REVIEW: Buku yang Kau Benci – #AntologiBenci

Judul: Buku yang Kau Benci (Kumpulan Cerpen)
Penulis: #AntologiBenci
Penerbit: Nulisbuku.com
Tahun Terbit: 2013 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 39.000
Jumlah halaman: 189 hal.
ISBN:
Status: buntelan dari @siputriwidi untuk direview

*

Blurb:

Rasa hati manusia yang layak untuk dituliskan, pada hakikatnya, tak melulu cinta dan bahagia.

Sebelum Anda membaca, kami hendak memberi peringatan: buku ini mungkin akan Anda benci.

Buku ini bukan buku yang menawarkan cinta dan bahagia. Buku ini bukan pula buku dongeng, yang menawarkan cinta romantis dan happy ending bertebaran.

Kami, para penulis, adalah kesatria. Pedang kami adalah tinta. Senjata kami adalah aksara. Dan dengan apa yang kami miliki, kami tawarkan sebuah pengakuan: jujur saja, kami membenci. Kadang dengan darah, kadang dengan air mata.

We are human, after all.

*

Review:

Dapat buku ini dari @siputriwidi dan berjanji untuk review –entah dari zaman kapan. Baru sempat baca beberapa hari lalu, dan akhirnya menyelesaikannya dengan baik. Sempat dengar tentang project #AntologiBenci ini dulunya, cuma nggak begitu ngeh, dan sekarang bisa dapat kesempatan untuk membacanya. Eh, sebelum review, terima kasih buat @siputriwidi yang udah repot-repot memesankan buku ini langsung dari Surabaya. Fufufu~

1. First impression

Gue suka hitam kelamnya. Kalau mau dicocokkan sama judul: Buku yang Kau Benci, ya nuansa hitam buku ini bisa dibilang cocok banget. Nggak ada aura cinta sama sekali. Namanya juga benci, ya adanya aura kelam dan gelap. Tapi Kurang suka font yang digunakan untuk menuliskan judul di cover depannya. Ribet kayak gulungan badai. Malah gue harus memicingkan mata untuk membaca judulnya bener-bener. Terus sketsa seorang kesatria berpedang itu keren juga –cuma di mata gue agak sedikit seram aja.

2. How did you experience the book?

Buku ini nggak bisa dibilang ringan juga, tapi juga bukan sastra berat. Di beberapa cerpen, gue membaca pelan-pelan supaya dapat inti cerita yang ingin disampaikan. Sementara di beberapa puisi, gue mencerna diksinya perlahan-lahan untuk bisa memahami apa yang dimaksud para penulisnya. Sungguh, ini memang bukan ceritera-ceritera yang kelewat ringan. Buku ini mengajak kita berpikir ketika membacanya. Tapi percaya juga, nggak sampai bikin otak keriting, kok! Hehe.

3. Main Idea/Theme

Sesuai judulnya: Buku yang Kau Benci, project #AntologiBenci mengusung tema benci yang diungkapkan tanpa menuliskan kata ‘benci’ itu sendiri. Ada berapa kata yang bisa kalian ungkapkan untuk melukiskan benci? Mungkin laknat, jahanam, brengsek, kampret, sialan, marah, sebal, kesal, dan lain sebagainya. Mereka –para kesatria tinta yang berkolaborasi dalam buku ini, mempunyai lebih banyak istilah lain yang akan membuatmu berdecak kagum.

4. Review Singkat Tulisan

Nggak akan gue tuliskan semuanya, ya. Kebetulan, isinya cukup banyak untuk direview satu per satu. Berikut ini adalah gabungan cerpen dan puisi yang menurut gue cukup menarik untuk dibaca. Bukan berarti yang lain nggak bagus, tapi penilaian gue adalah selera gue. Kalian harus membacanya sendiri kalau pengin tahu lebih lanjut. Kalau kebanyakan spoiler, nggak enak sama penggagas dan para penulisnya :p

  • Prolog dan epilog: gue suka puisi pembuka dan penutup buku ini, diksinya bagus 🙂
  • Bintang Jatuh (Winona Rianur): Ceritanya ketebak. Buat yang jarang baca/menulis cerita dengan twist seperti ini, akan merasa asing dengan gaya endingnya. Tapi beberapa kali gue pernah baca cerita dengan ending yang cukup mengejutkan, bahkan menuliskan ending yang mengejutkan juga –dulu, waktu masih rajin buat cerpen :p Tapi, ada tapinya! Cerita ini jadi weird di salah satu dialog halaman 26 yang bunyinya, “kami bertemu di sebuah restoran di kota. Aku mengenalinya sebagai ibumi, tapi ia ternyata tak mengenaliku sama sekali..” <— kenapa gue bilang weird? Karena sebelumnya diceritakan, memang kekasihnya si tokoh nggak pernah sama sekali bertemu sang Ibu. Malah si tokoh baru mau membawa kekasihnya bertemu ibunya. Jadi kalimat yang gue bold di atas itu membuat semuanya berantakan. Yah iyalah si Ibu nggak kenal, ketemu aja belum. Lain cerita kalau memang kekasihnya yang nggak mengenali si Ibu, itu bisa masuk akal –karena kekasihnya pernah melihat foto Ibu sebelumnya. (rate: 2/5)
  • Aku Rasa (Yuswinardi): Ini puisi, sih. Tapi gue suka bagian ini –> sebab puisi semakin palsu serupa hantu di malam-malam kelabu. Ya, kau debu-debu dan bisu batu-batu.. Aku rasa; lebih baik kuhancurkan hidup dan berlibur abadi. (rate: 3/5)
  • ASAMBHAVAGITA (Anatagita Mithuna): Ini juga puisi, tapi gue suka pemilihan katanya. Uwohh dan gue suka judulnyaa. Dan terlebih, endingnya yang langsung jleb mengatakan: DASAR LAKNAT! (rate: 4/5)
  • Hingga Malam Seterang Siang (Mawar Hijati): makna cerita ini simpel saja, ketika seorang wanita mencintai seorang pria, maka dia akan bertahan dengan apa yang menjadi pilihannya –nggak akan ke mana-mana, sebagaimana pun sifat pria tersebut. Dalam hal ini, tokoh utama bernama Bulan yang tetap sayang sama pacarnya yang super cuek, Bimasakti. Padahal, ada cowok lain bernama Langit yang berkeras pengin mendapatkan hati Bulan. Langit bahkan terang-terangan bilang, dia lebih baik dari Bima. Tapi Bulan nggak pernah mau, maka sampai kiamat pun, Langit tetap nggak bisa mendapatkan hatinya. (rate: 3/5)
  • Doa-doa (Uni Dzalika): Barangkali puisi ini menceritakan kekesalan malaikat Tuhan yang kerap melihat dan mendengar keluhan-keluhan manusia. Penulisnya mengambil tiga sudut pandang manusia yang berbeda latar belakang, pekerjaan, status, dan segala-galanya; namun berujung pada satu hal, keluhan. Dari yang paling sengsara sampai yang paling mapan, selalu mengeluhkan masalah hidupnya dan memohon agar Tuhan mengambil nyawa mereka. Di sini, malaikat sepertinya kesal, kemudian berkata bahwa ucapan-ucapan tersebut adalah doa. Hikmahnya, sih, kadang kita harus mikir dulu sebelum asal bicara 🙂 kalau doanya minta mati, hati-hati nanti dikabulkan. (rate: 4/5)
  • Surga di bawah Telapak Kaki Ibu (Nina Noichil): kalau yang ini gue suka endingnya, sih. Ceritanya tentang seorang anak lelaki yang ibunya pelacur dan dari kecil nggak pernah merawatnya. Yang setia membesarkannya adalah suami si Ibu –yang dipanggilnya ayah, walau bukan ayah kandungnya. Walau si Ayah juga tidak tahu, anak ini hasil hubungan istrinya dengan laki-laki yang mana, saking banyaknya pelanggan si Ibu semasa muda. Anak ini tumbuh bersama dendam membara, kesal karena tidak pernah mendapat perhatian ibunya dan kerap diejek sebagai anak pelacur di sekolah. Satu-satunya pertahanannya adalah sang ayah. Tapi semuanya runtuh ketika si ayah akhirnya meninggal karena sakit-sakitan, menganggung kerisauan atas ulah ibunya. Endingnya yang thriller menurut gue cukup bikin merinding. (rate: 4/5)
  • Wayang Orang (Dini N. Ehom): tentang seorang wanita muda yang menganggap hidupnya bagaikan wayang orang, tapi yang jleb di ending adalah ketika ia memasuki sebuah ruangan yang bertuliskan: Dalang dan Wayang Dilarang! serta kalimat penutup cerpennya sendiri: Di sinilah aku bertahta. Menjadi ratu, melakukan apa yang kumau. Menjelma Tuhan, bila perlu. (rate: 3/5)
  • Guna-guna (Jusmalia Oktaviani): Sebenarnya judulnya sudah cukup menarik. Ceritanya juga dibangun dengan baik dan bikin gue cukup penasaran sama kelanjutannya. Apa si tokoh akan mengikuti saran sahabatnya untuk memberi guna-guna pada suaminya? Tapi ternyata endingnya biasa saja. Terlalu biasa. Nggak ada lagi yang greget buat gue di ending. Dia urung melakukannya begitu saja karena takut melihat kondisi sahabatnya yang akhirnya terkena karma akibat perbuatan sendiri lalu menjadi gila. Ending kisah sahabatnya memang lumayan, tapi ending si tokoh utama sendiri malah kaku. Gue kira bakal ada perang pelet antar dukun gitu antara dia dan mantan cewek yang jadi selingkuhan si suami. Kayak yang pernah gue lihat di film Takut (Face of Fear), lupa sub judul film pendeknya, tapi di sana malah twistnya bagus. Sepasang kekasih yang saling dendam ternyata membayar dukun yang sama untuk saling menghabisi nyawa masing-masing. Di sini, semuanya datar dan terlalu biasa. Sorry to say, tapi sejujurnya gue mengharapkan gebrakan yang lebih. (rate: 2/5)
  • Bagaimana Membunuh Manusia? (Dimas Manggala): tulisannya pendek, singkat, padat, dan keren! Tidak perlu kutipan, silakan baca sendiri :p (rate: 5/5)
  • Dasar C*** (Putri Widi Saraswati): tentang seorang gadis tionghoa bernama Saras, dan pergolakan batinnya dengan masalah-masalah antara pribumi-tionghoa yang terjadi di negara ini. Ketika membaca cerpen ini, sekilas gue teringat kisah 1998 dulu. Di mana kaum etnis tionghoa disiksa, dianiaya, diperkosa, bahkan dibunuh. Saras berkata, ada alasan mengapa ayahnya meminta dipanggil ‘ayah’ bukan ‘papi’, dan mengapa sang adik memanggilnya ‘kakak’ bukan ‘cici’ seperti umumnya keluarga-keluarga tionghoa lain. Ini pandangan seorang gadis tionghoa, dengan cara yang berbeda. Bacalah. (Rate: 4/5)

5. Quotes

Banyak orang mencari kehidupan dan tanpa sadar menghancurkan sumber kehidupan itu sendiri. – Hal. 36

Semua wanita pasti inginnya begitu. Pergi untuk dikejar kembali.

Sendirian, putus asa. Seolah kau tinggal bersama miliaran orang di planet yang luas ini, tapi tak satu pun yang melihatmi. Dan kau memangil, memohon, tapi mereka tetap tak melihatmu. Kau menyentuh, tapi tanganmu menembus tubuh mereka. – Hal. 78

6. Kesimpulan

Overall, 3/5 bintang untuk Buku yang Kau Benci dan para penulis serta penggagas #AntologiBenci

Menunggu karya-karya hebat kalian yang berikutnya! 🙂

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW: Buku yang Kau Benci – #AntologiBenci

  1. Hey lalaendut!
    Aku juga peminat buku sama dengan Anda. Apakah Anda punya koleksi buku elektronik (e-book)? Jaran bisa dapat buku dalam bahasa Indonesia online (yg bahasa inggris atau bahasa lain juga bagus!). Aku bersama teman2 membuat situs untuk kumpulkan dan bagikan berkas ( http://www.kumpulbagi.com ). Di situs ini Anda bisa membagikan dengan mudah semuanya tanpa upaya dengan registrasi dan pemberantasan ukuran dan waktu terhapus . Tidak ada pengguna premium. Semuanya gratis… Kalau Anda mau aku mohon untuk membuat koleksi buku elektronik Anda hanya butuh beberapa waktu untuk bagikan sastra yang baik dengan lainya
    Cek koleksi saya dan coba caranya http://kumpulbagi.com/Edoo/buku-sekolah-inggris-1312/list,1,1 !
    Salam
    Edo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s