REVIEW: The Fault in Our Stars – John Green

Judul: The Fault in Our Stars (Salahkan Bintang-bintang)

Penulis: John Green

Penerbit: Qanita (Mizan)

Tahun Terbit: 2013 (Cetakan Kedua)

Harga: Rp. 49.000

Jumlah halaman: 423 hal.

ISBN: 978-602-9225-58-7

Status: Baca bareng Reight Book Club, Oktober 2013

*

Blurb:

Mengidap kanker dpada umur 16 tahun pastilah terasa sebagai nasib sial, seolah bintang-bintang serta takdirlah yang patut disalahkan. Itulah yang dialami oleh Hazel Grace. Sudah begitu, ibunya terus memaksanya bergabung dengan kelompok penyemangat penderita kanker. Padahal, Hazel malas sekali.

Tapi, kelompok itu toh tak buruk-buruk amat. Di sana ada pasien bernama Augustus Waters. Cowok cakep, pintar, yang naksir Hazel dan menawarinya pergi ke Ammsterda untuk bertemu penulis pujaannya. Bersama Augustus, Hazel mendapatkan pengalaman yang sangat menarik dan tak terlupakan .

Tetap saja, rasa nyeri selalu menuntut untuk dirasakan, seperti halnya kepedihan. Bisakah Augustus dan Hal tetap optimis menghadapi penyakit mereka, meskipun waktu yang mereka miliki semakin sedikit setiap harinya?

Novel ini membawa kita ke dunia para karakternya, yang sanggup menghadapi kesulitan dengan humor-humor dan kecerdasan. Di balik semua itu, terdapat renungan mengenai berharganya hidup dan bagaimana kita harus melewatinya.

*

Review:

Jadi setelah resmi diajak bergabung dengan Reight, inilah buku pertama yang gue baca. Jujur sejujur-jujurnya, gue kurang suka terjemahan. Apapun itu, tidak hanya cerita YA seperti ini. Kurang suka, tapi bukan berarti anti dan ogah membaca. Makanya sekarang gue membacanya dan menyelesaikan 400an halaman buku ini dalam waktu dua hari. Meski gue akui otak gue cukup payah untuk buku filosofis terjemahan seperti ini 😐

Dengan titel #1 New York Times Bestseller di sampul depan dan Best Young Adult Fiction Goodreads Choice Awards 2012, gue sebagai pembaca yang kurang suka terjemahan tetap saja memiliki harapan tinggi akan novel ini. Gue bahkan berharap novel ini bisa jadi kunci pengubah prinsip gue, bahwa novel terjemahan tak selamanya melelahkan.

Pernah gue membaca review seseorang di blog, beberapa hari sebelum gue mulai membaca buku ini sendiri. Kata-katanya gue kurang inget, tapi maknanya kira-kira begini, “novel ini sepertinya dirancang untuk menjadi cerita sedih, tapi gue merasa datar dan nggak sedih sama sekali.” Dan setelah membacanya hingga selesai, itulah yang gue rasakan. Gue malah nangis karena inget boneka hitam gembul kesayangan gue yang ‘hilang’, bukan karena Augustus Waters-nya meninggal.

Tapi, bukan berarti gue bilang novel ini ndak bagus. Gue ndak bilang gitu, kok.

 

Berikut ulasannya:

1. First impression

Gue kebetulan baca cetakan keduanya, dengan cover yang unyu-unyu. Ada seorang anak perempuan tengah melihat bintang, latarnya biru muda yang menawan. Dari covernya, sih, ya… gue awalnya mengira ini murni remaja (bego deh, Mput. Kan ada di belakangnya tulisan Young Adult, hahaha) –apalagi dengan cover imutnya yang membuai. Tapi ternyata ada adegan plusplusnya walau sedikit (karena gue yakin udah disensor. Mizan, bok, yang nerjemahin. Yakali nggak disensor) 😐

2. How did you experience the book?

Tidak ada masalah dalam membaca buku ini. Dengan kedua titel yang disandangnya (yang tadi gue sebut di atas), gue yakin buku ini tidak akan membingungkan saat dibaca (mayoritas buku yang menyandang titel pilihan pembaca bukannya seperti itu, ya?). Kecuali sih beberapa bagian filosofisnya yang –sekali lagi, otak gue terlalu nggak sampe untuk menangkapnya dalam sekali baca, dan gue memutuskan membaca beberapa bagian lebih dari satu kali. Tapi bener, itu ndak masalah. Malah membantu gue biar lebih paham aja 😀

3. Characters

Ada dua karakter utama di sini. Hazel Grace dan Augustus Walters. Walau mereka tokoh utamanya, tapi izinkan gue jujur, cerita ini tidak akan benar-benar hidup tanpa Isaac! Isaac itu di beberapa bagian mampu bikin suasana menjadi konyol dan gue selalu suka bagian ketika Hazel dan Gus tengah bersama Isaac.

Hazel selalu merasa ingin menjadi anak rumahan, karena penyakit yang dideritanya. Ia merasa muak dengan pertemuan penyemangat penderita kanker –terlebih tentang Patrick. Kalau masalah Patrick sih, jangankan Hazel yang menjalani, gue yang baca aja muak liat cerita dia yang itu-itu aja :p

Lalu muncul seorang teman Isaac bernama Augustus Waters, atau yang biasa disapa Gus. Ia banyak membawa perubahan dan hidup Hazel dan menjadikan cewek ini lebih semangat. Denger-denger cewek-cewek BBI banyak yang seneng sama tokoh ini, katanya best fiction boyfriend atau apalah itu –gue baca di Goodreads. Gue setuju. Gus memang cowok yang baik, kuat, dan smart. Minus soal sakitnya. Sakit bukan kekurangan. Karena cowok yang punya fisik sempurnapun, tidak semuanya baik. Jadi buat gue, Augustus Waters cukup sempurna di tengah kanker yang menyerangnya. John Green ternyata telah berhasil menciptakan karakter cowok yang dikenang para pembaca 🙂

Tentang perubahan, tentu saja ada perubahan dalam diri Hazel pada akhirnya. Seperti yang gue bilang.. Gus telah membawa banyak perubahan dan pengalaman dalam hidup Hazel yang awalnya monoton. Di beberapa bab setelah kemunculan Gus, Hazel berevolusi menjadi cewek yang lebih ceria dan kuat –setidaknya menurut gue. Buktinya dia sanggup menempuh perjalanan tengah malam atau dinihari sendirian dengan mobilnya, demi Gus. Padahal dulunya, dia cuma anak rumahan yang meringkuk di tempat tidur atau menonton ANTM bersama ibunya.

4. Plot

Tentang plotnya, menarik atau tidak –nggak akan gue jawab secara pasti. Karena menurut gue yaaaa biasa saja. Gue cuma butuh 2 hari menuntaskan novel ini 😀 sebagai pembaca yang kurang suka terjemahan, ini rekor terbaik gue. Setelah baca Harpot ndak selesai-selesai dan akhirnya gue hentikan! :p

Sedangkan alurnya alur maju dengan kecepatan sedang *halah* *lu kate mobil* 😐 secara keseluruhan. Secara keseluruhan loh, ya. Sedangkan di beberapa bagian gue merasa agak lamban. Misal ketika mereka berdua diundang menemui Van Houten di Amsterdam, tapi ada banyak masalah yang dimunculkan untuk menunda-nunda perjalanan itu. Gue agak jenuh di sana dan pengin segera tahu, mereka jadi nggak sih ke Belandanya?!

Iya, itu doang sih yang waktu itu gue pengin tahu.. Soalnya kalo tentang di Belanda nggak ada Indomie, gue udah tahu dari iklan TV 😐 #apasihMput

5. POV

POV 1, dari sudut pandang Hazel Grace.

6. Main Idea/Theme

Temanya adalah tentang anak-anak penderita kanker dan lika-liku kehidupan mereka. Kehidupan yang cukup getir dan penuh kekhawatiran tentang waktu yang tak pernah selamanya.

7. Quotes

Hanya ada satu hal di dunia ini yang lebih menyebalkan dari mati gara-gara kanker di usia enam belas, yaitu punya anak yang mati gara-gara kanker.  – hal. 15

Akan tiba saatnya, ketika kita semua mati. Kita semua. Akan tiba saatnya ketika tidak ada lagi umat manusia yang tersisa untuk mengingat bahwa manusia pernah ada atau spesies kita pernah melakukan sesuatu. Tidak akan ada siapapun yang tersisa untuk mengingat Aristoteles atau Cleopatra, apalagi mengingatmu. Semua yang kita lakukan, dirikan, tuliskan, pikirkan dan temukan akan terlupakan, dan semuanya ini tidak akan ada artinya. Mungkin saat itu akan segera tiba, mungkin juga masih jutaan tahun lagi, tapi seandainya pun kita bisa bertahan hidup dari kebinasaan matahari, kita tidak akan bertahan hidup untuk selama-lamanya. – Hazel to August, hal. 22-23

Hal ganjil mengenai rumah adalah, walaupun sebagian besar kehidupan kita berada di dalamnya, dari luar selalu tampak seakan tidak ada sesuatu pun yang terjadi di dalamnya. – hal. 188-189

Matahari terbit terlalu cemerlang di matanya yang hilang. Gus, yang mengutip kata-kata dari buku Kemalangan Luar Biasa. – Hal.201

Beberapa turis menganggap Amsterdam sebagai kota dosa, tapi sesungguhnya ini kota kebebasan, dan sebagian besar orang menemukan dosa di dalam kebebasan. supir taksi di Amsterdam – hal. 211

8. Ending

Masalah ending, jujur lagi nih, gue benci sekali sad ending. Ralat, bukan karena gue memang benci. Karena belakangan gue memang lagi ndak suka aja baca cerita sad ending. Bagi gue ini sad ending, karena Gus akhirnya meninggal (yang gue sangka malah Hazel lebih dulu, karena di awal Gus baik-baik saja. Tapi demi menemani Hazel ke Belanda, Gus mengorbankan perawatannya dan akhirnya penyakitnya kambuh lagi, bahkan memburuk).

Tapi kalau disuruh ceritain gimana ending versi gue, ya gue juga jadinya bingung sendiri. Karena ini temanya ‘hidup’ dan ‘umur’. Gue maunya happy ending, tapi gue juga ndak akan sanggup/rasanya kurang sreg aja bikin ending yang happy ever after untuk sepasang anak manusia yang tengah menderita kanker dan sedang menunggu waktu untuk pergi. Jadi, berhubung gue bingung, gue akan menyetujui ending dari Mr. Green –walau gue kurang suka :p Oh ya, suka deh bagian surat-suratannya!

9. Questions

  • Kenapa kanker? Ini pertanyaan sederhana, tapi gue beneran penasaran kenapa John Green memilih tema penyakit kanker. Ada banyak penyakit berat di dunia ini, bahkan beberapa penyakit yang jarang diketahui banyak orang juga menarik dan bisa diulas. Tapi kenapa kanker? (ini berhubungan dengan celetukan seorang teman yang pernah mengomentari novel-novel: kanker itu penyakit yang terlalu mainstream untuk kisah novel. Hahaha, padahal gue juga pernah mau nulis tentang kanker. Karena Papa juga meninggal karena kanker dan hanya itu satu-satunya penyakit berat yang sejauh ini gue ketahui agak detail).
  • Sama seperti pertanyaan Hazel pada Peter Van Houten tentang, “bagaimana nasib ibu Anna setelah anaknya meninggal?” di sini gue mau nanya, “bagaimana selanjutnya kisah hidup Hazel setelah membaca surat dari Gus?” Ia mencari-cari surat itu, lalu endingnya berakhir dengan tulisan berisi surat-surat, tidak ada cerita/deskripsi tentang bagaimana ekspresi Hazel atas surat itu, atau bagaimana deskripsi singkat kehidupan dia selanjutnya. Ini agak bikin penasaran 😐
  • Apa ada pengalaman pribadi dalam novel ini?
  • Kenapa memilih mengarang nama obat Phalanxifor? Apa kata-kata itu begitu menarik? :p *towel-towel Mr. Green* *yakali dibaca Mput* *yakali juga dia ngerti bahasa elu* 😐

10. Benefits

Meluaskan wawasan, iya. Itu pasti. Salah satu manfaat yang mungkin udah dituliskan ribuan pembaca buku ini akan gue tulis ulang dan gue akui dari diri sendiri: gue jadi tahu banyak tentang kehidupan anak-anak penderita kanker. Dan betapa beruntungnya manusia-manusia yang masih jauh lebih sehat dari mereka (walau sebenarnya tidak ada manusia yang sehat seratus persen).

Pada akhirnya… 4/5 bintang untuk The Fault in Our Stars. Tadinya karena buku ini gagal bikin gue nangis atau minimal sedih (gue merasa datar ketika membacanya), gue mau ngasih 3 aja. Tapi berhubung gue menemukan Gus sebagai tokoh yang hebat  dan kuat, gue memberi satu bintang tambahan untuknya! 🙂

Fan art: http://static.hypable.com/wp-content/uploads/2013/04/fault-in-our-stars-fan-art.jpg

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW: The Fault in Our Stars – John Green

  1. Wah….detil banget 😀 Kalo saya baca dari awal sudah banyak meweknya. Sebab udah membayangkan situasinya Hazel dan gimana di usia semuda itu dia harus hidup dengan penyakit yg terminal, plus pengobatan dan serangan2 yg datang saat terjadi pasti sakitnya luar biasa. Tapi juga merasa betapa beruntungnya mereka di AS, mereka bener2 memiliki support group yang luar biasa, trus ada yayasan yg bahkan mengabulkan keinginan2 mereka pulak. Boro-boro ‘seenak’ itu di Indonesia sini, hehe..

    Eniwei, thanks sudah berbagi review ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s