesesne. Di foto-foto google tampilannya terlalu ceria. Padahal di beberapa film agak dark.

4. Plot

Plotnya menarik, tapi menurut gue proses plottingnya mungkin masih kurang maksimal. Sebenarnya bisa lebih rapi dan terstruktur scene demi scenenya. Di novel ini, pada pergantian scene kadang tidak ada jeda. Jadi seolah kita masih berada di adegan sebelumnya, padahal sudah masuk ke adegan baru dengan penampilan tokoh yang lain 🙂 Kemudian juga, timing ceritanya terkesan terburu-buru ketika terjadi perpindahan tempat atau waktu. Semuanya dinarasikan begitu singkat dan cepat, sedangkan dialog para tokoh bisa sangat panjang. Kurang balance aja rasanya. Dan juga beberapa kebetulan yang terkesan dipaksakan. Seolah semuanya serba kebetulan. Memang, sih, kebetulan itu ada. Tapi ketika Bram tiba di Medan dan kebetulan pula sang psikopat sedang di sana, bahkan sangat dekat dengan club dan gadis-gadis yang mengelilingi Bramantyo. Gue merasa itu kebetulannya bentrok. Kebetulan dalam fiksi terkadang harus masuk akal ketika diandaikan terjadi dalam dunia nyata. Entah, ya, ini menurut gue aja 😦 Serta EYD/typo/penempatan tanda baca masih sedikit berantakan 🙂

5. POV

PoV 3

6. Main Idea/Theme

Tentang seorang gadis yang begitu tertekan di masa kecilnya, hingga ketika dewasa akhirnya menjadi psikopat pelaku pembunuhan berantai.

7. Quotes

Jika orang-orang beragama itu yakin bahwa ajaran agama mereka benar, maka biarkanlah orang lain memilih karena merasa jalan itu benar. Bukan karena diancam atau ditakut-takuti. Terlebih oleh ormas-ormas yang merasa mereka pembela agama. Mereka harus tahu, Tuhan tidak meminta dibela. – Hal. 83

Tapi kami perempuan, sudah berusia dua ribu tahun sebelum dilahirkan. Kami menganggap banyak hal seperti perasaan sebagai momen spiritual, dendam tiba-tiba menjadi sangat penting bagi beberapa orang.– Zifa to Reynal, hal. 99

Mungkin sebagian orang merasa penderitaan terberat adalah dipisahkan oleh kematian dengan orang-orang yang sangat mereka sayangi. Tapi bagi beberapa orang, penderitaan terbesar adalah mengetahui saat-saat dia akan disingkirkan dari kehidupan orang yang dia cintai untuk selama-lamanya oleh kehadiran seseorang yang baru. Mengetahui pengabdian dan penyerahan diri seutuhnya tak menjamin seorang kekasih akan terus bersama kita. Ada keterbatasan dari setiap manusia walaupun sejauh apa dia berusaha melakukan segalanya agar dicintai.– hal. 101

Karena kami akui kami tidak pintar dan kurang jiwa seni, orang pintar bekerja di laboratorium. Yang berjiwa seni menjadi aktris dan menciptakan lagu, kelebihan kami adalah punya keberanian dan keinginan untuk disegani dan ditakuti orang banyak, karena itu kami jadi polisi. Reynal to Sonia, hal. 105

Hanya saja, kata-kata fantasi, imajinasi, yang diucapkan pada momen yang salah, rasanya menghina seorang penulis. Percayalah, tokoh-tokoh itu tidak nyata, mereka juga bukan fantasi, karena mereka benar-benar hidup dalam pikiran kami dan hidup dalam pikiran para pembaca yang menghayati.– Imelda, to Reynal & Zifa, hal. 112

Apa yang tidak dari hati akan jadi debu seiring berjalannya waktu. Tak ada laki-laki yang bisa setia dengan perempuan yang tidak dicintainya dari awal.– DJ Karen to Reynal & Zifa, hal. 129

Cinta, aku mencintai setiap laki-laki yang memberikanku perhatian lebih, tapi cinta yang lebih dewasa, yang bisa lenyap ketika mereka melanggar komitmen kesetiaan.– DJ Karen.

Saat pertama di mana dia menyadari bahwa keramahan seseorang adalah sesuatu yang harus diwaspadai.– Hal. 133.

Dia tahu setiap tawa akan menipis seiring waktu, setiap cinta akan berkurang, seiring bertambahnya usia bahkan pada pasangan yang tidak memiliki masalah serius. Cinta akan berganti sayang, sayang akan berganti penghormatan, penghormatan hanya akan menyisakan tanggungjawab danr rasa kasihan. – Hal. 150

Kejahatan-kejahatan dan keanehan biasanya terjadi di strata kehidupan kelas atas, tapi sama banyaknya juga terjadi di dunia kriminal kelas atas dan kelas tengah, tak terkecuali para pembunuh. – hal. 277

Hanya sikap psikopat yang bisa mengerti hati psikopat lainnya. Mereka punya keterikatan lebih dalam dari manusia-manusia umum.– hal. 311

8. Ending

Sebenarnya menjelang ending cukup memuaskan, tapi gue nggak ngerti sama endingnya :p

9. Questions

Apa maksudnya Marisa bukanlah Marisa? Apa setelah Marisa meninggal, sang psikopat yang dibawa ke rumah Zifa untuk menggantikannya? Apa wajah keduanya sebegitu mirip? Padahal bukan saudara kandung, tapi bisa-bisanya di akhir cerita, seluruh keluarga Zifa tampak menerimanya sebagai anak sendiri.

10. Benefits

Kalau boleh jujur, benefits kali ini singkat saja.

  • Karena kasus pembunuhan ini lebih kelam dan sadis ketimbang kasus Stella Haris beberapa waktu lalu, dan berhubung juga banyak istilah kimia di dalam novel ini, maka gue sekalian belajar aja :p
  • Dan gue baru tahu Valium bisa dipakai untuk obat tidur. Sempat googling kemudian tahu bahwa obat ini bisa jadi adiksi dan nggak dijual di apotek pasaran –harus dengan resep dokter, itu juga pake ditanya-tanyain segala.
  • Salut sama penjabaran ceritanya. Ada banyak konflik tapi semuanya selesai dengan baik.
  • 3/5 bintang untuk Psycopat Diary. Menantikan novel Vasca Vannisa berikutnya! 🙂
Advertisements

13 thoughts on “REVIEW: Psycopat Diary – Vasca Vannisa

  1. mungkin si psycopath operasi pelastik, sesuai dengan dugaan raynal yang nuduh dia itu melakukan operasi plastik. *cuma mengahayal loh gw*
    sumpah awalnya gw lumayan suka sama character reynal tapi mulai dari dia ketemuan sama chiya gw udah mulai biasa aja, trus pas dia nyium imelda gw udah mulai dongkol sama dia….

  2. Pingback: Book-admirer and Friends #2: Petronela Putri | Book-admirer

  3. ya ampun makasih ya buat reviewnya.. sumpah, pertama kali aku liat cover bukunya udah nelen ludah duluan /nyeremin/ tapi liat review ini lebih lanjut buat aku penasaran XD dan aku izini simpan beberapa quotesnya ya ^^ terimakasih telah berbagi~

  4. Hmmm,aku awalnya juga suka ama reynal,tapi lama-kelamaan jadi jijik ‘n benci banget
    bahkan aku sebenarnya pengen kematian marisa ‘n reynal itu lebih ditekankan pada rasa sakit mereka bukan kematian mereka….
    Sumpah,waktu bayangin perasaan zifa,aku langsung nangis…
    ‘n utk akhirnya kyknya ya emng operasi plastik deh

  5. Hmmm,aku awalnya juga suka ama reynal,tapi lama-kelamaan jadi jijik ‘n benci banget
    bahkan aku sebenarnya pengen kematian marisa ‘n reynal itu lebih ditekankan pada rasa sakit mereka bukan kematian mereka….
    Karna menurutku,apa yang marisa ‘n reynal rasain tuh,kurang equivalent….
    Sumpah,waktu bayangin perasaan zifa,aku langsung nangis…
    ‘n utk akhirnya kyknya ya emng operasi plastik deh
    ,
    nb: pengen nyari novelnya kak vasca yang lain

  6. Pagi kak, boleh saya menawarkan naskah thriller saya yang sudah diterbitkan? Judulnya Helfen Sie Mir.

    Berikut keterangannya:

    Judul: Helfen Sie Mir!
    Author: Ami &Natsun
    Penerbit: Lovrinz

    Sinopsis:

    Sebuah dering telepon berbunyi dari ponselmu…

    Apakah kamu merasa takut dan tertahan dalam kecemasan seakan ada tali tambang yang mencekik lehermu hingga sulit bernapas?

    Jika iya, ikuti kisahku…

    Sebuah awal baru dari pintu kegelapan yang terbuka lebar, membawamu bersamaku untuk mengenalku lebih dalam.
    Jangan pernah ragu untuk mengenalku, karena kita sebetulnya sama. Sama-sama takut akan sesuatu yang membelenggu diri seperti hangatnya api unggun. Seolah candu yang merasuk dalam aliran darah dan jiwamu. Membuatmu terus dibayangi akan bayangan yang setiap jam, menit, detik, menghantui lalu ingin mengurungmu.

    Bayangan yang akan membuatmu hancur dan kesepian seperti belenggu didalam menara yang terhuni oleh makhluk-makhluk menyeramkan dan mengerikan sepanjang hidupmu.
    Bisakah kau menjalaninya? Atau kau lebih memilih untuk mengakhiri hidupmu selamanya dan kalah dengan ‘mereka’ yang terus memilihmu untuk di ganggu?

    Jika berminat mereview saya akan mengirimkan buku gratis dan contoh buku via whatsapp.

    Jika memang berminat, bisa Sms atau kontak di ‭+62 822 43375226‬ (Ami)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s