REVIEW: Amore: Hawa – Riani Kasih

Judul: Hawa (Juara 2 Penulisan Novel Amore Gramedia)
Penulis: Riani Kasih
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Juli 2013 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 45.000
Jumlah halaman: 255 hal.
ISBN: 978-979-22-9759-1

*

Blurb:

Empat tahun menjalin hubungan tidak menjamin Hawa berjdoh dengan Abhirama. Hubungan mereka luarnya saja tampak mesra, padahal mereka dua orang yang memaksakan saling memahami, tapi sayangnya tak berhasil. Akhirnya, Hawa membatalkan sepihak rencana pernikahannya dengan Abhirama.

Karena sedih, malu, dan kecewa, Hawa menenangkan diri ke rumah omanya di pedalaman Kalimantan Barat.

Di situlah Hawa bertemu dengan Landu, polisi yang bertugas di Kapuas Hulu. Perjumpaan mereka yang berawal dari kejadian tidak mengenakkan lambat laun menumbuhkan bibit cinta. Perlahan, kehadiran Landu yang pendiam tapi dewasa menyembuhkan luka hati Hawa.

Tetapi, sanggupkah Hawa menerima cinta Landu pada saat Abhirama menyusulnya dan memintanya kembali ke pelukannya?

*

Review:

Ini termasuk salah satu buku yang gue bawa pulang dari kost Kak @iiphche : )) Selain Stasiun terbitan plotpoint yang akhirna gue pilih untuk tidak direview daripada menyakitkan (?) *dikeplak* Dengan menyandang titel juara 2 lomba penulisan novel Amore Gramedia, gue berharap isi novel ini sebagus dan semanis covernya, serta sekompleks isi blurbnya. Tapi ternyata dugaan gue salah. Yang selanjutnya bikin gue agak kecewa juga.

Ada beberapa hal yang bahkan tidak masuk akal di dalam cerita ini. Rincian selama 3 jam membaca, akan gue tulis semuanya di review ini.

1. First impression

Kalau ada yang nanya tentang cover, jujur gue akan jawab, gue suka sekali covernya. Manis kayak gulali. Tapi apa yang ada di cover tidak selalu ada di dalam buku. You know what I mean, terkadang cover boleh biasa saja, tapi bukunya bisa jadi luar biasa. Dan sebaliknya. Silahkan terjemahkan sendiri :p

2. How did you experience the book?

Memang ketika pertama membaca bukunya, gue merasa agak flat pada 4 bab di awal. Tidak ada sesuatu yang greget, yang mampu membuat gue penasaran untukt terus melanjutkan ke bab-bab berikutnya. Tapi kemudian di halaman 80 gue menemukan bahwa alasan Hawa membatalkan pernikahannya adalah karena Abhirama terlalu sibuk dan tidak punya waktu mengurusi persiapan pernikahan mereka serta membatalkan prewed mendadak. NAH, inilah yang kemudian ingin gue telusuri makanya gue melanjutkan sampai habis. Setelah sampai belakang, gue harus mendapati diri gue kecewa, karena ternyata memang CUMA itu alasan Hawa lari ke Kapuas Hulu dan membatalkan pernikahan mereka.

Buat gue, itu lebay.

Buat cewek yang pacarnya (catat, baru pacar, ya!) terlalu sibuk, biasanya ngambek wajar. Tapi kalau posisinya lo itu calon istri dan bulan depan akan menikah, ralat, tinggal menikah (karena semuanya sudah disiapkan), apa iya lo tega ninggalin calon suami lo begitu aja? Heh? 😐 Gue pribadi sih nggak, kayaknya ngambek atau ngomong baik-baik lebih masuk akal. Pemilihan konflik awalnya agak kurang tepat, IMO. Itu bukan alasan yang kuat bagi seorang perempuan untuk meninggalkan pernikahannya sendiri. Dan bahkan selang nggak sampai sebulan dia bisa cepat akrab lagi dengan cowok baru yang dikenalnya baru hitungan bulan pula -__-“ Untuk seorang yang gagal menikah, memulai kembali rasanya nggak bisa secepat itu, deh. Nggak logis aja.

Tapi bukannya segala hal mungkin saja dalam fiksi, Mput?

Iya, segalanya mungkin saja. Tapi fiksi tidak mungkin juga membunuh logika, lagipula ini cerita roman, bukan fantasi. CMIIW, rasanya hanya fantasi yang bebas membunuh banyak logika sehari-hari dengan kisah-kisahnya. Karena dalam fantasi segala hal mungkin saja terjadi.

Untuk kasus ini, memang semuanya mungkin saja terjadi, tapi dengan catatan kemungkinan 3 hal ini terjadi:

  • Hawa memang gampang move on dan jatuh cinta lagi. Hebatnya dia kalau memang begini. Udah gagal nikah, move on-nya ndak sampe sebulan 😐
  • Hawa yang memang bukan tipe cewek setia. Jadi bisa nempel ke mana-mana dalam hitungan waktu yang singkat.
  • Hawa tidak benar-benar mencintai Abhirama, jadi dia gampang melupakan Abhi lalu lanjut menyukai Landu.

Mengutip kata-kata dari blurb : Hubungan mereka luarnya saja tampak mesra, padahal mereka dua orang yang memaksakan saling memahami, tapi sayangnya tak berhasil. – Tapi sepertinya nggak ada bagian novel ini yang melukiskan kemesraan Abhi dan Hawa secara kuat. Abhirama aja jarang muncul dan terkesan kayak figuran :p menurut gue, karakternya masih belum kuat 🙂

Tambahan, bahkan setelah pertemuan pertama Hawa dan Landu di tengah jalan, juga tidak ada yang greget dari scene nya. Semuanya biasa saja. Hawa terlalu angkuh di bab awal, Landu terlalu menjaga ego, tapi nyatanya dia jauh lebih lemah daripada itu 😐

3. Characters

Hawa: Cewek dewasa yang sikapnya tidak sedewasa umurnya. Melarikan diri ke Kapuas Hulu di pedalaman Kalimantan Barat untuk menenangkan diri karena telah membatalkan pernikahannya sendiri hanya karena calon suaminya terlalu sibuk. Dia menetap di rumah Omanya bersama ayah dan Luna –adik perempuannya yang masih kecil.

Landu: Polisi muda yang ditugaskan di Kapuas Hulu selama lima tahun belakangan. Tinggal di desa kecil itu sendirian –di rumah orangtua angkatnya. Termasuk tipe cowok yang berkharisma pada awalnya, tidak terlalu open sama lirikan cewek-cewek sekitar, tapi malah ke belakang-belakang jadi ganjen, pede gila, dan gede rasa bahwa dia itu amat sangat memesona bagi Hawa. Bunuh gue sekarang! *nangis di dada Jace Wayland* -____- Plis deh, Ndu -___- Nggak usah sok memesona gitu, kamu bukan Jamie Bower. Bukan! : )))

Oh iya, sepertinya Landu hobi terlanjang dada dan ngegombalin cewek XD *matik baca gombalannya di bab-bab akhir* *ambil pentungan hansip*

(Btw, gue sempat membayangkan tokoh Landu itu kayak gini 😀 Cowok ini namanya Garrett Reynolds, dia adalah polisi yang menyelidiki kasus pembunuhan Alison DiLaurentis di serial Pretty Little Liars. Polisi muda yang cukup tampan, close enough? :p)

Abhirama: Gue agak bingung. Dia ini tokoh utama apa bukan, sih, sebenernya? Dari blurb, seharusnya sih dia memang termasuk tokoh utama. Tapi kasian amat, masa porsi dibahasnya sedikit sekali. Masa iya, konflik utamanya Hawa yang melarikan diri dari pernikahan sendiri, tapi calon suaminya baru keluar di pertengahan buku?! Selama ini ke mana aja dia? 😐 Terus ndak jelas juga dia kerjanya apa, seperti yang dibahas Kak Iif. Nggak logisnya, masa iya dia sibuknya ngalahin presiden sampe nggak sempet ngurusin persiapan pernikahan sendiri? Tapi dia masih ada itikad baik untuk mengabari Hawa, cuma sayangnya Hawa terlalu childish dan akhirnya memilih pergi –membatalkan segalanya.

Jelita: Teman baik Hawa di Pontianak yang cuma selewat muncul. Fungsinya adalah berbohong pada Abhi tentang Hawa, tapi tidak banyak berpengaruh pada isi cerita.

Praba: ayah Hawa yang duda dan ditinggal mati istrinya tujuh tahun lalu. Menjadi single parent dan akhirnya pensiun dini untuk mengurus kedua putrinya.

Luna: Adik perempuan Hawa, 7 tahun. Lebih dewasa daripada umur dan fisik yang sebenarnya. Bahkan gue kira tadinya jiwa Luna dan Hawa itu ketuker badan. 😐 Masa iya anak kecilnya sabar dan baik banget, sementara kakaknya malah kayak anak umur 7 tahun. Meledak-ledak sana sini, kayak mercon tahun baruan 😐

Oma Naning: Nenek Hawa yang tinggal bersama seekor anjingnya di pedalam Kapuas Hulu dan merawat anggrek-anggreknya tiap hari. Bertindak sebagai pengganti Ibu untuk Hawa, tapi tetap saja tidak bisa sepenuhnya menggantikan posisi Amara –ibu kandung Hawa.

Setelah bagian 1 mencapai endingnya sendiri, di halaman 223 (dari 250an halaman) eh mendadak ada bagian 2 nya. Ini membuat kehidupan tokoh-tokohnya berubah drastis lagi. Padahal menurut gue bagian 1 aja udah bagus endingnya, nggak usah dipaksa-paksa nambah bagian 2 yang akhirnya membuat cerita ini terlihat ‘nanggung’.  Penjelasan di poin 8.

4. Plot

Plotnya menarik. Idenya nggak biasa, bahkan mungkin jarang banget ada novel Amore / roman Indonesia yang settingnya di pedalaman begini. Deskripsi penulis tentang Kapuas Hulu nya cukup manis dan memikat gue. Alurnya maju, tapi menurut gue terlalu cepat. Tahu-tahu gampang banget Hawa mengakhiri semuanya dengan Abhi, kemudian datang ke pelukan Landu. Lalu tahu-tahu mereka menikah. Tahu-tahu mereka di ending akhir, udah punya anak aja. Wow. Cepat juga 🙂

5. POV

POV orang ketiga.

6. Main Idea/Theme

Tentang seorang cewek yang membatalkan pernikahnnya lalu memilih menenangkan diri di pedalaman Kalimantan Barat, kemudian bertemu seorang polisi muda dan jatuh cinta lagi dan ternyata berjodoh.

7. Quotes

Bagi Hawa, hidup ini bagaikan dandelion. Tumbuh, mekar, dan lerai ke mana pun angin menerbangkannya sampul novel.

Ayah cuma mau kamu tahu, bahwa kebahagiaan itu milik orang yang mampu membedakan mana yang harus dipertahankan dan mana yang harus dilepaskan. – Praba to Hawa, hal. 147

Seperti kesedihan, kebahagiaan juga punya ruang sendiri. Kita tinggal memilih ruang mana yang ingin dimasuki. – Hawa, hal. 182.

8. Ending

Ini dia. Kenapa di bagian akhir harus ada bagian dua yang seuprit itu? 😦 Padahal ending bagian 1 aja udah cukup bagus. Mungkin niatnya penulis ingin menambahkan scene-scene yang menguatkan cerita atau bikin konfliknya greget, tapi buat gue bagian dua itu malah menurunkan emosi setelah cukup stabil di ending bagian 1. Harusnya digregetin di bagian 1 aja, lalu kuatkan karakter tokohnya, baru endingnya dipoles agar jadi semakin manis.

Twist kenalnya Abhi dan Landu juga tidak banyak membantu. Nggak ada gebok-gebokan penuh darah memperebutkan Hawa? 😐 Abhi udah sejauh itu ke Kapuas Hulu dan (ngakunya sih) masih cinta mati sama Hawa, tapi lalu pergi gitu aja setelah sekali ditolak Hawa di rumahnya? Apalagi ada Landu saat itu, harusnya bisa dibuat lebih seru dengan mempertemukan mereka bertiga agar Abhi tahu bahwa Hawa memutuskan pergi karena sudah mulai menyukai sahabatnya semasa SMA. Nah, itu akan lebih sakit, kan? :p Pasti lebih seru juga. *jahat* *ditimpuk pembaca*

9. Questions

  • Kenapa tokoh Abhirama dibahasnya minim sekali dalam cerita ini? Tidak banyak deskripsi tentang dirinya, membuat segalanya serba samar. Pembaca bahkan mungkin lebih mengenal Praba dengan baik padahal bukan tokoh utama.
  • Mengapa Landu mendadak ganjen dan kehilangan kharismanya yang menawan di akhir-akhir cerita? Setelah semakin dekat dengan Hawa, kalau gue perhatikan, berkali-kali dia meminta Hawa mengakui bahwa dirinya memang memesona. Kayaknya karakter Landu yang dibangun di awal cerita hancur lebur jadi debu gara-gara sikap genit Landu di bagian akhir-akhir.
  • Mengulang yang di atas, kenapa ada bagian dua segala? Padahal cuma sedikit. Terlihat seperti cerita yang akan dibuat sekuel tapi nanggung, kemudian diselipkan ke bagian sebelumnya.

10. Benefits

Manfaat gue baca novel ini, rasa penasaran gue terjawab. Waktu Kak @iiphche suruh gue baca buku ini setelah baca Stasiun, gue agak ragu. Roman dan YA memang bukan genre favorit gue, tapi kalau Kak Iif sudah berapi-rapi bilang bahwa sebuah buku itu bagus atau berapi-rapi bilang bahwa sebuah buku itu begini dan begitu, ya tandanya gue harus membuktikannya sendiri. Maka gue buktikan. Dan sekarang sudah.

11. Lain-lain

Segala yang tidak ada di 10 poin di atas gue tulis di sini.

Hawa meraih botol minuman kaleng, tergesa-gesa menenggaknya sampai tersisa setengah dan… – hal. 11

Kalau boleh tahu, botol minuman kaleng itu yang seperti apa, ya? 😐 Gue mikir berkali-kali tapi gue ndak ngerti. Kotak minuman botol, gue masih ngerti. Mungkin teh botol versi kotaknya. Kalau botol minuman kaleng? Jarang ada, tapi memang ada  sepertinya. Waktu kecil gue sering minum Kratingdaeng, Redbull (sebut merk), dan itu memang ada versi botol juga versi kaleng. Mungkin semacam itu, ya? Tapi gue bingung ketika pertama kali membaca kalimat di atas :p hehe.

Kau tahu, Landu, aku selalu menganggap kedua putriku seperi Raja di dalam permainan catur. Aku berharap siapa pun yang kelak menjadi pendamping hidup mereka akan melindungi anak-anakku seperti pion-pion catur ini melindungi rajanya. – Praba, hal. 156

Skakmat! Rajamu jadi milikku, Pak. Landu tersenyum lebar. –hal. 157

Aku sih tidak apa-apa. Masalahnya kan aku bawa Ratu orang. Rusak sedikit saja bisa dipenggal kepalaku.

Ratu?

Iya, Ratu. Bagi Ayahmu, kamu dan Luna adalah ratu.

– hal. 163

Bandingkan dua percakapan di atas. Yang bener itu, Praba menganggap anaknya raja atau ratu, sih? 😐 Nggak konsisten percakapannya 😐

Kalau mengibaratkan permainan catur, maka memang bener perumpamaan pertama. Raja. Karena dalam catur, setelah Ratu mati pun, Raja akan tetap ada. Permainan akan kalah total jika Raja yang mati –bukan ratu.

Mungkin typo, ya? 🙂 Ah, sudahlah. Why so serious, ah :p Serious udah bubar 😐 #GuyonanLama

*

Overall, 1/5 bintang untuk Hawa. Covernya lucu, by the way.

Buat Riani Kasih, ditunggu karya selanjutnya, semoga bisa lebih baik lagi 🙂

Maaf jika ada kesalahan penulisan, kata, typo, atau kesalahan lainnya di review ini.

Advertisements

12 thoughts on “REVIEW: Amore: Hawa – Riani Kasih

  1. Wow…ada juga akhirnya yang mereview Hawa. Saya sudah menuliskannya sebulan. Lalu saya baca seluruh tulisan review ini dan isi review ini nyariiiiis sama seperti review hawa yang saya tulis, tapi lebih lengkap yang ini, hehee…
    Berarti apa yang saya pikirkan hampir samalah dengan apa yang orang di luar saya pikirkan tentang novel Hawa. Saya baca-baca di Goodreads, juga rerata kasih kritikan yang hampir sama.
    Novel yang agak mengecewakan memang 😀
    Ini review saya tentang Hawa 😀
    http://fardelynhacky.blogspot.com/2013/11/resensi-hawa.html

    • Tapi kdg saya berpikir, tidakkah isi tulisan saya terlalu sadis? Hahaha. Tapinya lagi, yah memang inilah sejujurnya yang saya pikirkan tentang buku itu. Ada beberapa poin yang ketinggalan dan ga ketulis di postingan ini. Misalnya tentang Abhirama yang datang ke rumah Oma Naning tapi Oma tidak mengenalnya sebagai calon suami cucunya. Aneh, ya? Kalau sebulan lg mau menikah kan harusnya udh saling kenal sama keluarga msg2. Nah, ini lupa saya masukkan ke review. Saking asiknya konsen ke Landu-Abhi-Hawa :p btw, trims sudah baca dan berkunjung ke sini. Salam kenal 🙂

  2. Pingback: Book Kaleidoscope 2013 – Top Five of Your Own Criteria | Petronela Putri (books)

  3. sy udh beli tahun 2013 lalu, tapi sy gak ada bosan2 nya untuk membaca nya, krn sy berharap akan mendapat kan jg lelaki yg sangat setia, sabar seperti landu ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s