Review: Saatirah – Bukan Perempuan Biasa

Judul: Saatirah

Penulis: Niknik M. Kuntarto

Penerbit: Grasindo

Tahun Terbit: 2010 (Cetakan Pertama)

Harga: Rp. 38.000

Jumlah halaman: 190 hal.

ISBN: 9789790812475

*

Kuingin berucap…

Bila bening itu bagian dari telaga,

kaulah telaga itu.

Bila indah itu tarian pohon pinus sehutan,

kau adalah hutan itu.

Bila sejuk itu adalah air perigi,

kaulah sumber air itu.

Namun, bila saat ini dewi cinta lain mengunjungi hatiku

Percayalah cintaku yang utama hanya untukmu…

Novel ini bercerita tentang seorang perempuan bernama Saatirah, yang suatu malam menemukan puisi ‘aneh’ di ponsel suaminya setelah sekian tahun sang suami tidak lagi menuliskan puisi. Baris yang berbunyi namun, bila saat ini dewi cinta yang lain mengunjungi hatiku berhasil membuatnya merenung berkali-kali, juga menyiapkan mental jika sewaktu-waktu kalimat tidak diinginkan itu muncul dari mulut suaminya.

Ternyata benar, tak lama kemudian si suami meminta izin pada Saatirah agar ia boleh memiliki kekasih; dengan alasan untuk meningkatkan semangat kerja. Katanya ia jatuh hati pada seorang sekretarisnya bernama Shintia. Dalam scene ini gue cuma mikir, beraninya lelaki ini minta izin begitu sama istrinya. Dan mungkin juga karena watak istrinya yang lembut, baik hati dan selalu nrimo aja semua kemauan dia. Si suami jadi ngelunjak dan minta agar ia diizinkan memiliki kekasih lain (yang katanya hanya sebatas untuk makan siang dan pulang kerja bareng aja, padahal kelamaan malah jadi bobo bareng. Dasar niatnya udah jelek!).

Sebenernya sih, kalau gue yang jadi istrinya, laki kayak itu udah gue sepak dari rumah, terus besoknya gue ceraikan. Ini serius. Laki macam apa yang minta izin punya pacar lagi ke istrinya? Mungkin, ya, memang lelaki itu diciptakan sebagai makhluk yang nggak pernah bisa puas dengan satu wanita, apalagi ditambahkan kenyataan bahwasanya populasi cewek:cowok = 7:3 -_- makin adalah alasan mereka untuk mendua, mentiga, empat, dan seterusnya. Sekali lagi, kalau gue jadi bininya, gue sunat dua kali tuh laki. Karena gue orangnya memang anti selingkuh, anti kebohongan dan anti diduakan, ditigakan, diempatkan, dan seterusnya. *maaf, terbawa suasana 😐

Back to topic.

Jadi singkatnya, si istrinya yang terlalu baik ini akhirnya mengizinkan. Dan sialnya dia, sekretaris suaminya yang bernama Shintia itu ternyata bukan gadis biasa. Shintia itu dari awalnya memang berniat jahat dan mau memeras harta mereka. Jadilah suaminya dipelet dan semakin lama semakin tunduk sama kemauan Shintia. Hingga si suami kerap kali pulang telat bahkan nggak pulang ke rumah dan mulai berani mukul istrinya *tuhkan, bener kata gue. Mending dari awal dicerai aja biar tahu rasa :))*

Singkatnya lagi, si istri yang bernama Saatirah ini punya keponakan bernama Anyelir yang seorang paranormal. Anyelir punya guru besar yang biasa dipanggilnya Mamak. Jika Mamak datang, maka jiwa Anyelir akan ditidurkan sejenak, sedangkan raganya dipinjam Mamak untuk bercakap-cakap dengan pasien-pasien Anyelir. Awalnya Saatirah tidak pernah percaya dengan magic atau hal-hal gaib lainnya. Tapi setelah kelamaan sikap suaminya semakin aneh, ia datang pada Anyelir dan meminta pertolongan Mamak.

“Iya Tante, si perempuan itu peletnya kuat.” Begitu komentar Anyelir suatu hari.

Banyak cara ia tempuh, mulai dari doa-doa yang diperintahkan Mamak untuk dibaca sehabis shalat, hingga akhirnya memakai susuk agar suaminya kembali ke pelukannya. Jujur, novel ini penuh dengan kisah-kisah magic. Gue nggak bisa memastikan ini black magic atau magic yang seperti apa. Karena satu hal yang sempat membuat gue bingung adalah, apa iya ada magic yang menggunakan ayat-ayar Quran sebagai bacaan? Apalagi dibacanya sehabis shalat kan? Tapi kemudian gue menemukan jawaban plus penjelasannya di akhir-akhir cerita.

Setelah perjalanan yang berliku, akhirnya Saatirah bercerai dengan suaminya. Ia hidup di rumah lain bersama anak-anaknya, sedangkan suaminya menikah lagi dengan Shintia. Pernikahan yang memang tidak pernah ‘waras’ dari awalnya, karena Shintia memang matre dan cuma mau harta aja. Saat suatu malam si suami mendadak kecelakaan dan harus diamputasi aka terlanjur cacat, Shintia langsung datang dan memutuskan meminta cerai. Seperti kata orang banyak, waktu kita sedang susah langsung kelihatan siapa yang tulus dan siapa yang cuma cari muka.

Hikmah dari novel ini adalah, orang yang selingkuh atau bersekutu dengan setan akan selalu kualat pada waktunya. Akan selalu kualat! :)) Mungkin sekarang lo bisa seneng dan mempermainkan orang lain, tapi bukan nggak mungkin nantinya kemakan sama kelakuan sendiri. Jadi baiknya sih, ya, ndak dilakuin. Udah tahu satu cewek pasangannya sama satu cowok, eh malah mau ditambah-tambah. Serakah, sih -___-“

Sekian review ndak jelas beserta spoiler ini, sisanya silahkan baca sendiri di bukunya. Just info, yang gue baca ini adalah terbitan pertama kali yang di tahun 2010. Sedangkan bulan April lalu, novel ini baru aja terbit dengan cover baru serta sedikit pembaharuan judul. Dulunya cuma “Saatirah”, sekarang diganti jadi “Di balik Kerlingan Saatirah”. Masih banyak stoknya di Gramedia terdekat.

Walaupun gue akui, bahasanya agak baku, tapi novel ini juga memberi banyak hikmah dan pengetahuan baru yang sebelumnya gue nggak tahu (termasuk tentang magic-magic tadi itu, sih).

Silahkan baca sendiri 😀 *elus dada yang sebel dan kebawa suasana sehabis baca novel ini* -___-“

Advertisements

2 thoughts on “Review: Saatirah – Bukan Perempuan Biasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s