REVIEW: Nyai Duesseldorf – Zeventina

Judul: Nyai Duesseldorf (sebab selama ini aku bertahan hanya untukmu…)
Penulis: Zeventina
Penerbit: Imania
Tahun Terbit: Desember 2011 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 55.000
Jumlah halaman: 402 hal.
ISBN: 9786029975604

*

Blurb:

Nyai terjebak di persimpangan, di antara lelaki yang dicintainya, Ardy, dan lelaki yang mencintainya, Mark Buchholz. Takdir menuntunnya bertualang hingga ke Duesseldorf, Jerman, dan mendapati dirinya terperangkap di tengah ritual berahi La Costra Nostra, yang mistis dan misterius.

Gadis jelita dari perbukitan Ciwidey itu mencoba bertahan, demi Akang yang dicintainya dan sekolah miliknya –yang khusus diperuntukkan bagi anak-anak tak mampu. Nyawa pun dipertaruhkan olehnya.

Inilah novel yang membabar romansa gadis pemetik teh dengan balutan bahasa yang liris dan ketegangan yang menyenangkan. Pembaca seakan diajak masuk ke ritual ganjil yang sangat misterius, persahabatan yang tak lazim, perseteruan antara yang menindas dan yang ditindas, pun pertarungan nafsu dan cinta.

*

Review:

Ada banyak jenis buku yang membahas kisah seorang ‘Nyai’ atau kehidupan serupa itu. Nyai Ontosoroh di Bumi Manusia, misalnya. Namun ketika pertama melihat buku ini di toko buku, ekspektasi gue adalah cerita semacam Nyai Ontosoroh atau Nyai Roro Kidul *itu sih, Nyi* kisah berbau sejarah gitu. Tapi ternyata jauh dari ekspektasi –walau, ya, gue tetap menamatkan buku 400 halaman ini dalam dua hari.

1. First impression

Ketika memerhatikan judulnya ‘Nyai Duesseldorf’ dan covernya, selintas memang cocok. Latar pemandangan Eropa kental di covernya, dan gambar seorang wanita berkebaya batik khas seorang gadis desa. Tidak ada yang aneh. Tapi ketika dibandingkan dengan isi ceritanya, gue agak kecewa sih sama cover + judul. Judulnya Nyai Duesseldorf, tapi kehidupan Nyai di Duesseldorf tidak dibahas begitu detail. Covernya berbau Jerman, tapi nyatanya di dalam cerita, setting 80% ada di Ciwidey –Indonesia. Mengapa nggak eksplor daerah Ciwidey-nya untuk cover sekalian atau judul diubah jadi Nyai Ciwidey? Tapi mungkin kurang keren, ya. Nyai Duesseldorf kedengarannya lebih menjual, walau sebenernya kurang nyambung dengan keseluruhan ceritanya.

2. How did you experience the book?

Nggak begitu ribet, sih, bukunya. Pembaca bisa dibawa masuk dengan cepat ke dalam cerita. Dan jangan tanya soal rapi nggaknya. Setidaknya, ini termasuk kategori buku yang baik. Begitu gue cek siapa penyuntingnya, nama Daeng Khrisna Pabichara nampang dengan kerennya. *sungkem* : ))

3. Characters

Kinasih (Nyai): Seorang gadis pemetik teh di desa Ciwidey. Seperti tipikal banyak gadis desa lainnya, Nyai ini dideskripsikan lugu dan baik hati, terlebih lagi, ia cerdas karena suka membaca –itulah yang kemudian membedakannya dari gadis lain di Ciwidey. Hingga kemudian Mark dan Ardy masuk ke dalam hidupnya.

Ardy: Pemuda kota yang sedari kecil terbiasa hidup mewah dan bergelimang harta. Keluarga memiliki segalanya, tapi hidupnya berubah sejak seorang gadis cantik bernama Rohmah menyelamatkannya dari pengeroyokan orang akibat menabrak seorang bocah kecil.

Rohmah: Gadis ini agak misterius. Ia menolong Ardy, namun pergi dari rumah kardusnya dan tidak pernah kembali hingga Rico –sahabat Ardy datang menjemput. Ardy mencarinya, ingin berterima kasih, tapi dia nggak pulang-pulang. Menurut tetangga, dia mungkin pulang ke kampungnya. Tersebutlah Ciwidey sebagai kampung Rohmah dan ke sanalah Ardy menuju. Gue kira si Rohmah ini yang namanya disebut sebagai Nyai Duesseldorf, ternyata Nyai-nya beda lagi. Seorang murid SMP yang akhirnya bersekolah di sekolah gratis yang didirikan Ardy, sembari menunggu sosok Rohmah muncul. Yang lebih tarakdungces, setelah sekian tahun Rohmah tidak kunjung tampak batang hidungnya, Ardy katanya merasakan sosok Rohmah dalam diri Kinasih. Akhirnya ia jatuh cinta pada Nyai, melanjutkan kisah mereka, dan sampai ending si Rohmah nggak tahu gimana kabarnya dan siapa dia sebenarnya. Misteri Ilahi, mungkin hanya penulisnya dan Tuhan yang tahu 😐

Mark Buchholz: Lelaki Jerman yang bekerja di salah satu stasiun televisi terkenal. Suatu hari ia terdampar di Ciwidey karena ditugaskan meliput alam Indonesia oleh bosnya. Di sanalah ia pertama kali bertemu Nyai dan jatuh cinta. Awalnya Mark digambarkan sebagai lelaki yang serba sempurna, tapi semakin ke belakang, semakin suram. *zoom in zoom out*

Albert: sahabat Mark ketika dinas ke Indonesia. Bule Jerman juga. Matanya biru juga. Sering dijuluki ‘Sepasang Malaikat Bermata Biru’.

Ko Ahong: Bos Nyai, pemilik perkebunan teh. Ko Ahong ini ceritanya agak ngondek dikit, tapi cukup baik hati dan banyak menolong Nyai.

Jacober: Sahabat Mark sejak kecil, sekaligus punya masa lalu yang cukup kelam seperti Mark. Mark selalu percaya pada kata-kata Jacober, termasuk ketika Jacob memfitnah bahwa Kinasih telah selingkuh.

Onkel Giovani: nah si tua bangka inilah salah satu biang kerok dari seisi-isi buku. Dia berpengaruh dalam pembentukan karakter Mark dan Jacober menjadi dua lelaki bermasa depan suram : ))

Bu Inggrid: Ibu Ardy, ini salah dua dari biang kerok seisi-isi buku. Cuma bedanya, Onkel Giovani caranya lebih berkelas dan gue akui cukup thriller. Sedangkan Bu Inggrid ini ibarat mertua-mertua sadis di sinetron kejar tayang. Pas tahu anaknya pacaran sama gadis desa, dia nggak setuju. Pas anaknya kekeuh mau sama si gadis desa, dia mengancam pacar anaknya. Ketika anaknya semakin cinta sama si gadis desa, dia mulai drama. MULAI DRAMA –sengaja diulang dan di kapslok biar seru. Bu Inggrid sampe ngasih duit lima puluh juta sebagai imbalan agar Nyai mau menjauhi Ardy. Ketika uang dikembalikan Nyai, dia mengirim undangan pernikahan palsu –seolah Ardy akan menikah dengan orang lain. Setelah anaknya kecelakaan, dia masih belum tobat. Dia mengirim berita bahwa anaknya meninggal –hingga Nyai patah hati dan menerima lamaran Mark. Kurang drama apa nenek-nenek satu ini? 😐 Kalau mau dibayangkan, mungkin seperti Oma Mieke Wijaya ketika melotot. APA? MAMA TIDAK SETUJU KAMU MENIKAHI PEREMPUAN ITU! *udah, ah*

Emak dan Abah: Orangtua Nyai yang sederhana, sehari-hari hidup di Ciwidey bersama ketiga anaknya; Nyai, Udin dan Ujang.

4. Plot

Plotnya cukup baik, meski ada beberapa kejanggalan dalam cerita (akan dijabarkan di poin 11). Alurnya stabil dan maju, jadi gue sebenarnya nggak ada  masalah dalam menandaskan buku ini. Cuma butuh 2 hari, seperti biasa.

5. POV

POV 3

6. Main Idea/Theme

Tentang seorang gadis desa dengan segala lika-liku kehidupan cintanya. Novel ini semakin menggoda untuk dibawa ke kasir begitu melihat endorse di cover belakangnya. Ada Bli Putu Fajar Arcana –editor Kompas Minggu, dan Eka Budianta –seorang budayawan. Sesungguhnya, pendapat penulis/tokoh senior kadang memengaruhi keinginan gue dalam membeli sebuah buku.

7. Quotes

Kenangan selalu bisa menceritakan dirinya sendiri. Ia bisa muncul dari bening sunyi, bisa juga dari reriuhan paling galau. Ingatan selalu bisa membuka gerbang kenang. Bisa jadi lewat rintih hujan, bisa juga lewat perih malam. Kenangan dan ingatan bak pisau bermata dua yang keduanya sangat mematikan. – hal. 75

Menyenangkan hati orang adalah upaya ringan untuk menenangkan diri sendiri. – hal. 151

8. Ending

Cukup memuaskan, walau sad ending. Di kisah-kisah seperti ini, mungkin happy ending akan terbaca terlalu klise. Sementara sad ending, barangkali bisa lebih membekas dalam ingatan pembaca, mengingat buku ini juga diberi titel ‘Kisah Nyai merupakan ujian untuk kemanusiaan’. Kalimat itu benar adanya *menangisi ending*

9. Questions

Pertanyaan yang sama dengan di poin 1. Tentang cover dan judul.

10. Benefits

Sebenarnya, ya, gue berharap bisa lebih banyak tahu tentang Jerman sehabis membaca novel ini. Tapi mengulangi keluhan di poin 1, Jerman cuma dibahas dengan porsi lebih kurang 20% saja dari 400 halaman novel dan kebanyakan muternya di sana-sana aja, jadi gue merasa kurang greget. Kurang mendapatkan sesuatu usai ‘menemani’ kehidupan Nyai di Duesseldorf.

11. Lain-lain

Hal-hal lain yang tidak dicantumkan di atas, akan gue tuliskan di bawah ini. Berikut adalah beberapa hal janggal yang gue dapati selama membaca Nyai Duesseldorf:

  • Tentang Rohmah. Siapa dia sebenarnya dan asal usulnya dari mana, serta ke mana akhirnya dia menghilang. Ini sama sekali tidak dijabarkan lagi barang sedikit hingga ending.
  • Kenapa Nyai begitu mudah terombang-ambing di antara Mark dan Ardy? Logikanya, untuk seseorang yang baru ditinggal nikah pacar (apalagi pacar yang dicintainya), biasanya trauma sama cowok dan nggak mau buru-buru menjalin hubungan baru. Tapi Nyai tampak fine-fine aja. Biar gue ingatkan jabarannya: ketemu Mark pertama kali Mark pulang ke Jerman datang Ardy jatuh cinta memilih Ardy Mark datang lagi masih milih Ardy Bu Inggrid mulai drama Ardy kena masalah langsung balik ke Mark Ardy kembali balik ke Ardy Ardy difitnah akan menikah mulai ragu dan melirik Mark Ardy dikabarkan meninggal menerima lamaran Mark. Tahunya di ending, Ardy masih hidup dan belum menikah. Tarakdungces. Gagal paham sama cara kerja hatinya si Nyai : )) Tapi mungkin pemikiran cewek kota jauh berbeda, gue nggak tahu juga.
  • Ketika disiksa gerombolan bule sakit jiwa di Duesseldorf, Nyai katanya nggak bisa melawan/kabur karena nggak punya kenalan di sana. Tapi disebutkan setelahnya, ada cewek bernama Silvi –seorang asal Indonesia, merupakan istri dari sahabat Mark. Berarti logikanya, Nyai sebenarnya kenal Silvi dan bisa meminta tolong, kan? Lalu ia seharusnya juga bisa meminta tolong pada kedua mertuanya (ya kalo aja mereka percaya, sih. Ini kemungkinannya kecil)

*

Akhirnya, 3/5 bintang untuk Nyai Duesseldorf. Walau nggak sesuai harapan gue, tapi sebenernya cukup bagus. Sekarang tinggal nyari Sang Maharani-nya Agnes Jessica yang udah diburu dari zaman jahiliyah tapi ndak nemu-nemu juga.

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW: Nyai Duesseldorf – Zeventina

  1. “Gadis ini agak misterius. Ia menolong Ardy, namun pergi dari rumah kardusnya dan tidak pernah kembali hingga Rico –sahabat Ardy datang menjemput. Ardy mencarinya, ingin berterima kasih, tapi dia nggak pulang-pulang.”
    Trus Rico-nya apa kabar, mbak?
    … review-nya keren
    aku dulu sempet ikutan baca di blog pengarangnya, sepotong dari ceritanya… sebelum kemudian katanya mau turun cetak… sekarang malah baru tau ternyata udah dicetak sejak 2011…

    • Riconya masih ada sampe akhir cerita kok. Walau porsinya ga terlalu banyak. Kayaknya sih dia cuma tokoh figuran. Di ending dia berperan sedikit ‘membantu’ ardy 🙂 btw, kata Mbak Zeventina, rohmah akan terungkap di buku berikutnya. Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s