REVIEW: Delusi – Mira W.

Judul: Delusi (Deviasi 2)

Penulis: Mira W.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: 1999 (Cetakan Pertama)

Harga: Rp. – (harga baru kayaknya udah gak ada)

Jumlah halaman: 153 hal.

ISBN: 979-605-911-8

Status: Beli di lapak buku bekas – Book Fair, November 2013

*

Blurb:

Setelah tujuh belas tahun dirawat di rumah sakit jiwa, Rivai yang mengidap deviasi seksual dan berkepribadian ganda, melarikan diri untuk mencari Arneta, mantan istrinya yang masih dianggapnya miliknya.

Pelarian Rivai dipacu oleh tayangan sinetron yang dibintangi Putri, anak perempuan Arneta yang memiliki wajah mirip ibunya. Rivai mengira Putri adalah Arneta.

Kepanikan semakin memuncak ketika terjadi tiga pembunuhan berantai yang diduga dilakukan oleh pembunuh yang sakit jiwa.

Dan ketika kecurigaan semua pihak tertuju pada Rivai, muncullah pembunuh yang sebenarnya..

Lembar penutup Deviasi, dirangkum dengan kisah seorang penderita skizoprenia paranoid yang mempunyai waham pemberantasan pelacuran dan perselingkuhan..

Punya hubungan apa dia dengan Rivai dan Arneta?

*

Review:

Buku kedua, kelanjutan Deviasi. Sebenernya gue heran juga kenapa ndak disatuin aja, soalnya buku kedua ini bisa dibilang tipis dan nggak ada salahnya kalau disatukan dengan buku pertama. Tapi mungkin juga butuh proses untuk menuliskan sekuelnya. Mengingat rentang jarak terbitnya buku pertama dan kedua lumayan lama –tiga tahun, gue mengerti kenapa kedua cerita ini tidak disatukan dalam satu buku saja.

Delusi merupakan kelanjutan Deviasi. Jika Deviasi berakhir dengan pernikahan Arneta dan Taufan yang bahagia, serta Rivai masuk rumah sakit jiwa, maka di Delusi adalah kisah mereka tujuh belas tahun kemudian. Seperti yang sudah diungkapkan blurb di atas, bahwa Rivai kabur dari rumah sakit jiwa tempatnya dirawat. Orang-orang mengira ialah tersangka dalam pembunuhan tiga orang berturut-turut terhadap korban yang tidak lain adalah kenalan Putri Kusmanto –anak Arneta dan Taufan. Putri punya paras yang mirip dengan ibunya ketika masih muda dulu, hingga Rivai terkecoh dan mengira ia adalah Arneta yang selama ini dirindukannya. Ia masih terobsesi pada Arneta, menganggap perempuan itu miliknya.

Setelah tiga orang korban berjatuhan, dokter yang merawat Rivai mulai menyadari..

tersangka dalam kasus ini bukan Rivai.

Ada orang lain, yang jauh lebih kejam darinya, dan kini tengah mengincar nyawa Putri (yang ia kira Arneta).

 

1. First impression

Ketika tengah membongkar buntelan di bookfair dan mencari Deviasi, buku inilah yang gue temukan lebih dulu. Di pojok kanan bawahnya tertulis ‘Deviasi 2’ dan gue langsung mengamankannya segera :p Kesan melihat covernya biasa aja, karena memang mayoritas cover novelnya Mira W. itu memang gambar kembang -___-“ info dari seorang kenalan sih katanya itu disengaja, biar jadi ciri khas. Makanya kalo beli novel Mira W. gue selalu susah menentukan dari cover. Biasanya harus liat blurbnya, atau cek goodreads. Ada beberapa novelnya yang hampir gue beli, namun gue urungkan lagi karena bimbang. Covernya tidak memberikan petunjuk apapun 😦

2. How did you experience the book?

Honestly, sih, yaaa.. Sebenernya menurut gue cerita kedua ini agak FTV, bagian si Putrinya mencak-mencak minta main sinetron sama orangtuanya. Tipe anak Jakarta, kadang-kadang egois dan malas dengerin saran orangtua. Akhirnya malah hamil sama lawan mainnya, oh great 😐

Tapi sisanya gue tetep suka, walau nggak sebagus dan semenantang kisah Arneta di Deviasi. Tidak butuh waktu lama untuk memahami plot dan karakternya. Tulisan Mira W. selalu rapi sepertinya :p Kecuali twist menjelang endingnya itu, ampun deh, gue sebagai penulis thriller amatiran beneran terkecoh. Sialan you, Rana Maringka! : )) hahaha.

3. Characters

Karakter dalam novel ini:

Putri Kusmanto: Gadis remaja kesayangan ayahnya. Tapi sayang, terlalu egois untuk mendengarkan nasehat ibunya sedikit saja. Padahal jika ia mau mendengar nasehat ibunya, ia tidak akan celaka. Tapi mungkin itulah hebatnya fiksi, ya. Kalau tidak ada konflik apa-apa dari awal, ya ndak bakal jadi cerita apa-apa juga :p #apadeh

Arneta Basuki: yang sekarang telah menjelma menjadi tante-tante umur empat puluhan, namun masih cantik. Selalu hidup bahagia dengan Taufan –kecuali masalah anak mereka yang beranjak remaja dan selalu mampu membuat Arneta marah-marah tiap hari.

Taufan Herikusmanto: Sudah separuh baya namun masih tetap mencintai Arneta dan Putri seperti janjinya di tujuh belas tahun yang lalu. Ia berjanji menganggap Putri sebagai anaknya sendiri dan membuktikannya, menjadi ayah yang baik dan memanjakan anak itu. Meski pada akhirnya Arneta mengakui bahwa Putri memang anak kandung Taufan.

Rivai Maringka: Menghabiskan tujuh belas tahun di balik jeruji rumah sakit jiwa, namun suatu hari kabur karena melihat tayangan sinetron yang dibintangi Putri. Menyangka bahwa itu adalah Arneta –mantan istrinya.

Murtini: Pasien skizofrenia paranoid yang ada di rumah sakit jiwa yang sama dengan Rivai. Ketika penghuni bangsal kabur, ia dan Rivai juga melarikan diri dari sana. Terobsesi menghabisi semua pelacur di dunia, agar semua orang terbebas dari pengkhianatan.

Tokoh lainnya: Sonny Tunggara, Dokter Winarto, Dokter Sendang, Johan Paringian, Della Imron, dll.

Pada ending cerita, tentu saja selalu ada tokoh yang berubah. Dalam Delusi, kisah thriller yang dimulai dari Deviasi akhirnya berhasil diselesaikan. Setelah dianggap ‘mati’ selama tujuh belas tahun, kisah kelam itu kembali pada keluarga Arneta dengan bebasnya Rivai. Namun kemudian, semuanya telah selesai. Diselesaikan Arneta sendiri demi anaknya.

4. Plot

Dari Deviasi sampai Delusi, plot yang disusun Mira W. selalu menarik menurut gue :)) Butuh dua jam saja membaca buku ini mengingat halamannya yang tipis dan ukuran bukunya agak ramping juga. Alurnya maju, tapi menurut gue terlalu cepat. Apa mungkin di buku dua ini, sudah tidak begitu banyak bahan yang akan diceritakan lagi? Karena ada kesan yang menggambarkan sepertinya penulis ingin cepat-cepat menyelesaikannya.

Misalnya waktu Putri minta ijin ke disko di malam ulang tahunnya. Digambarkan hanya dengan dialog Arneta dan Taufan, bahwa mereka semata-mata mengizinkan karena tidak ingin membuat Putri sedih.

Tapi di awal subab berikutnya langsung diceritakan anak itu hamil karena perbuatan Sonny. Padahal menurut gue sebenernya konflik di disko itu bisa diperpanjang sedikit biar lebih detail aja tentang kesalahan yang diperbuat kedua anak muda tadi.

5. POV

Sudut pandang orang ketiga.

6. Main Idea/Theme

Masih sama dengan Deviasi, tentang seorang lelaki yang mengidap deviasi seksual dan kepribadian ganda. Bedanya, di Delusi nambah satu tema lagi: tentang cewek abege beranjak remaja yang malas dengerin nasehat orangtua, dan kemudian kualat –terjebak pada masa lalu kelam ibunya. Hahaha! *malah diketawain* *mamam tuh* : ))

7. Quotes

Dokter Winarto menyimpan senyumnya. Dia mencatat sesuatu di bukunya. Delusi, tulisnya. Delusi atau waham adalah keyakinan yang salah karena bertentangan dengan realita. Keyakinan itu tidak dapat dikoreksi walaupun telah tersedia bukti yang obyektif tentang ketidakbenarannya. – hal. 35

Yang bersalah harus dihukum. – quotes keluarga Maringka, wajib dikutip. Menghantui :p

8. Ending

Endingnya memuaskan. Twist-nya itu lohhh! Sekali lagi. Rana Maringka, damn you! : )))

9. Questions

  • Kenapa Delusi ditulis begitu lama setelah Deviasi? Deviasi terbit tahun 1996, sedangkan Delusi tahun 1999. Apa butuh riset sedemikian lama untuk karus skizofrenia paranoid yang diderita Murtini? Atau memang karena kesibukan penulis?
  • Mengapa tidak dijelaskan detail tentang Murtini. Misalnya, siapa ayah kandungnya? Ibu kandungnya memang ketahuan ketika twist endingnya meledak di part-part menjelang akhir, namun tetap saja penasaran. Bagaimana bisa? Siapa ayah kandungnya?
  • Kenapa ceritanya terkesan terburu-buru? Padahal bisa aja konfliknya ditambah sedikit lagi dan menjadikan buku ini lebih tebal/’berisi’.

10. Benefits

Masih berhubungan dengan nomer 7, sebenernya ada banyak catatan-catatan medis yang terselip dalam novel Delusi, tapi gue cuma mengutip satu di antaranya. Sebenernya berhubung gue juga seneng nulis thriller psikologis (tentang orang-orang sakit jiwa), maka gue merasa buku ini adalah referensi yang pas, lengkap dengan istilah dan penjelasan medis di dalamnya. Beda sih ya, kalo penulisnya memang dokter beneran #mainanpasir 😐

Secara keseluruhan memang novel ini menambah wawasan gue dengan istilah-istilah medisnya. Tapi yang paling penting lagi, Delusi sudah menggenapkan rasa keingintahuan gue akan kelanjutan Deviasi.

3/5 bintang untuk Delusi dan Mira W.

Selanjutnya, mari berburu novel Mira W. yang lain: Pintu Mulai Terbuka, atas rekomen Mbak @asdewi 😀 Oke, sepertinya gue sekarang lagi kecanduan baca thriller era jadul. Karena yang bikin geli dari buku jaman dulu itu adalah rayuan-rayuan gombal di dalam dialognya kadang bikin ngakak *ditujes yang nulis*

Advertisements

One thought on “REVIEW: Delusi – Mira W.

  1. Pingback: Book Kaleidoscope 2013 – Top Five Most Favorite Books | Petronela Putri (books)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s