Paperbook VS Ebook

Belakangan banyak perbincangan tentang pilihan membaca. Setia dengan paperbook aka buku yang nyata secara fisik, atau mulai melirik ebook / buku dalam bentuk digital.

Secara umum, ebook ini semacam revolusi baru yang bisa membuat kegiatan membaca jadi lebih hemat dan mudah. Mungkin manfaat yang paling terasa adalah hemat kertas. Untuk paperbook, butuh banyak kertas yang ujung-ujungnya harus nebang pohon lagi. Nah, sedangkan ebook menawarkan cara digital dalam membaca buku, dimana kita bisa membaca tanpa harus memegang bukunya secara fisik.

Gue sendiri masih nyaman dengan paperbook. Alasannya simpel dan terlalu mainstream, baca ebook bikin sakit mata. Secara kadang bisa baca  buku sekian jam, bandingkan dengan membaca versi ebook di layar laptop/ponsel android, itu menyakitkan untuk mata.

Tapi ada beberapa orang yang senang membacanya di tablet. Ini termasuk inovasi yang cukup bagus. Selain ukuran tablet yang lebih besar dari ponsel dan tampilannya memang nggak seribet laptop, ditambah layar yang memadai untuk membaca, memang kelihatan lebih nyaman pake tablet. Tapi gue masih saja belum ingin beralih. Alasan berikutnya, karena paperbook punya bau yang khas.

Ribet amat lo, beli buku kan untuk dibaca, bukan untuk dicium baunya.

Statement semacam itu akan gue jawab dengan satu kalimat pamungkas, “bagimu prinsipmu, bagiku prinsipku.” Mau gue beli buku cuma buat dirobek-robek setelah dibaca, dikasih buat dimainin anak, itu masalah gue 😀

Dan gue memang suka bau buku baru, bau-bau kertas yang keluar dari percetakan. Gue juga suka ketika buku itu sudah mulai kuno, berdebu, langka, lalu menguning. Gue nggak takut sih kalo halaman buku gue menguning, yang gue takutkan adalah tulisannya tak terbaca lagi. Oke, mungkin ini agak lebay, tapi gue beneran pernah parno kepikiran begitu. Padahal gue sayang-sayang bukunya, gue simpen buat koleksi, tapi kelamaan menguning. Yang gue sesalkan bukan kuningnya, tapi takut  kelamaan tulisannya memudar. #masihajadibahas 😛

Alasan lain gue masih suka paperbook, karena menurut gue paperbook lebih menguntungkan di jalanan umum. Ketika gue berada di tempat umum, lalu bosan, gue akan lebih nyaman membaca buku fisik ketimbang harus buka gadget lagi demi membaca buku.

Misalnya, tempat rawan seperti stasiun atau halte bis. Untuk buka tablet/laptop, gue angkat tangan, deh. Gue cuma berani sebatas ponsel. Untuk yang lain-lain di tempat semacam ini, gue hindari sebisa mungkin. Ketika itulah, paperbook akan menyelamatkan. Memang menurut lo, siapa yang mau ngerampok buku yang lagi dibaca? Nggak ada 😀

Paperbook itu termasuk benda yang setia. Ketika gue membaca sambil tidur, gue lalu ketiduran dan bukunya akan tetap terbuka. Kadang diatas kasur, kadang nutupin muka jelek gue yang lagi tidur. Kenangan-kenangan seperti itu yang kayaknya nggak bisa didapatkan bersama ebook.

Rasanya berbeda.

Begitulah.

Mengenai kindle, atau tablet, atau apalah namanya, yang pokoknya untuk ebook reader itu, gue memang sempet tertarik. Ada beberapa merk tablet yang bikin gue minat beli. Tapi tahu apa yang ada di pikiran gue ketika melihat barangnya? Duh, ini kalo gue main game, puas sampe pagi.

Yak.

Gue malah memprioritaskan tablet yang bisa memberikan gue kepuasan dalam bermain game, bukan untuk membaca buku. Itu kan tandanya otak gue tetep nggak mau move on dari paperbook.

Buat yang takut paperbook akan tergeser ebook, gue bilangin aja, meskipun gue kesannya sok tahu, tapi gue rasa paperbook nggak akan pernah tergeser. Paperbook itu punya tempat sendiri di hati para pecinta buku. Jika nanti ebook semakin marak (bahkan sekarang pun sudah), percayalah paperbook akan tetap eksis dengan sejuta kenangan di dalamnya 😀

Jadi, apa pilihanmu dalam membaca buku?

*

Cuma postingan iseng, menyambar sedikit dari:

http://reviewsbythegeek.wordpress.com/2013/05/30/cetak-atau-digital

Advertisements

10 thoughts on “Paperbook VS Ebook

  1. Love your post! Bener bgt, buku masih bakal laris kok. Walopun penjualan buku printed secara global menurun, kayaknya untuk bilang e-book akan menggantikan printed book masih terlalu exaggerated. Aku sebenernya split 60-40 antara printed dan e-book ini. Untuk masalah budget, e-book masih memimpin 0-1 (emang pertandingan???). Dalam satu-dua hal masalah practicality juga: bisa langsung liat built-in dictionary. Tapi emang bener, untuk dibawa2 outdoor, e-book sangat riskan. Udah gitu kalo batre abis padahal lg di jalan dan ga bawa charger lsg DENG-DONG *insert suara kalo jawaban salah*. Jadi buat q printed juga ga tergantikan.
    Kalo untuk tablet, #ngakak aku waktu baca bagian Duh, ini kalo gue main game, puas sampe pagi. Hahahaha. Aku beli KF krn yakin bgt itu tablet ga bakal jadi alat ngegame, dan krn pengen bs baca banyak koleksi buku fiksi & nonfiksi yg udah didonlot tanpa sakit punggung (baca di laptop sambil duduk itu ga enak bgt, tiduran jg susah). Soalnya emang ga gitu suka game (kok ada ya yg ga suka ngegame? ckckck). Gimme games and books and I’ll choose the latter, always. Nah, beli e-reader/tablet ini tinggal km mo gimana pakenya dan sebesar apa kebutuhan km sih.

    • wah, komennya panjang dan menarik, kakak 😀
      brb makan dulu 😐 *belum makan, jadi bego* :))

      Tapi aku setuju pendapatmu tentang tablet/e-reader itu.
      Tinggal gimana pakenya dan sebesar apa kebutuhan masing-masing konsumennya aja 😀 Ada yang fitur seadanya juga cukup, karena yang dia butuhkan memang itu.
      Ada yang penginnya fitur secanggih mungkin, karena ingin menggenggam dunia (?) hanya dalam satu gadget *baiklah, mulai error* *makan lagi* T.T

      • Eheh. Komen pendek itu sayang aja. Mumpung bs pjg knp ga? Hahaha.
        Udah makan, sekarang udah bobo. Hahaha.
        Ho-oh, pokoknya ngapa2in itu sesuai kebutuhan aja deh. Tapi intinya adalah, ketika beli gadget, jangan krn sok2an mau update tapi ga bs mengoptimalkan fungsi. Q dong pake hape jadul Nokia 3110c aja bs baca cari aplikasi utk file txt (ebook dicopas per bab krn ga bs baca txt panjang2 ) buat baca buku krn ga bs baca PDF di hape itu, apalagi kok EPUB, mobi, dll. Gadget seuzur itu pun bs dimanfaatkan buat baca 30 judul novel berbahasa Inggris dalam 2 minggu (rekor pribadi yg blm terpecahkan). Nah, malu dong kalo pny misal hape oke udah Android tapi pakenya cuman aplikasi itu2 aja. Iya kan? Selain KF, q belom beli hape Android. Ntar2 ajalah. Blm begitu perlu. Eheh.

      • Iya. Sayang. Aku juga ngerasa begitu 😦 makanya sekarang aku berusaha update dengan gadget sendiri *brb nyari game free baru di playstore* :p #WEALAH #TAUNYA :))

  2. sudah kodratnya manusia adalah pemuja benda, paperbook lebih menarik dan bisa membanggakan dan tidak banyak makan quota internet dan juga bisa dipinjem, bisa juga meminjem

    aku punya galaksi tab, tipis, kubeli unutk kugunakan sebagai pembatas buku saja. #horangKayah

    • Paperbook gak ada hubungannya sama manusia sebagai pemuja benda, karena buku bukan sesuatu yang diperebutkan seperti emas batangan atau berlian :)) malah kalo ada yang bawa buku dan yang satu pegang tablet, yang diincar maling duluan malah yang megang tablet :))

      Cuma, ya, beberapa orang terlanjur terbiasa dan jatuh cinta sama paperbook. Bukankah cinta datang karena terbiasa? #AISHH #BAHASANYA :))

      Mengenai galaxy tab yang jadi pembatas buku itu, semoga cicilannya sudah lunas 😐

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s