REVIEW: Rahasia Sunyi – Brahmanto Anindito

Judul: Rahasia Sunyi
Penulis: Brahmanto Anindito
Penerbit: Gagasmedia
Tahun Terbit: 2012 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 49.000
Jumlah halaman: 362 hal.
ISBN (13): 978-979-780-611-8
ISBN (10): 979-780-611-1
Status: Baca bareng Reight Book Club, Maret 2014

*

Blurb:

Lautan Angkasawan pergi ke Pengunungan Kerinci karena sebuah teka-teki.

Kirey Fowler, mantan kekasihnya, tewas dalam kecelakaan di kawasan gunung tertinggi di Sumatra itu. Lachlan Fowler, sang ayah, berharap Lautan membantunya menyibak rahasia di balik kematian anak perempuannya.

Di tengah belantara kemungkinan, satu per satu pintu misteri terbuka. Tapi, Lautan tidak sendiri. Sesuatu terus menghalanginya untuk menyingkap tanda tanya. Nyawanya terancam untuk sebuah jawaban…

*

Setelah kolaborasi bersama Rie Yanti lewat novel mereka, Satin Merah, yang berpijak  pada kebudayaan Sunda, kali ini Brahmanto Anindito merilis karya tunggalnya sendiri, Rahasia Sunyi. Dengan latar lokal sisi barat Sumatra, novel ini menawarkan pengalaman kultural dalam balutan thriller yang intens.

*

Review:

Sudah membeli buku ini sejak November tahun lalu, rasanya-rasanya. Tapi karena saking banyaknya tumpukan di kamar, Rahasia Sunyi baru bisa kebaca sekarang. Itu pun karena gue sendiri yang memilihnya menjadi buku untuk baca bareng Reight Book Club di bulan Maret. Tadinya bingung mau baca Rahasia Sunyi atau Katarsis. Tapi berhubung Rahasia Sunyi sudah ada dan gue lagi menahan diri untuk belanja, jadinya Rahasia Sunyi yang dibaca.

Jauh, jauh sebelum membelinya, jujur gue tertarik pada buku ini karena dua hal; karena penulisnya Bang @brahmandito –yang karya sebelumnya sudah gue baca dan jujur puas dengan tulisannya, lalu karena settingnya di barat Sumatra. Sebagai orang sana, honestly, gue agak fanatik dan tergila-gila pada buku yang settingnya Sumatra. Karena menurut gue, agak jarang setting novel di daerah luar Jawa (cuma pernah baca di beberapa novel Vasca Vannisa), apalagi di daerah yang masih hutan atau pegunungan macam Kerinci. Itu menambah rasa penasaran akan bukunya.

Berikut reviewnya.

1. First impression

Covernya bagus. Simpel, sederhana, dan sesuai dengan judulnya; Rahasia Sunyi. Cover ini bener-bener memberikan aura kesunyian, deh : )) Tapi gue beli buku ini bukan semata-mata karena cover. Gue mengharapkan sesuatu yang lebih dari itu. Syukurnya, gue mendapatkan apa gue harapkan. Hihi.

2. How did you experience the book?

Bisa dibilang, membaca Rahasia Sunyi bikin gue langsung nyaman dan masuk ke dalam ceritanya. Karakter-karakternya menarik, plotnya –tanpa melebih-lebihkan, berani gue katakan, rapi. Gue juga suka gaya penceritaan penulisnya ketika melukiskan seorang cowok tokoh utama bernama Lautan Angkasawan. Tampak hebat, tanpa menonjolkan secara berlebihan bahwa Lautan itu lelaki yang hebat. Selengkapnya akan dibahas di poin 3.

3. Characters

Lautan Angkasawan: Lelaki 20 tahun yang terpaksa bekerja di usia muda karena keluarganya tergolong susah. Ia bekerja apa saja, serabutan. Terlebih ketika ia kemudian pacaran dengan Tiara –cewek pengidap hemofilia yang selalu butuh biaya pengobatan. Lautan kerja banting tulang untuk biaya pengobatan Tiara. Hingga kemudian ia bertemu dengan mantan calon mertuanya –Lachlan Fowler, seorang bule Australia yang kaya raya. Di masa lalu, Lautan pernah berpacaran dengan putri keluarga Fowler. Namun tak lama setelah putus, Kirey Fowler ditemukan tewas dalam perjalanannya ke Kerinci –daerah perbatasan antara Jambi dan Sumatra Barat.

Lautan ini, ng, gimana ya gue nyebutnya. Dia termasuk sosok lelaki yang sempurna dalam ketidaksempurnaannya. Kebanyakan penulis keasikan melukiskan tokoh utama, hingga membuatnya tampak too good to be true. Lautan ini nggak kaya, bahkan nggak punya materi berlebihan, ganteng juga nggak, malah dia kerempeng. Tapi dia jujur, setia dan pekerja keras. Terbukti ketika Mr. Fowler suka dengan cara kerjanya dan menawarkan akan mengenalkan dia pada seorang gadis Turki yang menetap di Sidney, Lautan menolak mentah-mentah. Padahal buat cowok kebanyakan, mungkin itu durian runtuh. Tapi dia tetep memilih ceweknya yang sakit-sakitan, how sweet. Sayang, Lautan itu fiksi. *melipir kecewa* *kembali ke realita*

Kirey Fowler: Cewek 19 tahun; blasteran Jambi-Australia, cantik, muda, mandiri, berani, kaya raya dari keringat sendiri –tapi sayangnya mati muda. Tahu di mana poinnya? Tak ada manusia yang sempurna. Kirey memiliki segalanya kecuali umur panjang, bahkan ia sudah tinggal nama begitu cerita ini dimulai. Inilah yang gue suka dari penokohan Rahasia Sunyi. Realistis.

Kirey meninggal dalam sebuah kecelakaan di Kerinci, namun ayahnya tidak bisa menerima begitu saja penjelasan dari Polda Jambi, maka ia mengutus Lautan pergi ke sana dan mencari tahu sebab yang sebenarnya dari kematian Kirey. Kirey ini gue akui cerdas, cerdas sekali. Ia meninggalkan banyak bukti mengenai perjalanannya ke Kerinci,  yang lalu digunakan Lautan dan Tiara –pacarnya, untuk menyelidiki detik-detik menjelang kematian Kirey.

Lachlan Fowler: Lelaki bule separuh baya yang sudah bercerai dengan istrinya. Dia berambisi menguak misteri kematian anak perempuannya di Kerinci –kampung halaman sang istri. Ia curiga, ada sebab lain di balik misteri kematian Kirey. Mr. Fowler seorang ateis, hingga tidak percaya sama sekali bahwa kepergian anaknya ada hubungannya dengan hal gaib –yang bagi kultur Indonesia memang benar adanya, percaya tidak percaya. Berkali-kali dia menertawakan kesimpulan Tiara dan Lautan di Quora (situs asing khusus tanya jawab yang mereka gunakan untuk menyimpulkan kisah perjalanan Kirey di Kerinci), karena menganggapnya tak masuk akal. Ia punya prinsip Magic adalah science yang belum terjelaskan.

Randy Fowler: kakak laki-laki Kirey, anak sulung keluarga Fowler. Cowok banyak omong ini aslinya pengangguran, namun bisa terus hidup karena bapaknya kaya raya. Tapi sikap ‘banyak omong’nya itu yang kemudian membantu menyibak misteri di balik kematian Kirey.

Tiara Kristantina: Pacar Lautan setelah putus dengan Kirey. Tiara sehari-harinya mahasiswi, namun mengidap penyakit hemofilia dan butuh duit jutaan untuk sekali berobat. Beruntungnya dia punya Lautan, yang mau kerja mati-matian demi dirinya. Bahkan ketika nyaris mati di tengah hutan Kerinci, Lautan masih sempat mikir, kalo gue mati, Tiara gimana. Gue.. speechless 😐

Zainal Fahraja (Om Inal): Adik ipar Lachlan Fowler, dia tinggal di Kumun bersama Bu Elita (nenek Kirey) yang biasa dipanggil Mak. Awalnya sosok Zainal atau Om Inal ini nggak mencurigakan sama sekali, tapi kayaknya makin ke belakang, gue berubah pikiran :p

Roa: Seorang dukun arwah di daerah Kerinci. Dia juga termasuk berperan banyak dalam misteri kematian Kirey. Awalnya Roa ini agak susah diajak kerjasama. Tapi Lautan beruntung mendapatkan kalung yang lama dia cari, jadi Roa bersedia buka mulut.

Primahardika Ariano (Aria): Seorang dokter yang rohnya terperangkap bersama Kirey di Kerinci, tapi kemudian Kirey menghilang dan dia menjadi penghuni rumah Om Inal. Konon kabarnya, arwah Aria suka membuat kekacauan.

Gerry Peh: Ahli keuangan dari Singapura, biasa dikontak Kirey untuk konsultasi mengenai harga emas dan permainan saham yang dilakukannya via aplikasi Trading. Gerry biasa dipanggil Sifu oleh Kirey (Sifu artinya Guru, Cmiiw).

4. Plot

Seperti yang gue tulis di poin 2, plotnya menarik. Alurnya maju dan stabil. Tapi gue butuh waktu agak lama membacanya. Sekitar semingguan. Walau udah agak lama dari biasanya, tapi gue tetap merasa sayang ketika ceritanya bertemu ending dan selesai.

5. POV

POV 3

6. Main Idea/Theme

Tentang seorang lelaki muda bernama Lautan Angkasawan, yang menerima tugas dari ayah mantan pacarnya untuk menyelidiki kematian Kirey –mantannya, dalam perjalanan ke pedalaman Kerinci.

7. Quotes

Jakarta adalah tempat menyatunya jutaan masalah. Jalanannya senantiasa dijejali tumpukan mesin-mesin beroda. – hal. 2

Sesekali, dia tertawa kecil melihat angkutan umum Padang yang berwarna-warni , penuh modifikasi. Lautan jadi merasa sedang menonton sekuel film Fast & Furious dari jendela bus. – hal. 32 (cc: @AngkotPadang) :p

Apa yang awalnya terlihat indah di dunia ini belum tentu indah dalam kenyataannya. Begitu juga sebaliknya. Bisa ular dan madu warnanya sama-sama kuning. – Kirey Fowler, hal. 210

Aku sangat mencintai mantan istriku. Tapi aku menikahinya dengan berpura-pura memeluk agama. Karena di Indonesia, rasanya tiap formulir ada kolom agama-nya. Aku harus mengisinya kan, apalagi kalau mau menikah. Di negaramu, tidak ada tempat buat ateis. – Lachlan Fowler to Lautan, hal. 262.

Dan dua di bawah ini adalah penggalan yang  paling gue suka,

Ah, melukai dan dilukai itu hal yang wajar dalam percintaan, my boy.

Tidak, yang ini beda. Dia pengidap hemofilia, Sir. Sekali saya melukai hatinya, luka itu.. takkan pernah kering. Darahnya akan terus mengucur.

–Lautan to Lachlan Fowler, hal. 314

Kerinci itu emang sepi, sunyi. Tapi, ada sesuatu di balik sepinya itu, ada rahasia di balik sunyinya. – Lautan Angkasawan, hal. 361

8. Ending

Jika ditanya, apa endingnya memuaskan. Ya! Gue akan jawab ya, sangat memuaskan. Seluruh misteri di balik kematian Kirey terungkap, bahkan istana emas yang selama ini ditumpuk Kirey juga diketemukan dan akhirnya bisa kembali ke tangan yang seharusnya memiliki. Bukankah ending yang seperti itu –walau nggak happy-happy amat karena tetap ada yang mati, adalah ending yang cukup memuaskan? Buat gue sih cukup 🙂

9. Questions

10. Benefits

Benefitsnya baca Rahasia Sunyi, hmm..

  • Serasa diajak bertualang ke pedalaman Kerinci.
  • Mengetahui banyak hal baru, misal tentang permainan harga emas, saham dan investasi yang dilakukan Kirey semasa hidupnya.
  • Dan setelah baca novel ini, jadi tahu juga kultur masyarakat di pedalaman Kerinci  yang masih percaya hal-hal gaib.

*

Overall, 5/5 bintang untuk Rahasia Sunyi. Menantikan novel Bang @brahmandito yang berikutnya. : ))

Advertisements

5 thoughts on “REVIEW: Rahasia Sunyi – Brahmanto Anindito

  1. Pingback: Bermain-main di Quora | Kopilovie Official

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s