REVIEW: Bellamore – Karla M. Nashar

Judul: Bellamore (A Beautiful Love To Remember)
Penulis: Karla M. Nashar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Maret 2010 (Cetakan Kelima)
Harga: Rp. 42.000,-
Jumlah halaman: 264 hal.
ISBN: 978-979-22-2974-5
Status: dapet waktu iseng tukeran novel sama tante @rheinfathia 🙂

*

Blurb:

“But what do you do if you get horny?”

Demi Zeus dan para dewa Yunani lainnya!!! What is it with this man?!!

Pria di hadapanku ini, yang kukenal belum sebulan, bukan pacarku, bukan sahabatku, tidak juga punya hubungan darah apa pun denganku, hanya rekan bisnis, tapi ingin tahu apa yang kulakukan jika libidoku sedang naik?!?!?!

He’s got to be kidding me!!!

Awalnya nama Fabian Ferdinandi bagiku sama artinya dengan kejengkelan tak berujung. Pria Italia itu sangat tahu bagaimana membuat seluruh sarafku menegang cepat dan membuat setiap percakapan kami berakhir dengan kemarahan di pihakku. Namun yang paling menyebalkan adalah, Fabian sangat tahu bagaimana membuatku tampak seperti alien karena di usiaku yang sudah 27 tahun ini, aku memutuskan untuk tetap mempertahankan virginity-ku. Sesuatu yang menurutnya sangat absurd untuk wanita seperti aku.

Setidaknya begitulah. Sampai akhirnya waktu memisahkan dan mempertemukan kami lagi pada suatu pagi yang beku di Time Square. Namun seiring musim berganti di New York, aku pun harus menghadapi kenyataan mengejutkan tentang Fabian. Dan perasaanku sendiri terhadapnya.

*

Review:

Membaca Bellamore yang udah dicetak ulang berkali-kali semenjak 2010, di tahun 2014, rasanya telat banget, ya :p tapi ya gitu, berhubung dulu zaman 2010 bacaan gue bukan metropop, jadi baru sekarang gue kepikiran baca buku ini. Sempat ditawarkan beberapa buku dari Tante Rhein untuk gue pilih, soalnya kita barter novel gitu. Terus Bellamore nampang dan cute sendiri kayak cotton candy, covernya itu lho. Akhirnya ya gue iseng aja milih Bellamore : ))

Seperti labelnya; metropop, Bellamore menceritakan tentang kaum urban. Tentang seorang wanita lajang ibukota dan segala lika-liku kehidupannya. Dari blurb di atas bahkan sudah kelihatan, kan? Berikut reviewnya.

1. First impression

Covernya bagus, itulah nilai plus pertama dari buku ini. Ketika pertama kali memegang sebuah buku, otomatis yang dinilai pembaca adalah cover, dan Bellamore cukup berhasil di tahap ini *halah, formal banget bahasanya* Gambar malaikat dengan panah cupid di bagian atas dan font judul bukunya itu, hmm, Yunani banget. Terus aura-aura pink nan penuh cinta. Iye, walau gue nggak begitu suka pink, tapi cover ini bagus. Soalnya masuk sama tema ceritanya. Ya nggak mungkin juga gue bilang covernya jelek cuma karena nggak begitu suka pink. Mosok buku cecintaan mau dikasih cover hitam kayak orang berkabung? :p *jadi dibahas*

2. How did you experience the book?

Dari awal membaca buku ini, lumayan nyambung sama otak gue. Mungkin karena gaya berceritanya luwes dan nggak sulit untuk dimengerti. Terus karena gaya berceritanya dibawa jadi lucu di ¾ bagian bukunya. Dan siyalnya gue nggak menyangka bahwa ¼ bagian sisanya sampai ending itu sedih parah. Kampret, padahal gue lagi nggak mau baca yang sedih-sedih T_T *nangis di bahu Fabian*

3. Characters

Lanavera: Atau biasa dipanggil Lana, seorang wanita karir ibukota yang di usia ke 27 tahun masih virgin, ini fenomena yang cukup langka dalam lingkungan pergaulan Lana. Jadi dia dianggap agak gimanaa gitu, bahkan ada juga mulut-mulut nyinyir di kantor yang mengira Lana berbohong tentang statusnya yang satu ini. Sampai kemudian seorang lelaki Italia bernama Fabian tiba di Jakarta dan menjadi rekan bisnis Lana.

Fabian Ferdinandi: Lelaki Italia yang jadi idola cewek-cewek sekantor. Semuanya pada menganggap Fabian ganteng dan menyenangkan, kecuali Lana –yang tiap ngobrol sama Fabian malah berujung debat soal having sex atau masalah virginity. Bagi Lana, Fabian cuma cowok mesum yang isi otaknya ngajak cewek bobo bareng mulu.

Sisy: Seorang dari sahabat Lana. Sisy ini tipe sahabat malaikat. Dia udah nikah dan kalo ngasih saran selalu saran-saran bernada alim. Kebalikannya adalah Tiar, sahabat Lana yang satunya lagi.

Tiar: Sahabat Lana yang cenderung menjadi devil dalam setiap kesempatan. Jika Lana ada masalah, dan Sisy berusaha memberi saran yang baik-baik, maka Tiar akan berusaha menyesatkan sahabatnya. Ujung-ujungnya selalu sama, Tiar dan Sisy yang ribut sendiri. Tapi sebenarnya, di balik semua keisengan dan kenakalannya, Tiar ini sahabat yang baik.

Dedo: teman kantor Lana, seorang gay yang suka ngegosip di pantry kantor, tapi sebenarnya tipe temen yang cukup baik. Kelemahannya, ya itu, Dedo nggak bisa jaga rahasia. Bawaannya pengin ghibah hore mulu 😐

Nindi: Teman sekantor Lana yang kayaknya sirik dan kurang suka sama Lana. Di beberapa scene, ada Nindi yang lagi ngomongin Lana di belakang.

Iwan: Sepupu dari seorang teman Tiar yang dicomblangin ke Lana. Awalnya sih katanya cowok baik-baik, tapi ternyata oh ternyata..

Danny: Seorang rekan bisnis di kantor Lana yang baru. Cowok yang ditemui Lana setelah pulang dari New York. Dan ternyata diantara segambreng cowok yang seliweran dalam hidup Lana, cuma Fabian sama Danny ini yang benar-benar baik dan tulus. *pukpuk Lanavera*

4. Plot

Plotnya menarik, ceritanya memang menarik, pengemasannya menarik, tapi puehlis, gue memang lagi nggak pengin baca cerita yang sedih-sedih, walau akhirnya gue paksakan membaca buku ini dalam beberapa hari (dan berapa harinya gue lupa). Alurnya stabil, maju.

5. POV

POV 3

6. Main Idea/Theme

Tentang seorang cewek yang kekeuh mempertahankan keperawanannya bahkan hingga usia 27 tahun, di tengah-tengah lingkungan yang menganggap keperawanan is nothing. Jadi, mungkin bisa dibilang, Lana ini dianggap cupu bagi beberapa orang di sekelilingnya. Dan Lana nggak pernah peduli apa omongan orang, sampai suatu hari dia bertemu Fabian, bule Italia menyebalkan yang suka iseng godain Lana di kantor.

7. Quotes

Itulah masalahnya! Pria terlalu gampang dikontrol penis mereka. Seharusnya otak pria ditaruh di penis mereka, bukan di kepala.– Lana to Fabian, hal. 29

Memang selalu seperti itu jika kita bertemu kembali dengan seorang dari masa lalu. It brings back all the good memories, isnt it?– Maggie to Lana, hal. 153

Yes, I dont have to, but I want to. Karena aku ingin kamu tahu itu, Lana. Aku tak mau ada kesalahpahaman lagi di antara kita. Waktu kita hanya sedikit. Aku tak mau sisa waktu kita ini dicemari oleh prasangka terhadap satu sama lain. Weve been there and it didnt do any good to any of us, right?– Fabian to Lana, hal. 183

Segitu aja, deh, ya. Kutipan-kutipan di halaman belakang nggak usah, menyedihkan. Terlalu menyedihkan -_- seperti yang pernah gue tuliskan di Goodreads, kadang-kadang orang yang masih punya banyak waktu bersama pasangannya malah menyia-nyiakan banyak hal dengan berantem dan terus berantem tanpa mau mengalah, tapi buat orang-orang yang waktunya tinggal sedikit, berdamai itu adalah sebuah barang mewah. *lap ingus*

8. Ending

Jangan tanya endingnya, gue cuma bisa bilang, ¼ buku ini isinya sedih abis. *lempar kotak tisu*

9. Questions

Mengapa tokoh cowoknya harus dibuat sakit keras? Dan mengapa lupus? Persentase penderita lupus yang lelaki itu memang kecil sekali, dan buku ini cukup antimainstream dengan mengangkat lupus sebagai penyakit tokoh utama cowok.

10. Benefits

Yaa, untuk novel-novel setting luar negeri, seenggaknya menambah ilmu deh tentang gimana caranya nulis dengan setting luar :p *buka draft yang udah berdebu*

*

Berikutnya, 4/5 bintang untuk Bellamore dan Karla M. Nashar yang udah sukses menggagalkan niat gue untuk nggak membaca novel sedih setahunan ini –“

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s