Beli Ebook atau Paperbook?

Dulu rasanya pernah bahas ini juga, cuma nggak terlalu rinci. Intinya di postingan yang dulu, gue menyebutkan bahwa gue lebih suka paperbook (buku versi cetak) daripada ebook (buku versi digital) karena gue menyukai bau buku fisiknya, dan buku fisik memang lebih nyaman dibaca –walau sebagian orang bilang, ebook juga nyaman dibaca dengan kindle.

Tempo hari sempat mampir ke Book Fair di Istora Senayan, Jakarta bersama seorang teman. Ceritanya kami mengelilingi stand-stand buku, kemudian menemukan beberapa stand yang promosi jual ebook. Gue nggak inget jelas namanya satu-persatu, yang gue inget adalah seorang petugas yang jaga stand itu mempromosikan aplikasi dan ebook mereka dengan kalimat, “iya, Mbak. Jadi, kalau ebook itu selain harganya lebih murah, penyimpanannya juga lebih mudah. Nggak boros tempat kayak buku cetak biasa.”

Lalu gue jawab dengan santai sambil menunjukkan kantong belanjaan, “ini abis belanja, Mbak.” Kamu semua tertawa, tapi mungkin ada sedikit rasa jengkel karena gue langsung nyerang gitu kali, ya? Hahaha.

Ebook harganya lebih murah.

Setelah berlalu dari stand itu, temen gue menyambung, “menurutku ebook juga ndak murah-murah amat, tuh. Misalnya, masih ada ebook yang harganya 70% harga buku versi cetaknya. Lebih untung kalau kita beli second, kan? Setidaknya, selain harganya yang memang udah murah, kita kadang dapat buku-buku cetakan lama yang udah nggak dijual lagi di toko buku maupun online shop.”

Gue mikir sejenak, dan sepertinya ada benernya. Kemudian gue menambahkan, “iya, sih. Buku second memang selalu ada sejarahnya. Misalnya, kadang kita menjumpai susunan kalimat-kalimat manis yang dituliskan di dalam buku atau sekedar tandatangan pemilik lamanya beserta tanggal pembelian.”

Buat gue itu semua menarik. Temen gue menimpali sambil terkikik, “sukur-sukur nanti ketemu surat cinta orang di dalam buku second, ya?”

Kami berdua kembali tertawa.

Yaya, buat gue buku berbentuk fisik memang lebih menyenangkan. Mungkin harganya memang agak lebih mahal daripada buku digital, tapi suatu hari ketika buku itu menguning dimakan waktu, kenangan di dalamnya tidak akan pernah ikut memudar.

Seperti kemarin ketika membeli kumpulan cerita Alamak! nya Fira Basuki di salah satu online shop yang khusus menjual buku-buku eks rental, gue sempat menemukan sebuah pesan cinta –entah di halaman berapa, tapi gue yakin gue membacanya sekilas ketika sedang membolak-balik buku untuk memeriksa bahwa tidak ada halaman yang lepas.

Selanjutnya, beberapa orang meramalkan bahwa kedepannya mungkin ebook akan menggantikan posisi buku fisik. Mungkin saja menggantikan minat pembaca pada buku fisik, tapi jelas tidak mampu menyingkirkan keberadaan buku fisik.

Kini, besok, nanti,

Gue percaya akan selalu ada orang yang sepemikiran seperti gue..

Bahwa buku fisik itu tiada duanya.

Bahkan ketika nanti gue udah punya gadget yang memadai untuk membaca buku digitalpun, gue sama sekali ndak punya rencana untuk meninggalkan buku fisik.

Aroma bukunya, tua umurnya, dan tulisan-tulisan iseng di dalamnya, kadang-kadang bikin geli sendiri –atau malah bikin rindu #halagh

Jadi, menurut kalian, ebook atau  paperbook?

🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s