REVIEW: Kotak Mimpi – Primdonna Angela

Judul: Kotak Mimpi

Penulis: Primadonna Angela

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: November 2010 (Cetakan Pertama)

Harga: Rp. 43.000 (harga cetakan baru versi ganti cover 2013, entah kalo yang cetakan lama)

Jumlah halaman: 232 hal.

ISBN: 978-979-22-6316-9

*

Blurb:

KOTAK MIMPI Isabella Larissa tak pernah kosong. Meski Patrick mencampakkannya di hari pertunangan mereka, Isabel masih berjuang meraih mimpinya sebagai penyanyi. Dibantuu Arya sebagai produsernya, Isabel sukses besar. Ketika kotak mimpi Isabel menuntutnya untuk berganti karier sebagai pencipta lagu, Arya tetap mendukung sebagai manager eksklusif label.

Bertahun-tahun kemudian, Patrick sang model kembali hadir dalam kehidupan Isabel. Bersama kekasihnya, Noreen, pewaris jaringan TV swasta ternama, ia ingin Isabel menciptakan lagu untuk mereka nyanyikan berduet. Noreen jelas-jelas tertarik pada Arya dan berusaha mendapatkannya dengan cara apapun. Isabel yang menaruh hati pada Arya bertekad tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Namun mendadak beredar foto-foto mesum Isabel di dunia maya, membuatnya harus mengevaluasi lagi mimpi dan tujuan hidupnya. Apa Isabel rela membiarkan nama baik Arya rusak karena skandal ini? Apa benar itu semua foto Isabel? Kalau demikian, siapa lelaki yang berada dalam foto itu bersamanya, dan mengapa Isabel tidak  dapat mengingatnya?

*

Review:

Gue dapet buku ini udah agak lama. Sekitar awal tahun ini, sebagai hadiah kuis dari @bellazoditama. Sekian lama buku ini nganggur gue simpen di kamar, karena awalnya kurang tertarik baca setelah melihat cover pink unyu-unyu-nya dan blurb belakangnya yang gue anggap seperti FTV *dikeplak berjamaah*

Tapi kemudian, kemarin sore, tiba-tiba aja gue butuh bacaan ringan. Setelah menamatkan 2 novel lain, masih ada beberapa novel sastra menunggu, tapi gue memutuskan membaca Kotak Mimpi terlebih dulu 😐

Langsung aja ke komentar gue tentang buku ini, karena blurb di atas tadi sudah menjelaskan ringkasan isinya, jadi gue rasa nggak perlu spoiler lagi.

1. Primadonna Angela, penulis dari beberapa buku remaja dan metropop, sekaligus penerjemah, menirukan beberapa bunyi pembukaan review orang-orang di Goodreads, gue sepakat dengan kalimat, “siapa yang nggak kenal dia?” Waktu SMA gue pernah baca buku teenlitnya yang Big Brother Complex dan Love at First Fall (semoga gue nggak salah nulis judul) :p dan hingga sekarang gue baca Kotak Mimpi, ada satu hal yang gue tangkap dari gaya menulis Mbak Donna. Gaya bahasanya seperti cerita terjemahan. Wajar mungkin, mengingat Mbak Donna sendiri memang sekaligus penerjemah juga. Tapi gue secara pribadi entah kenapa kurang suka gaya bahasa berbau terjemahan, menurut gue agak kaku dan butuh proses berpikir ketika membacanya. But, so far, tulisan Mbak Donna yang udah pernah gue baca memang mengalir apa adanya 🙂 diluar gaya bahasanya.

2. Pemilihan nama. Kotak Mimpi memiliki 90% nama-nama berbau bule atau kedengaran blasteran, atau apapun istilahnya. Isabella Larissa (nama depannya mengingatkan gue pada Isabella Swan, tokoh utama  novel laris karya Stephanie Meyer), Patrick (yang begonya, gue bayangkan sekilas di awal sebagai Patrick Star 😐 *ditoyor yang nulis), Noreen (yang gue bayangkan sebagai cewek angkuh kelas bangsawan di novel-novel harlequin), dan satu-satunya yang terdengar Indonesia sekali adalah Arya (nistanya, gue baru baca novel ini tahun 2013, dan setelah skandal infotaimen beberapa bulan lalu, gue membayangkan tokoh ini….. Arya Wiguna)

*digiling *padahal Arya yang ini deskripsinya udah bagus; super tampan dan badannya bagus hasil ngegym, eh malah dirusak. Sekalian aja bayangin Noreennya adalah Dewi Sanca :)) *ampuni Mput :))

Honestly, semua nama itu cocok dengan karakternya masing-masing (menurut gue, walau kedengerannya memang nama bule semua), kecuali Patrick. Patrick, Patrick, mungkin gue terbiasa dengan cap Patrick si bego di kartun Spongebob, jadi gue susah menerima Patrick di sini sebagai model yang angkuh dan sombong. Ah, lupakan. Ini masalah imajinasi pembaca aja. Pembaca lain pasti bisa berimajinasi lebih baik. Maklum, otak gue lagi error *sigh*

Tapi inti yang mau gue sampaikan di poin 2 ini adalah: sepertinya Mbak Donna suka dengan nama-nama ‘impor’ ya? :p

3. Jalan ceritanya. Awal pertama gue megang buku ini dan baca blurbnya, oh astaga, gue bergumam dalam hati, “FTV sekali.”

Dan setelah gue baca, memang jalan ceritanya agak sinetron atau FTV –apapun kalian menyebutnya. Ini perjuangan seorang cewek biasa menuju karir tertinggi sebagai bintang idola. Yang di mana ada kubu seberang aka tokoh antagonis yang selalu berusaha menghalangi jalannya (dalam hal ini Noreen). Iya, sinetron kejar tayang sekali 😐 Tapi yang gue sadari kemudian, ternyata pesan yang ingin disampaikan di buku ini sungguh manis :p Jangan menyerah dan jangan berhenti bermimpi. Toh setelah penderitaan panjangnya, Isabella akhirnya bisa bersama Arya. Jadi sebenernya, semua itu ada waktunya masing-masing *mput, sehat?* 😐

4. Ada beberapa poin yang janggal menurut gue.

– Isabella itu artis terkenal. Penyanyi, pencipta lagu, dan sudah merambah kancah internesyenel (ditimpuk fans @agnezmo) 😐 Jadi gue agak heran kenapa waktu dia kabur dari Villa keluarga Noreen menuju hotel (setting di Bali) karena melihat liputan pertunangan rekayasa Arya dan Noreen, supir taksi dan petugas hotel nggak mengenalinya? Dengan skandal sebesar itu (foto mesum beredar di internet) dan nama setenar itu, harusnya minimal ada beberapa orang yang berseliweran mengenalnya, kan? 😀 Dan ternyata dugaan Arya meleset, setelah dia kabur dari Villa Noreen pun, nggak ada wartawan yang menemukannya. Menurut gue sih, penggambaran kerja wartawan di sini terlalu lamban. Waktu kasus Ariel aja, hebohnya sampe hebring. Masa wartawan di dalam novel ini ndak langsung kroscek atau mengejar Bella? 😐 Malah Bella sampe berpindah tempatpun, wartawan ndak kelihatan batang hidungnya. Cuma dideskripsikan, Arya yang kena telpon terus sama wartawan.

– Bella kemudian menghilang sementara karena kasus itu, lalu menyamarkan dirinya sebagai Rissa dan bekerja di taman safari. Yah, walaupun ada Nisha –sahabat dekatnya yang notabene pawang di sana, tapi untuk bekerja bukannya butuh kejelasan identitas ya? 😐 Minimal KTP, gitu? Atau pikiran gue terlalu jauh? 😐 Menurut gue menyamar tidak semudah mengubah potongan rambut atau memberi warna baru pada mata dengan menggunakan contact lens. Dokumen juga harus dipalsukan, diganti nama samaran. Karena kalo nggak, percuma dia mau lari ke manapun. Isabella Larissa ini digambarkan sebagai idola yang sedang tenar-tenarnya 😐 Tapi kenapa dia menyamarkan dirinya dengan begitu mudah?

5. Tentang tokoh-tokoh:

– Isabella Larissa ini labil. Sudah, itu aja. Gue nggak mau berkomentar terlalu jauh. Sejauh gue membaca Kotak Mimpi dari awal sampe ending, dia beberapa kali sibuk meyakinkan dirinya dengan pernyataan yang berbeda-beda, termasuk tentang perasaannya ke Arya. Dia juga termasuk tipe cewek yang terlalu takut dengan hal yang belum terjadi, pencemas. Dan cengeng. Untuk hal ini, kayaknya semua cewek pernah merasakannya. Merasa paling malang sedunia, tapi Bella jadi kelihatan jelek sikapnya karena dia seorang tokoh novel *ketawa setan* *apadeh, Mput* :))

– Arya, cowok yang sebenernya menyukai Bella sejak lama tapi ndak mau mengungkapkan karena takut Bella menjauhinya (pasca kejadian ditinggalkan Patrick). Satu protes gue untuk Arya, dia pandai menyembunyikan perasaan cintanya pada Isabella, tapi ndak pandai memilih sikap yang pantas. Karena kalo gue jadi Isabella pun, gue akan menganggap Arya itu benci atau udah males jagain gue. Kadang ketus, dingin dan agak nusuk omongannya. Hei, itu buka sikap yang pantas untuk perempuan yang lo cintai, boy! :\

– Patrick dan Noreen. Izinkan gue berkata jujur di sini. I think, they are Anang and Syahrini versi novel metropop :)) Apalagi Noreen, yasalam, gengges sekali awewe satu ini :)) Serasa paling cakep sendiri. Isabella menyebutnya cewek plastik :))

6. Gue paling suka scene ketika Bella bercerita tentang neneknya yang dia panggil Nyai (hal. 32). Nyai yang mengajarinya terus semangat dan punya mimpi, selama masih hidup. Bahkan ketika ia terpuruk sekalipun, ia tetap memegang kata-kata Nyai. Ini juga yang kemudian gue sebut dengan pesan di dalam novel ini, betapa kata-kata Nyai itu tidak hanya mempengaruhi tokoh, tapi mempengaruhi keseluruhan novelnya dan gue sebagai pembacanya 🙂

7. Quotes. Satu-satunya quote yang menarik buat gue adalah kata-kata pamungkas dalam drama musikal kolaborasi Bella dengan Joe.

It is not destiny if you leave out the will to choose. Destiny is part choise and part the universe’s will.

8. Overall, 3 dari 5 bintang untuk Kotak Mimpi 🙂

*

PS: ternyata setelah cek di @bukabuku, Kotak Mimpi ada versi cover baru yang terbit tahun ini. Dan gue jauuuuhh lebih suka cover barunya yang hitam itu ketimbang yang pink ini :p

PSS: Makasih buat @bellazoditama yang udah menghadiahkan buku ini. Maaf baru sempat dibaca dan direview #senyummanis

PSSS: Btw, gue masih membayangkan Arya itu adalah Arya Wiguna #MputUdahCukup #ItuJauhBanget #JanganDiteruskan #NantiDikeplakPenulisnya #Sungkem

😐

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s