REVIEW: Don’t Tell Me Anything – Vasca Vannisa

Judul: Don’t Tell Me Anything
Penulis: Vasca Vannisa
Penerbit: Fatamorgana Publisher
Tahun Terbit: Oktober 2010 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 55.000 (tapi gue belinya ke @alizarinnn Rp. 30.000)
Jumlah halaman: 428 hal.
ISBN: 978-602-97292-0-7

*

Blurb:

Pernahkah depresi membuat anda menenggelamkan diri dalam tidur yang sangat lama? Bagi beberapa orang, tidur yang panjang membuat mimpi terlihat lebih nyata dari kenyataan. Itulah yang dialami gadis belia bernama Stella, ia larut dalam dunia baru yang lebih indah, di mana dirinya bisa melakukan segalanya, bisa mendapatkan segalanya. Hingga suatu saat ia tak pernah benar-benar bisa bangun.

Berawal dari kesalahan-kesalahan kecil yang diabaikan, kejadian tragis terus-menerus berlanjut, hingga mengakibatkan kematian sembilan orang, termasuk anggota keluarganya sendiri. Stella terbangun di sel tahanan tanpa tahu apa yang terjadi.

Benarkah Stella sang tertuduh amnesia adalah psikopat berkepribadian ganda seperti vonis pengadilan? Ataukah sebuah konspirasi khusus sedang bermain dibalik semua kejanggalan? Teka-teki menggantung oleh berita kematian sang gadis.

Lika-liku penyelidikan detektif muda 13 tahun kemudian kembali membuka kasus masa lalu yang tak terselesaikan. Dengan bermacam trik berusaha menyibak topeng sang pembunuh yang sesungguhnya. Mengadu kelihaian pikiran, siapakah yang lebih pintar diantara mereka.

Dirinya ataukah sang psikopat?

*

Review:

Finally, akhirnya gue nemuin novel satu ini setelah mencarinya sekian lama. Buku pertama Vasca Vannisa yang gue baca adalah Paranoid, dan terlepas dari segala eksekusi ceritanya, gue harus mengakui bahwa Vasca penulis yang berbeda. Dia akan jadi penulis thriller yang keren karena idenya nggak biasa. Tapi sekali lagi, eksekusinya harus dimantapkan. But, yeah, sejauh ini gue selalu suka baca bukunya.

Buku ini gue beli dari temen BBI, kolpri dan harganya lumayan murah ketimbang harga barunya yang gocap keatas. Setelah menghabiskan waktu dua malam, buku empat ratus halaman ini berhasil gue lahap habis.

1. First impression

Cover depannya udah bagus dan sesuai isi bukunya, terlihat kelam dan mencekam. Tapi kurang sreg sama cover belakangnya. Kayaknya terlalu ramai dan agak bikin sakit mata ketika akan membaca blurbnya 😦 Gue sih akan lebih suka lagi kalo belakangnya hitam polos dengan sedikit bayang-bayang –entah sentuhan apa kek, gitu, yang penting nggak seramai cover yang sekarang, jadi blurb akan terbaca dengan jelas.

2. How did you experience the book?

Awalnya agak bingung, apa yang terjadi dengan cewek belia bernama Stella Haris ini sebenarnya? Dia tidak terlihat lugu seperti seharusnya gadis kelas tiga SMP. Malah terlalu berani dan sinis. Tapi kemudian gue paham ke mana alur ceritanya dibawa. Seenggaknya, ini bukan termasuk buku yang bikin gue pengin cepet-cepet menutup dan malas menyelesaikannya. Bukan sama sekali.

3. Characters

Stella Haris: Gadis belia kelas tiga SMP yang tinggal di kota kecil tak jauh dari Jambi, Sumatera. Di kota kecilnya yang selalu berkabut, dingin dan mendung itu, Stella tinggal bersama orang tua serta kedua saudara perempuannya. Stella tertuduh atas kasus pembunuhan 9 orang sekaligus, belum lagi kematian Dian –kakak perempuannya. Keluarganya jadi hancur berantakan, padahal Stella sama sekali tidak merasa bahwa ialah yang menyebabkan kematian-kematian beruntut tersebut. Pikirannya tertidur panjang, karena selama ini orangtuanya selalu menekan batinnya. Akhirnya Stella divonis punya penyakit kejiwaan, kepribadian ganda. Adalah Prof. Gary Stevanus yang kemudian melepaskan jeratan hukumnya dan membawa Stella ke RSJ untuk dirawat.

Dian: Anak pertama keluarga Haris. Umurnya beda beberapa tahun dari Stella dan duduk di bangku SMA. Sama seperti Stella, Dian ini tipe pendiam dan tertutup di sekolahnya. Hingga suatu hari ia diperkosa dua lelaki teman sekolahnya dan tak berapa lama kemudian ditemukan gantung diri di kamarnya sendiri. Membuat kehidupan keluarga Stella berubah.

Chika: Adik Dian dan Stella yang berumur 7 tahun. Di usianya yang sangat kecil itu, Chika menyaksikan satu-persatu kehancuran keluarganya. Mulai dari Stella yang sering dituduh sebagai pembawa sial oleh ibu mereka sendiri, kematian Dian, kepergian ayahnya bersama wanita lain, hingga ibunya yang akhirnya meninggal karena tidak sanggup lagi menahan guncangan kejiwaan. Setelah keluarga Haris terpecah belah, kabar mengenai Chika simpang siur. Ada yang mengatakan ia sudah di adopsi seseorang dan diamankan keluar negeri. Ada juga yang bilang ia lenyap, tapi sebenarnya Chika masih hidup di bawah pengawasan seseorang, dan ia tengah mempersiapkan dirinya untuk kembali keluar –membalaskan dendam sang kakak.

Tuan dan Nyonya Haris: Orangtua Stella, Dian dan Chika yang agak kolot dan tidak pernah berani pada dunia luar. Mereka selalu segan pada orang lain dan lebih suka menyalahkan anaknya sendiri atas kesalahan anak orang, walaupun tahu bahwa itu menyakiti hati Stella. Tundingan demi tundingan Nyonya Haris bahwa Stella adalah pembawa sial, kemudian menyebabkan anaknya terlelap dalam tidur panjang di alam bawah sadar, lalu malah membangunkan isi dirinya yang lain –yang jauh lebih kelam. Yang kemudian menjadi awal dari tragedi keluarga mereka.

Verdinan: Playboy sekaligus intel kepolisian. Berparas tampan seperti model catwalk, kelebihannya ini sering dimanfaatkan pihak kepolisian untuk mengusut kasus yang berhubungan dengan wanita. Verdi sering disuruh menyamar dan ditempatkan di berbagai lokasi penyelidikan. Tiga belas tahun kemudian, sebuah pembunuhan sadis dengan pola yang sama seperti pola pembunuhan Stella kembali terjadi. Verdinan dipanggil oleh bosnya –Komandan Boy Herlambang, untuk menyamar jadi anak kuliahan asal Makassar dan mengusut kasus pembunuhan keji itu.

Rosa: Sahabat Verdi di kepolisian, intel muda yang cukup cantik, berambut cepak, tegas, menarik, namun anti pada laki-laki. Rosa adalah seorang lesbian, semenjak pacarnya berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Sosok Rosa buat gue adalah sosok yang menarik. Analisisnya tajam dan seringkali membantu Verdi memecahkan kasus. Rosa jarang ditempatkan di lapangan, karena terbiasa mengurus data kepolisian. Tapi untuk beberapa kasus, ia terjun langsung.

(Gue membayangkan Rosa-nya adalah Sausan Machari, seperti ini. Rambut pendek, cuek, tomboy, tapi tetep keren dan menarik. Terutama juga, karena Sausan sama seperti Rosa, kalau didandani jadi cewek feminim, cantiknya nggak hilang)

(Misalnya seperti ini.. Cantik, ya :D)

Romeo: Entah bisa dibilang sahabat atau bukan, tapi Romeo ini sama-sama kerja dengan Verdi di kepolisian sekaligus pernah merebut tunangan Verdi. Verdi tidak terlalu suka padanya, namun juga tidak terlalu sinis.

Edward: Korban pertama Stella Haris setelah tiga belas tahun berlalu. Ia ditemukan dengan keadaan mengenaskan di sebuah gudang tua.

Aris: sahabat Edward, sama-sama playboy dan tukang main cewek. DJ muda.

Cewek-cewek Divo Kokusai: geng cewek populer di kampus Edward, seorang di antaranya bernama Thania adalah pacar Edward yang kemudian menghilang tak lama setelah meninggalnya lelaki itu.

Andin: pemimpin geng Divo, digambarkan sebagai orang yang smart, namun tidak smart mencari pacar, karena mengencani Eros yang kelihatan paling aneh diantara mereka semua.

Sasha: cewek Divo berwajah Arab yang agak sinis dan judes pada lelaki. Sasha pacaran dengan Dave, seorang gay. Karena menurutnya, lelaki normal tidak pernah mengerti perasaan cewek.

Freya: cewek Divo yang paling ceria, rame dan easy going.

Wulan: cewek Divo yang agak angkuh, model majalah dewasa dan agak haus popularitas.

Chiya: Pacar Aris. Cewek dari keluarga kaya raya yang suka bergaya gothic.

Dian: cewek yang agak misterius, lebih menyenangi drama dan lukisan ketimbang pergaulan hingar bingar seperti teman-temannya yang lain.

Dona: cewek pendiam yang menyimpan trauma pada kejadian masa lalunya, namun kemudian berjasa di akhir cerita.

Thalia: pacar Edward yang belakangan diketahui telah dibunuh Stella.

Masih banyak tokoh-tokoh lainnya, tapi menurut gue novel ini terlalu banyak tokoh. Kebanyakan sekali malah 😐 Jadinya bikin bingung. Harusnya cewek-cewek itu dikurangi jumlahnya, biar pembaca bisa lebih konsen ke beberapa orang saja, karena kayaknya itu kebanyakan. Kalau disusutkan jadi tiga atau empat orang, mungkin masing-masing bisa memberi peran yang kuat pada tiap kejadian. Tapi mungkin ini tokoh ceweknya dibanyakin biar pembacanya ikut bingung saat nentuin tersangka pembunuhannya, kali, ya : )) Not works, malah bikin kepala puyeng.

4. Plot

Plot dan ide ceritanya menarik. Sangat menarik. Seperti biasa, Vasca Vannisa selalu berbeda dengan genrenya. Thriller psikologi di sini ya bener-bener thriller dengan balutan psikologi di dalamnya. Pokoknya seperti yang biasa gue sebutkan, gue selalu suka cerita-cerita Vasca, terlepas dari typo yang membanjiri bukunya. Gue membaca novel ini dalam waktu dua hari. Kenapa lama? Karena dua hari ini gue cuma punya waktu malam untuk baca, siangnya nggak. Hehe.

Alurnya maju (terkadang ada beberapa flashback mundur pada kejadian masa lalu Stella), dan stabil. Tapi kemudian saat menjelang ending, menurut gue alurnya mulai berantakan. Entah pembaca mau dibawa ke mana, seolah muter-muter nggak karuan. Agak kurang sreg aja sama eksekusi dari pertengahan menuju ending.

5. POV

POV orang ketiga

6. Main Idea/Theme

Tentang seorang gadis belia yang mengalami multiple personality disorder (kepribadian ganda), serta tertidur lama sekali di alam bawah sadarnya, karena pengaruh tekanan sang ibu dan lingkungan sekitar. Munculnya sisi dirinya yang lain, ternyata membawa petaka bagi lingkungan dan orang-orang yang selama ini menjahati mereka sekeluarga.

7. Quotes

Hidup nggak pernah adil, beberapa orang diciptakan untuk menjadi badut lelucon, kita salah besar kalau menilai dunia ini adil. – Wina to Stella, hal. 48

Jangan memandang ke atas, pandanglah ke bawah, banyak orang yang lebih susah darimu, kalau meludah ke atas, cipratan itu akan mengenai wajahmu sendiri. – nenek Stella, hal. 48

Aku tidak pernah takut setan lagi sejak tujuh tahun, ada banyak hal lain yang lebih mengerikan daripada setan bagiku.

Apa itu?

Penyesalan. – Wulan, hal. 177

Malam-malam sebelum tidur yang sangat menyakitkan. Rosa tertidur dengan rasa lelah yang teramat sangat, tertidur tanpa mimpi, hanya hitam dan kosong. Tapi itu tidak terlalu menakutkan. Justru pagi harilah yang dibencinya, disaat menit-menit awal membuka mata. Pikiran yang tertutup oleh ketidaksadaran penuh karena tertidur lelap, akhirnya kembali menemukan realita, ada reaksi kejut luar biasa yang terasa menekan-nekan rongga jantungnya, lalu bergerak pasti ke ulu hati, memberi sayatan-sayatan perih di sana. hal. 227

“Alam bisa merekam kejadian dengan sangat baik, terutama jika kejadian itu memukul emosi tertinggi dari seorang manusia, yaitu kemarahan dan kesedihan.” – Rosa to Verdi, hal, 268

8. Ending

Nggak, endingnya terkesan maksa, seenggaknya  menurut gue dan @alizarinnn sendiri. Hahaha. Sebenarnya ada banyak jalan menuju ending yang nggak bribet, tapi penulis membuat jalan menuju ending terbaca agak ribet dan membingungkan. Ini ada kaitannya dengan yang gue komentari di atas, tentang cerita dari pertengahan buku hingga ending itu kebacanya ribet amat, nggak tahu pembaca mau dibawa ke mana. Tapi di ending juga gue masih kurang percaya, bagaimana mungkin orang yang telah dilenyapkan berkali-kali selalu hidup dan hidup lagi. Tadinya sih, gue berharap Verdi sama Rosa aja.

9. Questions

Apa novel ini telah diedit editor sebelumnya? 🙂 menemukan banyak sekali typo di sini, juga di novel kedua, Paranoid. Ceritanya bagus, tapi kalau bacanya sambil milah-milah typo, kayaknya kurang enak juga. : ))

10. Benefits

Manfaat gue baca novel Vasca Vannisa biasanya cuma 2:

  • Hiburan tersendiri buat gue yang memang suka thriller.
  • Tambahan pengetahuan tentang psikologi. Kebetulan gue juga tertarik dikiitt sama penyakit-penyakit kejiwaan seperti yang selalu diceritakan Vasca dalam novel-novelnya, itu juga alasannya mengapa gue selalu suka tulisan Vasca, walau typo-nya suka nggak nanggung-nanggung.

11. Lain-lain

Poin tambahan ini khusus untuk komentar gue tentang kejanggalan-kejanggalan yang gue temukan di dalam bukunya:

  • Bagaimana mungkin tersangka bisa memalsukan rekaman suara Thania pada polisi? Mungkin bisa saja, suaranya diatur sedemikian rupa dengan jeda untuk menunggu jawaban polisi, tapi kan kita nggak pernah tahu polisi akan menjawab apa? Nah, sedangkan di rekaman, kita harus merekam semua jawaban balik Thania pada polisi tersebut. Ini agak janggal, mengingat di halaman 95 itu, telepon Thania pada polisi sempat tidak dicurigai. Bersih sebersih-bersihnya, hingga kemudian Vandi dan Rosa yang mencurigainya pertama kali.
  • Bagian yang menyatakan bahwa Stella Haris berada diantara cewek-cewek Divo. Dari umurnya saja, harusnya Stella itu sudah 28 tahun ketika Verdi mengusut kasusnya, bagaimana mungkin ternyata dia berada dalam kerumunan cewek 21 tahunan? 😐 Agak janggal, harusnya Stella bisa mudah ditemukan karena pasti mukanya terlihat lebih dewasa ketimbang bocah-bocah yang lain. Dan ternyata diantara kerumunan itu juga ada Chika –adiknya yang ketika Stella SMP, baru berusia 7 tahun. See? Rentang umurnya agak jauh juga, tapi bisa-bisanya dibaurkan begitu saja :/
  • Verdi yang jatuh ke jurang sewaktu berada di hutan. Kisahnya di ending, ada salah seorang diantara mereka yang mendorongnya jatuh, bagaimana mungkin tidak ada yang tahu siapa tersangkanya? Di sana ceritanya Wulan ada lho di samping Verdi, cewek-cewek lainnya juga ada di sana.
  • Teguh, tokoh satu ini yang paling aneh lagi. Gimana caranya Verdi, Rosa, Romeo dan tim kepolisian bisa mempercayakan urusan villa padanya? Sedangkan mereka tidak mengenal Teguh dengan baik. Ketika di sana pun, Verdi sepertinya akrab-akrab ria dengan Teguh, padahal bisa saja kan Teguh itu salah satu dalang dibalik semua kasus pembunuhannya? Tidak ada yang curiga satupun, dan seperti dugaan gue sebelum baca ending –ternyata benar dia ada ambil bagian dalam kasus ini.
  • Gue masih heran juga untuk hal yang satu ini, ternyata ada orangtua seperti Tuan dan Nyonya Haris yang saking pengecutnya bahkan membela anak sendiripun tak mampu. Mending kalo nggak mampu membela, ini malah istrinya suka menyalahkan anaknya ketika anaknya tengah membela diri dari gangguan anak lain. : )) Ini nggak begitu janggal, tapi cuma nggak nyangka aja ada ortu yang segitunya.
  • Di bagian halaman terakhir, ada tulisan di panel kaca apartemen Verdi. Kaca berdebu. Tulisan tangan yang mengatakan, “I love you, I’ll be back.” Nah, janggalnya adalah, menurut Verdi sendiri apartemennya ada di lantai 41, jadi pertanyaan yang sama gue ajukan lagi, bagaimana mungkin ada seseorang yang bisa menyusup ke sana tanpa masuk dulu ke dalam kamar Verdi? Memanjat dari lantai 1? Terlalu nonsens. Menyusup dari kamar sebelah kiri-kanan atau atas-bawah? Lebih nggak mungkin, mengingat sebuah apartemen itu keamanannya ketat sekali. Apalagi jika semua kamar itu ada penghuninya, kecil kemungkinan ada orang yang bisa menyusup ke balkon mereka untuk kemudian berpindah ke balkon kamar Verdi.

Sekian kejanggalan yang gue temuin, mungkin masih ada yang lain, tapi ngga bisa diingat lagi satu per satu. Ah, gue saking niatnya, bahkan sempat googling tentang kota Saga yang di sini ceritanya adalah bagian kecil dari daerah Jambi. Jaraknya 157km dari ibukota provinsi, sepanjang mata memandang ada hamparan pohon sawit. Atmosfernya dingin.

Gue beneran nyari kota itu, dan kota itu tak pernah ada di Jambi. Daerah Saga adanya di Jepang. Perbandingan yang jauh, hehe. Tapi sah-sah aja, mungkin ini kota fiksi ciptaan si penulis. Dua buku Vasca yang gue baca, sepertinya ia selalu mengambil latar daerah Sumatera dan Jakarta. Di Paranoid, cerita pembukanya menceritakan seorang cewek bernama Gabby yang melintasi jalan lintas Sumatera bersama pacarnya, Aldi.

Paranoid cukup berkesan buat gue karena gue membacanya di latar yang sama dengan di buku –jalan lintas utama Sumatera, beberapa tahun lalu : )) hawanya lebih berasa aja.

Sejak itulah gue memutuskan nggak pernah absen baca tulisan Vasca Vannisa. Oh, mengulang kata-kata gue di postingan lama dulu. Buat kalian yang memang pecinta cerita  psikologi dan thriller, mungkin kalian akan suka sekali dua buku ini, tapi buat kalian yang suka gerah baca buku banyak typo-nya, mending jangan baca.

Buat gue buku ini bagus dan gue menikmati tiap inti ceritanya, tapi mengingat typo yang bertebaran, not recomended. Nggak begitu gue sarankan untuk dibaca 🙂 daripada kalian gedek sendiri, hehe.

Overall, 3 bintang untuk Don’t Tell Me Anything dan Vasca Vannisa. Sekarang waktunya berburu novel ketiganya, Dejavu.

OOT, penulisnya adalah kakak cantik ini 🙂 Beberapa kali interaksi sama dia, gue mendapat kesan bahwa dia cukup ramah.. Coba aja sapa FBnya : ))

Advertisements

23 thoughts on “REVIEW: Don’t Tell Me Anything – Vasca Vannisa

  1. Aku kasih dua jempol buat mput yang nulis review panjang lebar begini padahal sebelumnya bilang males review :))

    Aku nunggu perubahan besar dari tulisan Vasca di buku lainnya. Sayang banget untuk ide yang keren, eksekusinya ga maksimal seperti di buku ini 😦

    • Ah kemarin itu malas karena belom makan malam aja. Hahaha. Reviewnya ditulis setelah kekenyangan, otaknya udah ngebut lagi. :p

      Tapi kalo soal review, aku selalu usahakan review blog, buku-buku yang aku suka. Beda cerita kalo cuma ninggalin beberapa kalimat di Goodreads, itu tandanya bukunya bikin aku ngantuk. (Ini berlaku semenjak join BBI) :))

  2. Pingback: REVIEW: Psycopat Diary – Vasca Vannisa | Petronela Putri (books)

  3. ah, sayang bukunya mbak Vasca yang lama (Dejavu, Don’t Tell Me Anything sama Paranoid) itu sudah dak ada lagi di toko buku, padahal baca sinopsisnya bikin gregetan, baca yang psycopat diary, sangat suka dengan jalan cerita dan gaya bahasanya sampai baca 2 kali. ada yang jual online dak ya?

    • Memang yang lama-lama nggak cetak ulang lagi. Kalau nggak salah dulu pernah nanya ke Kak Vasca-nya langsung, katanya sih softcopy-nya pun udah hilang. Hehe, itu kendala utamanya mengapa nggak dicetak ulang padahal banyak permintaan. Online paling mentok yang masih ada dijual itu psycopat diary, lainnya memang udah gak ada kayaknya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s