Ketika Membaca Blue Romance..

Buku Blue Romance mengingatkan gue pada impian untuk punya coffeeshop sendiri. Walau gue nggak tahu gimana caranya, bakal bener kesampaian apa nggak, tapi setidaknya punya satu impian besar (selagi muda) :p

Seperti deskripsi-deskripsi di dalam buku Blue Romance, coffeeshop imajiner yang katanya berada di wilayah Cikini itu adalah sebuah kedai kopi yang cozy dan buka dua puluh empat jam. Misalnya pada deskripsi ini..

Laki-laki ini menunjuk ke sebuah tempat dari dua sisi kayu bermotif unik, yang biasa dipakai untuk menaruh surat-surat. Ada beberapa lembar Post-it berwarna kuning dan biru cerah, serta sebuah gelas yang mirip dengan gelas espresso milikku yang dijadikan tempat untuk menaruh sebatang pensil kayu.

Post-it dan pensil kayu ini baru ditaruh di seluruh meja area indoor Blue Romance sekitar sebulan yang lalu. Tujuannya adalah untuk terus menambah deretan tempelan di dinding sanctuary milik Blue Romance itu. Karena itulah, deretan puisi amatir, gambar-gambar lucu, serta komentar tentang servis Blue Romance yang menyenangkan terlihat semakin memenuhi dinding yang dilapisi board lebar dari kayu lunak itu.

(Hal. 19 – 20)

Atau ini..

Aku selalu bertanya-tanya, mengapa nama tempat ini Blue Romance? Namanya bernuansa sedih, padahal tempatnya penuh dengan tawa. Buku-buku tua di rak unik berjajar di salah satu sisi dinding, telepon tua dan gramofon diletakkan dekat karung-karung kopi yang menambah kentalnya harum kopi di ruangan, musik jazz  dari Griffith Frank mengalun sayup-sayup.

Renyah tawa dari beberapa rekan bisnis menyeruak di pojok ruangan berkaca untuk area indoor. Dinding-dinding coffee shop ini penuh gambar lucu, lukisan-lukisan karya pelukis amatir, pajangan-pajangan seperti kaktus mini, penjepit kertas-kertas berisi puisi berbentuk pot-pot kecil di rak buku.

Ada satu set teko lengkap warna merah dan biru yang menghiasi rak pajangan berbentuk kotak-kotak geometris yang menempel di salah satu sisi dinding. Semua kopi yang dihidangkan Blue Romance dapat dilihat fotonya dari lembar-lembar Polaroid yang dijepit pada seutas tali yang melintang di dekat bar. Semuanya terlihat apik, menarik.

(hal. 86-87)

Deskripsi tentang Blue Romance ini menarik buat gue, karena ketika membacanya gue mambayangkan tampilannya seperti kedai-kedai kopi yang ada di luar negeri, klasik tapi unik. Apalagi katanya di sana ada papan sanctuary yang biasa digunakan untuk menempelkan post-it berisi macam-macam gambar dan tulisan.

Suatu hari, jika berhasil membuka sebuah kedai kopi, gue mau konsepnya nggak jauh-jauh dari buku 🙂 Mungkin kedai kopi dan mini library di dalamnya, di mana pengunjung bisa membaca dengan leluasa? Gue tahu, ini mainstream, karena sekarang banyak kafe buku bertebaran di Jakarta. Tapi yang gue tahu umumnya menyajikan menu-menu yang menguras kantong –terutama kantong mahasiswa kayak gue. Itulah yang mau gue dobrak. Kenapa nggak menyajikan sesuatu yang enak tapi murah meriah dan sesuai kantong? Atau juga bisa mendesain tema interior yang berbau kopi dan cangkir. Mungkin sofanya bulat melingkar seperti cangkir? Hahaha, jadi kayak arena bermain waktu bocah. Duduknya di dalam cangkir 😐

Demikianlah. Jadilah mainstream terlebih dulu, kemudian ciptakan sedikit gebrakan. Kelamaan hal yang mainstream itu akan menghilang dengan sendirinya. Lalu kita akan jadi penemu 🙂 *bukan anak Mario Teguh* 😐

*

Note: Review menyusul, akan diposting untuk postbar Oktober, tanggal 31.

Advertisements

One thought on “Ketika Membaca Blue Romance..

  1. Pingback: Book-admirer and Friends #2: Petronela Putri | Book-admirer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s