REVIEW: Misteri Dua Cinta di Dalam Satu – V. Lestari

Judul: Misteri Dua Cinta di Dalam Satu
Penulis: V. Lestari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: November 2010 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 50.000
Jumlah halaman: 501 hal.
ISBN: 978-979-22-6384-8

*

Blurb:

Sembilan jam setelah kematiannya, masih disemayamkan di rumah duka, tiba-tiba jasad Arie memperlihatkan tanda-tanda kehidupan! Dari peti mati ia dipindahkan ke rumah sakit. Ia dinyatakan hidup, tetapi mengalami koma. Pada hari kedua, ia sadar sepenuhnya. Dari korban pembunuhan, ia menjadi korban percobaan pembunuhan atau penganiayaan berat.

Tubuhnya yang sekarat ditemmukan pada malam hari, jauh dari rumahnya. Kelihatannya ia korban perampokan. Namun setelah sadar, ia tidak bisa mengingatnya. Ia pergi ke mana, dan apa tujuannya keluar rumah malam itu. Perasaannya mengatakan, ia tidak pergi ke mana-mana. Erwina, istrinya, menyatakan ia memang pergi tanpa memberitahukan tujuannya.

Peristiwa ia hidup kembali menggegerkan karena dianggap sebagai fenomena yang belum pernah terjadi. Memang ada berbagai kasus mati suri yang pernah terjadi, tetapi tak mencapai waktu yang demikian lama. Sembilan jam dianggap terlalu lama.

Arie tak bisa menjelaskan apa saja yang dialaminya selama sembilan jam itu. Baginya kegelapan semata. Ia mengalami kejutan yang sangat setelah menyadari sesungguhnya ia tidak kembali dalam kehidupan ini seorang diri, melainkan berdua! Mereka berdua pernah berbagi cinta yang sama.

*

Review:

Hari minggu kemarin (8 Desember 2013) gue ke Museum Mandiri untuk acara Indonesia Reading Festival. Sesuai kebiasaan dari tahun sebelumnya, ada acara bookswap dan bookwar. Untuk bookswap, kita harus menukarkan satu buku milik pribadi dengan satu buku yang ada di atas meja. Satu ditukar satu. Sedangkan untuk bookwar, kita berebutan dengan peserta lain meraih buku yang kita inginkan, gratis. Tidak perlu membeli. Nggak heran banyak yang rela tubruk-tubrukan demi acara itu, hahaha.

Buku ini gue temukan di bookwar, ketika peserta lain sibuk memasang mata nyari novel metropop atau korea-koreaan, gue pasang mata dengan genre gue sendiri. V. Lestari  terkenal sebagai penulis misteri angkatan lama. Beberapa buku barunya terus terbit hingga sekarang. Gue belum pernah baca tulisan beliau sebelumnya, jadi ini yang pertama kali. Dulu, memang pernah baca Cinta Seorang Psikopat tapi nggak selesai dan sekarang buku berjudul sama sedang dalam proses pencarian :p mau dibaca lagi.

Untuk seorang penggemar thriller/misteri, gue akui, tulisan V. Lestari cukup bagus. Pemilihan konflik ceritanya menarik dan bikin gue ingin terus membaca dan cepat-cepat menyelesaikan bukunya.

Berikut review lengkapnya:

1. First impression

Cover-cover novel penulis angkatan lama selalu berbeda. Perhatikan saja, aura cover Mira. W dengan novel S Mara Gd, atau novel V. Lestari, atau Marga T, atau mungkin Abdullah Harahap; semuanya punya ciri khas masing-masing. Itu juga yang gue suka dari beberapa penulis angkatan jadul tahun 90an atau bahkan era sebelumnya, mereka eksis dengan gayanya masing-masing. Nggak kayak sekarang, era di mana cover novel banyak yang serupa tapi tak sama, bahkan ada yang serupa banget nyaris kayak njiplak.

Ketika pertama kali gue liat cover buku ini di meja bookwar, yang pertama kali gue pikir adalah, ambil, Mput. Ambil! Karena gue tahu harga barunya lumayan, hahaha. Lagipula, novel ini kondisinya masih mulus dan cukup bagus, sepertinya pemilik sebelumnya cuma baca sekali (atau mungkin belum pernah dibaca). Covernya menggambarkan foto seorang wanita diapit dua orang pria yang terlihat mirip, dengan sisi bawah agak retak. Cukup menarik dan menggambarkan isi ceritanya. Sesuailah 🙂

2. How did you experience the book?

Nah, ini dia. Novel ini nyaman di awal dan tidak berbelit. Gue memang langsung bisa memahami karakter dan plot lengkap dengan inti cerita yang ingin disampaikan beliau (si penulis), tapi gue agak kecewa pada bagian menjelang akhir, penjelasan lengkapnya nanti aja di poin 8.

3. Characters

Ada cukup banyak tokoh dalam novel ini. Berikut yang utama dan beberapa pendukung.

Arie: tokoh utama cowok. Dalam usia tiga puluhan, mendadak suatu malam ia diduga menjadi korban perampokan dan ditemukan tewas cukup jauh dari rumah. Seramnya, sembilan jam setelah meninggal dan saat disemayamkan di rumah duka, ia kemudian bernapas kembali dan dimasukkan ke rumah sakit, lalu koma dan kemudian tersadar. Arie ini tipe cowok yang penyayang, tapi sayang –ia menggunakan rasa sayangnya dengan salah. Membagi istrinya sendiri dengan saudara kembarnya yang terlalu ia cintai.

Alex: saudara kembar Arie yang meninggal karena radang selaput otak setahun sebelum kejadian (dalam novel dimulai).

Erwina: Istri Arie yang cantik dan anggun, namun agak manja dan plinplan dengan keputusannya sendiri. Erwina bukan tipe gadis yang mandiri, sehingga harus terus bergantung pada orang-orang di sekelilingnya. Menyimpan dendam cukup besar pada suaminya sendiri dan Alex –saudara iparnya, karena suatu kesalahan di masa lalu.

Benny: Sahabat baik si kembar Arie dan Alex semenjak kecil. Mereka biasa main bertiga, namun ternyata Benny tidak sebaik yang Arie kira selama ini.

Susan: Ibu Arie, wanita separuh baya yang punya insting tajam dan selalu ingin tahu segala hal tentang rumah tangga anaknya. Bersahabat dengan Katrin –ibu Erwina, sejak lama.

Katrin: Ibu Erwina, wanita separuh baya yang cukup sabar. Bersahabat baik dengan Susan dari muda dan pernah saling berjanji, “apapun yang terjadi pada anak-anak, kita akan tetap jadi sahabat.”

Martin: Intel dari kepolisian yang ditugaskan menyelidiki kasus Arie. Ia terobsesi menyelidiki tentang kasus mati suri karena ia sendiri pernah mengalaminya walau tidak selama kasus Arie. Kelebihannya, Martin punya indera yang tajam dan pemikiran yang bahkan lebih licik daripada penjahat. Segala trik si tersangka tidak mampu menipunya sama sekali. Kekurangannya, Martin ini sikapnya agak gengges dan berlebihan ketika menyelidiki sesuatu –seringkali ia agak melanggar privasi orang lain dan membuat Erwina jengkel berkali-kali.

Suster Tiara: wanita muda yang bekerja sebagai perawat di rumah sakit tempat Arie dirawat. Pernah jadi korban mati suri dan sempat bertemu Alex ketika ia tengah dirawat di rumah sakit yang sama setahun lalu. Diam-diam menyukai Arie karena mendapati pandangan mata Alex di dalam dirinya, namun cukup tahu diri bahwa Arie sudah menikah dan punya istri (begini kan ya tipe cewek yang bener :)) bukannya nyerobot-nyerobot, nggak peduli si cowok udah punya pasangan. Jarang-jarang sekarang ada cewek kayak begini, tahu diri pada posisi sendiri tanpa harus diingatkan orang lain, haha.)

Pada akhirnya, semua tokoh mendapatkan pelajarannya masing-masing dari kisah ini. Tapi yang paling berakhir tragis adalah Benny :)) Biasa, yang menabur angin pastinya akan menuai badai. Karma does exist, right? 🙂

Sejujurnya di awal gue agak kesel sama sikap tokoh Arie dan Alex, ia membuat Erwina menyimpan dendam yang begitu dalam. Wanita selalu mampu menyimpan dendamnya bahkan lebih lama dari lelaki. Gue akui itu, wanita pake perasaan, nggak cuma kepalanya. Mungkin itu juga sebabnya Erwina terus mempertahankan dendamnya sampai beberapa waktu kemudian –walaupun kemudian ia sadar, hatinya masih begitu mencintai suaminya.

Ending tentang Erwina juga cukup bagus, yaaa, nggak begitu mengecewakanlah menurut gue. Tapi nggak ada spoiler, silahkan baca saja sendiri 😐 #disorakinramerame

4. Plot

Plotnya menarik, cukup menarik. Gue membaca buku ini dalam sehari. Dari siang hingga malam. 500 halaman dalam sehari, lagi-lagi ini kemajuan, sih. Tapi bukan kemajuan besar, mengingat ini novel misteri yang memang makanan gue :)) Alurnya lamban sih menurut gue. Alur inilah yang bikin gue agak kesel setelah lewat membaca setengah buku, selalu menggumam dalam hati, “DUH, INI MASIH LAMA NGGAK SIH ARIENYA NYADAR BAHWA DIA ITU KORBAN PERCOBAAN PEMBUNUHAN? KELAMAAN MUTER-MUTERNYA!” :)) Alurnya maju-mundur. Kebanyakan maju, yang mundur hanya dua bab kalo ndak salah, ketika menceritakan proses terbunuhnya Arie Jumat malam itu. Sisanya maju.

5. POV

Single POV, orang ketiga.

6. Main Idea/Theme

Tentang seorang lelaki yang mati suri selama sembilan jam dan ajaibnya malah hidup lagi. Namun kemudian sadar, ia tidak sendiri. Saudara kembarnya ikut kembali dan menjadi sisi lain dari dirinya.

7. Quotes

Sebagai orang yang diberi kesempatan hidup kembali, ia tentu memiliki kesadaran sendiri bahwa ia harus menjalani hidup barunya dengan memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan sebelumnya. Dengan demikian, ia tidak boleh mengganggu rumah tangga orang karena itu merupakan kesalahan. Apa gunanya memperbaiki kesalahan lama kalau membuat kesalahan baru? Hal. 423 (tentang Tiara)

8. Ending

Endingnya cukup memuaskan, tapi sebenarnya gue punya ekspektasi tinggi bahwa novel ini bisa memberikan ending yang membuat gue melongo, nganga, atau apa sajalah. Yang penting gue menutup bukunya dengan perasaan puas dan berpikir, “damn, ini satu lagi novel nggak biasa yang pernah gue baca! seperti sesaat setelah gue membaca dwilogi Deviasi-nya Mira W.

Tapi nyatanya, penyelesaian kasusnya malah bikin gue nganga untuk kemudian berteriak, “WADEHEL? GUE BACA 400 HALAMAN CUMA UNTUK PENYELESAIAN YANG BEGINI?” nggak sampe satu halaman. Mungkin juga nggak sampe lima menit durasi waktu kejadiannya (kalo dilakukan beneran), penjahatnya langsung bisa dilumpuhkan. Padahal gue berharap ketika Arie, Martin dan si penjahat berkumpul bersama, akan terjadi perang besar yang berdarah-darah demi memperjuangkan nyawa Wina. Tapi nyatanya… sudahlah. -__-“ Tidak sesuai ekspektasi gue dari awal.

Agak membingungkan, ya, penjelasan gue? Memang gue suka bagian endingnya, tapi gue nggak suka bagian selesainya kasus ini. Penyelesaian ketika Arie datang ke tempat si penjahat bersama Martin untuk menyelamatkan Erwina yang disekap dan hampir dimutilasi (padahal ndak jadi). Jadi bedakan, poin yang gue suka itu ending akhir. Poin yang gue nggak suka itu penyelesaian kasus menuju ending akhir. Lengkapnya, silahkan baca sendiri dan kalian akan mengerti yang mana maksud gue. (bocoran: penyelesaiannya ada di hal. 486)

Tapi mungkin juga karena penulisnya udah jenuh merangkai kata-kata yang pas dan membuat endingnya jadi wow :)) Gue akui, menulis thriller/misteri itu cukup susah juga. Sama susahnya dengan seorang penulis roman yang berusaha meramu ceritanya agar pembaca bisa mendadak galau atau berbunga. Seringnya, ketika sedang menulis di awal atau pertengahan cerita, semuanya terasa menggebu-gebu dan malah ketika menjelang ending, otak udah keriting dan agak runyam kalo dipaksa mikir akan membuat ending yang gimana. Mungkin ada outline, tapi yang tertulis di kerangka biasanya cuma inti garis besar endingnya, bukan kalimat demi kalimat tentang scene endingnya. Membuat penyelesaian kasus memang agak susah, tapi tetep, gue kecewa sama penyelesaian kasus novel ini. Aakkhh! *jedotin kepala*

9. Questions

  • Kenapa harus bertele-tele dari bagian tengah buku hingga akhir? Rasanya perjalanan Arie-Wina menuju ending terlalu jauh dan banyak diselingi ‘basa-basi’ dengan perkara-perkara kecil 😐
  • Kenapa 9 jam? Bukankah itu terlalu lama? 😐 Tapi memang sih, durasi seorang meninggal dan proses disemayamkan ke rumah duka kira-kira selama itu (kalau memang tetap mau dibuat Arie hidup lagi ketika sudah di dalam peti mati).
  • Mengapa tidak membuat penyelesaian kasus yang lebih wow? :)) Ini pendapat pribadi, sih, sebenernya. Tapi kayaknya penjahatnya terlumpuhkan dengan cara yang cukup mudah dan sebentar, terasa tidak seimbang dengan ketegangan yang telah dimunculkan sejak awal novel dimulai. 🙂

10. Benefits

Manfaat gue baca novel ini adalah otak gue jadi seger, walau gue membacanya di malam-malam penuh sakit kepala, tapi gue tetap nggak mau meninggalkan novel ini untuk tidur. Gue nggak mau menunggu besok untuk mendapatkan jawaban endingnya akan bagaimana. Jadi, ya, bisa disimpulkan gue suka dengan ide ceritanya, plotnya, kecuali endingnya.

Sedangkan teknik penulisan, nggak akan gue komentari. Khusus untuk penulis-penulis angkatan jadul dan senior seperti V. Lestari dan kawan-kawannya, gue angkat tangan :)) Gaya nulis mereka selalu punya ciri khas dan sesuai pada jamannya sendiri. Sejauh ini, gue selalu nyaman membaca novel-novel tersebut walaupun mereka nggak pernah pakai bahasa gaul dalam novelnya, walau novel mereka nggak punya gaya bercerita seperti novel teenlit atau sesuai usia gue.

Gue nyaman membaca cerita mereka, dengan gaya menulis mereka sendiri. Di sanalah ciri khasnya 🙂

(Misalnya, ketika V. Lestari menuliskan ‘kamu’ sebagai ‘kau’, gue merasa sedikit geli membacanya pertama kali, tapi kemudian berpikir –yah, begitulah adanya gaya bercerita beliau) 🙂

Overall, 2/5 bintang untuk V. Lestari dan Misteri Dua Cinta di Dalam Satu. Harusnya 2,5 tapi di Goodreads nggak ada koma-komaan, jadinya 2 saja. Rating 2 bukan berarti novelnya jelek, cuma gue memang kurang puas aja sama penyelesaiannya dan beberapa bagian belakangnya. Sedangkan, inti yang mau disampaikan penulis malah menurut gue bagus dan menarik sekali 🙂 Semoga nanti ada kesempatan untuk baca tulisan V. Lestari yang lain.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s