REVIEW: Aku Tahu Kamu Hantu – Eve Shi

Judul: Aku Tahu Kamu Hantu

Penulis: Eve Shi

Penerbit: Gagasmedia

Tahun Terbit: 2013 (Cetakan Pertama)

Harga: Rp. 39.000

Jumlah halaman: 269 hal.

ISBN (13): 978-979-780-652-1

ISBN (10): 979-780-652-9

Status: Baca bareng Reight Book Club, November 2013

*

Blurb:

Aku di sini.

Kamu bisa melihatku,

tetapi kamu tidak bisa mendengarku.

Aku tahu kamu bingung,

tetapi yakinlah…

aku tidak pernah bermaksud jahat.

Aku hanya ingin meminta tolong,

karena kamulah satu-satunya orang

yang bisa memecahkan teka-teki ini.

Jika kamu melihatku lagi,

tolong jangan berpaling.

Semoga kamu mengerti isyaratku.

*

Review:

Nah, sebenernya dari awal gagasmedia-bukune mulai nerbitin horror, gue memang sekilas pernah melihat buku ini. Cuma waktu itu gue kurang yakin aja. Gagasmedia-Bukune mendadak nerbitin horror, ada apa? :p Jadi gue nggak terlalu ngeh dengan buku-buku horror itu selanjutnya.

Sampai akhirnya gagasmedia (atau bukune sih?) ngadain acara Spooky Night Out di tempat-tempat bersejarah. Syaratnya harus punya struk pembelian buku horror mereka, gue mulai ubek-ubek google, nyari-nyari buku mana yang harus gue beli. Gue baca review orang-orang di blog mereka, sampai akhirnya gue berniat beli buku ini aja. Tapi mujurnya, sebelum beli, ditawarin orang Reight untuk ikutan baca mulai bulan Oktober dan dapat bocoran –bahwa bacaan Novembernya adalah Aku Tahu Kamu Hantu :p *kebetulan yang sangat kebetulan*

Berhubung di blurbnya nggak kelihatan apa isi cerita (iya, honestly, gue lebih suka style gagas yang lama, yang di belakang buku ada sedikit cuplikan ceritanya. Mungkin seperti novel Sweet Revenge? Daripada nggak ditampilkan sama sekali, dan selalu bikin bingung –atau harus buka Goodreads dulu ketika akan belanja di toko buku), jadi akan gue ceritakan sedikit di sini. Bukan spoiler keseluruhan. Sedikit saja sebagai gambaran.

Aku Tahu Kamu Hantu bercerita tentang seorang anak remaja yang baru menginjak usia 17 tahun, bernama Olivia Shafara Dewi. Atau yang biasa dipanggil Liv oleh teman-temannya, dan dipanggi Olive oleh Mamanya. Liv mulai banyak merasakan keanehan semenjak hari ulang tahunnya yang ke 17, banyak makhluk yang seharusnya tidak kelihatan, tapi berkelabat di antara pandangan matanya.

Di antara kebingungan dan ketakutannya, Mama menelpon, menyuruh Liv datang ke rumahnya (karena orangtuanya cerai semenjak ia masih kecil) dan menjanjikan sesuatu. Awalnya Liv malas, tapi ia berharap ada kado dari Mama. Liv kemudian datang, dan melihat sendiri apa kado ulang tahun ke 17 yang diberikan Mama. Kado yang ternyata mengubah hidupnya di kemudian hari. Kado yang menuntunnya untuk menyelamatkan Frans –hantu anak kelas sebelah yang terkurung di sekolah.

Berikut rinciannya:

1. First impression

Saat pertama kali memegang buku ini, yang gue pikirkan adalah, wah, covernya menawan. Walau ini novel horror, tapi sama sekali nggak kelihatan (sok) serem (kayak novel-novel lain yang lebih banyak menampilkan wajah setan atau setting serba kelam di cover). Kalau boleh ditambahkan, I love this cover :3 Satu-satunya yang mencerminkan bahwa ini novel horror hanya judulnya dan font yang digunakan untuk mengetik judul tersebut.

2. How did you experience the book?

Nggak perlu waktu lama untuk memahami plot dan karakternya. Sebenernya penulisnya sudah menyusun plot dengan baik (menurut gue, ya), hingga pembaca tinggal mengikuti alur demi alur ceritanya ke depan. Karakternya sendiri, gue bisa dengan cepat mengenal Liv dan sifat-sifatnya, juga kesehariannya. Suka cewek yang sepeti Liv dan Kenita –teman sebangkunya, mampu menjadi cewek biasa di tengah teman-temannya yang hebring.

3. Characters

Ada 3 tokoh utama dalam cerita ini:

–          Olivia: remaja yang baru saja berulang tahun ke-17, dan ternyata mendapatkan kemampuan turun temurun dari keluarga ibunya untuk mampu melihat makhluk tak kasatmata. Kemampuan yang mengubah hari-harinya dan membawanya pada petualangan baru.

–          Frans: Hantu anak kelas sebelah yang kerap mendatangi Liv dan meminta pertolongannya. Gue nggak yakin, tokoh utama selain Liv itu Frans atau Daniel. Tapi kalo gue pikir sih, Daniel sendiri juga jarang muncul dan tidak terlalu berpengaruh dalam hidup Liv.

–          Daniel: sahabat Liv semenjak kelas satu. Sahabat yang katanya udah lengket banget sampe sering pulang berdua karena rumahnya searah. Tapi gue nggak suka tokoh Daniel, waktu Liv terjebak masalah dengan penglihatannya, Daniel yang notabene sahabat paling dekatnya (helloooo, sahabat paling dekat!) malah nggak percaya dengan apa yang dikatakan Liv. Sedangkan menjelang akhir, Liv bercerita pada Kenita dan Ken mampu menerima cerita Liv. Bahkan temen sebangku yang nggak gitu deket menjadi deket karena lebih mampu menerima cerita tidak masuk akal Liv. Daniel, ke mana aja, Nak? 😐 Dan gue lebih gak suka karena Daniel ini merasa Liv sahabatnya, tapi ia tidak mau jujur dari awal tentang… ah, baca sendiri di ending, ya :p *sengaja banget*

Kalo tokoh-tokoh pendukung lain, ada temen-temen sekelas Liv: Tito, Gilang, Ines, Marsha. Lalu tiga idola sekolah: Arwin, Stefan, Bayu. Lalu ada Wulan –sepupu Kenita dan teman sekelasnya Saras –si anak cupu. Di bagian kehidupan Liv ada Ayah, Mama, Om Faisal (suami baru Mama).

Ya, tokohnya mendapatkan sesuatu di ending cerita. Bahkan mendapatkan banyak hal. Liv berhasil mengungkap misteri di sekolahnya dan menyadari bahwa orang-orang yang kelihatannya baik dan menawan di depan,  belum tentu juga baik di belakang.

4. Plot

Seperti yang sudah gue bilang di atas, bagi gue sendiri, penulis sudah menyusun plot ceritanya dengan baik. Sedangkan alurnya alur maju, tidak terlalu cepat atau lambat. Sesuai dengan isi ceritanya 🙂

Butuh 5 jam dari magrib sampe setengah sebelas malam (malam Jumat, btw) :p untuk membaca buku ini.

5. POV

POV orang ketiga.

6. Main Idea/Theme

Tema novel ini adalah tentang kemampuan untuk melihat makhluk-makhluk astral, tapi dikombinasikan dengan cerita teenlit ala remaja, membawa kita pada kehidupan anak-anak SMA yang hingar bingar, tapi menyimpan misteri di sudut-sudut sekolah mereka.

7. Quotes

Sejujurnya, gue nggak menemukan penggalan kalimat dengan arti yang dalam di novel ini. Tapi ada beberapa yang lucu, ini dia..

“Anjrit, lo masih ngumpulin Naruto? Sampai kiamat, itu serial pasti belum beres.” Daniel to Liv, hal. 6 (alasan gue mengutip bagian ini adalah, karena gue merasa ini benar sekali. Apalagi komik yang sekiranya ndak akan selesai-selesai sampe kiamat menjelang? Conan? :D)

Konon, bahkan ada fansclub Terrific Trio. Liv ingin tahu, apakah fansclub ini mencetak badge atau kipas kecil bergambar wajah ketiga cowok itu. – hal.29 (Soooo Meteor Garden! Jadi inget jaman dulu ada banyak souvenir bergambar wajah anak-anak F4. Bahkan di rumah masih ada kipas bergambar wajah mereka. Kenapa gue masukkan ini di quotes? Karena gue dejavu. Sekian.)

8. Ending

Endingnya cukup memuaskan dengan adegan kejar-kejaran thriller yang selama ini selalu jadi favorit gue. Cuma agak ngeri aja sama Stefan yang terlalu bernapsu dan berubah menjadi monster untuk mengejar Liv –sementara di sisi lain Arwin sama Bayu lebih kalem dan nggak mau ambil resiko. Mengamuknya Stefan (yang paling licik di antara mereka semua) ternyata juga membuat arwah Frans mengamuk, lalu mencelakai mereka bertiga untuk menolong Liv.

Kalau ending yang mengenai Daniel sih, gue no comment. Daniel dari awalnya sembunyi-sembunyi tentang rahasianya. Tapi begitu semuanya susah payah diungkap Liv, eh dia mendadak datang lagi dan ceritanya ke Liv. Buat gue, cowok ini nggak banget.

9. Questions

  • Apakah ada bagian-bagian dari novel ini yang merupakan kisah nyata? Kalau ada, bagian mana saja?
  • Penasaran tentang Liv, apa ia akhirnya jadian sama Gilang? Tolong jangan bilang dia jadian sama Daniel. #TimGilang (pertanyaan super iseng) :p
  • Apakah penulis juga mampu melihat makhluk halus seperti Liv? Yaa, karena biasanya seorang penulis akan menuliskan hal yang tidak jauh berbeda dari diri dan kehidupannya sehari-hari.
  • Apakah penulis mengalami kejadian-kejadian aneh pada saat menulis novel horor ini? (karena katanya beberapa pembaca juga mengalami sewaktu membacanya, walau gue sendiri nggak mengalami apa-apa).

10. Benefits

Hal baru yang gue dapatkan dari novel ini adalah sekarang gue tahu gimana rasanya bisa ngeliat makhluk-makhluk astral seliweran. Tapi untuk lebih tahu, kayaknya harus liat langsung. Tapi lihat dari jauh aja kayaknya merinding, ya. Apalagi kalau seperti Liv, yang melihat Frans dari jarak dekat. 😐

Dan banyak pelajaran lainnya. Walau novel ini genrenya horor, tapi tetap ada pelajaran yang bisa diambil. Mungkin seperti tentang Terrific Trio tadi. Mereka yang kelihatan baik di depan belum tentu baik di belakang. Atau pelajaran yang kita ambil dari Ayah Liv, mengabaikan orang lain (terutama keluarga sendiri), hanya akan membuat mereka semua pergi :p

Atau dari Daniel dan Liv, menurut gue sahabat yang sebenarnya sahabat akan terus ada ketika seluruh dunia menjauh. Tapi ketika seluruh dunia Liv menjauh, Daniel malah ikut menjauh. Pelajarannya? Tidak semua orang yang kamu anggap sahabat, benar-benar akan menjadi sahabat terbaikmu. Tidak. *sodorin Kenita dan Gilang*

11. Lain-lain

Hal berikutnya gue masukkan dalam kategori lain-lain. Berisi hal-hal yang tidak gue tuliskan di atas. Sebenernya ada sedikit bagian yang agak janggal menurut gue, but so far rasanya ndak ada masalah. Karena segala hal mungkin saja terjadi dalam hidup manusia, kan?

Ini tentang nenek Liv yang pergi dari rumah meninggalkan keluarga besarnya. Dikatakan bahwa ia membantu temannya yang mendapat musibah karena dikerjai mantan istri suaminya, tapi setelah mencoba menenangkan makhluk kiriman orang-orang itu, nenek Liv malah diancam dan dikerjai. Anak-anaknya nyaris tertabrak dan tenggelam ketika berenang. Itulah yang membuatnya memutuskan pergi dari rumah tanpa memberitahu satu orangpun. Pertanyaan gue, bagaimana mungkin seorang istri menanggung masalah sampai harus pergi dari rumah tapi ia tidak menceritakannya pada suaminya?

Soalnya di sana disebutkan, Papi –panggilan Mama Liv untuk ayahnya, ikut bingung mencari-cari Mami (nenek Liv) ke mana-mana. Hingga suatu hari mereka semua menyerah dan menganggap nenek sudah meninggal. Hal bohong yang kemudian berusaha mereka yakini selama bertahun-tahun.

Pertanyaan gue lagi, apakah masalah teman nenek Liv itu tidak selesai selama puluhan tahun? Hingga nenek tidak bisa pulang lagi selamanya ke tengah-tengah keluarganya? Hingga ia harus meninggalkan anak-anaknya yang masih kecil? Bahkan katanya Tante Gita menangis terus dan nggak mau sekolah karena Maminya nggak pulang-pulang. Kalo gue jadi Maminya sih, gue nggak akan setega itu sama anak sendiri.

Menurut gue ini kurang masuk akal. Apapun kepentingannya, keluarga bukannya akan selalu jadi nomer satu? Tapi, ya, bisa saja hal semacam ini terjadi di kehidupan nyata. Karena seperti yang gue ketik di awal tadi, tidak ada yang mustahil dalam hidup, sih.

Cuma berpendapat 😀

Oh, dan ternyata penulis juga menggunakan kata ‘lasak’ di halaman 27 paling atas. Di rumah juga sering ada kata itu, menggambarkan anak-anak kecil yang nggak bisa tenang dan rusuh :p

Lalu agak sedikit bingung di halaman 15, awal mula Hari Kedua.

Nasib, desah Liv. Orangtua yang satu cuma mau bicara dan malas didengar, orangtua satu lagi salah duga tentang kehidupan sosial anaknya.

Mungkin maksudnya cuma mau bicara dan malas mendengar, kali, ya? Soalnya kalo orang mau bicara itu pasti sepaket dengan mau didengar. Beda artinya dengan malas mendengarkan anaknya (atau orang lain). Sedikit typo mungkin, atau gue yang bener-bener ndak paham kalimat itu 😀

*

Selanjutnya, 4/5 bintang untuk Aku Tahu Kamu Hantu dan Eve Shi. Gue suka bagian Liv membaca buku harian Mamanya dan bagian surat nenek untuk Mama Liv. Dan, ah –sekali lagi, gue suka deh covernya! 😀

Ditunggu karya selanjutnya 🙂

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW: Aku Tahu Kamu Hantu – Eve Shi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s