REVIEW: 140 Karakter – Fira Basuki

14020karakter

Sumber: Fira Basuki

Judul: 140 Karakter (Kumpulan Tweets @FiraBasuki dan Cerita Lain)
Penulis: Fira Basuki
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: 2012 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp. 49.000
Jumlah halaman: 234 hal.
ISBN: 978-979-081-767-8

*

Blurb:

Pada Mulanya adalah Tweets…

Banyak “kicauan” saya hilang begitu saja ditelan oleh linimasa Twitter. Terima kasih kepada para follower yang telah membujuk saya untuk segera menyatukan kicauan itu menjadi sebuah buku; menjadi sebuah karya utuh yang penuh makna dan semoga bermanfaat.

Menyampaikan isi hati dan pikiran melalui media Twitter memang harus pandai-pandai menata kata. Batasan 140 karakter yang diberikan Twitter kadang tidaklah cukup. Jadi, untuk bebas ‘berkicau’ tidak jarang saya menuliskannya secara bersambung menjadi beberapa bagian. Maka, ketika potongan-potongan ‘kicauan’ itu saya satukan lagi, saya utuhkan kembali kata-kata yang tadinya terpaksa termutilasi demi menggenapi batasan karakter, jadilah bahan baku untuk buku ini –menemani sejumlah cerpen dan tulisan-tulisan lepas yang pernah saya buat. Dan, sebagai pengikat makna jadilah buku ini saya beri judul 140 Karakter.

*

Review:

Gue memang koleksi buku-buku Fira Basuki, tapi awalnya kurang tertarik sama buku ini, karena ada titel ‘kumpulan tweets’. Entah kenapa, buat gue tweets yang dibukukan itu gengges banget dibacanya. Di dunia maya ada chripstory (bener gak sih tulisannya, gak tahu) dan blog, di sana bisa menyatukan kumpualn tweets. Karena buat gue, tweets itu ndak terlalu perlu untuk disatukan di buku dalam bentuk cetak. Kecuali sih kata-kata dalam tweetsnya dikembangkan menjadi satu tulisan agak panjang. IMO, sih.

Kemudian melihat buku ini waktu meeting bookclub di Senayan City, di antara tumpukan buku-buku di meja, di mana waktu itu @_raraa yang kemudian berbaik hati minjemin gue dengan syarat, “jangan dilelang di bookshop lo, ye?” :p Gue jadi penasaran baca karena setelah buka isinya, ternyata gak cuma kumpulan tweets, juga ada cerpen-cerpen dan beberapa tulisan lepas Mbak Fira. Yakali, sih, baca kumpulan tweets sampe 200an halaman, bisa butek mata 😐

Kalo soal penulisan, gue rasa orang sekelas Mbak Fira Basuki yang berhasil bikin gue ngefans setengah mati ini *halah* nggak perlu diragukan, ya 😀 Cuma yang mau gue komen adalah, kalo boleh jujur, gue lebih suka cerpen dan cerita-cerita lepasnya ketimbang kumpulan tweetsnya. Walaupun notabene buku ini berjudul 140 Karakter yang mengisyaratkan bahwa isinya adalah kumpulan tweets.

Seperti biasa, dalam tulisan Fira Basuki memang selalu ada ‘isi’, tak peduli banyak atau sedikit. Seperti yang gue baca di halaman 61 ini..

Sudah, paling benar itu nama wayang, pikir Rani. Bagaimana kalau dari kisah Mahabharata atau Bharatayuda? Sudah pasti jangan nama-nama Kurawa. Apalagi Dursasana yang berwajah seram dan berniat memperkosa Drupadi. Jangan pula Drupadi kalau perempuan, karena menurut versi India Drupadi itu istri kelima Pandawa, jadi dia itu poliandri. Kalau versi Jawa memang istri Yudhistira, tapi konon diam-diam mencintai Arjuna. Lupakan.

Dalam cerpen berjudul Nama itu, Fira Basuki menyelipkan sedikit cerita wayang di dalamnya, ketika mendeskripsikan betapa bingungnya tokoh utama mencari nama untuk calon bayinya yang akan lahir. Memang ini nggak terlalu kelihatan jelas sih, tapi buat pembaca kepo seperti gue, cerita seperti ini menyenangkan. Karena dengan diselipkannya cerita wayang kayak gini, gue yang dari awalnya nggak tahu menjadi tahu. Gue juga baru tahu Drupadi itu istri kelima Pandawa *kudet* 😐 Gue memang tahu selama ini dia tokoh wayang, tapi selain tokoh wayang, gue cuma tahu Drupadi itu tokoh dalam Once Upon a Love-nya Kak @adit_adit 😐 *melenceng jauh sekali*

Skip.

Atau seperti tulisan tentang penulis di halaman 187 ini..

Penulis Indonesia bisa hidup dari buku-bukunya, tidak perlu bekerja kantoran. Fokus menulis sebagai profesinya! Yes, we can!

Please pemerintah pajak penulis 15% itu tinggi. Royalti penulis pemula aja rata-rata cuma 10% dari penjualan bukunya.

Jangan patahkan semangat anak-anak kita ketika bercita-cita menjadi penulis. Yakinlah mereka bisa hidup. Masa depan harus bisa!

Asli, gue suka banget bagian ini 😐 ‘jangan patahkan semangat anak-anak kita ketika bercita-cita menjadi penulis’. Satu kalimat itu selalu menarik buat gue, karena memang nyatanya ada beberapa orangtua yang kurang sreg anaknya hobi menulis dan ingin menjadi penulis. Mungkin bagi mereka, penulis tidak bisa kaya raya seperti kerja di Bank atau dapat jaminan dana pensiun seperti PNS. Tapi sekali lagi, seperti kata Mbak Ika Natasha, “kalau berharap kaya raya, jangan jadi penulis.” eh bener gak gitu kalimatnya? Gue lupa-lupa inget, sih. Tapi itu inti yang gue tangkep dari tweetsnya. Intinya, menulis tidak menjanjikan kamu akan kaya raya, tapi yakinlah menulis pasti bisa menghidupimu dengan cukup 🙂 Biasanya yang udah kejadian sih, gitu *zoom in zoom out latar foto @deelestari* *perpustakaan pribadinya bikin ngiler* 😐

QUOTES! Waktunya quotes! Yang paling gue suka adalah 2 quotes ini.

1. Dilukis Jeihan (hal. 178 bagian bawah)

Saya terharu. Masih tidak habis  pikir, siapa saya, kenapa Jeihan mau melukis saya? Jeihan menatap saya dan menyemangati agar saya terus menulis, karena itulah dia mengenal saya. “Jangan takut menjadi besar, takutlah untuk tidak menjadi apa-apa.” tambahnya lagi.

2. Lonely Planet (hal. 220 bagian atas)

Kesepian. Betapa bumi yang penuh sesak manusia ini bisa saja menyisakan celah untuk ruang hampa: sepi. Ketika menulis ini saja, saya sedang berada di dalam pesawat terbang dari New York, dari liputan beberapa hari. Para penumpang tertidur, terdengar hela napas mereka sahut-menyahut. Saya, bangun sendiri, merasa sepi. << Been there!

Tapi diantara banyak tweets yang gue skip bacanya, memang ada juga beberapa tweets lucu yang nggak sengaja kebaca. Seperti ketika Mbak Fira bercerita soal Syaza –anak sulungnya. Seperti  di bab “Syaza dan Saya” di halaman 65-69. Penutupnya bikin gue merinding.

Pujaan hati, Syaza, sini mami peluk diantara api, angin, air, tanah, rembulan sepi. Janji. Sampai kapan pun bahagiamu yang mami cari.

Ah, emak-emak 🙂 Selalu begitu 🙂

Next! Diantara semua cerpennya, yang paling gue suka adalah Cinta Cahaya di halaman 88, yang ternyata ditulis Mbak Fira untuk kampanye L’Oreal tahun 2010. Awalnya kurang greget sama cerita ini, tapi bagian pertengahan sampai ending, nothing to say. Nyes! 😐

Sebagai penutup, kesimpulannya masih sama seperti di awal pembuka review ini. Gue selalu suka novel, cerpen dan tulisan lepas Mbak Fira, kecuali yang satu ini: kumpulan tweets dibukukan. Gue bukan tipe orang yang suka baca buku kumpulan tweets. Bahkan lebih nyaman membacanya di dunia maya saja. Dari sana tweets-tweets itu berasal, biarlah ia tetap ada di sana.

3/5 bintang untuk Fira Basuki dan 140 Karakter.

Advertisements

One thought on “REVIEW: 140 Karakter – Fira Basuki

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s