REVIEW: The Mortal Instruments 1 (City of Bones) – Cassandra Clare

Judul: The Mortal Instruments 1 (City of Bones)

Penulis: Cassandra Clare

Penerbit: Ufuk Publishing House

Penerjemah: Melody Violin

Tahun Terbit: Oktober 2013 (Cetakan VIII)

Harga: Rp. 89.900 (belinya waktu diskon promo Natal 20%, huahaha. Jadi cuma 70ribuan)

Jumlah halaman: 660 hal.

ISBN: 978-602-8224-80-2

*

Blurb:

Selama ini Clary yang hampir berusia 16 tahun, mengira dirinya hanyalah anak seorang pelukis biasa. Tapi sejak ibunya diculik dan Clary sendiri hampir mati oleh serangan iblis, ia terpaksa masuk ke dalam dunia baru yang gelap sekaligus  menawan, yaitu Dunia Bayangan.

Ternyata sejak ribuan tahun yang lalu, hanya kaum Nephilim (manusia keturunan malaikat) yang membasmi iblis demi melindungi manusia. Mereka disebut Pemburu Bayangan. Salah satunya adalah Jace yang kasar, sombong, dan luar biasa menyebalkan. Tapi justru itulah yang membuat cowok berambut keemasan itu lebih menggemaskan. Lagipula, bagaimana Clary bisa tahan kalau ada cowok yang selalu siap menerjang iblis, vampir, bahkan manusia serigala demi melindunginya?

Lalu mengapa iblis mengincar seorang gadis biasa seperti Clary? Bagaimana tiba-tiba Clary mendapatkan “penglihatan”, sehingga kini ia bisa melihat peri, warlock dan nephilim? Para Pemburu Bayangan pun benar-benar ingin mengetahuinya…

*

Review:

Awalnya nggak ngeh kalau buku ini bagus. Untuk pembaca yang agak kurang suka fantasi (terlebih buku terjemahan) kayak gue, buku kayak gini nggak akan masuk hitungan wishlist ketika terbit atau heboh di kalangan lain. Cuma memang pernah ngeh bahwa filmnya sempat ada di bioskop Agustus lalu. Gue baca buku ini karena sempat nonton filmnya minggu lalu. Iya, agak telat, tapi memang gue baru nonton minggu lalu. Awalnya nggak paham film apa, tapi setelah selesai, gue bengong : )) Film itu langsung menggeser posisi Twilight dalam hati gue (halah).

The Mortal Instruments adalah percampuran napas Harry Potter dan Twilight, tapi dengan tingkat kerumitan cerita lebih tinggi. Kalau di HP ada penyihir yang hebat dan di Twilight ada vampir yang tak terkalahkan, di TMI ada shadowhunter alias pemburu bayangan alias manusia setengah malaikat yang sanggup menebas leher mereka semua. Cool, huh?! *tinggalin Harry dan Edward, pindahan ke hatinya Jace Wayland*

Jadi setelah selesai nonton filmnya, gue mulai penasaran baca bukunya. Apalagi menurut tante @rheinfathia, filmnya tidak ada apa-apanya dibanding bukunya. Iya, masalah klasik dari film yang dibukukan cuma satu: durasi dua/dua setengah jam tidak akan sanggup menyatukan seluruh scene dalam buku ratusan halaman. Tidak. Jadi maklumi saja kalau filmnya tidak sesuai harapan kalian yang udah baca duluan :p untung gue nonton duluan (kalo untuk fantasi, gue memang harus selalu nonton duluan. Kalau baca duluan, imajinasi gue sering nggak sampe).

Okelah, rinciannya sbb:

1. First impression

Saat pertama kali pegang bukunya, yang gue pikirkan adalah, Wah, tebel juga, ya. Lumayan bisa dibawa tidur. *LOH* : )) Kalo tentang cover sih, gue malah suka covernya, itu dada Jace Wayland, kan? Lumayan buat senderan. *ditendang desainer cover*

Berhubung gue belinya bukan karena terpikat cover, jadi gue nggak bisa komen panjang-panjang di bagian ini. Intinya, ya, covernya memang menarik dan cocok dengan ceritanya. Berhubung lagi ini serial, menurut gue kalo semuanya dikoleksi dan dijajarkan satu-satu, covernya akan jauhhh terlihat lebih keren.

2. How did you experience the book?

Awal gue membaca bukunya, gue bisa langsung masuk ke dalam cerita. Bukan hanya karena gue udah nonton filmnya sebelum ini, tapi jujur gue mau bilang bahwa terjemahannya nggak bikin gue pusing. Bagus, buat standar otak gue. Walaupun belum tentu nyaman untuk standar otak orang lain. Memang sih, ada beberapa typo, tapi tidak masalah. Menyunting dan menerjemahkan buku setebal itu bukan pekerjaan mudah. Dengan hasil terjemahan seperti ini saja, penerjemahnya sudah hebat : ))

Plot dan karakternya bisa langsung masuk ke kepala gue tanpa gue harus balik-balik ke halaman sebelumnya untuk flashback sesuatu yang baru gue baca beberapa menit lalu (ini sering terjadi ketika gue baca terjemahan. Seperti yang gue bilang, imajinasi gue agak payah untuk fantasi).

Mundane (manusia) diartikan sebagai fana. Sedangkan The Silent Brothers diartikan jadi Para Saudara Hening. Boleh juga, masih terbaca sama kerennya dengan versi bahasa inggis :p

3. Characters

Clarissa Fray (Clary): Seorang cewek menjelang 16 tahun yang hidupnya mendadak berubah drastis sejak ibunya diculik. Clary merasa aneh karena ia merasakan bahwa dirinya yang sekarang sudah agak berubah. Ia melihat apa yang tidak dilihat orang lain. Ia melihat lelaki berambut keemasan membunuh iblis di sebuah klab malam, namun tak ada satupun yang melihat hal yang sama, termasuk Simon –sahabatnya sendiri.

Jace Wayland (Jace): Pemburu Bayangan muda yang sudah dilatih semenjak kecil. Ayahnya Michael Wayland dibunuh di hadapannya sendiri hingga tewas, membuatnya jadi pribadi yang keras dan penuh dendam, mampu membunuh ratusan iblis di usianya yang masih tergolong muda (hanya tua setahun dari Clary). Jace tinggal di Institute bersama dua sahabatnya yang sudah seperti saudara; Alec dan adiknya Isabelle Lightwood, dan Hodge yang menjadi guru mereka semua.

Tambahan: di versi buku, Jace nya lebih narsis dan super pede. Juga ganjen 😐 Seperti waktu ia melihat buku sketsa Clary, hei, mana fantasi-fantasi panasnya? Yakali, bang -_-“

Alec Lightwood (Alec): Teman dekat Jace sesama pemburu bayangan, yang sikapnya cukup menyebalkan dan menganggap Jace hanya monopoli untuk dirinya. Tidak suka dengan kehadiran Clary di tengah-tengah mereka, karena menganggap Clary membuat Jace menjadi pribadi yang berbeda, melakukan hal-hal berbahaya yang seharusnya tidak dilakukannya –hanya untuk melindungi Clary.

Isabelle Lightwood (Isabelle): satu-satunya cewek di Institute –sebelum Clary datang. Ia adalah adik kandung Alec, sekaligus putri keluarga Lightwood. Isabelle selalu menempatkan dirinya sebagai gadis kecil diantara mereka, lalu merasa sedikit tergeser posisinya semenjak Clary datang : )) Seperti kutipan kalimat Jace, Isabelle menyadari dirinya cantik dan biasa memanfaatkan kecantikannya, namun Clary bahkan tidak sadar bahwa dirinya cantik. Itulah yang membuat mereka berbeda.

Kutipan yang cukup keren, tapi cukup wajar juga untuk ukuran orang jatuh tjinta *pukpuk pipi Jace*

Simon Lewis (Simon): Sahabat Clary dari kecil, mencintai cewek itu sejak lama namun Clary tak pernah menyadarinya. Belakangan setelah ia mengakuinya, ternyata Clary tidak punya rasa yang sama dan malah terlanjur menyukai Jace. Kasian, hahaha. Tapi buat gue, tokoh satu ini menyebalkan. Iya, Simon itu gengges sekali sebenarnya. Di versi film, dia minum sebuah minuman biru di pesta Magnus Bane, tanpa sadar minuman tersebut sudah diracun oleh gerombolan vampir, dia pingsan dan Isabelle nggak bisa menyelamatkannya sendirian. Endingnya? Endingnya dia diculik vampir.

Di versi buku, dia minum minuman biru –masih di pesta si Magnus Bane, yang udah diracun vampir, tapi bedanya dia berubah jadi tikus -__- kemudian dibawa kabur para vampir setelah merebutnya dari tas Clary. Endingnya? Endingnya dia tetep diculik, membuat Clary dan Jace terpaksa menembus sarang vampir untuk menolongnya keluar.

Lalu waktu Clary dan Jace berciuman usai merayakan pesta ulang tahun Clary, dia mendadak muncul di depan pintu. APA MAKSUDNYA COBA? Terus bikin Jace sebel dan akhirnya pergi gitu aja *ketok-ketok meja*

See? Mundane satu ini merepotkan sekali, seperti anak kecil umur 8 tahun yang makan gulali. *bete sendiri* 😐 Mon, matik aja Mon. Matiikk 😐

Jocelyn Fray / Jocelyn Fairchild / Jocelyn Morgenstern (Jocelyn): Ibu Clary yang masih muda dan cantik *salah fokus* 😐 Maksudnya, Ibu Clary yang ternyata juga seorang Pemburu Bayangan, namun lari dari dunianya sendiri sambil membawa Piala Mortal demi menjauhkan benda itu dari mantan suaminya, Valentine Morgenstern yang jahat dan selalu ingin berkuasa. Kemudian menjadi pelukis di East Village (sebelum akhirnya pindah ke Park Slope di sebelah Barat Brooklyn), dan berhasil ditemukan oleh Lucian Graymark –sahabatnya sedari kecil. Mereka kemudian memutuskan menjalani hidup sama-sama demi melindungi Clary dari Dunia Bayangan. Bisa ditebak, ini sama dengan kisah Simon dan Clary. Lucian (atau nama samarannya Luke), menyukai Jocelyn dari kecil, tapi Jocelyn malah menikah dengan Valentine.

Lucian Graymark (Luke): Pemburu Bayangan  yang kini menjadi manusia serigala karena terkena gigitan makhluk malam itu. Bukan ayah kandung Clary, tapi menyayanginya seperti seorang ayah. Clary mengenal Luke hanya sebagai sahabat baik ibunya –tanpa tahu bahwa Luke adalah bagian dari masa lalu, bahkan mantan sahabat baik Valentine sewaktu masih di Idris. Valentine bersikap buruk padanya dan membuatnya menjadi orang yang terbuang, yang membuatnya kemudian memutuskan menyusul Jocelyn yang sedang dalam pelarian, lalu menemaninya hingga bertahun-tahun.

Valentine Morgenstern (Valentine): Tokoh antagonisnya. Mantan suami Jocelyn, pemburu bayangan yang terobsesi merebut Piala Mortal lalu menciptakan pemburu bayangan baru dari anak-anak manusia. Jocelyn yang tahu rencana buruknya kemudian melarikan piala itu bersama dirinya, Valentine membuat dirinya terlihat sudah tewas padahal belum. Bertahun-tahun kemudian ia kembali lagi.

Hodge: Guru Jace, Alec dan Isabelle di institute. Tidak pernah bisa keluar dari sana karena dikutuk oleh Kunci, karena dulunya ia adalah anggota Lingkaran, kelompok yang diciptakan Valentine untuk memberontak dan membunuh semua kaum Dunia Bawah.

Magnus Bane: Penyihir gothic berwajah Asia yang dibayar Jocelyn untuk memagari ingatan Clary dengan mantra. Hampir setiap tahun ia melihat Jocelyn membawa Clary padanya, demi menutup semua ingatan Clary akan dunia bayangan. Magnus yang di buku jauh lebih slebor dan menyebalkan daripada yang di film. Dan kayaknya dia homo. Sayang, padahal cukup tampan. Hahaha.

4. Plot

Plotnya menarik, penulisnya seperti tahu kapan harus membuat perang dan kapan harus membuat scene lucu. Misalnya seperti di restoran yang mereka masuki untuk makan siang. Yang menunya menu setan semua -__- bahkan ada daging mentah untuk menu makanan para manusia serigala. Alurnya maju, dan gue cuma butuh 3 hari untuk menuntaskan buku ini :p #rekorbaru

5. POV

POV orang ketiga.

6. Main Idea/Theme

Tentang seorang anak pemburu bayangan yang baru tahu bahwa ia adalah pemburu bayangan. Ribet, kan? 😐 Intinya tentang anak pemburu bayangan yang ibunya diculik dan mendadak semua masa lalu yang berusaha ditutupi ibunya mulai terbongkar. Membuatnya harus bertempur demi menyelamatkan sang ibu dan juga piala mortal yang selama ini mati-matian disembunyikan ibunya agar mantan suaminya tidak membuat kekacauan dengan benda itu.

7. Quotes

Cukup banyak kata-kata bagus dalam buku ini, sih 😐

1. “Simonmu adalah salah satu fana yang paling fana  yang pernah aku temukan.” Jace to Clary, hal. 63

2. Sed lex dura lex (hukum itu keras, tapi itulah hukum) – Jace, hal. 152

3. “Jadi sekarang Valentine telah bangkit dari kubur dan kembali untuk mencarinya. Mungkin dia ingin bersatu kembali.” – Isabelle

“Aku ragu dia mengirim iblis Pembuas ke rumah Jocelyn karena dia ingin bersatu kembali.” – Alec

“Aku tidak akan seperti itu. Pertama kirim permen dan bunga, lalu surat permintaan maaf, lalu barisan iblis buas. Urutannya begitu.” – Jace

“Mungkin dia sudah mengiriminya permen dan bunga, kita kan tidak tahu.” – Isabelle

Hal. 215-216 😐

4. Betapa mudahnya kehilangan semua yang kamu kira akan kamu miliki selamanya – Clary, hal. 225

5. NEPHILIM: FACILIS DESCENSUS AVERNI (Pemburu Bayangan: Terlihat Lebih Cocok Memakai Baju Hitam daripada Janda Musuh Kami sejak 1234) – hal. 251

6. Cinta ada untuk menghancurkan, dan dicintai ada untuk dihancurkan. – hal. 265

7. “Seorang pujangga Irlandia bernama Oscar Wilde pernah berkata, ‘kehilangan satu orangtua bisa dianggap sebagai kemalangan, kehilangan keduanya tampak seperti kecerobohan’.” – Magnus Bane, hal. 314

8. Kamu mau tahu bagaimana rasanya ketika orangtuamu adalah orang saleh, tapi ternyata kamu terlahir dengan tanda setan? – Magnus Bane, hal. 321

9. “Ayahku percaya kepada Tuhan yang adil. Deus Volt, itulah semboyannya. Artinya ‘Karena Tuhan Menghendaki’. Itulah semboyan para Ksatria Perang Salib, lalu mereka pergi berperang dan dijagal, seperti ayahku. Jadi, ketika aku melihat ayahku terbaring mati di genangan darahnya sendiri, aku tahu bahwa aku tidak berhenti percaya kepada Tuhan. Aku hanya berhenti percaya bahwa Tuhan peduli. Mungkin memang ada Tuhan, Clary, mungkin juga tidak, tapi aku rasa itu tidak penting. Ada atau tidak ada, kita sendirian.” – Jace to Clary, hal. 356-357

10. Setengah perhatianmu lebih baik daripada seluruh perhatian orang lain. – Simon to Clary, hal. 418

11. Batu ini akan membawakanmu cahaya, bahkan di antara bayang-bayang tergelap di dunia ini dan lain-lainnya. – Jace to Clary, hal. 432

12. Matahari terbit dan tenggelam di sosok Valentine Morgenstern. – Luke, hal 530

8. Ending

Nggak! : )) Semua endingnya memuaskan, tapi gue paling males sama ending yang terakhir, yang ternyata Clary dan Jace itu saudara. Bahwa kata Valentine, Jace adalah Jonathan Christopher –kakak Clary. Gue lebih suka endingnya, ternyata Clary adalah anak Jocelyn bersama Luke, atau Jace beneran anak Michael Wayland. Dalam bayangan gue lebih baik begitu. Setidaknya itu bisa menyelamatkan kisah romantis mereka dan menyelamatkan mereka dari nasib punya bapak nista kayak Valentine Morgenstern. Tapi kata yang udah baca, coba baca sampe buku 3, nanti nggak bakal patah hati lagi :p Kayaknya sih kenyataan bakal berubah. Lagian, pembaca tidak harus mempercayai kata-kata Valentine, dia kan pembohong -_-“

Tapi tetap saja, endingnya agak mematahkan hati 😐

9. Questions

Cuma satu pertanyaan. Jace bukan kakak Clary, kan?! Iya, kan?! JAWAB IYA 😦 *pembaca frustasi*

10. Benefits

Manfaat gue baca novel ini adalah, genre gue jadi meluas lagi. Yang dulunya nggak baca fantasi, sekarang jadi baca fantasi. Manfaat lainnya, gue resmi meninggalkan Harry Potter dan Twilight. Dulu, buat gue Twilight itu jauh lebih keren dari HP karena isinya vampir-vampir hebat yang bisa meremukkan apa saja. Tapi kemudian The Mortal Instruments datang begitu saja dan membuat tokoh shadowhunter yang bahkan bisa meremukkan vampir, iblis, penyihir, manusia serigala, warlock, peri, atau apapun dari kalangan Dunia Bawah –sekaligus. *kembali senderan di dada Jace Wayland*

11. Lain-lain

Ini berisi tanggapan dari scene yang agak janggal menurut gue 😐

1. Kalau memang Jace Wayland adalah Jonathan Christopher (putra Valentine), kenapa Jace mengaku melihat ayahnya tewas dibunuh di depan matanya sendiri? Kalau udah tewas di depan mata, berarti bener udah mati, kan?

2. Kalau memang Valentine adalah ayahnya, kenapa Jace nggak mengenali wajahnya? Anak umur 10 tahun itu udah gede, loh. Harusnya udah kenal siapa orangtuanya secara detil, nggak cuma selewat. Kecuali waktu ayahnya dibunuh, Jace masih 2 tahun –itu baru masuk akal. Dari sini juga ketahuan si Valentine nya bohong, kan? 😐

3. Kalau posisinya seperti yang diceritakan Valentine, mengapa keluarga Lightwood tidak menyadarinya sejak lama? Harusnya mereka sadar. Kisahnya adalah mereka teman baik Michael Wayland. Kalau memang itu bukan anak Wayland, harusnya mereka bahkan tahu. Minimal tahu, Wayland itu bener punya anak atau tidak dan bagaimana rupa anaknya. Jadi saat pertama kali mengadopsi Jace, mereka bisa memastikan itu anak Wayland atau tidak. Gue rasa sih, Jace memang anak Wayland. Cluenya? Rambutnya pirang sendiri. Rambut Valentine hitam, Clary dan Jocelyn itu kemerahan! Hahaha. *sampe segitunya* *masih nggak terima* *tapi tetap akan baca buku kedua* #TeamJaceClary #DukungClaryJadianSamaJace #SimonTendanginKeSungaiAja

Overall, 5 bintang untuk City of Bones. Tapi seperti yang sudah gue tuliskan di Goodreads sebelumnya, minus 1 bintang atas patahnya hati gue gara-gara endingnya.

Jadi, sisanya 4 bintang untuk City of Bones dan Cassandra Clare, juga terjemahannya yang cukup rapi 🙂

Advertisements

4 thoughts on “REVIEW: The Mortal Instruments 1 (City of Bones) – Cassandra Clare

    • Iya mbak. Awalnya aku pas liat harganya, agak keselek. Hahaha. Tapi buku pertamanya bagus kok, Mbak 😀 aku mau beli lg buku kedua. Jarang ada fantasi yang bisa bikin aku nagih :p tapi belinya nyicil sih, ga sekaligus semua sampe buku enam. Bisa bangkrut XD

  1. Pingback: Book Kaleidoscope 2013 – Top Five Most Favorite Books | Petronela Putri (books)

  2. Pingback: Liebster Blog Award 2014 | Petronela Putri (books)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s