REVIEW: Psycho-Love – Syafrina Siregar

Judul: Psycho-Love
Penulis: Syafrina Siregar
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Mei 2007 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 35.000
Jumlah halaman: 224 hal.
ISBN (10): 979-22-2879-9
ISBN (13): 978-979-22-2879-3

*

Blurb:

Amira Januari –psikolog muda terkenal – memiliki klinik yang selalu ramai, klien yang banyak, talkshow di radio dengan rating tinggi, dan mengasuh rubrik konsultasi di koran nasional. Masa depan yang cerah berada di genggamannya.

Hanya ada satu hal. Mira fobia pada publikasi dan pernikahan. Bahkan terhadap Ardi, pengusaha sukses di usia tiga puluhan.

Hingga suatu hari, sebuah peristiwa menempatkan Mira sebagai pesakitan. Publikasi yang berlebihan menghancurkan masa depannya, karier, hidup, dan nama baiknya.

Satu-satunya jalan baginya adalah melarikan diri…

*

Review:

Ini salah satu buku yang ada di tumpukan, setelah beberapa buku selesai, akhirnya gue memutuskan membaca buku ini. Gue kehabisan metropop sebenernya. Yang satunya metropop korea-koreaan –buku yang salah ambil dan ternyata bukan selera gue, akhirnya gue singkirkan ke pinggir. Metropop yang tersisa adalah buku ini, sedangkan di bawahnya satu buku sastra. Jadilah akhirnya buku ini yang dibaca duluan.

Beberapa teman twitter bilang, buku ini bagus pake banget. Ada juga yang bilang settingnya Makassar, memang kenapa kalo Makassar? Hahaha. :p Tapi ketika gue cek ke Goodreads, ratingnya kurang memuaskan. Kemudian gue menyadari, bagus belum tentu disukai. Dan itulah yang terjadi ketika gue membaca buku ini. Bagus, tapi gue sendiri nggak begitu suka. Berikut rinciannya.

1. First impression

Pertama kali melihat novel ini, honestly, yang bikin gue mengambilnya adalah cover, bukan blurb. Blurbnya bahkan menurut gue biasa aja, sedangkan covernya agak unik dan menarik hati. Karena itulah gue memutuskan mengambilnya dari tumpukan setelah sekian lama tergeletak nggak dibaca.

2. How did you experience the book?

Tanpa menambah dan mengurangi kesan gue tentang buku ini (karena pengaruh komentar positif dari teman-teman pembaca di twitter), gue mengakui buku ini ceritanya mengalir dan tidak susah untuk cepat masuk ke dalamnya, tapi ya, gue merasa ada yang kurang aja. Yang bikin gue mengakui bahwa ini bagus –tapi gue malah kurang suka. *pengakuan yang aneh* 😐

3. Characters

Amira Januari (AJ): Psikolog muda terkenal. Ia punya job di mana-mana; radio, koran lokal, klinik psikologi bersama ketiga temannya. Kariernya sedang di puncak kejayaan sampai ketiga orang itu hadir dalam hidupnya. Putra –mantan pacarnya ketika kuliah, yang ingin kembali lagi. Ardi –anak konglomerat yang menaruh hati padanya. Ayu –istri Putra yang cemburu buta.

Ardi Thamrin: Pengusaha muda, sudah sukses di usia tiga puluhan. Sukses di sini karena orangtuanya notabene tajir juga, ya. Gue kerap membedakan cowok yang sukses karena usaha dari nol dengan cowok yang sukses karena kecipratan tajirnya ortu. Sukses karena kecipratan di usia tiga puluh sama sekali bukan sesuatu yang bisa dibanggakan –menurut gue. Jangankan tiga puluhan, orang kaya itu biasanya, dari bayi aja udah ada gambaran pasti sukses 😐

Ardi ini menaruh hati pada Mira sejak pertama kali melihat cewek itu tengah makan di restoran Italia bersama Silvi –sahabatnya. Ada dua hal yang gue sayangkan dari tokoh Ardi:

  • Dia tertarik pada Mira karena pandangan mata cewek itu yang tajam. Apa tidak ada alasan yang lebih kuat? 😐 I mean, pandangan mata? How come?
  • Ardi memang dari awal tertarik sama Mira, tapi dia kelihatan terlalu cupu untuk maju. Tiap ada Mira dia grogian mulu, ketahuan pulak lagi groginya 😐 Yah iyalah, yang mau dideketin itu psikolog 😐 Terus mendadak nggak ada angin nggak ada hujan, eh dia sewot sendiri waktu Mira nggak bales SMS dan angkat teleponnya. Who are you? Jadian aja belum, perasaan 😐

Silvi: Sahabat baik Mira yang akan menikah, selalu memaksa Mira jadi panitia pernikahannya. Ia menggelar pernikahan di hotel paling mewah di Makassar –milik keluarga Ardi. Hal ini yang kemudian memudahkan Ardi memantau Mira.

Putra: Mantan pacar Mira ketika kuliah, tidak sengaja bertemu lagi dan ternyata masih ada niat untuk menjalin hubungan kembali, padahal ia sudah punya istri. Tipe cowok nggak tahu diri, hahaha. Udah punya istri masih aja jelalatan.

Ayu Thamrin: Adik kandung Ardi, anak perempuan keluarga konglomerat Thamrin sekaligus istri Putra. Manja, sensian, meledak-ledak, plin-plan. Nggak ada lagi yang bisa gue tulis untuk mendeskripsikan seorang Ayu. Jika satu kata bisa mewakili dirinya, maka kata itu adalah: menyebalkan.

Lila, Kalista, Debbie: Ketiga sahabat Mira sejak kuliah. Mereka juga yang membangun klinik bersama-sama dengan Mira, sesuai cita-cita mereka sejak lama. Lila yang suka mengomentari gaya berpakaian Mira, Kalista yang paling stylish diantara mereka, dan Debbie yang agak berantakan seperti Mira namun masih cukup manusiawi dalam berpakaian.

Tokoh lainnya nggak begitu berpengaruh, jadi gue skip aja.

Masih tentang Ardi, cuma di ending tokoh ini bertindak agak bener dan cepet. Sedangkan di pertengahan cerita, dia masih sibuk mikir-mikir dan grogi. Bahkan dia terpengaruh pandangan orang banyak bahwa Mira begini dan begitu. Kalau memang cinta, harusnya dia kan nggak langsung percaya dan menanyakan dulu baik-baik, bukan juga langsung nuduh Mira macam-macam. Cewek nggak suka diserang kayak gitu, btw.

4. Plot

Gue baca buku ini dalam waktu dua jam lebih dikit, plotnya cukup menarik dengan alur stabil sampai akhir. Oh ya, alur maju.

5. POV

POV orang ketiga.

6. Main Idea/Theme

Tentang seorang psikolog muda yang sukses, namun fobia pada publikasi dan pernikahan. Hingga suatu hari ia bertemu dengan lelaki yang mengejar-ngejarnya dan menginginkan pernikahan. Haha.

7. Quotes

…perempuan tidak boleh meletakkan seluruh hidupnya dan pasrah total di bawah kendali suami. Lelaki bisa semena-mena. Ketidakberdayaan itu yang membuat istri berada pada pihak yang takut ditinggalkan sehingga menjadi cemburu overdosis dan akhirnya malah menghancurkan rumah tangga mereka. You got my  point?

8. Ending

Cukup memuaskan.

9. Questions

10. Benefits

Menambah pengetahuan tentang dunia psikologi, segala hal tentang psikolog dan dunia mereka tercermin jelas di novel ini.

Nggak terlalu banyak yang mau gue komentari dari novel ini. Jadi, 3/5 bintang untuk Psycho-Love. Novelnya memang cukup bagus dan mengalir, tapi buat gue biasa aja. Mungkin karena gue kurang begitu suka metropop, mungkin juga karena alasan lainnya. Ah, sudahlah 🙂 Yang penting kata teman-teman sudah terbukti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s