Festival Pembaca Indonesia 2013

Hari Sabtu dan Minggu (7-8 Desember 2013) kemarin, gue mampir ke Museum Mandiri di Kota Tua sana, yang katanya lagi menyelenggarakan acara tahunan rutin sejak 2010, IRF. Indonesia Reading Festival aka Festival Pembaca Indonesia. Tadinya diajak temen karena ngincer meja bookwar & bookswap *ketahuan* :p tapi akhirnya setelah follow @bacaituseru, gue baru tahu kalau di sana ada workshop dan talkshow juga. Talkshow sih kayaknya bebas langsung masuk, tapi workshop daftarnya rebutan dari awal.

Gue daftar workshop bareng @NDIGUN yang kemarin itu temanya ‘Write Like Nobody Cares’ yang kira-kira, ‘menulislah seolah tidak ada yang peduli’. Gue agak penasaran, kira-kira apa yang disampaikan dalam workshop ini, karena nggak beda dari workshop creative writing lainnya, dalam waktu sekejab kuotanya langsung penuh.

Tapi apa yang gue dapati di lokasi?

Ketika Ndigun datang, dari 40 pendaftar, yang benar-benar hadir cuma belasan orang. Mungkin nggak sampai 20 orang. Tapi angka pastinya gue lupa. Kami dipersilahkan masuk ke sebuah ruangan yang lebih mirip tempat nyantai keluarga daripada ruang workshop. Tadinya gue kira kayak workshop di kampus. Hadirin akan duduk rapi di kursi, lalu pembicara akan menyalakan infokus dan mulai bicara selama dua jam. Tapi ternyata beda, beda jauh. Workshop ini menyenangkan, karena suasananya santai sekali dan Ndigunnya juga ngomongnya random –jadi lucu dan nggak bikin sakit kepala, hahaha.

Ada karpet besar di tengah ruangan dan kami duduk di sana rame-rame. Ketika baru pertama datang, Ndigun membagikan post-it warna-warni ukuran kertas memo, lalu menyuruh kami menuliskan masing-masing satu pertanyaan seputar dunia tulis menulis yang ingin ditanyakan padanya. Gue masih inget kata-katanya waktu itu. “Saya orangnya agak random, teman-teman. Jadi saya nggak tahu harus memulai dari mana. Makanya saya minta teman-teman yang menuliskan pertanyaan, lalu tempel di whiteboard dan nanti akan saya jawab satu-persatu.”

Hal yang satu itu juga bikin gue agak kaget. Nggak biasa. Biasanya, pembicara/pemateri akan langsung berbasa-basi sekilas lalu masuk ke topik bahasannya. Tapi Ndigun malah menyuruh kami bertanya bahkan sebelum dia menjelaskan apa-apa. I see, sepertinya dia ingin menjelaskan apa yang kami pertanyakan, bukan menjelaskan apa yang ada di kepalanya (padahal belum tentu kami pertanyakan). Konsep yang bagus 😀

Kemudian pertanyaan demi pertanyaan dijawab satu per satu. Kebanyakan peserta bertanya tentang langkah awal menulis atau cara mengirimkan naskah ke penerbit berikut tips-tipsnya. Sempet gue catet di kertas brosur yang kebetulan ada di dalam tas waktu itu *kena toyor* *ketahuan nggak bawa memo, nyatetnya di brosur orang* : ))

Untuk perjalanan sebuah naskah, kira-kira seperti ini:

Naskah + Proposal (biodata, sinopsis, kelebihan dan kekurangan, naskah –yang umumnya hardcopy, walau sekarang sudah banyak penerbit yang berkenan menerima softcopy dengan alasan go green dan hemat kertas. Haha) -> Seleksi Naskah -> Penyuntingan -> Tata Letak -> PR (proofreading) -> Proses Cetak.

Lalu ada juga yang menanyakan tentang kerangka karangan. Seperti pemahaman gue selama ini, Ndigun juga bilang, bahwa sebaiknya memang ada kerangka karangan agar tulisannya lebih terstruktur, walau memang ada juga beberapa penulis yang lebih nyaman tanpa kerangka. Itu kembali ke selera penulisnya sendiri.

Lalu bicara tentang pemberian judul buku, ada satu bahasan Ndigun yang gue suka banget kata-katanya. Terkait hubungan judul, isi dengan sampul bukunya. Begini kira-kira isinya:

Cari judul yang kira-kira beda dan bisa menarik pembaca. Detik dot com saja biasanya membuat judul headline yang nggak biasa dan mampu memancing kita mengkliknya, padahal ternyata isi beritanya standar. Tentang sampul, berikan sampul yang sesuai dengan isi bukunya. Jangan membuat sampul warna pink untuk buku horror. *di bold* *ini kalimat favorit gue, hahaha*

Terkait judul detik, gue juga sempat liat berita tentang kecelakaan di Bintaro tempo hari. Judul headlinenya “Kisah Horror dari Tragedi Bintaro” (kalo ndak salah).

Tahu apa isinya?

Diulang sambi zoom in zoom out: TAHU APA ISI BERITANYA?

Tentang teknisi kereta yang mengevakuasi penumpang ke gerbong belakang agar tidak ikut celaka, tapi dia sendiri balik ke gerbong depan untuk mengecek masinis dan asisten masinis, lalu tentang penumpang-penumpang wanita yang katanya terkurung di dalam kereta namun kemudian jendelanya berhasil dipecahkan warga yang berdatangan membantu. Gue mau nanya, INI HORRORNYA SEBELAH MANA? :’(( Nggak ada setannya 😥 Mungkin judul normalnya, “Kisah Menegangkan Saat Tragedi Bintaro” tapi dipleset-plesetin jadi judul sensasional yang kemudian menarik banyak pembaca. Karena honestly, di awal gue kira itu ada hubungannya dengan ‘kembalinya’ korban tragedi Bintaro 1987 silam. Tapi ternyata bukan sama sekali.

Dari sanalah gue tahu, teori Ndigun benar adanya. *sungkem*

“Fiksi adalah menciptakan kemungkinan-kemungkinan yang tidak mungkin kalian alami.”

“Beberapa penulis besar menyampaikan cerita dari sebuah benda/tanda sebagai medianya, hanya sebuah benda kecil saja terkadang bisa jadi satu serial cerita yang menghasilkan banyak buku. Misalnya sebuah cincin pada The Lord of The Ring, atau bekas luka di jidat Harry Potter.”

“Jangan takut menulis. Jangan takut bahwa pembaca tidak akan menyukai tulisanmu. Menulis sesuai yang kita inginkan saja susah, apalagi menulis sesuai selera dan keinginan orang lain.”

@Ndigun

 

Setelah selesai dari workshop, gue menuju lantai bawah untuk bookwar dan bookswap. Setelah berkutat lama, akhirnya berhasil membawa beberapa buku. Kebanyakan buku gue dapet di bookwar jam 12. Ternyata bener kata temen anak BBI, kalo sorean pesertanya udah mengganas. Hahaha, masa ada anak kecil yang sampe manjat meja dan badannya nutupin banyak buku, sampe diteriakin panitianya. Niat banget itu anak. Mana buku inceran gue kejepit di badannya, susah payah gue tarik 😐 Walau akhirnya dapet juga, sih. Tapi harus merelakan siku gue lecet-lecet kedorong-dorong abege-abege lainnya yang nguber-nguber buku korea dan teenlit *menghela napas* :’|

Dari booth @TMIndo (The Mortal Instruments Indonesia) gue dapet serial TMI buku 5 : City of Lost Souls. Walau baru punya nomer 1, tapi nggak apa-apa. Nomer 2 sampai 4 bisa dibeli kemudian, yang 5 gratis, jadi embat aja dulu. *prinsip penimbun buku* : )) dan juga dapet cinemagz edisi City of Bones gara-gara iseng ikut kuis mereka di twitter. Plus dapet kesempatan foto-foto narsis dan pin keluarga shadowhunter. Yeah! : )) Booth satu ini yang paling seru diantara yang lain. Berkali-kali gue mampir, ada aja yang gue bawa dari sini. *IRF tahun depan siap-siap bawa karung*

Denger-denger kabar, katanya IRF tahun ini lebih lama –dua hari. IRF tahun lalu cuma sehari. Gile, dua hari aja gue masih belum puas rebutan buku di meja bookwar, gimana kalo cuma sehari. 😐 Tapi semoga tahun depan ditambah jadi 3 hari. Lalu tahun depannya jadi 4 hari. 4 tahun dari sekarang, semoga IRFnya semingguan, biar puas sekalian *digebok panitia* :p

Advertisements

10 thoughts on “Festival Pembaca Indonesia 2013

  1. iya putri,,, IRF tahun ini dua hari…
    seneng ketemu semua teman2… tapi ga sempet ngobrol sama putri ya.. kamu pendiem dan kalem y,, *ih cubit putri *gemes 😀
    senangnya ya bisa dpt buku gratisan apalagi yg kita suka.. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s