REVIEW: Pasung Jiwa – Okky Madasari

Judul: Pasung Jiwa (Apa Itu Kebebasan?)
Penulis: Okky Madasari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2013 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 55.000
Jumlah halaman: 328 hal.
ISBN: 978-979-22-9669-3
Status: Baca bareng Reight Book Club, Januari 2014

*

Blurb:

Apakah kehendak bebas benar-benar ada?

Apakah manusia bebas benar-benar ada?

Okky Madasari mengemukakan pertanyaan-pertanyaan besar dari manusia dan kemanusiaan dalam novel ini.

Melalui dua tokoh utama, Sasana dan Jaka Wani, dihadirkan pergulatan manusia dalam mencari kebebasan dan melepaskan diri dari segala kungkungan. Mulai dari kungkungan tubuh dan pikiran, kungkungan tradisi dan keluarga, kungkungan norma dan agama, hingga dominasi ekonomi dan belenggu kekuasaan.

*

Review:

Buku ini dipilih Mbak @indtari sebagai buku untuk baca bareng Reight Book Club bulan Januari. Sebelumnya memang pernah denger nama Mbak Okky Madasari sebagai pemenang Khatulistiwa Literary Award 2012, tapi belum pernah baca novelnya. Berhubung ini yang pertama, gue sempat nanya-nanya pendapat orang. Dan menurut temen-temen lain, bukunya cukup bagus. Khususnya Pasung Jiwa, bercerita tentang dunia transgender. Gue sering melihat orang seperti mereka, membaca tulisan tentang mereka, namun Mbak Okky membawa gue masuk ke dalam dunia mereka. Sepuluh sampai tiga puluh halaman pertama, gue penasaran, lima puluh sampai seratus sekian halaman –gue takjub, tiga perempat buku sampai ending, gue akhirnya menutup bukunya dengan puas. Merasa nggak sia-sia memilih membaca buku ini selama berjam-jam (dan meninggalkan materi lain yang harus gue pelajari) *kelakuan* : ))

Sekilas sebelum direview per point, blurbnya kurang menceritakan isi, ya? Nih, selewat. Tanpa spoiler tentunya.

Adalah seorang anak lelaki bernama Sasana, terlahir dari keluarga baku yang serba teratur. Ayah ibunya mengatur Sasana untuk menjadi begini dan begitu, ia hidup dalam aturan selama bertahun-tahun. Bahwa seorang Sasana harus bisa ini dan harus bisa itu, bahwa segala yang dipilihkan orangtuanya adalah jalan paling baik. Namun Sasana merasa hidupnya seperti robot. Ia hanya mesin, orangtuanya adalah ‘majikan’ pemilik mesin yang dapat mengendalikan tubuhnya seperti kemauan mereka –apapun itu.

Hingga suatu hari ia bertemu Jaka Wani, seorang yang selalu optimis dalam hidup, namun tak kunjung menemukan keberanian dalam dirinya. Pikirannya kadang optimis, namun tubuhnya tidak bertindak dan mencerminkan isi pikiran tersebut. Jaka Wani terombang-ambing dalam belenggu hidupnya sendiri. Pertemanannya dengan Sasana membawa mereka pada sebuah dunia baru, dunia yang katanya menawarkan kebebasan. Mereka melakukan apapun yang mereka mau, mendendangkan apapun yang mereka ingin.

Tapi ketika sebuah jalan lain membawa Jaka Wani berbelok, tiba-tiba saja ia berada di sebuah pilihan sulit, melindungi Sasana –sahabatnya sekaligus adiknya, atau mengikuti perintah Allahnya. Kemanusiaannya diuji, melalui sebuah jalan yang dulu mereka sebut dengan kebebasan.

Itu intinya, masih kurang jelas? Silahkan baca sendiri :p Buku seperti ini terlalu sayang jika hanya dibaca melalui spoiler orang lain. Beneran, deh. Berikut review lengkapnya.

1. First impression
Saat pertama kali melihat covernya, yang gue pikirkan adalah, “maknanya dalam.” Seorang perempuan dibalik belenggu terali besi, namun berjakun : )) jakunnya itu mungkin hal kecil yang nggak semua orang mampu menyadari dalam sekali lihat, tapi kalo diteliti lebih jelas, ya, makna gambar covernya memang dalam 🙂 Suka!

2. How did you experience the book?
Tulisan Mbak Okky rapi dan cukup nyaman dibaca dari awal hingga akhir. Terlepas bahwa beliau adalah seorang pemenang KLA, tanpa embel-embel itu pun gue berani berkata bahwa Pasung Jiwa sebuah buku yang bagus. Topik yang dipilihnya menarik. Mungkin di luar sana ada banyak kisah dan cerita tentang transgender, tapi ketika membaca buku ini, gue menyelami dunia mereka lebih dalam. Sempat merasa sedih kalo ingat, pernah beberapa kali agak geli melihat tingkah para transgender. Geli aja gue sampe sedih pas abis baca buku ini, gimana sama orang yang sering ngata-ngatain ‘bencong’ atau ‘cong’ atau memaki-maki dan menghina mereka, ya? Kalian harus baca buku ini : )) Biar simpati sedikit pada mereka-mereka itu 🙂

3. Characters
Sasana: Seorang anak lelaki yang sedari kecil merasa bahwa hidupnya adalah kurungan. Ia terkurung dalam tubuh yang membuatnya kesal, dalam keluarga yang memperlakukannya seperti robot. Alasan Sasana bisa tertawa dan bernyanyi hanya Melati, adik kecilnya yang selalu riang dan sering tersenyum. Jauh di dalam hatinya sendiri, Sasana menaruh sedikit rasa iri pada Melati. Ia ingin menjadi seperti Melati.

Melati: Adik Sasana, anak perempuan yang dilukiskan begitu manis dan murah senyum. Kelakuannya nyaris tanpa minus hingga sepanjang buku tidak pernah ada konflik antara Melati dan keluarganya. Melati ini juga sayang banget sama kakaknya.

Jaka Wani: Pria asal Malang yang pertama kali bertemu Sasana di warung Cak Man –warung yang tidak jauh dari kos-kosan mahasiswa yang ditempati Sasana. Ia juga orang pertama yang membawa perubahan besar dalam diri Sasana, atau Sasa.

Cak Man: Pemilik warung yang cukup dekat dengan Sasana dan Jaka Wani. Bahkan memperbolehkan mereka mengais rejeki di warungnya. Suatu hari menghilang dalam perjalanan mencari putrinya, Marsini –yang belakangan diketahui telah dibunuh karena menentang orang-orang pabrik perihal gaji buruh.

Marsini: Tokoh yang tidak pernah terlihat sepanjang cerita, namun gue merasa dia penting untuk dikenal pembaca. Kenapa? Ia seorang buruh, menentang kesewenang-wenangan pihak yang berkuasa atas diri mereka –para buruh. Ia menuntut kenaikan upah sesuai standar pemerintah yang baru, namun pihak pabrik ‘menghilangkan’ dirinya dengan sengaja, alias dibunuh. Kenapa tokoh ini penting? Karena ia seorang pejuang. Kisah Marsini mungkin saja pernah ada di luar sana, terjadi pada buruh-buruh lain, who knows?

Ibu dan ayah: orangtua sasana. Ibu seorang dokter bedah dan ayah seorang pengacara. Ayah Sasana adalah orang yang paling keras wataknya, hingga tak bisa menerima perubahan apapun yang terjad dalam diri putranya, berbeda dengan Ibu yang lebih mau mengalah dan akhirnya menerima Sasana sebagaimana adanya.

Memed dan Leman: dua bocah pengamen tanpa keluarga yang dibawa pulang Sasana dan Jaka Wani, yang akhirnya membantu mereka mencari uang bersama-sama. Namun Memed dan Leman tertinggal di Malang ketika mereka semua tertangkap saat tengah protes di depan pabrik tempat Marsini bekerja.

Masita: Seorang dokter magang di rumah sakit jiwa. Gadis muda yang berbeda dari orang-orang sekitarnya. Mungkin juga satu-satunya dokter ahli jiwa yang menganggap bahwa orang gila tak punya masalah apapun dengan kejiwaannya, yang salah hanyalah anggapan orang-orang lain yang merasa diri mereka waras : )) pemikiran tokoh ini keren.

Elis: Pelacur di Sintai, Batam, yang ditemui Jaka Wani ketika menghabiskan akhir pekannya. Pelacur yang kemudian membuatnya jatuh cinta, namun pergi entah ke mana, karena Jek terlalu pengecut membelanya dari masalah.

Tokoh lainnya masih ada, tapi kayaknya kepanjangan kalau dituliskan di sini : )) Sisanya bisa baca sendiri.

4. Plot
Plotnya menarik, sangat menarik. Gue melahap buku ini selama 2 hari, karena bacanya di sela-sela kesibukan (?) *diterjang*

Alurnya stabil dan maju 🙂 Mbak Okky seperti tahu kapan harus menghadirkan sebuah bagian yang menghentak dan menarik simpati pembaca. Setidaknya itu yang gue rasakan ketika membaca halaman 262 dan 263 🙂

5. POV
Ada 2 POV, POV Sasana dan POV Jaka Wani. Terkadang, pembaca dibawa dalam cerita dari sudut pandang Sasa, terkadang dari sudut pandang Jek.

6. Main Idea/Theme
Lika-liku perjalanan hidup seorang transgender yang memilih jalan sebagai seniman dan berjuang keluar dari belenggu hidupnya sendiri.

7. Quotes
Sesungguhnya kami hanya rutin berjumpa di satu titik pertemuan. Titik itu adalah pintu dari masing-masing kesunyian. Kami sama-sama berteriak membuat kegaduhan hanya agar separuh hati kami percaya, ada banyak orang yang sama-sama terperangkap seperti kami. – hal. 130

Pikiranku ini sudah mati rasa. Cuma ikut saja pada apa yang dianggapnya sudah seharusnya. – Banua kepada Sasana, hal. 137 <— untuk pertama kalinya gue kagum sama orang gila. Mereka sekarang terasa lebih waras daripada orang yang waras sekalipun.

Dalam pikiranku ini, sudah ada tempelan-tempelan bagaimana seharusnya hidup yang benar, yang sama kayak hidup banyak orang, jelasnya. Pikiran yang cuma tempelan ini lalu jadi penjaja tubuhku sendiri. – masih Banua, hal. 138

Sementara jiwa adalah kesadaran yang menempel dalam keberadaan manusia. Sangat kecil, sangat tersembunyi. Suaranya selalu jernih, tapi lirih tak terdengar. Kesadaran yang lama tak diperhatikan, akhirnya makin tersembunyi, kalah oleh timbunan-timbunan suara luar yang diyakini sebagai kebenaran. – hal. 138-139

Jika kebebasan itu ada, aku tak akan pernah ketakutan lagi. Kebebasan baru ada jika ketakutan sudah tak ada. – Sasana kepada Masita, hal. 144

Tak ada jiwa yang bermasalah. Yang bermasalah adalah hal-hal yang ada di luar jiwa itu.  Yang bermasalah itu kebiasaan, aturan, dan orang-orang yang mau menjaga tatanan. Kalian semua harus dikeluarkan dari lingkungan mereka, hanya karena kalian berbeda. – Masita to Sasana, hal. 146

Kami orang-orang tak waras yang ingin terus memelihara kegilaan kami. – Sasana, hal. 155

8. Ending
Endingnya sendiri cukup memuaskan, walau gue berharap akan ada cerita yang lebih panjang sedikit saja dari ending. Di sana cuma dituliskan bahwa mereka bebas. Tadinya gue berharap, setidaknya Sasana menjadi seniman lagi berdua dengan Jaka Wani –sesaat setelah mereka menghirup udara kebebasan dan menjadi Sasa serta Jaka yang baru. I wish 🙂

9. Questions

  • Apa Mbak Okky butuh waktu lama untuk riset saat menulis buku ini?
  • Apakah ada bagian-bagian yang nyata dari novel ini? Atau mungkin Sasana itu ada sosok yang sebenarnya di dunia nyata? Pengin tahu aja 🙂
  • Hmm, apa Mbak Okky mendapat kritikan atau tanggapan negatif ketika menuliskan tentang dunia transgender? Well, karena sepertinya tidak semua orang suka/ bisa menerima topik semacam ini. Jadi sekali lagi, karena penasaran, jadi pengin tahu apa ada yang berkomentar sinis atau sejenisnya : ))

10. Benefits
Manfaat gue baca buku ini adalah karena pengetahuan gue tentang dunia mereka –para transgender jadi nambah. Bahwa mereka juga manusia –sama seperti yang lainnya dan nggak suka diperlakukan seenak jidat. Mendadak gue merasa betapa manusia yang merasa dirinya waras/normal terkadang jahat sekali kepada mereka yang dianggap tidak waras/tidak normal seperti kaum transgender. Sasana dan Jaka Wani (atau mungkin Jaka Baru), telah mengubah banyak pola pikir dalam kepala gue : ))

Overall, 5/5 bintang untuk Pasung Jiwa dan Okky Madasari. Satu lagi buku bagus yang berhasil gue selesaikan. Nyam! :9

Dan kemarin sempat kaget karena ada teman Path yang komen di foto buku Pasung Jiwa gue, dia bilang, Okky itu teman seangkatan saya sewaktu kuliah dulu. Senang punya teman seorang penulis beken. Hahaha.

Lalu gue berencana nodong foto bareng *dikeplak* 😐

Advertisements

4 thoughts on “REVIEW: Pasung Jiwa – Okky Madasari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s