REVIEW: U-Turn – Nadya Prayudhi

Judul: U-Turn
Penulis: Nadia Prayudhi
Penerbit: Plotpoint
Tahun Terbit: April 2013 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 39.000
Jumlah halaman: 240 hal.
ISBN: 9786029481259

*

Blurb:

Karin selalu takut mencintai dirinya. Hampir separuh hidupnya ia mencari cinta dari orang lain. Baginya, itu jauh lebih mudah. Namun, kini orang yang dia pikir akan jadi cinta terakhirnya memutuskan untuk pergi.

Kehilangan Bre memaksa Karin kembali beradu dengan luka-luka hidupnya yang masih menganga. Dunianya kini jadi jungkir balik. Kini Karin terpaksa melihat kembali ke titik-titik penting perjalanan hidupnya. Mulai dari saat Bre menatapnya dalam mobil waktu itu. Mulai dengan mencari penebusan pertanyaan Bre: “Karin, apa benar –lo dulu pernah membunuh orang?”

Kini hidupnya kembali terhenti. Karin tahu dia tidak lagi bisa terus berjalan.

Dia harus berbalik.

*

Review:

Sempat beberapa kali bolak-balik buku ini dan membaca blurbnya untuk memastikan akan gue beli atau nggak. Akhirnya, setelah memutuskan buka Goodreads  dan membaca beberapa review teman, gue memutuskan beli. Ada yang bilang, ini sedikit thriller, ada juga yang bilang ceritanya bagus. Jadi gue rasa, nggak ada salahnya mencoba baca. Walau ketika selesai baca, menurut gue ini nggak thriller sama sekali. Cuma drama-psikologi aja. Kisahnya drama roman biasa, dibalut sedikit unsur psikologi yang cukup berperan menggiring cerita hingga akhir.

Berhubung blurbnya nggak begitu jelas, akan gue spoiler sedikit (tanpa membocorkan ending cerita):

Karin –seorang gadis muda, baru saja diputuskan pacarnya yang bernama Bree. Hal ini membuat Karin harus kembali merefresh seluruh kenangan masa lalunya –baik yang bagus maupun yang paling nightmare. Ada beberapa hal yang ditakutkannya dari masa lalu, ada sebuah trauma yang terus menyerangnya hari ke hari. Karena itulah Karin akhirnya memutuskan konsultasi ke psikiater. Ia selalu rutin meminum obat dari Dokter Marissa –psikiater yang dianggapnya sebagai sahabat baik sendiri.

Namun kelamaan, Karin sadar bahwa obat itu hanya memberi ketenangan sesaat, namun halusinasi dan mimpi buruknya tak pernah berakhir. Di sisi lain, Bre juga menyadari bahwa untuk membuat Karin menerimanya kembali –ia harus jujur mengenai masa lalunya.

Dan di sanalah mereka berada, di satu titik yang sama, bersiap melangkah menuju masa lalu masing-masing. Melakukan U-Turn untuk kebaikan bersama. Berdua saja.

Atau mungkin…

…bertiga.

Berikut review lengkapnya:

1. First impression

Salah satu teman mengakui, bahwa dia membeli U-Turn karena tertarik melihat covernya. Jujur, memang covernya nggak biasa dan cukup menarik. Sekilas, tampak agak abstrak, bahkan gadis yang tenggelam di sisi kiri nggak gue sadari sosoknya ketika petama kali menatap cover. Selain itu juga pembatas bukunya cukup lucu. Mirip pembatas bukunya Radityadika yang Manusia Setengah Salmon 😀 One day, pengin punya buku yang pembatasnya seperti itu. Hahaha.

Tapi yang memengaruhi niat gue membeli buku ini, bukan cover semata, namun lebih ke review dan pendapat teman-teman Goodreads. Cover juga, sih. Tapi cuma sekian persen saja. Gue jarang (bukan berarti nggak pernah, sih) terpengaruh untuk membeli buku hanya karena covernya bagus.

2. How did you experience the book?

Nah, ini dia. Untuk memahami karakternya nggak begitu sulit. Lancar jaya kayak jalan tol, sih. Tapi untuk memahami plotnya, gue agak blank di awal. Kurang ngerti aja dengan perjalanan hidup Karin yang dijabarkan dalam bentuk flashback –kembali ke waktu ibunya baru meninggal dan bagaimana perjalanan cintanya. Cuma, ya, akhirnya di pertengahan hingga ending, segalanya jadi jelas dan semakin jelas. Seluruh puzzle-puzzle yang diuraikan di awal, kayak terkumpul lagi perlahan-lahan. Jadi, buat yang lagi baca buku ini dan merasakan kebingungan yang sama seperti gue di bagian awal –jangan menyerah, ya :p Lanjutkan saja, lo nggak akan menyesal.

3. Characters

Karin: perempuan muda di awal tiga puluhan tahun, bekerja di perusahaan periklanan dan punya seorang pacar bernama Bre. Karin termasuk tokoh yang cukup tertekan oleh kenangan buruk dari masa lalunya, hingga jiwanya kerap merasa sakit dan harus selalu ditenangkan dengan pil-pil merah pemberian Dokter Marissa –psikiaternya.

Bre: Pacar Karin, seorang sutradara yang namanya cukup dikenal dan kerap menggarap video-video klip musisi. Mereka bertemu pertama kali karena ketidaksengajaan, lalu menjadi akrab dan akhirnya pacaran. Namun, tanpa mereka ketahui, masing-masing dari keduanya menyimpan sebuah rahasia rapat-rapat. Rahasia yang akhirnya harus dibongkar untuk menyelamatkan hubungan mereka.

Dokter Marissa: Ini salah satu tokoh yang cukup berpengaruh dalam novel. Ia seorang psikiater yang menangani Karin –tapi tanpa diketahui Karin, ia sekaligus menangani Bre. Mereka bertiga baru bertemu di ending cerita, membongkar segala rahasia sang psikiater sendiri.

Abi: Sepupu laki-laki kesayangan Karin yang meninggal semasa SMA karena kecelakaan mobil.

Zara: Cewek di SMA Abi yang kerap membully-nya dan mengakibatkan Abi down. Karin sempat ingin menyerang Zara, namun Abi melarang.

Chuan: Lelaki Cina-Melayu yang sempat menjalin hubungan dengan Karin selama ia syuting iklan di Kuala Lumpur. Jujur, semenjak awal cerita gue paling males sama scene Kuala Lumpur dan kurang suka sama tokoh bernama Chuan ini. Tapi waktu tiba di halaman-halaman menjelang ending, gue malah berubah salut sama doi. Dia –walaupun dulu pernah jadi gay, namun setelah menikah malah punya komitmen besar terhadap anak istrinya. Bahkan nggak mau meninggalkan mereka demi Karin yang ia cintai hidup dan mati –meski ada kesempatan. Ironisnya, si mantan gay ini punya komitmen dan tanggungjawab, yang mungkin nggak semua laki-laki (normal) punya 🙂

Kalista: salah satu rekan kerja Karin di Kuala Lumpur, yang beberapa tahun kemudian menikah dengan Chuan dan punya anak bernama Jazzy.

Arki: Sahabat Bre di kantor, sekaligus teman Karin semasa sekolah. Arki sebenarnya porsi perannya nggak banyak, berhubung dia nggak tahu apa-apa. Tapi ada sebuah rahasia yang dia tahu, yang kemudian membawakan peran penting dalam ending cerita.

4. Plot

Sebenernya plotnya menarik, cuma di awal masih agak membingungkan. Semakin ke belakang justru semakin menarik dan membuat gue menutup bukunya dengan puas.

Butuh 2 malam untuk melahap buku dengan alur campuran (maju-mundur) ini. Hmm, alurnyaaa, stabil deh 😀 Untuk cerita seperti ini, mungkin malah jadi aneh kalau alurnya dibikin terlalu cepat.

5. POV

POV 3

6. Main Idea/Theme

Tentang seorang perempuan yang membawa trauma dari masa lalunya, namun beberapa tahun kemudian, satu-persatu rahasianya harus terungkap –begitu juga dengan orang-orang di sekelilingnya.

7. Quotes

Ia menolak menjadi seorang wanita perusak rumah tangga orang. Itu jabatan terhina yang bisa disandang seorang wanita. Menjadi orang ketiga dalam sebuah hubungan antara dua orang yang belum menikah saja sudah buruk. Apalagi, jika keduanya terikat di hadapan Tuhan. – hal. 85 *Cewek-cewek yang biasanya muka tembok deketin pacar orang, harus camkan quotes ini baik-baik, biar nggak sembarangan menjatuhkan harga diri mereka sendiri* : ))

Masa lalu yang kelam hanya bisa terang kembali jika kita membuatnya terang. – Hal. 226

8. Ending

Apakah endingnya memuaskan? Maka gue akan jawab, ya! Endingnya cukup memuaskan. Kalimat untuk menggambarkan novel ini adalah, novel dengan masalah yang unik dan cukup complicated, namun memiliki ending yang cukup pas untuk menutup ceritanya. Beberapa kali baca novel gue sering menduga endingnya seperti apa. Beberapa kali benar, beberapa kali meleset, beberapa sisanya nggak ada gambaran. Biasanya, yang nggak ada gambaran itulah yang akan menjadi kejutan dan mencengangkan.

U-Turn, termasuk kategori terakhir. Nggak ada gambaran menebak endingnya, namun mencengangkan. Suka! :p

9. Questions

Novel ini terinspirasi dari kisah nyata? Jika ya, kisah sendiri atau orang lain? Jika tidak, dari mana datangnya inspirasi menuliskan kisah Karin dan Bre? #SungguhPenasaran

10. Benefits

Benefitsnya baca U-Turn, sih, tahu sedikitlah tentang Kuala Lumpur (tapi nggak begitu detail dan gue juga nggak berharap setting di sana dilama-lamain. Lebih seru ketika Karin sedang berada di Indonesia) dan beberapa nama obat yang diberikan Dokter Marissa pada Karin juga bisa jadi tambahan ilmu baru 🙂

*

Overall, 4/5 bintang untuk U-Turn dan Nadya Prayudhi. Menunggu novel selanjutnya, semoga masih memuaskan seperti yang pertama (gue baca) ini.

Advertisements

3 thoughts on “REVIEW: U-Turn – Nadya Prayudhi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s