REVIEW: Labirin Rasa – Eka Situmorang-Sir

20130925_205232

Judul: Labirin Rasa

Penulis: Eka Situmorang-Sir

Penerbit: Wahyu Media

Tahun Terbit: 2013 (Cetakan Pertama)

Harga: Rp. 52.000

Jumlah halaman: 394 hal.

ISBN: 978-979-795-753-7

Labirin Rasa. Pertama kali buka halaman pertama buku ini, gue mikirnya, “wah, jarang-jarang ada teenlit setebel ini. Nyaris 400halaman.” Tapi setelah kebelakang-belakang, gue baru sadar ternyata ini teenlit semi roman dewasa *halah* :p

Labirin Rasa dimulai dari hidup seorang gadis urakan bernama Kayla, cewek campuran Batak-Jawa yang  sampe di umur ke 21 masih jomblo, sementara sohip-sohipnya udah gonta-ganti cowok sampe pett*ng dan ML di mobil (maaf, gue nulis review memang suka apa adanya, sampe-sampe yang baca pengin njitakin)

Kayla nggak percaya ramalan, karena di umurnya yang segitu ia belum punya pacar  sedangkan dulu eyang kakungnya pernah meramalkan bahwa dia akan dikirimkan pangeran impian yang akan menjaga dia sampe akhir hayat. Cinta pertamanya akan menjadi sang pangeran itu. Padahal ya, pacar pertama kan gak selalu cinta pertama :p Kalimat basi tapi bener.

Kayla melewati perjalanan panjang, bertemu dengan lelaki paling bajingan, baik, sampai cewek lesbian. Ada lelaki bernama Ruben –yang menyakitinya berkali-kali namun tetap ia perjuangkan, ada David si bule Bali, ada Dani si cowok baik, sampai Patar; abang paribannya di Medan sana.

Namun ajaibnya, ternyata jodoh yang dijanjikan kakeknya lebih dekat dari yang dia kira.

1. Selama gue baca secara keseluruhan sih, menurut gue ada beberapa penulisan yang nggak konsisten.

Kayla terus bergumam dengan tatapan kosong, “Gue juga bingung, kenapa nilaiku bisa hancur lebur? Aku kerap hadir di setiap perkuliahan, gue juga tidak tidak membolos, dan tidak membangkang dosen. Tapi, apa ini semua mungkin karena gue malas mengerjakan tugas?” (hal. 5)<– Jadi, sebenarnya sudut pandang Kayla saat bergumam sendiri itu, GUE atau AKU? Dalam satu kalimat gonta-ganti begitchu. Bah, jadi bingung awak :))

Terus juga menurut gue, bab-bab ini menceritakan sisi teenlit dalam diri Kayla, tapi ada beberapa penataan kalimat yang terdengar agak seperti roman dewasa. Misal, ya, seperti diatas itu. “Aku kerap hadir di setiap perkuliahan” sepertinya enakan dibacanya “Gue sih rasanya masuk kelas terus, juga nggak bolos dan nggak membangkang ke dosen, blablabla..”

IMO sih, tapi ini kayaknya masalah selera aja. Tapi gue agak cerewet  memang kalo membaca satu kalimat nggak konsisten/seragam penulisannya sama kalimat di samping-sampingnya. :p hehe.

Terus juga beberapa typo, dan beberapa penulisan nama tokoh yang tertukar.

2. Cewek ini memang urat malunya sudah putus. Sinting dan schizo (skizofrenia). (hal. 6)

Pemberian cap schizo/skrizofrenia pada diri Kayla itu sedikit gue pertanyakan. Karena setahu gue, arti sebenarnya dari skrizofrenia sendiri adalah sebuah penyakit gangguan kejiwaan yang bisa dibilang cukup serius. Menurut Mbah Wikipedia, artinya itu gangguan kejiwaan dan kondisi medis yang mempengaruhi fungsi otak manusia, mempengaruhi fungsi normal kognitif, emosional dan  tingkah laku. Atau ini cuma bahasa gahul untuk menggambarkan ke-urakan-nya? Entahlah, gue nggak tahu 😀

3. Tapi banyak kalimat bermakna dalam buku ini. Seperti kata Yangti di hal. 185..

Cinta itu ibarat labirin rasa, semakin kamu ingin keluar, semakin jauh kamu bisa tersesat. Lebih baik dinikmati saja proses cinta itu. Tapi, jangan membabi buta sampai melanggar norma yang ada.

4. Menurut gue alur bagian Patar yang pertama kali ketemu Kayla terlalu cepat. Gue sebagai pembaca tahu dia naksir Kayla sejak kali pertama, tapi kemudian kisahnya seolah hilang gitu aja. Muncul lagi di beberapa tahun kemudian 😐

5. Overall, gue cukup suka isi buku ini; ringan, penuh kata-kata mutiara, tapi tetap ‘berisi’. Rating 4/5 buat Labirin Rasa. Untuk yang butuh bacaan ringan, gue rekomen buku ini. Terlebih bagi yang suka travelling, perjalanan Kayla cukup banyak dibahas di sini. Mulai keliling Jawa, Bali, Lombok, sampai 7 tahun kemudian honeymoon di Selandia Baru. Seru! 😀

*

(590/600kata)

ditulis untuk lomba review Labirin Rasa

Advertisements

2 thoughts on “REVIEW: Labirin Rasa – Eka Situmorang-Sir

  1. Sebenarnya masih bisa dibikin lebih kompleks lagi ceritanya. Tapi Eka sudah berhasil membawa pembaca pada labirin yang mengungkung Kayla. Semoga menang….

    • sebenarnya saya lebih suka kalo ceritanya dipecah jadi 2 buku. Kisah ketika kayla remaja, dan kisah setelah dia kerja. Bisa lebih luas pembahasannya, tapi kalo digabung semuanya dalam satu buku, bisa lebih tebel dari 400 halaman 🙂 hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s