REVIEW: Blue Romance – Sheva

20131012_170610

Judul: Blue Romance (Omnibook series)

Penulis: Sheva Thalia

Penerbit: Plotpoint

Tahun Terbit: September 2012 (Cetakan Pertama)

Harga: Rp. 38.000

Jumlah halaman: 215 hal.

ISBN: 978-602-9481-16-7

*

Blurb:

Selamat datang di Blue Romance, sebuah coffee shop yang buka setiap hari, dan mungkin kau lewati hari ini.

Blue Romance menyediakan kopi ternikmat dan sahabat saat kau dituntut untuk terus terjaga. Blue Romance juga punya banyak cerita. Ada kisah jatuh cinta dan patah hati, perpisahan dan pertemuan kembali. Kisah-kisah ini berbalut kafein dan aroma kopi, berderai tawa dan tangis, di sela desis coffee maker.

Seperti Latte, Affogato, Americano, dan Espresso, setiap kisah punya kopinya sendiri.

Kisah mana yang cocok dengan kopimu?

*

Review:

Untuk postbar bulan ini gue memilih tema buku-buku penulis baru. Karena suatu kebetulan, jatuhlah pilihan pada Blue Romance. Kebetulan buku ini yang gue dapet ketika menyortir buku-buku di shop pribadi gue. Terus gue memutuskan membelinya untuk konsumsi sendiri, mengingat tema bulan ini, karena sebenarnya sejak lama juga udah niat baca buku ini.

Blue romance bisa dibilang memiliki konsep mirip dengan The Coffee Shop Chronicles yang sempat diterbitkan ByPass.

Di mana ada satu lokasi yang kemudian menjadi lokasi inti cerita dan ada banyak kisah di dalamnya. Bedanya, di TCSC (begitu biasa  para penulis buku ini menyingkatnya), kisah dari bab satu ke bab kedua akan ada benang merahnya. Misalnya tokoh utama di bab dua akan bercerita sedikit tentang tokoh utama di bab awal, atau mungkin tokoh utama bab lain. Dan juga ada lebih banyak cerita karena penyajiannya dalam bentuk FF (flash fiction, cerita lebih pendek daripada cerpen). Sedangkan Blue Romance hanya memuat 7 cerita, yang bisa dibilang bentuknya berupa cerpen. Dan tidak berhubungan satu sama lain. Yang sama hanya lokasinya.

Pertama kali megang buku ini, yan terlintas di benak gue adalah, coffeeshop aka kedai kopi. Gue selalu suka tema satu itu, entah kenapa. Selalu ada hal unik dan menarik dari sebuah kedai kopi, menurut gue. Mungkin karena itu juga beberapa penulis suka menuliskan kedai kopi sebagai latar tulisan mereka. Ada 7 kisah pendek dalam Blue Romance. Tadinya gue kira kisah terakhir akan kembali berhubungan dengan kisah awal, ternyata nggak.

1. Rainy Saturday

Menceritakan tentang seorang cewek yang enggan pada kejutan sejak orangtuanya meninggal karena kecelakaan. Ia duduk di blue romance lalu mendapat kejutan kecil yang diam-diam disukainya. Seorang cowok datang dan tidak kebagian tempat duduk, lalu minta ijin duduk satu meja dengannya. Awalnya gue menangkap bahwa cewek ini tidak suka orang asing. Tapi kemudian, ia memang nggak bisa membohongi diri sendiri.

2. 1997-2002

Cerita kedua ini endingnya agak absurd menurut gue. Tentang seorang cewek bernama Rika yang ketemu kembali dengan sahabat kecilnya dari Jerman, namanya Nico. Deskripsi awalnya agak membosankan, karena menurut gue si penulis menceritakan terlalu detil (bahkan terlalu detil sekali, sampe memuat nama bintang film India segala) dalam uraian masa kecil Rika dan Nico di masa lalu. Tapi semakin jauh gue baca ke belakang, kalo boleh jujur, gue merasa flat. Apa maksud cerita ini? Ketakutan Rika akan kembalinya Nico? Gue kira Rika naksir Nico, sampe agak grogi pas mau ketemu lagi. Ternyata di ending (yang gue tangkep lagi), Nico meminta mereka untuk terus bersama karena nggak mau lagi kehilangan dan terpisah jarak, Rika malah menolak dengan santai. Absurd, dan gue nggak dapat apa makna ceritanya.

3. Blue Moon

Bercerita tentang seorang barista di Blue Romance yang sedang kebagian tugas malam. Namanya Edi. Di sela-sela menunggu pagi, ia mendapat seorang pelanggan wanita mabuk yang kemudian mengingatkan ia pada ayahnya di kampung. Tidak terlalu ada hal menarik dalam bab ini, tapi seenggaknya, ceritanya jelas dan nggak absurd lagi 😐 Judul babnya sendiri diambil dari judul lagu yang sedang diputar di Blue Romance ketika peristiwa itu terjadi.

4. A Farewell to A Dream

Tokoh utamanya cowok, namanya Bimarendra. Dia naksir sejak lama pada sahabatnya yang bernama Anjani, tapi nggak mau mengungkapkan karena takut mengganggu hubungan Anjani dengan Bram, sahabat mereka berdua. Mereka sama-sama kenal Anjani waktu SMA, tapi Bram bergerak lebih cepat. Bab ini memberi pelajaran bahwa cinta memang nggak baik kalo dipendam sendiri, terbukti dari kenyataan yang kemudian diungkapkan Anjani setelah bertahun-tahun kemudian. Dalam bab ini pendeskripsian suasana Blue Romance-nya bagus. Suka 🙂 Dan penggambaran sosok Bima yang begitu cerdas juga gue suka. Dia jurnalis sejak SMA dan kemudian kerja di Jakarta Tribune, lalu pindah karena diterima kerja di The Washington Times di Amerika.

5.Happy Days

Ini bagian yang agak nyesek. Tokoh utamanya dekat dengan seorang cowok yang bertahun-tahun dia anggap sahabat, tapi kemudian satu kenyataan menampar dia telak sekali. Gue nggak berasa sedih bacanya, walau mungkin maksud penulisnya menceritakan ini adalah kisah sedih. Tapi lebih ke nyesek mungkin, ya. Akan jadi sedih di gue, kalo cowok itu digambarkan sebagai pacarnya, bukan sahabatnya. Endingnya? Baca aja sendiri :p

6. The Coffee & Cream Book Club

Ini termasuk salah satu kisah yang gue suka. Bukan hanya suka deskripsinya seperti di bab 4, di bab ini gue suka kisahnya juga. Bercerita tentang seorang cewek bernama Bening yang kerja di perpustakaan kota bernama Bibliomania. Ia mendirikan sebuah book club bersama seorang teman karibnya –Anya. Tapi anggotanya baru berenam termasuk mereka, karena syarat untuk gabung di book club itu adalah suka membaca, suka membahas buku, dan suka kopi yang dicampur dengan krimer. Mungkin syarat terakhir yang tidak dimiliki semua orang, tapi Bening tidak pernah masalah dengan book club kecilnya. Ia digambarkan sebagai orang yang bahagia dengan hidup, kecuali satu ruang kecil dalam hatinya yang suram semenjak ibunya meninggal. Hingga datang Jeff, lelaki tua yang dikenalkan Anya sebagai anggota book club mereka yang baru, yang mampu merobohkan pertahanan Bening akan egonya selama ini, tapi kemudian meringankan langkahnya untuk merelakan kepergian Ibu.

7. A Tale about One Day

Bercerita tentang Kai –seorang blasteran Jepang & Perancis yang duduk sendirian di blue romance untuk memeriksa hasil ujian muridnya. Seorang gadis 12 tahun bernama Chantal tiba-tiba saja ada di mejanya, dengan alasan tempat itu enak untuk melihat pemandangan keluar jendela. Kai tidak bisa mencegah, lalu pasrah duduk semeja dengan Chantal.  Hingga akhirnya gadis kecil itu membuka kembali kisah lama yang dipendam Kai dalam-dalam, juga mengembalikan kesempatan Kai untuk minta maaf pada wanita yang sangat dicintainya.

Begitulah kira-kira gambaran ceritanya. Yang paling gue suka itu bab 6. Kalo soal deskripsi, gue suka bab 4. Penulis menggambarkan Blue Romance itu cozy sekali, tapi sayangnya kedai kopi ini imajiner, tidak benar-benar ada di Cikini (Jakarta Pusat). Tadinya gue kira beneran ada, kalo bener ada gue juga mau nyoba nongkrong di sana sesekali. Hahaha.

Poin tentang reviewnya:

1. Masalah utama gue dalam membaca Blue Romance adalah deskripsi. Aduh plis, gue merasa di beberapa bagian, penulis sengaja membuat deskripsi yang bertele-tele dan menjelaskan hal remeh temeh seperti yang gue bahas singkat di bab 2 tadi, cuma demi membuat ceritanya jadi panjang. Ini perasaan gue aja. Tapi dari bab 1 pun gue udah merasa begitu. Buktinya di bab 1, 8 halaman pertama dihabiskan untuk deskripsi, dialog baru ada di halaman 9. Gue seperti lagi baca buku harian si tokoh utama, terkesan seperti curhatan. Dia menceritakan segala tentang hidupnya semasa di Bandung dan kenapa dia bisa rutin singgah di Blue Romance (saat itu).

Yang gue herankan adalah halaman 11 paling bawah, dia bercerita bahwa Ibunya sering buat makanan yang sama seperti yang dia makan setiap Sabtu, lalu ditambahkan ‘ketika kami di Bandung’. Si Cowok nanya dong, ‘emang ibu kamu sekarang di Jakarta?’ lalu si tokoh cewek menggerutu dalam hati, menyesal. Menurut gue sih mending ga usah bilang kalo ujung-ujungnya males cerita kelanjutannya. Tapinya lagi, kalo gak gitu, jadi gak ada kesan bahwa mereka bisa akrab untuk selanjutnya kali, ya? Hehe.

2. Penulisan dialog dengan bahasa asing. Ada beberapa kalimat bahasa asing, seperti Jerman dan Perancis. Pas gue baca bagian ‘Sapaan Terakhir’ di halaman belakang buku, ternyata penulisnya anak LSPR Jakarta, maklum kalau begitu :p Tapi gue lebih suka jika arti dari kalimat-kalimat dialog itu dibuat footnote, daripada disempil-sempilin di samping kalimat bahasa asingnya sendiri. Menurut gue lebih rapi aja keliatannya. 🙂

3. Penyajian gambar ilustrasinya menarik dan memanjakan mata. Ada banyak sketsa yang menggambarkan ilustrasi singkat tentang cerita-cerita tiap bab. Misalnya sketsa post it, postcard, atau gambaran wajah barista bernama Edi di bab 3.

4. Buat kalian pecinta kopi, tiap halaman awal bab juga ada deskripsi singkat tentang berbagai jenis kopi. Affogato di awal bab 1. Mochaccino di awal bab 2. Cafe Latte di awal bab 3. Americano di awal bab 4, dst.

5. Ada beberapa pemikiran tokoh yang absurd tapi gue suka. Misal di bab 1:

Hujan bisa membuahkan pertanyaan-pertanyaan yang lebih kritis seperti: mengapa pertumbuhan mal di Jakarta selalu pesat, seperti spora di mana-mana? Mengapa Jakarta  terlihat cantik saat hujan, tapi sangat buruk saat hujan deras dan membuat banjir melebar ke mana-mana?

Itu absurd menurut gue, tapi ketika gue duduk sendirian di cafe atau gerai donat, dan memandang keluar jendela, kadang gue juga suka gitu. Hahaha *mendadak curhat*

6. Quotes! Waktunya quotes! 😀

Nostalgia is denial — denial of the painful present.

– Hal. 14, paragraf pertama. Kalimat yang katanya dikatakan oleh Paul, salah satu karakter dalam Midnight in Paris.

Aku tidak mengerti dari sisi mana kesedihan bisa menjadi indah. My defense is: which part of sadness that people called beauty?

– Hal. 14, paragraf kedua.

You couldn’t cover the bitterness of life, young girl… you just need to let it go..

– Jeff pada Bening, hal. 163

7. Masalah cover. Covernya memang warna kopi susu banget yak, tapi gue lebih suka ilustrasi dalamnya yang jadi cover depan. Yang ada gambaran tampilan Blue Romance dari sisi luar.

20131012_170627

8. Overall, Blue Romance adalah sebuah buku ringan untuk teman minum kopi, ceritanya nggak ada yang berat, dan layout dalamnya cukup menarik. Akan lebih menyenangkan jika deskripsinya terkesan natural, nggak seolah ditambah-tambahkan, IMO. Selanjutnya, 3/5 bintang untuk Blue Romance dan Sheva 🙂

Advertisements

5 thoughts on “REVIEW: Blue Romance – Sheva

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s