#SceneOnThree (1) – Astral Astria

Jadi kemarin online FB dan di grup ada yang mosting meme baru, pas gue baca keterangannya, kayaknya asik juga buat diikutin :p selengkapnya ada di sini

Tentang scene tertentu dalam novel yang menarik menurut kita, dan sepertinya terlalu panjang jika dimasukkan ke review. Gue sendiri sering memasukkan scene-scene yang gue suka ke dalam review buku (sebelum tahu bahwa ada meme beginian) 😐

Jadi inilah syarat-syaratnya:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

*

Dan inilah Scene On Three pertama gue 🙂

Judul Buku: Astral Astria (buku 1 dari dwilogi Astral Astria)

Penulis: Fira Basuki

Penerbit: Grasindo

Ada banyak scene dalam buku ini yang terbaca unik dan sebenarnya gue suka. Selalu suka novel semacam ini, yang tetap menyelipkan budaya atau hal-hal berguna di dalamnya, tak peduli sehancur atau seglamour apapun kehidupan si tokoh. Dan Fira Basuki selalu mampu menuliskan ini. Di trilogi Jendela, Pintu, Atapnya-pun banyak selipan deskripsi tentang budaya Jawa, meskipun Bowo si tokoh utama diceritakan kuliah di luar negeri.

Diantara semua scene itu, inilah beberapa yang sudah gue pilah-pilih lagi 😀

1. Hal. 48-49

Tapi, Kasih tentu tidak memikirkan masalah perutnya lagi. Ia tentu memikirkan karier menyanyinya, atau Beno –kekasihnya –bukan? Hidup ini cukup rumit, mengapa harus merumitkan diri?

Buku memang bukan menjadi prioritas kebanyakan orang di Indonesia ini. Selain masalah perut, memang adalah masalah pilihan yang sudah terbentuk. Lihat saja saat akhir pekan di Jakarta, misalnya. Anak-anak, remaja, dan keluarga akan pergi ke mal, bukan ke perpustakaan. Kenapa mesti ke perpustakaan? Bukankah cuma kaum kutu buku yang di sana? Mana gedungnya kuno tak bersahabat? Lagi pula jalan-jalan di perpustakaan mau mengerjakan apa? Melihat-lihat buku dan kemudian akan membawanya pulang?

Marni dan Kasih, temanku, di negeri maju seperti Singpura dan Amerika misalnya, perpustakaan tidak kalah menarik dengan mal. Selain gedungnya kini berwarna-warni, juga disediakan panggung pertunjukan plus ruang menonton film dan mendengarkan musik. Bisa bersantai dan melakukan apa saja. Ada sofa-sofa empuk untuk membaca buku atau sudut-sudut sepi untuk berciuman. Bisa mendengarkan musik terkini atau menonton orang membaca puisi, misalnya. Tidak heran pada akhir pekan, perpustakaan di negeri itu justru berdesakan orang.

*

Alasan suka sama bagian ini: karena memang gue selalu suka kalo ada yang ngebahas bedanya budaya pergaulan negeri kita sama orang luar negeri. Belakangan baca di twitter, katanya sebagian besar remaja di Amerika punya kartu perpustakaan, karena mereka menganggap buku itu penting. Sedangkan anak muda di Indonesia banyakan punya kartu member tempat karokean daripada kartu perpustakaan (?) nah, ini memprihatinkan :)) Padahal buku menyenangkan dan menambah ilmu, ya. Tapi mungkin memang anak muda kita yang kebanyakan gak hobi membaca 😦

2. Hal. 51

Ia mengisap rokoknya dalam-dalam dan mengembuskannya ke wajah pria yang lewat.

“Sekar Suci gila!”

“Pa kabar cowok? Sudah lama nggak ketemu? Kangen gue nggak?”

Sekar Suci mengedipkan sebelah matanya, memamerkan bulu mata lentik dan senyum bibir merekah. Si pria memberikan ciuman “terbang” dengan lambaian tangan, Sekar Suci membalas dengan mengangkat gelas birnya.

Dia pasti bergurau. Gayanya bak selebriti daripada seorang penulis. Apalagi sepertinya setiap orang, terutama pria, mengenalnya, mencium pipinya, dan berhai-hai dengannya. Tentu ia tidak membutuhkan aku di forum diskusi buku besok.

“Hiraukan orang-orang ini, Indah, mereka gila semua. Kelihatannya kamu orang yang baik. Aku tidak pernah melihatmu di mana-mana, dari nongkrong di TIM sampai klub malam.”

Aku tersenyum. Aku ini karyawan, Sekar Suci. Mana mungkin aku memiliki waktu luang? Sebagai wartawan, walaupun majalah, aku memburu berita. Ke sana, ke situ, mewawancarai orang. Di luar itu aku lelah, lebih baik aku pulang untuk beristirahat, membaca buku, atau mengetik novel.

3. Hal. 52 (masih ada hubungannya dengan poin nomer 2)

Sekar Suci mengangkat kakinya bak di warung kopi. Lalu ketika Sandra –si nyonya rumah, istri Fabio –memberinya Jack Daniels, ia menegaknya seperti air putih. Lupa darah tubuhnya sudah dibasahi bir Bintang. Tak lama seorang pria tua berjenggot dan berkumis putih datang. Sekar Suci memeluk, mencium pipi kanan kiri pria gaek itu dan mempersilahkan duduk. Lalu, dengan enteng Sekar Suci duduk di atas pangkuan pria itu. Begitu saja. Aku tercekat, apa iya gaya pengarang seperti itu? Kenapa aku mesti jadi pengarang? Jadi Penulis? Aku tidak mau seperti mereka. Sekar Suci benar, aku mau jadi orang baik saja. Sebaiknya aku pulang saja.

*

Alasan suka sama bagian ini: suka karena kontroversial mungkin, ya :)) poin nomer 2 dan 3 berhubungan, menceritakan Sekar Suci –seorang yang katanya penulis, tapi gayanya seperti sosialita ibukota. Minum-minum, cipika-cipiki dengan banyak lelaki, bahkan duduk di pangkuan seorang pria gaek (yang dalam buku ini, kemudian diketahui sebagai seorang sastrawan senior).

Jujur, part ini mengingatkan gue pada sepenggal adegan film Mereka Bilang, Saya Monyet! yang diadaptasi dari buku Djenar Maesa Ayu. Di sana, dalam sebuah club malam, beberapa orang mengomentari tokoh utama bernama Adjeng yang juga seorang penulis. Mereka menganggap Adjeng bisa eksis dan cerpennya dimuat di koran karena ada hubungan spesial dengan mentornya.

Sepenggal percakapan yang masih gue inget adalah ketika seorang cowok yang duduk bertiga dengan kawan-kawannya melirik ke arah Adjeng yang menghampiri sang mentor. Si cowok berkomentar sinis, “karya siapa dulu? Karya dia, atau mentornya? Jaman sekarang KKN nggak cuma ada di pemerintahan doang. Kalau bisa nyari mentor yang bagus, mau ditidurin, gue juga bisa jadi penulis.” Lalu mereka semua melirik lagi ke arah Adjeng yang sedang bercumbu ria dengan sang mentor. Si lelaki sinis tersenyum lagi, “see?”

Lalu, apakah benar adanya gaya hidup pengarang yang seperti itu? Gue juga nggak tahu. Sebagai penulis amatiran, gue nggak tahu gimana bentuknya gaya hidup penulis kelas atas :p tapi yang gue tahu, pergaulan gue dengan teman-teman lain sesama penulis nggak separah itu. Minimal, kami nongkrong mentoknya di tempat karokean, nyanyi-nyanyi. Bukannya di club malam dengan minum-minum.

Sisanya, jika ada penulis lain yang seperti kisah di atas, ya, mungkin memang sebagian dari realitanya 🙂 Ada banyak hal dalam kehidupan yang kadang tidak disangka-sangka #halagh #bahasaopoikuMput

Advertisements

5 thoughts on “#SceneOnThree (1) – Astral Astria

  1. Semoga beberapa tahun atau beberapa puluh tahun lagi, perpustakaan2 di Indonesia bisa jadi salah satu tempat nongkrong gaul 🙂
    Thanks partisipasinya, jangan lupa masukkan di link tools yg tanggal 23 ini ya

  2. Kenapa mesti ke perpustakaan? Bukankah cuma kaum kutu buku yang di sana? Mana gedungnya kuno tak bersahabat?

    aduhh.. jadi malu baca pertanyaan2 di atas, ahahahaha.. karena selain perpustakaan jaman sekolah dulu, gua juga belum pernah menyambangi perpustakaan umum :p padahal deket rumah temen gua itu ada perpus yang gedungnya baru direnovasi jadi bagus and keren githu (dari luar) ^o^ mungkin sesekali perlu ditengok, hahaha 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s