REVIEW: Postcard from Neverland – Rina Suryakusuma

Judul: Postcard from Neverland (Amore)
Penulis: Rina Suryakusuma
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Agustus 2010 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 33.000
Jumlah halaman: 280 hal.
ISBN: 978-979-22-5698-7

*

Blurb:
Hidup identik dengan kesulitan. Paling tidak, itulah yang dialami Ami Siswoyo. Gadis cantik, single, muda, tapi dari keluarga kurang mampu. Ami terpaksa putus kuliah di tengah jalan, bekerja jadi pelayan cafe, dilecehkan dan ditawar-tawar orang seperti barang. Memuakkan!

Hanya satu hal yang memberi Ami kekuatan untuk tetap bermimpi dan bisa mengubah nasib, yaitu kartu-kartu pos kiriman almarhum ayahnya yang meninggal di tahun terakhir studi di Jerman.

Sampai pada suatu kesempatan, Ami bekerja sebagai pelayan di tempat Joshua Leinard. Pria bule berusia 44 tahun yang peduli padanya ketika semua orang menyudutkannya. Pria yang menghargainya ketika semua orang menyepelekannya. Pria yang mencintainya tanpa pamrih dan memberinya kebahagiaan tanpa batas.

Dan hidup Ami berubah!

Hanya saja, mampukah mereka bertahan dari sejuta rintangan?

Mereka hidup di dua dunia yang berbeda. Sanggupkah mereka membangun jembatan untuk menyatukan cinta mereka?

*

Review:

Jadi ceritanya lagi pengin baca beberapa novel Amore –genre baru Gramedia. Setelah muter-muter Goodreads, gue memutuskan membaca buku ini. Karena menurut pengamatan pribadi, Rina Suryakusuma lumayan digemari tulisannya. Lullaby atau apa gitu judulnya, ya. Sama Lukisan Keempat, cukup sering gue lihat seliweran di daftar review orang. Jadi karena kebetulan Postcard from Neverland ini yang blurbnya menarik perhatian gue, inilah yang gue baca pertama kali. Ini dia review lengkapnya.

1. First impression

Waktu pertama kali gue megang buku ini, yang gue pikirkan adalah, ‘waw, so harlequin, ya?’ terlebih juga karena warnanya ijo-ijo soft begini, ditambah ukurannya memang sama dengan buku harlequin pada umumnya. Tanpa tahu isi dalam, tapi dari luar aja gue bisa menyimpulkan buku ini memberi kesan bahwa dirinya adalah harlequin versi lokal. Ketika gue sudah lanjut membacanya, gue bangga. Bangga kenapa? Karena intuisi gue bener, nggak meleset kayak Meggie yang salah kaprah tentang Ami ngedeketin anaknya –padahal Ami pacaran sama suaminya. *oke deh, Meggie* : ))

2. How did you experience the book?

Ceritanya memang dari awal udah dikemas ringan. Walaupun di back covernya ada titel novel dewasa, tapi gue merasa ini nggak dewasa-dewasa amat, sih, ya. Beloved-nya Diana Palmer lebih-lebih daripada ini, juga adegan ranjangnya. *mengakui* 😐 Kalo novel ini sih masih ditulis secara tersamar adegan dewasanya. Kalo sekedar kissing, di genre YA juga rame.

Tapi gue nggak butuh waktu lama membacanya. Kira-kira 2 jam dan langsung tandas. Tipis begitu 😐 Sekali lagi, gue masih heran, kenapa bukunya kecil kayak harlequin? Sedangkan 3 juara umum Amore itu bukunya ukuran normal semua? Apa ini memang tujuan terselubung dari pihak penerbit untuk memberi kesan harlqeuin lokal pada novel ini? :\

3. Characters

Ami Amarell Siswoyo (Ami): Cewek umur 21 tahun yang terpaksa putus kuliah karena ayahnya mendadak meninggal, hingga dia nggak punya biaya lagi. Selain itu, ia juga bertanggungjawab atas ibu dan seorang adiknya yang masih sekolah dan butuh banyak dana. Ami kemudian bekerja sebagai pelayan cafe, namun sering dilecehkan atau ditawar pelanggan hidung belang karena wajahnya yang cantik.  Tapi hidupnya berubah setelah bekerja pada Joshua Leinard.

Joshua Leinard (Josh): Pria bule kaya raya yang berumur 44 tahun, beda 23 tahun dari Ami –rentang yang cukup jauh, namun gue akui Josh ini memang baik. Selain dia nggak mata keranjang kayak bule kebanyakan (melihat kenyataan bahwa banyak cewek naksir dia), dia juga nggak pernah menuntut banyak atau bersikap arogan meski dia kaya raya. Cowok ini duda anak satu, pisah karena istrinya ketahuan selingkuh belasan tahun lalu.

Dennis Leinard (Dennis): Cowok 20 tahun, putra tunggal keluarga Leinard. Ia kuliah di Seattle selama bertahun-tahun dan mendadak liburan lagi ke Indonesia. Bertemu Ami ketika ia pulang ke rumah ayahnya, lalu menaruh hati. Oke, drama bapak dan anak rebutin awewek :p Tapi untungnya Dennis ini baik juga –seperti ayahnya. Dia nggak kekeuh merebut Ami dari ayahnya jika Ami memang nggak mau menerima dia, bahkan dia yang menyelamatkan Ami pertama kali dari kemungkinan diserang ibunya.

Margareth Adiwijaya (Meggie): Mantan istri Josh yang tetap ingin kembali padanya setelah lewat dua belas tahun. Josh yang memang nggak cinta lagi menolak kehadirannya mati-matian, juga marah besar karena ia memperlakukan Ami dengan buruk. Ini tokoh antagonisnya, btw. Belakangan atas pengakuan anaknya, diketahui Meggie mengidap kanker stadium 4 dan ingin kembali pada Josh untuk memperbaiki masa lalu. Kanker lagi, penyakit yang memang umum digunakan dalam sebuah novel karena efek buruknya lebih cepat *lap air mata* :’|

Oh iya, tapi akhirnya si nyonya sok kuasa ini meninggal. Gue kok jadi seneng, ya? Gue selalu seneng ketika tokoh antagonis berakhir tragis. *pembaca yang jahat* Karma does exist *semakin jahat*

Lusiana Mustika (Lusi): Sahabat baik Ami yang sering memberinya saran atas masalah-masalahnya, juga yang pertama kali mengajak Ami melamar kerja di hotel hingga Ami bisa bertemu Josh. Walau di beberapa bagian cerita, tokoh Lusi ini agak-agak minta ditabok, tapi sejauh yang gue tahu, dia memang cukup banyak membantu hidup Ami, baik dalam bentuk saran maupun lowongan pekerjaan.

Beberapa tokoh lainnya masih ada, tapi figuran. Misalnya Mama Ami, Fia –adik Ami, Mbok Asih dan Laksmi –pembantu Josh yang lain, dan sebagainya. Terlalu panjang untuk diceritakan di sini.

4. Plot

Plot dan idenya lumayan menarik, tapi diramu dalam gaya yang so telenovela dan harlequin bingits 😐  Cuma, ya, kalau ini bukan fiksi, gue akan merasa sangat horror membayangkan cewek 21 tahun nikah sama cowok 44 tahun. Dulu aja dideketin cowok yang bedanya cuma 15 tahun, gue kabur segera. Apalagi ini yang 23 tahun :)) Matik aja, matik. Matiikk 😐 *kena toyor.

Alurnya maju; nggak terlalu cepat, nggak terlalu lambat. Stabil. Tapi mengenai time line ceritanya, menurut pendapat gue pribadi, apa iya ada bule yang udah duda bertahun-tahun dan enggan membuka hati untuk perempuan, bisa jatuh cinta sama seorang gadis belia umur 21 tahun hanya dalam hitungan 2 minggu saja? Agak-agak nonsens sih, cuma cinta kadang nggak bisa ditebak, kan, ya? Agak susah mengotakkannya ke dalam teori logika. *apa sih ini, Mput*

5. POV

POV orang ketiga.

6. Main Idea/Theme

Tentang seorang cewek yang putus sekolah karena ayahnya mendadak meninggal dan dia kehabisan biaya. Dia berusaha mencari pekerjaan yang baik namun tetap dilecehkan orang karena ia berasal dari keluarga tidak mampu. Namun hidupnya berubah sejak bertemu seorang bule kaya raya dan akhirnya saling jatuh cinta.

Oh, Rudolfo, jangan dekati aku lagi! Mana Alejandro? 😐 *eh, bukan, ya* *salah lapak*

7. Quotes

Well, jika ini yang namanya cinta dan rasa ini bisa membuatnya bahagia, peduli amat mereka bilang apa. Ami siap berjuang. The feeling, the journey, the love, they all worth the fight.

8. Ending

Jika ditanya, apa endingnya memuaskan? Jawaban gue adalah IYA. Setidaknya endingnya nggak drama-drama banget, deh. Nggak setelenovela bagian tengahnya, udah anaknya dateng, eh ujug-ujug mantan bininya juga dateng. Gue bahkan sempat khawatir endingnya adalah Ami yang hamil –akibat one night stand sama si Josh, lalu dengan perjuangan sepenuh hati Josh berkeras kembali padanya. Lalu bagian ingin kuliahnya dilupakan begitu saja. Ya, untun aja nggak begitu. Kalau memang begitu, gue akan sangat kecewa sekali 😐

Tapi bener, ending yang seperti di buku itu memang yang terbaik menurut gue. Realistis juga. Walau Meggie sudah meninggal setahun, Josh nggak langsung nyari Ami. Karena dia tahu, Ami ingin kuliah dulu biar bisa setara sama dia. Nah, itulah logikanya 🙂 Logikanya klop menurut gue. Jadi nggak cuma mengedepankan roman dan fiksinya, dipertimbangkan juga seandainya ini nyata, apa yang akan dilakukan seorang Joshua Leinard pada bagian menjelang ending?

Dan IMO, penulisnya memilih cerita yang cukup baik untuk dijadikan ending. Harus kecewa dulu baru mendadak mendapati Josh muncul lagi. :3 Karena tak ada kisah yang selalu indah, realitanya sendiri begitu, kok.

9. Questions

  • Pertanyaan yang sama dengan isi review The Fault in Our Stars-nya John Green: kenapa kanker? Kenapa bukan penyakit lain? : )) penyakit satu ini sudah kelewat mainstream untuk dituliskan jadi penyebab kematian, walaupun gue mengakui bahwa kanker adalah penyebab kematian yang paling cepat dan menyedihkan. *lalu tjurhat* *pukpuk Ami* *senasib*
  • Gue juga masih bingung sebenernya apa tujuan Josh menjadikan Ami pelayan di rumahnya? Sedangkan di rumahnya dia punya 2 pembokat, 1 supir dan 1 tukang kebon. Apa 4 orang masih nggak cukup untuk mengurus 1 majikan dan segala keperluannya? 😐 *mungkin jawabannya adalah, untuk menemukan seorang asisten yang bisa mengurus keperluannya yang lebih pribadi, misalnya mengatur lemari baju sesuai warna dan fungsi atau menyediakan sarapan pagi Josh yang kayaknya itu tugas Mbok Asih sebelum Ami tiba. Tapi sungguh, gue berharap dapat alasan yang lain yang lebih greget. Karena mempekerjakan seorang wanita cantik nan belia (dengan gaji 3x lipat dari gaji restoran mewah) yang bodinya kayak model cuma untuk nata lemari, bukan hal yang masuk akal, akan lebih masuk akal kalau Ami ditugaskan mengatur pembukuan rumah tangga, bagian administrasi gitu. Atau mungkin juga jawabannya karena satu kata paling menyedihkan: kasihan.* :’|

10. Benefits

Manfaat gue baca buku ini? :\ Gue jadi punya gambaran yang lebih jelas, Amore itu gimana. Dalam rangka riset untuk impian berikutnya : )) Kirim naskah ke GPU *halagh*

11. Lain-lain

Poin yang tidak tertera di atas, akan gue tuliskan di sini.

Judul: Judulnya, Postcard from Neverland, itu bagus banget menurut gue. Menarik perhatian untuk dibaca. Tapi gue nggak ngerti kenapa cerita ini diberi judul seperti itu. Okelah, mungkin karena Ami selama ini memang selalu menyayangi kartu-kartu pos dari ayahnya yang dikirimkan dari Jerman –tempat yang disebut Ami sebagai antah berantah alias Neverland karena dia belum pernah ke sana. Tapi kisah tentang postcard itu sendiri tidak mendapat porsi banyak dalam cerita ini. Hanya sekilas disebut di awal, ketika katanya Mama Ami tahu anaknya menyimpan postcard dari sang papa dalam sebuah kotak dan sesekali membukanya untuk dibaca.

Lalu dibahas kedua kalinya menjelang ending, ketika Ami merasa bingung dan melihat-lihat postcard itu lagi. Namun yang membuatnya memutuskan pergi ke Seattle adalah saran Lusi –sahabatnya dan keinginannya untuk setara dengan Josh serta impiannya untuk lanjut kuliah. Porsi postcard itu sendiri sangat sedikit pengaruhnya dalam hidup Ami (sepanjang yang gue baca), jadi kayaknya judulnya nggak memberi banyak kesan di dalam cerita. Sekedar judul yang bagus saja.

Cover: Agak OOT, tapi ketika melihat covernya, gue kebayang Ngarai Sianok di Bukittinggi. Yang nggak tahu, coba googling aja. Ngarai itu bagus tempatnya, salah satu icon wisata Sumatera Barat. #VisitWestSumatera2014 :p *sekalian iklan aja sih*

*

Overall, 2/5 bintang untuk Postcard from Neverland. Gue sendiri agak bingung dengan penilaian. Niatnya sih 2.5 bintang, tapi di Goodreads nggak ada pilihan 0.5-nya, jadi harus genap 2 atau sekalian 3.

Ah, dan nanti akan mencoba baca Amore-nya Rina Suryakusuma yang lain, semoga bisa greget dari yang ini.

Sejauh ini kesimpulan gue tentang Postcard from Neverland adalah, Harlequin rasa lokal. 😐 *ditambah lagi tokohnya juga bule dan tajir mampus, khas cerita-cerita drama harlequin*

Advertisements

4 thoughts on “REVIEW: Postcard from Neverland – Rina Suryakusuma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s