REVIEW: Sepanjang Musim – Karina Ayu Pradita, dkk

Judul: Sepanjang Musim (Kumpulan Cerpen)
Penulis: Aveus Har, Karina Ayu Pradita, Gari Rakai Sambu, Asya Azalea, Ovita Sari, Bagas  Prasetyadi
Penerbit: Media Pressindo
Tahun Terbit: 2013 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 28.000
Jumlah halaman: 184 hal.
ISBN (13): 978-979-911-325-2
ISBN (10): 979-911-325-3

*

Blurb:

Kamu dan aku terjalin dalam rangkaian musim. Menumbuh dalam satu rasa yang disebut cinta. Berbahagia dalam dimensi yang kita pahami sendiri.

Tapi, rupa-rupanya musim selalu bergulir.

Ada kalanya tandus menyelimuti setiap ujaranmu. Ada kalanya gerimis berjatuhan pada sepasang mataku. Ada kalanya kamu perlu meliburkan curahan sayangmu meski musim liburan masih jauh. Ada kalanya aku lebih tergiur pada aroma setumpuk durian daripada aroma tubuhmu. Ada kalanya… kita tak sejalan, kemudian memelihara kesakitan.

Tapi, tak perlu terjebak dalam ruang khawatir.

Memang begitulah siklusnya. Kita bahagia, sakit, lalu bahagia lagi. Begitulah caramu dan caraku, mungkin juga cara miliaran manusia lainnya untuk menemani musim. Sepanjang musim…

Sebut saja ini kumpulan kisah sederhana, kumpulan kontemplasi, mungkin juga kumpulan cara memaknai cinta…

*

Review:

Intermezzo sedikit, ini adalah kumpulan cerpen pertama yang diterbitkan divisi fiksi Media Pressindo aka @MedpressFiksi. Sebenernya udah lama liat di tumblr mereka, tapi kayaknya baru beredar belakangan ini. Dan kebetulan aja beberapa hari lalu lagi ada di toko buku, terus liat di rak new release : ))

Gue jarang baca kumpulan cerpen, mungkin karena sekarang lebih suka baca novel yang satu cerita namun lebih kompleks. Tapi kayaknya, nggak ada salahnya juga dicoba. Ini dia reviewnya.

1. First impression

Saat pertama kali lihat buku ini, yang paling bikin gue tertarik adalah warna dan covernya. Biru agak aquamarine gitu, deh. Lalu gambar covernya simpel dengan tulisan ‘Sepanjang Musim’ di bagian atas. Kalau gue harus mendeskripsikan covernya secara singkat, maka akan gue jawab dengan; sederhana, cantik dan elegan.

Tapi selain cover, alasan gue beli dan baca buku ini karena penasaran sama tulisan editor-editor sendiri. Hahaha. :p

2. How did you experience the book?

Nggak butuh waktu lama buat membaca buku ini, sih. Soalnya isinya lumayan ringan. Gue baca dua hari, soalnya cuma ada waktu baca tiap tengah malam 😐 Tapi so far, walau waktunya agak sempit, satu buku maksimal selesai dua hari (biasanya).

3. Main Idea/Theme

Benang merah dari seluruh cerita di buku ini adalah musim. Jadi, dari 12 cerpen yang ada, seluruhnya mengusung tema musim; musim liburan, musim kawin, musim pemilu, musim durian, musim lainnya.

4. Review Singkat Cerpen

  • Before The Rain: tentang seorang pemilik toko DVD di jalan Progo, Bandung, dengan seorang cewek yang punya kedai kopi di depan tokonya. Ini lebih tepatnya tentang cinta yang tak terungkapkan : )) Jujur, ketika sampai di ending, gue sama-sekali nggak puas sama cerita ini.  (Rate: 2/5)
  • After The Rain: Ini sambungan dari cerita sebelumnya, dari penulis yang sama. Cuma musimnya berbeda, mungkin karena itu dipisah jadi dua cerpen. Kalau boleh jujur lagi, gue tetep nggak puas atau kata lainnya, kurang greget sama ceritanya. Maybe ini masalah selera saja. (Rate: 2/5)
  • Selamat Datang Cinta: Ini yang pada awalnya lumayan bikin penasaran, di pertengahan agak drama dikit, tapi endingnya masih cukup memuaskan 😀 Termasuk salah satu cerpen favorit gue di Sepanjang Musim. Mungkin kapan-kapan gue harus nyoba cara absurd seperti di cerpen ini, jalan-jalan sendiri ke kota lain, lalu ketemu sama orang nggak dikenal dan nambah temen baru. Hahaha :p (Rate: 3/5)
  • Sesederhana cinta: Cerita ini berkisah tentang cinta seorang cewek sama pacarnya yang terhalang selera : )) yang satu suka durian, yang satu benci durian. Tapi alasan kenapa mereka putus itu lemah sekali, yang satu karena pasangannya nggak suka durian, yang satu karena nggak suka daging kambing. Well, itu bukan alasan yang bagus untuk membubarkan hubungan sepasang tokoh, in my honestly opinion. Butuh sebab dan akibat yang kuat, dari sudut pandang gue akan cerita ini, sih. Karena kelihatannya si cewek udah galau berat begitu, jadi bisa dipastikan dia pacaran sama cowoknya bukan cuma main-main. Kecuali mungkin cuma sekedar have fun, bisalah putus karena alasan sederhana begitu. Tapi kalau gue jadi tokoh utamanya, pacaran (seandainya) karena pengin senang-senang, gue nggak perlu galau untuk memutuskan bubar jalan segera. Nah, di sanalah janggalnya, apalagi si cewek berpindah hati ke seorang cowok lain yang suka durian. Cintamu hanya sebatas durian? I don’t think so.. *duh, kenapa jadi panjang* (Rate: 1/5)
  • Cinta di Ujung Senja: Ini agak absurd sedikit, tapi ceritanya cukup dalam : )) Tentang sepasang oma dan opa yang dari muda cintanya nggak kesampean, lalu saling mencari lagi ketika sudah tua. Absurd, karena setelah rentang jarak sejauh itu, gue awalnya nggak yakin dua orang yang udah lama terpisah bisa ketemu lagi. Tapi, nggak ada yang nggak mungkin sih di zaman canggih kayak sekarang.  Not bad. (Rate: 2/5)
  • Bola Cinta: Jujur, gue nggak baca cerpen yang ini sama sekali. Alasan pribadi, alasan selera. Karena gue nggak suka bola, dan karena gue nggak suka Manchester United. Sangat-tidak-suka. Jadi nggak bisa ngasih komentar apapun. Skip, next! (Rate: ?/5)
  • Pulang ke Hatimu: jika harus memberi rating untuk yang ini, gue akan memberi rating biasa saja. Nggak ada sesuatu yang mampu menarik gue ke dalam ceritanya, halaman-halaman berikutnya, gue baca skimming. (Rate: 1/5)
  • Tentang Hak Pilih: Yang ini juga agak dalem, sih. Bayangin aja, suami istri yang udah nikah bertahun-tahun, ternyata suaminya masih ada rasa sama mantan pacarnya dan sering ngigau nyebut nama si mantan ketika sedang sakit. Kasihan istrinya, tapi gue lebih suka lagi endingnya. Bahwa cinta, ya, seperti itu. Segimana pun sakitnya, kalau sayang, ya sayang aja. Perfect ending. (Rate: 4/5)
  • Harusnya Kita Putus: Ini nih yang teenlit banget. Tentang seorang cewek yang diajak janjian sama sahabat-sahabatnya, bahwa menjelang ujian nasional mereka harus memutuskan hubungan dengan pacar masing-masing. Tapi di luar dugaan gue, jawaban pacarnya pas di ending itu sesuatu sekali. Wajib baca! :p (Rate: 4/5)
  • Musim Termanis: Yang ini bisa dibilang roman komedi. Dua cowok kembar yang nggak begitu akur, tapi juga nggak saling bermusuhan. Tapi akhirnya malah saling bantu satu sama lain. Manis. (Rate: 3/5)
  • Wake Me Up When December Ends: Tentang Tari, seorang cewek yatim piatu yang hanya tinggal bersama supir dan pembantunya di rumah besar peninggalan mendiang orangtuanya. Kasihannya tokoh ini, dia yatim piatu sejak kecil. Gue kira dia adalah tokoh paling ngenes dalam cerita ini, tapi ternyata di cerpen berikutnya, ada tokoh yang lebih ngenes nasibnya. Tapi ketika mereka ketemu, kisahnya jadi super manis. (Rate: 4/5)
  • Moonlight Becomes Sunshine: Ini menjadi cerpen penutup Sepanjang Musim, dan endingnya cukup memuaskan. Erat kaitannya dengan cerpen sebelumnya. Realistis, sederhana, dengan ending yang cukup manis. (Rate: 4/5)

5. Quotes

Jaka Tarub juga nggak akan dapet bidadari, Bro. Kalau dia nggak nyuri selendangnya. Kalau dia cuman ngintip dari jauh. –Cakra to Abi, hal. 9

Manusia tidak pernah bisa berdamai dengan kesendirian. –Hal. 50

Dalam hati aku berharap, semoga ia memahami satu hal: cinta yang tidak terucap ternyata jauh lebih punya arti. –hal. 107

Ada hal-hal yang harus dikorbankan dalam hidup, dan lulus dengan nilai bagus lebih penting daripada cinta taik kucing. –hal.118

Jika karena musim ujian sekolah kita harus mengurangi tautan, bagaimana kita menghadapi ujian-ujian selanjutnya?” –hal. 124

6. Kesimpulan

Overall, 3/5 untuk Sepanjang Musim dan para penulisnya 🙂 Buat yang suka cerpen-cerpen ringan, mungkin ini bisa jadi pilihan bagus untuk menghabiskan weekend. Tapi berhubung gue mulai suka baca yang berat, sense of teenlit gue sedikit demi sedikit mulai hancur lebur jadi debu (dan tak tahu arah jalan pulang) 😐

Mungkin karena itu, gue selalu memikirkan bener-bener sebuah cerita pendek, ketika akan menilainya dengan rating, bukan sekedar manis atau bikin senyum, seperti yang gue lakukan waktu SMA dulu. Namanya juga selera, bisa berubah sewaktu-waktu : ))

Btw, menunggu kumpulan cerpen @MedpressFiksi selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s