REVIEW: Doa Ibu – Sekar Ayu Asmara

Judul: Doa Ibu
Penulis: Sekar Ayu Asmara
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Agustus 2009 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. – (harga baru kurang tahu, gue beli ke Mbak @yuska77 dengan harga Rp. 10.000)
Jumlah halaman: 270 hal.
ISBN: 978-979-22-4804-3

*

Blurb:
Akhir-akhir ini, kehidupan pelukis Ijen banyak dihadang berbagi macam keanehan. Dimulai dari resepsi pernikahan sahabatnya, Khaled. Sang pengantin wanita, Dewanti, menghilang begitu saja dari pelaminan.

Pencarian Dewanti membawa Ijen ke dalam perjalanan yang membuatnya semakin tersesat dalam ketidakpastian. Satu per satu sahabatnya pun turut lenyap tak berbekas.

Sementara itu, Madrim berduka. Suaminya, Bintang Joyokusumo, meninggal karena serangan jantung. Bersama anaknya, Sinta, ia menerima tamu yang hadir melayat. Namun ia tak pernah menduga akan bertemu istri simpanan suaminya.

Kematian suaminya seakan membuka pintu masa lalu Madrim. Satu per satu, rahasia  yang selama ini terpendam, mulai mengambang ke permukaan. Dan Madrim tak punya pilihan kecuali menghadapi kebenaran demi kebenaran yang terungkap. Termasuk tentang cinta terlarang yang selama ini tersimpan.

Rahasia tergelap baru terungkap, ketika kehidupan Ijen dan Madrim berhenti di titik putaran takdir yang sama. Sebuah masa lalu saling mengikat dan mengaitkan mereka berdua. Dan akhirnya membawa mereka ke satu kebenaran yang paling hakiki.

*

Review:

Udah ngincer buku ini dari tahun lalu. Tapi ya, namanya terbitan (lumayan) lama dan sastra pula, jadi nyarinya agak susah. Di Gramedia udah jarang yang jual, mungkin kecuali pas obralan. Berhubung gue anaknya jarang obrak-abrik obralan dan lebih sering nitip temen, jadinya tetep nggak nemu-nemu :p Akhirnya langsung pesen ke mbak @yuska77 begitu baca di blognya bahwa dia mau lepas buku-buku kolpri.

Sebelum ini, gue udah punya Pintu Terlarang dan Kembar Keempat. Sekar Ayu Asmara, entah kenapa nama satu itu terlihat begitu menakjubkan di mata gue. Semenjak tahu bahwa beliau yang menulis skrip untuk Belahan Jiwa, Biola Tak Berdawai dan Pesan Dari Surga, gue jadi semangat ngincer buku-bukunya. Belahan Jiwa itu drama psikologi, Pesan Dari Surga juga begitu, tapi unsur psikologinya lebih kental di Belahan Jiwa. Sedangkan Biola Tak Berdawai cuma sempat nonton sekali dulu, karena belum download lagi. 😐

Membaca Doa Ibu, segalanya terasa familiar. Ini Sekar Ayu Asmara banget. Mulai dari covernya, penggambaran ceritanya, plotnya, tokoh-tokohnya, segalanya. Walau mungkin butuh mikir untuk memahami isi ceritanya. Gue akui, ini bukan cerita yang ringan, tapi juga nggak terlalu berat, kok. Yang biasa baca novel lokal, pasti suka juga karya SAA : )) Cuma sayangnya, beliau cuma menelurkan 3 buku sampai sekarang, padahal gue berharap Belahan Jiwa dan Pesan Dari Surga juga dibuat novelnya -_-“

Berikut review lengkapnya:

1. First impression

Suka covernya. Lukisan perempuan bersayap emas tengah menggendong bayi, jauh di belakangnya, ada seorang pria yang hanya tampak punggungnya saja (dalam novel ini, diceritakan itu adalah lukisan Ijen –si tokoh utama). Tapi aura lukisan semacam itu, mengingatkan gue pada lukisan Cairo di film Belahan Jiwa. Film ini juga skripnya ditulis oleh Sekar Ayu Asmara. Tahu apa yang kemudian mengejutkan gue? Lukisan di cover itu hasil buatan SAA sendiri. Yang bisa gue simpulkan bahwa seluruh lukisan Cairo di film juga hasil karya beliau 🙂 wow!

2. How did you experience the book?

Buku ini akan langsung nyaman dibaca dan ceritanya masuk, kalo kalian tahu bagaimana gaya bercerita SAA sebelumnya (baik di film maupun di buku-bukunya). Ini bisa berbeda untuk tiap pembaca. Kalau gue sendiri, memang suka karya-karya beliau, jadi nggak ada masalah dalam membaca atau memahami plotnya, atau karakternya. Segalanya baik-baik aja sampe bukunya selesai :p

3. Characters

Ijen: Seorang pelukis muda beraliran surealisme yang ngefans berat sama karya-karya Rene Magritte –pelukis asal Belgia, walau nyatanya Rene Magritte tidak setenar master surealisme –Salvador Dali. Ijen termasuk lelaki yang tampak keras dan galak dari luar, namun sesungguhnya tidak. Ia tinggal dalam sebuah gedung perkantoran yang disulap jadi studio lukis bersama keempat sahabatnya; Khaled, Giok Nio, Cepol, dan Rajiv.

Khaled: Pelukis yang termasuk sahabat Ijen, melebarkan sayapnya ke seni instalasi karena beranggapan bahwa lukisan dua dimensi membatasi kreativitas. Ia mendapati istrinya menghilang begitu saja di hadapan ratusan pasang mata ketika hari pernikahan mereka. Semenjak itu, semangat hidup Khaled menurun. Dewanti –sang istri, tak kunjung ditemukan. Sebelum sempat mencarinya lebih jauh, Khaled memutuskan bunuh diri, namun berhasil diselamatkan dan akhirnya terbaring koma di rumah sakit.

Giok Nio: Gadis sipit keturunan Cina yang lukisannya abstrak, sering bermain dengan geometris dan konstruktif. Warna lukisannya pun cenderung berani dan sangat dalam. Giok Nio termasuk orang yang berani di kesehariannya, namun tidak begitu banyak pengalaman tentang cinta, hingga Cepol –teman serumah mereka, selalu sibuk mengurusi gadis itu, terlebih ketika Giok Nio didekati lelaki. Ironisnya, Giok Nio tidak pernah tahu bahwa selama ini Ijen menyimpan rasa padanya.

Paulina Dewi Richardson (Cepol): Di antara semuanya, Cepol ini satu-satunya pekcun (bahasa lain dari pelacur) yang nyasar sebagai pelukis : )) Ia tidak pernah jalan dengan satu lelaki. Biasanya sekaligus empat atau lima dan diatur jadwalnya sedemikian rupa dalam seminggu. Sekurang-kurangnya ada dua. Karena tingkahnya ini, Cepol punya banyak pacar dan biasanya hanya dia gunakan untuk memuaskan nafsu. Prinsip hidupnya adalah senang dan nikmat. Selain itu, gadis blasteran ini juga ceplas-ceplos. Gaya lukisan Cepol adalah Chinese Modernism yang banyak diburu kolektor.

Rajiv Bhanjali (Rajiv): Lelaki india asal Tanah Rencong yang kuliah di Jakarta, namun ketika pulang mendapati bahwa keluarganya sudah habis tersapu tsunami tahun 2006 silam. Semenjak itu ia hidup seorang diri dan menjadi pelukis. Aliran lukisan Rajiv berbau feminisme, bahkan tampak kontras dengan gaya lukisan Giok Nio yang perempuan. Selama bertahun-tahun, Rajiv diserang penyesalan karena tidak sempat menyelamatkan keluarganya yang meninggal karena Tsunami.

Dewanti Darmono: Istri Khaled yang menghilang di hari pernikahannya sendiri, bahkan di pelaminan –ketika lampu ruangan tidak sengaja padam selama beberapa saat. Dewanti tak pernah ditemukan di mana-mana, bahkan di rumah keluarganya sendiri dan di klinik kelahirannya. Ia seolah menghilang ditelan bumi.

Ajeng: Peramal yang katanya sakti dan menemui Rajiv di rumah sakit tempat Khaled dirawat. Ia memberitahu Rajiv bahwa adik-adiknya menunggu sang kakak menemukan jasad mereka. Ijen sempat meragukan kemampuan Ajeng, terlebih ketika Ajeng histeris melihat Ijen dan meneriakkan ‘setan’ padanya berkali-kali. Keempatnya lalu menyimpulkan bahwa Ajeng hanya orang psycho yang berlagak jadi peramal.

Madrim Joyokusumo: istri dari pengusaha kaya raya –Bintang Joyokusumo. Hidupnya baik-baik saja, hingga suatu hari Mas Bin –suaminya, meninggal karena serangan jantung. Seorang wanita mengaku sebagai istri simpanan Mas Bin datang melayat, membawa seorang anak perempuan, membuat Madrim menyimpan dendam berlarut-larut, namun sekaligus membongkar masa lalu kelamnya bersama Bisu –pelukis yang pernah dipacarinya semasa muda.

Bintang Joyokusumo: Pengusaha kaya raya yang dikenal rendah hati dan begitu menyayangi keluarga. Tidak pernah ada yang menyangka bahwa ia memiliki seornag anak dan istri simpanan di luar sana. Passionnya di bidang antropologi, walaupun akhirnya terjun ke dunia bisnis karena desakan orangtua.

Sinta Iswandari Joyokusumo: Putri tunggal Madrim dan Bintang Joyokusumo. Terbiasa hidup dan tumbuh di negara-negara tetangga, serta meneruskan studi ke Amerika hingga akhirnya bisa menjadi jurnalis yang cukup sukses. Sinta cukup dekat dengan ayahnya, hingga merasa wajib mencari tahu tentang Asih –anak ayahnya dari perempuan lain itu.

Muhammad Ibrahim (Bisu): Di masa lalu pernah menjadi kekasih Madrim, yang ternyata masih dicintainya hingga puluhan tahun kemudian, bahkan hingga Bintang Joyokusumo meninggal, Madrim bertekad kembali mencari Bisu ke Malang –kota masa muda mereka.

4. Plot

Plot dan ceritanya menarik. Seenggaknya, nggak ketebak dari awal ceritanya akan dibawa ke mana. Lalu di ending cuma bisa bengong : )) oh, ternyata!

Butuh dua malam untuk meludeskan Doa Ibu. Oh, alurnya maju walau memang ada sedikit flashback-flashback ke masa lalu Madrim.

Sekar Ayu Asmara seolah mengedepankan hobi melukisnya dalam novel. Terbukti dari setiap awalan bab, semua keadaan selalu diumpamakan dengan warna-warna; rose madder deep, cadmium yellow light, manganese blue, cerulean blue, cobalt turqouise, flake white, permanent light blue, oxide green, aurora yellow, venetion red, phthalocyanine green, dll.

5. POV

POV 3.

6. Main Idea/Theme

Tentang seorang pelukis muda bernama Ijen yang berada dalam ketidakpastian untuk menemmukan istri sahabatnya. Tapi semakin ia mencari, semakin banyak kejanggalan yang ia temukan. Hingga kemudian teman-temannya ikut menghilang satu per satu. Ijen sendiri akhirnya menghilang dan kembali pada takdirnya.

7. Quotes

Kemewahan berasal dari kesederhanaan. – hal. 7

Sulit dipercaya, Ayah tidak akan lagi menunggu di depan pintu rumah menyambutku datang seperti biasanya. Sukar dibayangkan, Ayah tak akan lagi duduk di meja makan, tak sabar mendengar cerita-ceritaku. – hal. 26 (Mungkin ini bukan sesuatu yang bagus untuk dikutip, tapi percayalah, untuk kalian yang pernah merasa seperti kalimat di atas, kalimat itu akan terasa seperti dejavu yang begitu menyedihkan. Gue pernah. Pikiran itu datang setahun yang lalu, tepat setahun yang lalu. Hal yang lebih menyedihkan, seluruh yang ditulis SAA itu benar. Biasanya ada bokap yang nungguin di depan rumah, lalu nggak sabar mendengarkan cerita-cerita dari rantau. Sekarang, tidak lagi).

Selama kita menyangkal kita sedang menghadapi musibah, kita tidak pernah akan merasa sakit. Menyangkal cukup ampuh untuk mematikan rasa sakit. – hal. 44

Tujuan hidup gue cuma dua. Satu, dia harus nikmat, gue senang. Dua, gue harus nikmat, dan dia senang. – Cepol, hal. 67

Perasaan selalu gue simpen di hati, gue tutup pintu hati gue rapat-rapat. Jangan kayak Giok Nio. Pintu di hatinya kayak pintu Gereja Katedral. Selalu terbuka bagi umatnya. Dan semua yang masuk dia anggap dan yakini sebagai jemaat yang beriman. – Cepol, hal. 67

Cinta itu emang harus pakai keyakinan, bukan? – Giok Nio, hal. 67

Kalau laki udah ngajal lo resmi mencatat di KUA, dan lo udah megang buku nikah, dan juga semua tetangga udah bisa panggil lo Nyonya nah, bolehlah saat itu lo percaya sama laki. Kalau belum sih, anggap aja lo lagi ngikutin mata pelajaran biologi, dan laki itu bahan praktikumnya. – Cepol, hal. 67

Saya ingat, ada kata-kata orang bijak. Bahwa di dunia ini tidak ada yang benar-beanr hilang. Apa pun benda yang hilang itu, sebenarnya masih ada, namun memang belum diketemukan saja. – Ijen, hal. 76

Hanya ada satu warna yang tepat untuk melukiskan orang psycho. Yaitu hitam. Baik itu hitam lamp black atau ivory black. Semua perpaduan warna yang cenderung hitam cocok menggambarkan jiwa yang sakit. – hal. 159

8. Ending

Memuaskan! : )) Ending yang begini, yang jarang gue temui di novel-novel jaman sekarang. Tapi wajar, sih, ya. Sastra biasanya berbeda. 😐 penulis muda jarang yang mampu melukiskan cerita sedalam ini (termasuk gue sendiri).

9. Questions

Kenapa Belahan Jiwa dan Pesan dari Surga nggak dijadikan novel, Mbak? 😐 *serius nanya*

10. Benefits

Manfaat utamanya mungkin, sih, gue jadi cukup tahu tentang lukisan-lukisan. Aliran-aliran lukisan mereka, juga warna-warna yang ternyata banyak banget. Dan namanya bagus-bagus *hening*

Tapi yang jelas, satu hal yang gue ambil dari gaya bercerita SAA adalah, satu cerita bisa dibawa ke manapun, dijadikan apapun. Dan beliau selalu berhasil menyulap cerita-ceritanya menjadi cerita yang keren 🙂

11. Lain-lain

Satu-satunya yang kurang gue pahami adalah, mengapa Madrim memilih adopsi anak. Dan kenapa pula suaminya bisa sampai ndak tahu. Entah, misteri Ilahi 😐

*

Next, 5/5 bintang untuk Doa Ibu, Ijen, Madrim dan Sekar Ayu Asmara.

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW: Doa Ibu – Sekar Ayu Asmara

  1. Aku juga tertarik baca Kembar Keempat karena si penulis yg bikin Script-nya Belahan Jiwa (my fave Indonesian movie). Tapi aku blem baca yang ini.
    Sekar Ayu Asmara keren banget kalo bikin unsur kejutan di cerita-ceritanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s