REVIEW: [Novelet] Dua Saudara – Jhumpa Lahiri

Judul: Dua Saudara [versi asli: Brotherly Love]
Penulis: Jhumpa Lahiri
Penerbit: Buku Katta
Tahun Terbit: Maret 2014 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 15.000,-
Jumlah halaman: 68 hal.
ISBN: 978-979-10-3275-9
Status: beli dari promo bukukatta, jadi member BBI dapet harga khusus plus bonus 1 buku.
Bisa dibeli di:http://bukukatta.blogspot.com

*

Blurb:

Sejak kecil Subhash selalu berhati-hati. Ibunya tak pernah harus berlari mengejarnya. Dia menjadi sahabat sang ibu, melihatnya memasak atau menjahit.

Berbeda dengan Subhash, Udayan sejak kecil sering menghilang, bahkan di dalam rumah berkamar dua tempat mereka tinggal. Dia bersembunyi di bawah tempat tidur, di belakang pintu, bahkan di dalam peti kayu yang berisi selimut musim dingin. Dia juga menyelinap ke halaman belakang dan memanjat pohon. Ini membuat ibu mereka terpaksa menghentikan apa yang sedang dikerjakannya ketika Udayan tak menyahut saat namanya dipanggil.

Ketika mereka sudah agak besar dan diijinkan bermain jauh dari rumah, keduanya diingatkan untuk selalu bersama-ama. Berdua mereka menjelajahi jalan pedesaan yang berliku-liku, melintasi lembah menuju lapangan bermain, tempat mereka sesekali bertemu dengan anak-anak lainnya. Mereka pergi ke mesjid di pojokan, duduk di lantai marmernya yang dingin, mendengar pertandingan sepak bola dari radio orang.

Namun orang-orang sering keliru membedakan keduanya. Karena tubuh mereka hampir mirip hingga bisa memakai baju yang sama. Warna kulit keduanya pun sama, campuran warna tembaga terang turunan dari orangtua mereka. Begitu pula dengan bentuk jari, roman wajah yang tajam, dan rambut keriting berombak.

Namun kelak nasib keduanya ternyata begitu bertolak belakang.

*

Review:

Novelet ini termasuk dalam paket sastra terjemahan yang dipromoin bukukatta beberapa waktu lalu, masih sepaket sama bukunya Alice Munro yang kemarin sempat gue review. Dua saudara diterjemahkan dari cerita berjudul Brotherly Love yang terbit tahun 2013 dan Jhumpa Lahiri sendiri adalah pemenang penghargaan Pulitzer untuk kategori fiksi tahun 2000 atas karya debutnya yang berjudul Interpreter of Maladies. Kerennya lagi, di usia 47 tahun, Jhumpa Lahiri ini masih kelihatan muda. Sempat ngintip ‘tentang penulis’ di bagian belakang, dan kalo nggak ngeh beliau lahir tahun 1967, gue pasti udah menebak bahwa umurnya 25 😐

Brotherly Love atau Dua Saudara menceritakan tentang dua orang saudara lelaki yang hidup di tengah pergolakan politik India sekitar tahun 1940-an sampai 1970-an. Kala itu masih eksis yang namanya tuduh-menuduh komunis dan lingkungan sekitar sangat tidak aman. Subhash dan Udayan hidup di tanah kecil daerah Calcutta bersama kedua orangtua mereka. Sedari kecil, Udayan lebih berani daripada Subhash, dan juga lebih bandel.

Ketika besar, mereka lulus dari sekolah menengah dengan nilai yang sama-sama memuaskan. Berbeda dengan Udayan yang tetap memilih tinggal di India, Subhash memilih melanjutkan kuliahnya di Amerika. Berbekal beasiswa yang diraihnya, lelaki muda ini berangkat ke Rhode Island. Selama sekian tahun, Udayan mengiriminya surat, mengatakan meski ia kecewa dengan keputusan Subhash, ia tetap akan menantikan kakaknya pulang.

Hingga suatu hari, datang surat dari Udayan yang mengirimkan sebuah foto wanita bernama Gauri. Udayan menuliskan dalam suratnya, bahwa Gauri adalah wanita yang dinikahinya diam-diam dan tidak begitu disukai kedua orangtua mereka. Subhash sempat memikirkan untuk tinggal lebih lama di Amerika, namun sebuah telegram dari India mengubah seluruh niatnya.

Udayan meninggal. Dibunuh.

*

1. First impression

Nggak ada kesan berarti ketika pertama kali gue megang buku ini. Covernya nggak terlalu nendang, biasa aja. Tapi memang warnanya lebih adem aja daripada cover buku versi aslinya. Tapi satu hal yang menarik adalah ketika mengintip bagian ‘tentang penulis’-nya. Jhumpa Lahiri ternyata cantik, hahaha.

2. How did you experience the book?

Walau pun ceritanya memang agak berat dikit, tapi gue cukup paham sih dari awal. Ini novelet tentang pergolakan politik tahun 1940an hingga beberapa puluh tahun setelahnya.

3. Characters

Subhash: anak pertama dalam keluarganya. Semenjak kecil termasuk tipe anak penurut dan nggak pernah harus diuber-uber ibunya karena menghilang.

Udayan: adik Subhash, tapi berbanding terbalik dengan kakaknya. Udayan nakal semenjak kecil, tapi sangat care pada sang kakak. Ia begitu menyayangi kakaknya, hingga agak kecewa ketika Subhash menutuskan kuliah di Amerika.

Ma dan Baba: kedua orangtua mereka. Ma –yang entah kenapa, tapi makin ke belakang makin kelihatan, lebih menyayangi Udayan. Meski memang ketika kecil, Udayan nakal dan harus dicari ke mana-mana kalo lagi ngumpet, tapi setelah mereka dewasa, kelihatannya Ma lebih menyayangi Udayan. Pada Subhash ia hanya berharap dan terus berharap ini itu, tapi cuek ketika Subhash kembali ke rumah.

Gauri: wanita muda yang dinikahi Udayan diam-diam tanpa sepengetahuan kakaknya dan keluarga Gauri, hingga kemudian Gauri diusir dari rumah pamannya dan akhirnya menetap di rumah keluarga Udayan. Buat gue, ceritanya jadi lebih hidup ketika Gauri sudah masuk ke dalam bab-bab pertengahan hingga ending. Gauri sendiri termasuk tipe cewek pendiam dan nggak banyak bicara, terlebih ketika ia sadar kehadirannya tidak diinginkan Ma.

4. Plot

Alurnya maju dan stabil, sedangkan plotnyaa~ ng, lumayan menarik. Tema yang diangkat dalam novelet ini juga bagus.

5. POV

POV 3

6. Main Idea/Theme

Tentang kehidupan dua orang saudara yang beda pemikiran di zaman 1940-an sampai 1970-an. Subhash lebih senang berkonsentrasi dengan kuliah dan pendidikannya. Sedangkan adiknya, Udayan, sibuk meneriakkan revolusi di tengah situasi politik yang kacau waktu itu. Entah kenapa juga, Udayan bergabung dengan persatuan tertentu dan meledakkan tempat-tempat umum. Hingga akhirnya suatu hari ia dijemput pihak polisi *duh* *ngomongin polisi India, jadi inget inspektur Vijay, yang selalu datang ketika penjahatnya udah ketangkep*

7. Quotes

Udayan telah mengorbankan hidupnya untuk pergerakan yang salah jalan, yang telah membongkar apa yang telah ada, dan hanya menyebabkan kehancuran. Satu-satunya yang Udayan ubah adalah apa yang terjadi di keluarga mereka.– hal.60

8. Ending

Endingnya lumayan jleb :p

9. Questions

10. Benefits

Benefits baca novel ini, lumayan nambah pengetahuan tentang situasi politik pada zaman itu. Yang tadinya nggak tahu, eh sekarang jadi tahu :p Apalagi gue selama ini hampir nggak pernah baca buku yang settingnya India dan sekitarnya.

*

Overall, 4/5 bintang untuk Dua Saudara dan Jhumpa Lahiri. Setidaknya, untuk buku ini, terjemahannya masih mudah dimengerti dan nggak segengges terjemahan The Bear Came Over The Mountain-nya Alice Munro.

 

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW: [Novelet] Dua Saudara – Jhumpa Lahiri

  1. Wah, reviewnya menarik nih, padat dan jelas. Kakak ngena banget reviewnya, updatenya berkala pula, dedikasi tinggi nih pasti.
    kalau kakak ada waktu, aku bikin proyek webserial
    alamat sitenya; http://www.kludia.com
    kontak medsos; @angryludian
    aku sih ga berharap dibuatkan review, tapi paling ga, kakak mau nyoba baca webserial tadi, anggap saja kakak menyumbang masukan, kontribusi untuk perkembangan literasi Nusantara.
    Terimakasih kakak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s