REVIEW: Seven Days, 7 Hari Mengubah Segalanya

Judul: Seven Days (Tujuh Hari Bersamamu)

Penulis: Rhein Fathia

Penerbit: Qanita Mizan

Tahun Terbit: Februari 2013 (Cetakan I)

Harga: Rp. 45.000

Jumlah halaman: 296 hal.

ISBN: 978-602-9225-72-3

*

Blurb:

Nilam’s Diary

Day 1 : Selamat pagi, Pantai Kuta. Selamat pagi, Shen.

Day 2: Ah, kamu membawaku ke Pasar Seni Sukowati, tempat favoritku.

Day 3: Sendratari Ramayana ini membuatku bertanya-tanya, apa aku sudah bertindak tidak setia?

Day 4: “Aku juga punya rasa takut. Aku takut kamu terluka!”

Day 5: Seminyak, kamu, kejutan, dan pantai di malam ini.

Day 6: Pantai Padang-Padang ini menjadi saksi kamu mengacaukan semuanya…

Day 7: Bandara Ngurah Rai. Kami, sepasang sahabat sejak kecil, yang kini bersikap seperti orang asing…

*

Review:

Ini novel kedua Tante Rhein yang gue baca. Sebelumnya pernah baca Coupl(ov)e versi draf lama, waktu masih berbentuk PDF dan belum dicetak Bentang seperti sekarang. Sedang versi barunya sendiri belum baca sama sekali, kabarnya ada banyak yang dirombak 😀

Back to Seven Days. Novel peraih juara 1 lomba menulis Qanita Romance-nya Mizan ini gue baca di perjalanan menuju Jakarta. Beberapa bulan lalu, sih. Tapi baru bisa review sekarang. Selain males nulis review (ketahuan), gue kadang kehabisan kata dan nggak tahu harus menulis apa ketika akan mereview sebuah novel bagus.

Seven Days ibarat kotak pandora. Gue menemukan banyak hal di dalamnya. Mulai dari cerita cinta, sampai beberapa hal yang bisa dibilang seperti travelling notes jika kalian ingin ke Bali. Buku ini juga seperti buku panduan perjalanan. Ibaratnya si tokoh utama itu benar-benar nyata dan sedang travelling, lalu dia bercerita pada kalian tentang Bali, tentang seninya (gue paling suka bagian Sendratari Ramayana, diceritakan cukup lengkap) dan bagaimana kiat-kiat menawar barang di sana. Itulah Rhein Fathia, dia mampu mengemas sebuah cerita fiksi menjadi sebuah paket hemat (apaan ini istilahnya :p) yang ketika dibaca akan memberikan banyak hal lain bagi si pembaca.

Kisah berawal dari Nilam, seorang cewek yang bersahabat dengan lelaki bernama Shen. Mereka bersahabat sejak kecil karena kedua orangtuanya juga bersahabat. Dua manusia beda jenis kelamin ini sering melakukan banyak hal bersama. Hingga kemudian mereka dewasa dan mengenal cinta. Nilam lalu berganti-ganti pacar, sampai pada akhirnya ia berencana akan menikah dengan seorang lelaki bernama Reza.

Sebelum pernikahannya, Shen mengajak Nilam travelling ke Bali berdua saja. Reza yang selama ini mengenal Shen sebagai sahabat baik Nilam tentu dengan senang hati mengizinkan. Terlebih ia juga sibuk dengan pekerjaan sendiri. Nilam awalnya menganggap itu hanya travelling biasa. Namun Shen mengatur beberapa hal agar momen-momen terakhirnya bersama Nilam dapat lebih berharga. Ya elah, momen terakhir. Maaf, maksud gue momen sebelum Nilam melepas masa lajangnya. Di novel ini nggak ada adegan mati-mati segala, kok. Hehe :p

Tanpa Nilam sadari, ternyata tujuh hari bersama Shen di Bali mengubah segalanya. Ia menyadari banyak hal yang tidak ia sadari selama ini. Bahwa ternyata ia menyukai Shen, bahwa ternyata Shen-pun menyukainya (dan ini baru ketahuan pada akhirnya, padahal gue udah menebaknya sedari awal, tapi Nilamnya tahu belakangan), dan kenyataan bahwa ia sudah bertindak tak setia.

Poin pertama yang mau gue sampaikan adalah, kasian Rezanya. Ya, kasian. Biasanya di novel-novel kan si cewek beralih pada sahabatnya setelah berulang-ulang menjalin cinta dengan cowok brengsek tukang mainin cewek. Lah kalo yang ini, malah Rezanya baik dan sabar. Bahkan ia merekalan Nilam bersama Shen, demi melihat Nilam bahagia. KURANG BAIK APA? *mewek* *pukpuk*

Pengemasan ceritanya oke (yah iyalah, kalo nggak, nggak mungkin juga bisa jadi the first winner lomba nulis). Kalau soal novel, gue akui, Tante Rhein sudah jago dan tidak banyak yang perlu dikomentari. Apalagi komentar tentang typo atau kejanggalan alur yang selama ini suka gue lakukan ketika menulis review. Lah kalo yang ini, penulisnya aja lebih jago dari gue :)) Terus kudu piye? :))

Tante Rhein ini termasuk salah satu novelis yang tulisannya cocok dengan selera baca gue. Gue suka novel-novelnya dan ini murni pendapat gue sebagai pembaca, bukan gue yang sebagai ponakan (jadi-jadian)nya, bukan gue yang sebagai murid menulisnya, bukan gue yang sebagai teman sekomunitas dan temen sepergilaannya. Murni sebagai pembaca. Walau gue nggak kenal dia sekalipun, tapi dengan kualitas tulisan yang seperti ini, gue tetap akan memberinya acungan jempol.

Well, overall, Seven Days  cocok dibaca sebagai teman minum kopi. Dan kalo lo lagi bingung tentang sahabat lo yang roman-romannya akan berubah jadi cinta, novel ini recomended! Hahaha. Siapa tahu abis itu bener-bener kejadian lagunya Zigas, Sahabat Jadi Cintaaaa~ :))

Empat bintang untuk Seven Days.

Seringkali kita dibuat bimbang oleh pertanyaan, siapa yang kita cintai sebenarnya? Sosok yang selalu hadir menemani atau yang sejatinya dipilih oleh hati? Bagiku, keduanya tetap cinta. Cinta tidak pernah memaksa kita untuk memilih, hiduplah yang mengharuskan untuk memilih.

Termasuk memilih, kita ingin hidup dengan siapa.

— Nilam (epilog)

*

Untuk Tante Rhein: saya masih minat bimbingan nulis novel loh. Suatu hari pengin kayak tante juga, yang novelnya dicetak banyak judul sekaligus dalam tahun yang sama. :)) #dikeplak

Advertisements

3 thoughts on “REVIEW: Seven Days, 7 Hari Mengubah Segalanya

  1. Pingback: Hidup Seimbang dan Bahagia ala Rhein Fathia: Menekuni Hobi Menulis, Traveling, Hingga Survive Kuliah Creative Writing Di Australia – Bukunya Mput

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s