REVIEW: (Kumpulan Cerita) Penjual Kenangan – Widyawati Oktavia

Judul: Penjual Kenangan (ketika harap mencari tepi)
Penulis: Widyawati Oktavia
Penerbit: Bukune
Tahun Terbit: Januari 2013 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 40.000
Jumlah halaman: 214 hal.
ISBN (13): 978-602-220-089-5
ISBN: 602-220-089-x

*

Blurb:

Hidup terlalu singkat,

kata seorang kekasih menggugat cintanya yang pergi.

Bagaimana jika tak ada lagi cinta esok lusa?

Bagaimana jika jauh ternyata tak berapa lama jaraknya?

Kekasih itu menggugat.

Ia menangis.

Kenangan; satu-satunya yang paling berharga,

dimungkiri oleh cintanya.

Hidup terlalu singkat, katanya lagi.

Sambil mengemasi sisa-sisa harap dan bersiap pergi.

“Semoga ada persimpangan di depan sana.

Agar aku bisa menjual kenangan dan rindu yang menyisa,”

lirih hatinya, perih.

*

Review:

Awalnya buku ini sama sekali nggak masuk wishlist, tapi kemudian kebetulan melihatnya di toko buku dan langsung jatuh cinta pada covernya yang menawan itu. Dengan diskon 10%, akhinya Penjual Kenangan gue bawa pulang. Cerita berikutnya, gue pernah menyangka ini sebuah novel, sesuai dengan keterangan yang tertera di cover belakang bukunya. Tapi ketika dibaca, ternyata kumpulan cerita –ya, nggak tepat juga kalau langsung dituduh sebagai kumpulan cerpen, walau memang mayoritas isinya cerpen, namun ada beberapa cerita yang cukup panjang. Jadi gue akan menyebutnya ‘kumpulan cerita’ saja.

1. First impression

Ketika pertama kali lihat Penjual Kenangan, covernya yang berperan 80% membujuk gue mengambil buku ini dari rak toko buku. Makanya, gue sempat memendam buku ini berbulan-bulan tanpa dibaca karena memang awalnya dibeli bukan untuk dibaca –cuma buat dipandangi jendela unyu-nya itu :p #kelakuan

Tapi ketika gue mulai kehabisan bacaan dan awal bulan belum datang (belum waktunya belanja lagi), gue memutuskan baca buku ini. Sebenarnya, cerita pertama yang amat sangat menarik dan berhasil menggiring gue ke cerita-cerita berikutnya. Walau hingga ending, nggak gue temukan cerita yang benar-benar sebagus cerita pertama.

2. How did you experience the book?

Agak berat penulisannya. Bahasanya mendayu-dayu –kombinasi melow, galau, walau kadang ada manisnya. Dan isi ceritanya tidak bisa disebut ringan. Ada banyak unsur dongeng yang dipadu sedemikian rupa, juga ada unsur culture, dan sebagainya. Tapi sejauh yang gue rasa, gue nggak begitu kesulitan mencernanya. Justru gue merasa, bacaan seperti inilah yang sedang gue butuhkan sekarang.

3. Main Idea/Theme

Tema besar buku ini cuma satu kata: kenangan. Mungkin karena itu juga cerpen Penjual Kenangan judulnya dipakai sekaligus menjadi judul buku. Ada banyak kenangan yang disajikan penulis dalam 11 kisah.

4. Review Singkat Cerpen

  • Carano: mengisahkan seorang gadis Minang yang datang dari keluarga taat adat istiadat, namun ia dan beberapa saudaranya menjalin hubungan dengan orang-orang yang terbiasa hidup modern di kota besar. Barangkali cerita ini diberi judul Carano (syarat meminang dalam adat pernikahan di Minangkabau. Berisi sirih, lengkap dengan kapur, gambir, pinang, serta tembakau) karena hal inilah yang menjadi inti cerita. Berawal dari kekesalan si gadis karena keluarga kakak iparnya menjatuhkan carano yang disusun Amak (sebutan Ibu bagi orang Minang) dengan susah payah tepat di hari akad nikah kakak perempuannya. Terlebih karena keluarga besannya merasa sudah lama hidup di kota besar hingga tidak terlalu mengindahkan adat. Ia merasa mereka menganggap keluarganya kampungan dan bersedih karenanya. Namun ternyata kesedihannya tak sampai di sana. Amak ingin sekali menyerahkan carano untuk keluarga calon suami si gadis kelak. Namun ketika ia bertemu lagi dengan lelakinya, yang didapatnya hanya rasa kecewa. Ia –atau mungkin mereka, baru saja menghancurkan impian Amak memberikan carano bagi calon menantu putri bungsunya. (Rate: 5/5)
  • Dalam Harap Bintang Pagi: tentang dua orang yang tengah dalam perjalanan pulang, salah satunya berkisah tentang dongeng peri bernama Rayina dan seorang petualang. Bagaimana kisah Rayina yang jatuh cinta, kisah petualang yang pergi jauh namun menyesal, lalu tidak menemukan Rayina ketika ia kembali. Kisah yang akhirnya dijadikan abu oleh si pendengar karena sesungguhnya ia sangat meyakini ucapan si pencerita –itu-hanya-dongeng. (Rate: 2/5)
  • Percakapan Nomor-Nomor: Tentang seorang penjudi bernama Mas Tarpin yang hari-harinya dihabiskan untuk mengadu nomer togel. Ia tidak pernah bekerja, walau masih punya harapan membelikan istrinya kalung emas dan sepeda serta baju untuk anak-anaknya –suatu hari.  Namun ketika sebuah mimpi mendatanginya, Mas Tarpin terbangun dengan kekagetan luar biasa –menyadari bahwa selama ini telah banyak uang yang dihabiskannya untuk nomor-nomor tadi. (Rate: 2/5)
  • Kunang-kunang: Ini termasuk salah satu cerpen yang gue suka selain Carano tadi. Kunang-kunang bercerita tentang seorang anak yang senang bermain dengan kunang-kunang setiap malam di teras rumah. Si anak hanya mengenal kunang-kunang dan Ibu sepanjang hidupnya. Hingga suatu hari ketika cukup umur, si anak mulai mempertanyakan perihal Bapak yang tak pernah nampak batang hidungnya. Setelah banyak kejadian, ia akhirnya sadar –di masa lalu, Ibu telah jatuh hati pada jelmaan kunang-kunang. Bapak adalah jelmaan kunang-kunang. Diketahuinya dengan jelas setelah ibu bercerita tentang kisah cinta kunang-kunang yang menyedihkan. (Rate: 4/5)
  • Perempuan Tua di Balik Kaca Jendela: Ini juga kisah ibu dan anak. Si anak lelaki hanya mengenal Ibu dan dongeng Nawang Wulan bersama Jaka Tarub. Dongeng dari Ibu endingnya berbeda sendiri dengan dongeng Nawang Wulan lainnya; satu hal yang tidak pernah bisa dimengerti si anak, hingga ia beranjak dewasa. Sang Ibu berkata bahwa mereka tidak akan mati, jadi mereka tidak perlu takut, karena mereka adalah keturunan dewa. Si anak meyakini hal itu selama bertahun-tahun, namun berhenti ketika mendapati perempuan yang dicintainya meninggal. Hal ini membuatnya menutup hati dan enggan jatuh cinta lagi. Pahamnya akan kematian kembali berubah seperti sediakala, ketika didapatinya Ibu baik-baik saja padahal mengalami kecelakaan di tangga rumah. Hingga suatu hari, si anak menyadari bahwa yang ditakuti Ibu sebenarnya bukanlah kematian. Maka, ia memutuskan mencari sang ayah –Jaka Tarub yang telah mencuri selendang Ibu di masa lalu. (Rate: 4/5)
  • Penjual Kenangan: Inilah cerpen yang judulnya sekaligus dijadikan judul buku 😀 Setelah dibaca-baca, endingnya ternyata bagus. Walau awalnya nggak begitu mengerti. Alkisah tentang seorang lelaki yang melihat seorang gadis terus duduk menunggu. Menunggu ada yang lewat dan membeli sisa kenangan dalam keranjangnya. Suatu hari ia menghampiri, gadis itu yakin si lelaki adalah orang yang ditakdirkan membeli kenangannya –menukar seluruh sisa kenangan dalam keranjang dengan sebuah harapan. Lelaki itu mengakui bahwa ia memang penasaran, namun tidak mampu memberi harapan apa-apa. Ada gadis lain yang tengah menunggunya tiap sore, semenjak enam bulan yang lalu. (Rate: 5/5)
  • Tengara Langit: Tengara Langit berkisah tentang Roso –seorang bocah lelaki yang tinggal di perkampungan bersama kakek neneknya, Mbah Kandar dan Mbok Kartiwi. Ayah Roso meninggal di tengah lautan ketika melaut, sedang Ibunya meninggal sesaat setelah melahirkan. Roso cerdas dan banyak bertanya ini itu, hingga Mbah dan Mbok begitu khawatir, bagaimana nasib anak malang itu ketika mereka tiada. (Rate: 3/5)
  • Menjelma Hujan: Tentang dua orang sahabat –Seruni dan Kemala. Seruni terus merajuk mengenai perasaannya tentang mantan pacar yang akan menikah. Kemala yang sibuk dengan pekerjaan, menanggapinya dengan acuh. Sikap acuh yang disangka Seruni baik-baik saja, tanpa tahu bahwa di masa lalu, Kemala tak pernah kehilangan ketika mantannya menikah. Ia tidak kehilangan, namun dirinyalah yang menghilang –hanyut ke laut bersama hujan sore. (Rate: 4/5)
  • Nelangsa: Seorang anak mengutuk ayahnya karena memberinya nama Nelangsa, membuatnya kerap diejek teman-teman sebaya. Hanya Ibu yang selama ini menyayanginya, hingga suatu hari Nelangsa menemukan Ibunya meninggal dicekik Ayah. Orang-orang menganggap Ibu mati bunuh diri dan Nelangsa dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ayahnya sendiri. Nelangsa sibuk bercengkrama dengan teman-teman barunya; cecak, laba-laba, kecoak. Nelangsa tahu, ayahnya bahkan berencana membunuh Nenek. Hingga suatu hari Nenek tak pernah datang lagi menjenguknya dan ia berjanji, kelak, ia akan membuat Ayah mati juga –seperti ketika Ayah membunuh Ibu dan Nenek. (Rate: 2/5)
  • Tembang Cahaya: Ini juga masih tentang kunang-kunang, walau sedikit bahas tentang layangan. Seorang gadis yang akhirnya jatuh cinta, pada seorang lelaki yang jatuh cinta pada cahaya. (Rate: 2/5)
  • Bawa Musim Kembali, Nak: Seorang ibu yang melepaskan ketiga anaknya pergi merantau, kemudian menunggu mereka setiap hari dengan kerinduan yang menumpuk. Sampai suatu hari, anak gadisnya kembali dan bercerita tentang cintanya. Kisah cinta yang ternyata sama getirnya dengan kisah si Ibu di masa lalu. Membuatnya mempertanyakan sesuatu, “celoteh burung murai, terdengar getir ataukah riang, Nak?” (Rate: 5/5)

5. Quotes

Satu hal yang kami tahu, kami di sini semua adalah anak dari orangtua. Meskipun tak belajar sampai ke negeri Cina, kami tahu telah dilahirkan dan dibesarkan orangtua. Kami cukup belajar pada batang pisang di belakang rumah. Kami cukup belajar pada anak ayam di belakang rumah. Kami juga tahu makna mohon doa restu. Tapi, kilatan kamera digital kalian terlalu bersahut-sahutan. Saat kalian katakan tentang cara dan kebiasaan kalian sendiri, entah kami harus marah atau sedih.Carano, hal. 18

Rasanya, ia ingin rasa sakit itu dipindahkan saja ke dalam hatinya agar anak perempuannya tak lagi merasakan sakit. Lepaskanlah dia…, ucap sang Ibu. Kau sedang dilamun ombak, Nak. Harus kau perkuat kapal layarmu. Kata orang, nakhoda selalu yakin esok akan ada matahari, Nak, karena itu mereka tak pernah hilang harapan di lautan yang tak bertepi sekalipun. Dan, ada doa yang selalu menyertai mereka, dari jauh, dari rumah yang mereka tinggalkan… Ah, Nak, bersabarlah… Suatu hari, kau akan menemukan kebahagiaan lebih dari semua ini, percayalah, Nak.Carano, hal. 37

Aku telah lama tidak lagi mencintai hujan, Seruni. Aku telah lama membiarkan hujan jatuh begitu saja dan membiarkannya kembali lagi ke laut.Menjelma Hujan, hal. 156

Cahaya tidak pernah jatuh cinta pada kunang-kunang. Pada matahari. Pada bintang. Bulan. Juga pada lampu-lampu jalan.Tembang Cahaya, hal. 194

Kalah atau menang, Nak, kembalilah. Dan ceritakan padaku; bukan kekalahan atau kemenanganmu. Namun, ceritakanlah kepadaku, sudahkah kau tahu dengan siapa kau mengadu nasibmu. Sudah tahukah kau siapa Dia?Bawa Musim Kembali, Nak, hal. 201

6. Kesimpulan

Finally, 4/5 bintang untuk Penjual Kenangan, gambar jendela meneduhkan di cover, dan Widya Oktavia. Jujur ini lebih baik dari ekspektasi gue sebelum membacanya 🙂 Walau yang paling ngena itu cuma Carano, tapi cerpen lain juga nggak kalah seru untuk dibaca.

Oh, iya, mungkin lain kali Bukune harus jeli membedakan tulisan di barcode belakangnya. Kumpulan Cerita aka Kumpulan Cerpen tidak sama dengan Novel : ))

Demikianlah.

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW: (Kumpulan Cerita) Penjual Kenangan – Widyawati Oktavia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s