REVIEW: Lima Sekawan – Jo Anak Gelandangan

Judul: Lima Sekawan – Jo Anak Gelandangan

Penulis: Enid Blyton

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit: Maret 2011 (Cetakan 13)

Harga: Rp. 21.000 (harga beli di bookshop online, harga asli kurang tahu)

Jumlah halaman: 256 hal.

ISBN: 978-979-22-6657-3

*

Blurb:

JO ANAK GELANDANGAN

Petualangan ke-9

LIMA SEKAWAN

George dan Timmy hilang –apakah mereka diculik? Mengapa ada orang yang masuk ke Pondok Kirrin  dan mengobrak-abrik ruang kerja Paman Quentin? Lima Sekawan yakin kedua hal itu berhubungan, tapi apa hubungannya? Dan bagaimana mereka dapat memecahkan misteri itu, kalau mereka tinggal bertiga?

*

Review:

Kayaknya gue telat banget baru baca karya Enid Blyton sekarang, banyak sekali teman-teman yang mengakui bahwa Lima Sekawan ini bener-bener bagus dan bisa dibaca semua umur. Abisnya waktu kecil gue kebanyakan baca komik sih :)) jadi nggak begitu suka novel. Dan baru belakangan ini tertarik sama buku-buku seperti ini. Tertarik baca, tapi nggak menjamin akan tergila-gila, sih.

Jadi di buku ini dikisahkan George bersama Timmy yang menjemput ketiga saudaranya untuk berlibur ke Pulau Kirrin. George adalah anak perempuan tomboy, putri dari seorang ilmuwan yang biasa mereka panggil dengan sebutan Paman Quentin. Dodolnya gue, awalnya gue kurang percaya bahwa Timmy itu termasuk ke dalam Lima Sekawan, karena dia doggy. Ternyata memang dia anggotanya juga, maklum, anak baru baca 😐 hahaha.

Paman Quentin dan Bibi Fanny lalu berlibur ke Spanyol tanpa meninggalkan alamat mereka. Mereka hanya menitipkan anak-anak pada Joanna –seorang juru masak di Pondok Kirrin. Awalnya Julian, Anne & Dick –ketiga sepupuk George hanya akan berlibur dua minggu dan tidak menyangka bahwa mereka akan dibawa lagi ke dalam sebuah petualangan.

Petualangan itu dimulai ketika mereka bertemu seorang anak gelandangan bernama Jo. Anak yang sangat mirip dengan George, kecuali bajunya yang compang-camping dan bau badannya. Jo dan George tidak pernah akur, ribut sejak pertama kali bertemu. Tidak ada yang disukai Jo dari mereka semua, kecuali Dick –yang paling baik dan ramah padanya. Ternyatanya lagi, pertemuan pertama itu memang sudah dirancang sedemikian rupa (disengaja) agar Jo bisa mendekati Timmy. Jo ternyata dimanfaatkan ayahnya yang dibayar orang untuk mencuri dokumen penting Paman Quentin.

Ketika si pencuri tidak mendapati catatan yang dia inginkan, George dan Timmy lalu diculik. Di blurbnya ditulis, Dan bagaimana mereka dapat memecahkan misteri itu, kalau mereka tinggal bertiga? Tapi menurut gue, mereka bertiganya malah sama Jo, bukan sama Anne. Walau awalnya mereka kurang percaya sama Jo dan berkali-kali mengira anak itu berbohong, toh nyatanya Jo tetap pada janjinya untuk membebaskan George. Dan kali ini, setelah lelah keluar masuk hutan, Anne malah ditinggal di rumah begitu saja bersama Joanna. Jadi menurut gue, Anne nggak sepenuhnya ada dalam petualangan ini. Malah Jo yang berperan banyak hingga George dan Timmy dibebaskan, bahkan hingga penjahat-penjahatnya diringkus polisi.

Gue kurang suka tokoh Jo dan George. Jo ini labil, ketika disinggung dikit dia akan ngambek dan mengancam nggak mau nganterin mereka ke tempat George disekap. Kecuali jika Dick lalu membujuknya. Ia rela melakukan apa aja demi Dick. Nah, ternyata di buku era 1950-an, anak kecil pun bisa saling naksir :p *halahh* *tapi era 2013 di Indonesia, anak SD bisa bunuh diri karena cintanya ditolak* -___-“

Lain lagi dengan George, di awal bertemu aja dia udah belagu sama Jo. Karena menganggap Jo itu tukang rusuh dan pengganggu. Padahal di akhir cerita malah Jo yang menyelamatkan dia dari penculikan Red. Terbukti bahwa mereka berdua memang nyebelin dengan sifat masing-masing *pembaca nggak nyantai* :))

Gue suka tokoh Anne, meskipun dia nggak banyak ambil bagian dalam petualangan di Red Tower, tapi dia yang paling alim, lugu dan netral. Jo sendiri nggak terlalu suka sama dia (sekali lagi, Jo hanya suka pada Dick, karena menganggap Julian, George dan Anne nggak sebaik Dick), tapi Anne nggak pernah mempermasalahkannya seperti George. Nah, disamping itu gue juga suka Joanna, si juru masak yang tegas tapi baik hati. Joanna ini tokohnya lucu :)) Dia suka banget masak dan menghidangkan roti-roti ke tamu yang datang (termasuk ketika polisi datang untuk menyelidiki pembongkaran ruang kerja Paman Quentin). Kalo dia nyata, mungkin bisa gue bawa pulang, lumayan buat masak-masak kue di rumah 😐

Sementara untuk Julian dan Dick. Julian yang paling dewasa, ia bisa menenangkan adik-adiknya, walaupun ia sedang panik. Tapi beberapa kali sifat labil Jo membuatnya emosi. Jo terkesan mengulur waktu dan nggak ikhlas mau bantuin mereka nyari George. Sedangkan Dick, gue nggak tahu banyak. Mungkin baik hati, ramah dan ganteng (?), buktinya Jo sampe tergila-gila gitu :)) Apa-apa Dick, hilang dikit dicariin. Yaampunnn.

Ada satu paragraf yang sebelumnya udah gue baca di review orang lain, tapi kemudian bikin gue ngeh dan gue perhatiin lagi di bukunya. Paragraf yang pastinya ditambahkan penerjemah/editor/siapa saja yang punya hak menerbitkan buku ini di Indonesia. Soalnya ini janggal untuk ditulis seorang penulis luar, era 1950-an pula. Coba deh,

“Wah, ini benar-benar hutan,” kata Anne. “Di mana-mana cuma pohon yang kelihatan. Kurasa bagian tengahnya pasti mirip rimba.”

Memang, hutan di Inggris lain dengan di Indonesia. Di sana, jika ada tempat yang agak lebat ditumbuhi pepohonan, tempat itu sudah disebut hutan. Karenanya tidaklah mengherankan, jika bagi Anne tempat yang pepohonannya tumbuh rapat sudah dianggap rimba. Coba kalau anak itu bisa datang sebentar ke Kalimantan, atau Irian –saat itu baru ia akan tahu bagaimana wujud rimba yang sebenarnya. (hal. 139)

See? :p Isinya menyinggung tentang Kalimantan dan Irian. Agak janggal dibaca, tapi kemudian jadi lucu juga :p

Hal lain yang menarik ada di halaman yang sama. Ketika Julian, Dick dan Anne menemukan perkemahan para gelandangan di sebuah tempat lapang.

Ketiga anak itu tiba di suatu tempat yang lapang. Di situ ada perkemahan gelandangan. Orang-orang ini di Inggris disebut gipsi. Tak ada yang tahu dengan pasti, dari mana orang-orang itu berasal. Tampang mereka lain dari penduduk Eropa yang berkulit putih dan berhidung besar. (hal. 139)

Ia mendatangi seorang wanita tua. Wanita itu sedang memasak sesuatu di dalam panci hitam yang ditaruh di atas setumpuk kayu bakar yang menyala. Bagi Julian, wanita itu kelihatannya amat mirip nenek sihir yang biasa diceritakan dalam dongeng. Wanita itu menatap ke arahnya dari balik rambut beruban yang tergerai di mukanya. (hal. 140)

Orang-orang Gipsi, ini menarik. Tapi sayangnya nggak dijelaskan secara rinci. Karena scenenya juga, kan, mereka numpang lewat doang di sana terus nanya jalan sebentar. Sebenernya gue pengin tahu juga tentang gipsi, sama seperti ingin tahu gue tentang hal-hal berbau voodoo. Ada banyak hal yang menarik dari negara-negara asing, begitulah.

Hal berikutnya yang bikin gue tertarik adalah masalah telegram di halaman 254 😀 Di endingnya. Ketika kantor pos nelpon ke rumah lalu membacakan telegram dari Paman Quentin (iya, jaman kapan ya itu, masih pake telegram. Sekarang maih mention twitter juga bisa. Satu detik kekirim kalo koneksinya ngebut :p)

HARAP KAWATKAN KEADAAN DI SANA –PAMAN QUENTIN.

Yang lalu dijawab Julian dengan kalimat:

KAMI SENANG DI SINI TITIK SEMUA BERES –JULIAN.

Ini mbikin gue penasaran. Gue tahu telegram, tapi gue nggak tahu sama sekali proses pengiriman pesannya kayak apa. Dan isi pesannya itu agak aneh kalo gue baca. Kawatkan itu maksudnya apa toh 😦 Terus “kami senang di sini titik semua beres.” Itu apa karena titiknya dibaca juga? 😦 Mungkin kapan-kapan gue harus googling tentang proses pengiriman pesan via telegram. #bingungbeneran #bukanangkatantua :p

Kesan gue pertama kali membaca Lima Sekawan, not bad. Karena buktinya gue bisa menamatkannya. Jarang ada novel terjemahan yang bisa gue tamatkan. Ini masalah selera, bukan tergantung tebal-tipisnya sebuah buku juga, sih. Karena gue memang kurang menyukai cerita terjemahan. Dan karya Enid Blyton ini lumayan juga. Gue nggak merasa langsung tergila-gila, tapi juga bukannya nggak suka 😀

Well, mungkin kapan-kapan gue akan coba membaca judul lainnya. Di sampul belakang bukunya, sih ada sekitar 21 judul. Di Togamas masih ada beberapa judul lain dan sepertinya gue mau coba membaca yang lain juga. Kalau memang suka, urusan koleksi nanti-nati :p (yang jelas gue berencana memasukkan buku ini di list Wishful Wednesday gue minggu berikutnya) :p

Sekian, 3 bintang untuk Enid Blyton dan anak gelandangannya, juga untuk Lima Sekawan.

Semoga anak-anak jaman sekarang juga akan suka membaca buku-buku semua umur seperti Lima Sekawan, karena dari hasil mention-mentionan tadi malam, menurut @bellazoditama banyak anak jaman sekarang yang cepet gede karena membaca buku nggak sesuai umur. Gue rasa ada benernya juga. Kembalikan mereka ke jalan yang, benar, please (?) :))

Advertisements

6 thoughts on “REVIEW: Lima Sekawan – Jo Anak Gelandangan

  1. hahaha george ama jo emang super nyebelin bangeeeet…tapi george tambah lumayan kok di buku2 selanjutnya 😀 aku juga paling suka sama anne, baik hati dan cinta damai haha…oiya, telegram itu emang harus dibaca tanda “titik” atau “koma” nya karena semua harus dieja pake hurup. hihi, ini hasil baca2 buku detektif jaman dulu juga kok.

  2. Tentang telegram : kalo nanti dirimu kerja diinstansi yang rada berbau kepolisian (misalnya BNN, seperti pengalaman saya) bisa ditemukan berkas yang ditulis ala telegram, jadi tanda titik ditulis ‘titik’ dan tanda koma ditulis ‘kma’ hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s