Review: Raksasa Dari Jogja – Dwitasari

Judul : Raksasa Dari Jogja
Penulis : Dwitasari
Penerbit : Plot Point Publishing (PT Bentang Pustaka)

Tanggal terbit : Nopember 2012 (Cetakan Kedua)
Jumlah halaman : 270 halaman
Harga: Rp. 47.000
ISBN : 978-602-9481-23-5
*

Jadi begini, sebenernya nggak begitu tertarik sama buku satu ini. Tapi karena tiga alasan (yang nanti akan gue sebutkan di akhir postingan), gue memutuskan membeli, membaca dan membuktikan sendiri omongan-omongan orang tentang buku ini πŸ™‚

Warning! Review ini akan penuh spoiler, dan mungkin bukan jenis review yang bagus. Namun memang akan jadi review yang super jujur dari gue. Anggep posisi gue murni pembaca, bukan sesama penulis. Gue membacanya ya dari sisi pembaca kan, bukan dari sisi penulis/kritikus buku. Bukan, bukan sama sekali. Gue sebenernya bego analisa kok πŸ˜› Tapi inilah yang gue temui sepanjang membaca Raksasa dari Jogja.

Spoiler jalan cerita:

Cerita ini mengisahkan tentang seorang cewek Jakarta bernama Bianca Dominique, seorang anak dari keluarga yang cukup berantakan. Ayahnya suka KDRT dan mukulin ibunya. Bian punya sahabat senasib, namanya Letisha. Mereka berdua juga temenan sama seorang cowok bernama Joshua.

Suatu hari si Letisha ngaku bahwa dia naksir sama Joshua, yang tidak lain adalah cinta pertama Bian. Bianca sendiri terus menyimpan cintanya pada Joshua selama bertahun-tahun, tanpa ada seorang pun yang mengetahui termasuk ya si Letisha sendiri. Jadi Letisha menganggap Bian nggak ada rasa apa-apa sama Joshua, karena memang nggak tahu.

Setelah patah hati gara-gara si Joshua akhirnya memilih pacaran sama Letisha, Bianca yang kebetulan sudah diterima di sebuah kampus swasta di Jogja, mulai siap-siap pindahan; berharap di sana mendapatkan hidup baru. Di Jogja ia tinggal bersama Budenya dan seorang sepupu laki-laki yang katanya udah-deket-banget-kayak-abang-adek-sendiri, namanya Kevin.

Awal-awalnya Kevin sama Bian deket, karena udah bertahun-tahun nggak ketemu. Tapi nggak lama kemudian Kevin mulai sibuk sama pacarnya –yang sama sekali nggak ada keterangan nama, ciri-ciri atau wujudnya. Di dalam cerita ini, Bianca dan Bude sendiri nggak pernah kenal siapa pacarnya Kevin. Gue sebagai pembaca juga nggak kenal, karena sepanjang novel nggak disebut sama sekali siapa namanya. Misterius sekali beliau itu. 😐

Dan di sisi lain, Bian kenalan sama seorang cowok jangkung bernama Gabriel. Pertemuan pertama mereka adalah akibat ketidaksengajaannya Gabriel menabrak Bian saat berdesak-desakan naik TransJogja. Ternyata oh ternyata, si Gabriel ini kakak tingkatnya Bian di kampus dan termasuk panitia Live in; sejenis kegiatan orientasi mahasiswa baru kali ya kalo di sana (soalnya di sekolah gue juga pernah ada Live In, kegiatannya sama, tapi prioritasnya bukan untuk perkenalan murid baru, jadi agak beda dikit). #curhat

Waktu Live In itulah Bian mulai deket sama Gabriel. Mereka semakin lama semakin deket, sampai ketahuan sama Kevin. Dari awal aja Kevin jelas banget kelihatan kurang sreg sama cowok jangkung ini. Sampai di sebuah kesalapahaman, Kevin nuduh Gabriel main PSK di Pasar Kembang (tempat prostitusi di Jogja). Padahal Gabriel ke sana untuk membujuk salah satu anak panti pulang.

Yap, Gabriel ini pekerja sosial di panti asuhan. Di cerita ini ia benar-benar digambarkan sebagai malaikat pembawa kabar baik yang tanpa cela, sesuai namanya. Dia juga digambarkan sebagai mahasiswa dengan IP sempurna, dan jadi obrolan banyak cewek. Mungkin sedikit terlupakan, bahwa tokoh satu ini juga manusia yang seharusnya punya kekurangan barang sedikiittt. *ditendang* *maap, bawel*

Terus setelah kesalapahaman Kevin – Gabriel selesai, Bian kembali puyeng karena Mamanya menelpon dengan keadaan memprihatinkan. Dia memutuskan pulang ke Jakarta untuk ngurusin Mamanya. Kasus berakhir dengan keputusan perceraian. Mamanya menuntut cerai Papanya setelah luka-lebam-dimana-mana-plus-diceramahin-anaknya-yang-sudah-lama-geram-sama-papanya. Ditambah lagi karena papanya diketahui selingkuh sama cewek bernama Tiara *hei, itu nama adek gue -___-* *keplak*

Nah, selesai kasus KDRT Mama-Papa Bianca. Sekarang masalahnya balik lagi ke Letisha. Di sini Bian masih geram sama kasus Letisha dan Joshua. Ia masih menganggap Letisha pengkhianat, wanita jalang, dan apalah itu (yang menurut gue terlalu kasar penulisannya). Tapi pada akhirnya dengan mudah ia mempertemukan Letisha dan Joshua sampe mereka berdua baikan dan sender-senderan bahu lagi.

Endingnya adalah, Bianca duduk di angkringan sama Gabriel dan akhirnya membunuh gengsinya untuk mengakui bahwa dia memang punya rasa sama Gabriel.

Itulah singkatnya. Mau yang PANJANGNYA? Mari kita bahas! :)) Are you ready, kids?! *disemprot ubur-ubur*

Review (abal-abal) dari gue:

Biar gampang, gue akan menguraikannya dalam bentuk poin aja πŸ™‚

1. Di bagian prolog gue terbuai dengan buku Biola Tak Berdawai nyang disana katanya adalah buku favoritnya Bianca. Sama seperti salah satu review user Goodreads yang tempo hari gue baca, gue akui, gue jadi tertarik sama buku itu. Dikit. πŸ˜›

Lalu kita disuguhkan pada pergumulan hati Bianca yang sama sekali nggak percaya cinta karena selama ini hidup dalam keluarga yang berantakan, terbukti dari paragraf berikut.

Setiap manusia butuh cinta? Butuh jatuh cinta? Lalu, apa salahnya jika tak jatuh cinta? Bukankah jatuh cinta itu sakit? Manusia akan mati? Menjadi perawan atau perjaka tua?Tak berkeluarga? Tak dapat bersenggama? Menjadi ateis? Menyiksa dirinya sendiri? Bunuh diri? Frustasi? Gila? CUKUP! Pertanyaan tolol!

Ia tak percaya cinta. Sungguh! (hal. 4)

Baiklah, sebenernya gue mau jawab semua tanda tanya di atas. Tapi sebelumnya gue cuma mau bilang sama Bian, gue nggak pernah nemu gadis sefrustasi elo dalam hal nggak percaya cinta ._. baik di dunia nyata ataupun fiksi yang gue baca. Mungkin, gue kurang gaul. *dirajam*

Iya, iya! Serius! Lanjuutt!

2. Nah, kemudian yang gue baca adalah tentang scene Letisha mengaku sama Bian kalo dia naksir Joshua. Itulah intinya. Terus Bian langsung ketus, padahal Letisha nyantai aja. Karena dia memang nggak tahu Bian ini juga naksir Joshua.

Dalam terkaannya, Letisha mencintai Joshua, cinta pertama Bianca.

Benarkah terkaan dan persepsi itu?

Sejahat itukah Letisha? Siapa yang harus disalahkan? Toh, Letisha juga tak mengetahui perasaan Bianca.

Kalau dia benar-benar sahabat yang senang menusuk dari belakang, berarti wanita bernama Letisha itu benar-benar jahat! (Di sini gue bingung, kenapa si Letisha malah disalahin, kan ceritanya dia sendiri nggak tahu kalo Bian juga naksir Joshua? Terbukti dari kalimat diatas sebelum ini. Dan sialnya si Letisha, malah langsung kena tuduh sebagai wanita jahat *pukpuk*)

Letisha benar-benar membunuh perasaan Bianca.(hal. 29)

BONUS! (HAL. 46)

β€œLetisha Ananda is in a relationship with Joshua Prasetia Hutomo.”

Darahnya mendidih, naik dengan kecepatan maksimal menuju otaknya. Rasanya ia ingin mengumpat. Membanting laptopnya dan menginjak-nginjak foto berbingkai yang tertempel di dinding, fotonya saat bersama Letisha.

Serem sekali marahnya…. *plak!*

3. Poin berikutnya, singkat saja. Ada kalimat yang agak janggal di mata gue. Halaman 92 bagian atas.

Pasar terlihat ramai. Pengunjung pasar beragam-ragam. Tua hingga muda. Dari yang ber-handphone CDMA sampai yang berponsel GSM.

Maaf. Tapi propider CDMA/GSM kayaknya nggak usah dibawa-bawa, mbak ._. itu terlalu jauh.

4. Di nomer ini gue bakal bahas typo. Ada memang beberapa typo kecil, tapi itu masih manusiawi. Gue juga sering typo kalo nulis draf. Tapi ini typo-nya agak fatal ya, mbak Bian 😐

Di halaman 101 bagian bawah, disebutkan nama Universitasnya adalah Universitas Wiyata Yudhistira.

Lalu di halaman 107 bagian atas, kenapa namanya malah jadi Universitas Wiyata Mandala? Hanya Tuhan dan Bian yang tahu.

5. Lalu setelah nama kampusnya typo itu, gue mulai lancar membaca buku RDJ ini hingga beberapa puluh halaman. Walaupun ada kalimat/kata/apapun yang sedikit kurang tepat nyempil-nyempil, tapi gue nggak begitu ambil pusing. Draf gue sendiri juga kadang gitu. Jadi kita abaikan dulu. Hahaha πŸ˜›

Next!

Kita pindah ke halaman 239. Di bagian ini masih terlihat kekesalan Bianca terhadap Letisha. Bukannya gue belain Letisha, cuma kasihan aja. Awalnya nggak tahu duduk perkaranya, setelah tahu, eh nyata-nyata udah dicap aneh-aneh ._. #PrayForLetisha

β€œBian..” wanita itu duduk di samping Bianca. Ia menggenggam tangan Bianca dengan erat.

Oh. Si wanita jalang.

… (dilangkahi beberapa kalimat ya)

β€œPlease, dengerin gue, gue sadar kalau gue…”

β€œSadar kalau elo terlalu jalang buat temenan sama gue?”

Halaman 241 (bagian atas)

β€œLebih enggak enak lagi disakitin sama sahabat sendiri. Wanita jalang enggak punya otak!”

Kali ini gue yang mau teriak. CUKUP! .__. Untuk sebuah persahabatan, kayaknya ini marahnya udah lebay. Agak nggak logis aja sih menurut gue. Coba posisikan diri lo sebagai Bianca, sebusuk-busuknya sahabat lo, dia adalah orang yang menghabiskan hari-hari bersama lo, tempat lo bersandar dan menangis. Sahabat loh ya, bukan temen biasa. Lalu ketika kalian naksir cowok yang sama (tapi posisinya dia nggak tahu apa-apa), dan cowok itu lebih milih dia; apa pantes lo nyebut dia wanita jalang enggak punya otak?

… kecuali sih elo yang kagak pernah disekolahin.

Pertanyaan terbesar gue, kenapa penulisnya bisa meluapkan amarah yang sesadis ini dalam sebuah fiksi? ._. curcol jangan-jangan. *mulai sok tahu :))

…Yang lalu setelah kemarahan meluap-luap tadi, di bab-bab akhir Bian malah mempertemukan Letisha sama Joshua dan ngebiarin mereka deket lagi dengan ikhlas hati. Nah, ini janggal kan jadinya? Di awal dia terlihat begitu berapi-api, marah yang semarah-marahnya. Tapi di akhir dia ikhlasnya gampang banget. Ini jaraknya terlalu jauh πŸ™‚ terlalu aneh kesannya.

Kayaknya itu aja yang janggal di mata gue. Kalo boleh jujur, ide ceritanya memang sederhana. Jujur, gue nggak tahu tulisan Dwitasari ini sebenernya gimana. Karena salah satu temen gue yang pengikut blog dan twitnya pernah bilang, novel ini jauh sekali dari tulisan-tulisan di blognya. Dari blog itu, banyak anak-anak yang berekspektasi novelnya bakal wow sekali, tapi mereka mengaku kecewa.

Gue nggak tahu mana yang bener. Gue bukan followersnya Dwitasari, pun bukan hatersnya. Jadi biar adil, gue memutuskan membaca langsung buku ini.

Oh ya, 3 alasan kenapa gue beli buku ini adalah:

1. Jujur, karena skandal penulisnya. Yang katanya dia begini dan begitu. Sisanya silahkan googling.

2. Karena ada Jogjanya. Gue akui dia memang banyak membahas kota Jogja dan gue suka itu. Gue suka Jogja πŸ™‚ ketularan @misterkur -_-

Tapi gue cukup suka lokasi-lokasi kota Jogja yang dia bahas di novel ini. Terlebih karena dia membahas Sendratari Ramayana juga sih. :))

3. Karena alasan yang udah gue ceritakan tadi. Pembaca berharap novelnya bakal wow, tapi ekspektasinya nggak kesampaian. Mereka bilang tulisan blognya memang bagus-bagus. Apalagi TL twitternya. Tapi rating novel ini di Goodreads tidak terlalu memuaskan. Itulah yang ingin gue buktikan sendiri. Makanya gue beli πŸ™‚

Sisanya, ya selamat berkarya lagi, Mbak πŸ™‚ Siapapun kamu sebenarnya. Dwitasari, Bian Dominique, atau bahkan siapapun :)) saya ndak tahu juga.

Kalo banyak orang suka bagian yang,

Tidak semua rasa sakit berarti pengkhianatan.” Bianca tertegun.Ucapan Gabriel seperti tamparan yang menyadarkannya dari tidur panjang.”Apa gunanya rasa sakit dalam mencintai?” Gabriel menatap mata Bianca mantap. Mata itu mencairkan hati Bianca yang telah lama beku.”Untuk tahu arti bahagia yang sebenarnya.Bahagia ada karena kita tahu rasa sakit.”

Gue malah suka yang bagian endingnya!

Adakah yang lebih indah dari menatap rintik hujan di Jogjakarta bersama seseorang yang selalu ada dalam tangis dan tawamu?

Well, nanti gue buktikan sendiri deh indahnya πŸ˜› *tarik ayang ke Jogja* :))

Sekian review abal-abal gue πŸ™‚ Cuma mau menumpahkan isi hati sehabis baca Raksasa Dari Jogja, tanpa maksud apapun. Kesalahan kata, typo, dan lainnya harap dimaafkan.

Salam Olahraga!

Advertisements

5 thoughts on “Review: Raksasa Dari Jogja – Dwitasari

  1. Pingback: Book Kaleidoscope 2013 – Top Five of Your Own Criteria | Petronela Putri (books)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s