REVIEW: PARANOID – Vasca Vannisa

Judul: PARANOID (Ketakutan yang Menghantui)

Penulis: Vasca Vannisa

Penerbit: Fatamorgana Publisher

Tahun Terbit: Juli 2011 (Cetakan I)

Harga: Rp. 35.000

Jumlah halaman: 183 hal.

ISBN: 978-602-97292-3-8

*

Blurb:

Pernahkah kau berada di satu tempat tak dikenal, tapi seolah akrab dalam ingatan?

Lalu tiba-tiba rasa berslah menyesakkan dadamu.

Pernahkah ketika bersama kekasihmu, kau merasa ada yang hilang?

Tapi nyatanya dia ada di sana, mendekapmu penuh cinta…

Lalu apa yang hilang itu?… Tak kau sadari air mata mengalir dari sudut matamu.

Diawali oleh perjalanan darat melewati jalan lintas utama Sumatera, yang ditempuh Gebi bersama tunangannya Aldi. Sesampai di Pom Bensin nan sunyi mobil mereka berhenti. Namun Aldi yang menuju toilet, tak kunjung kembali. Gebi yang panik melapor ke pos polisi setempat. Namun anehnya petugas pengisi bensin mengaku tak pernah melihat sosok Aldi, dia mengaku melihat Gebi hanya mengemudi sendirian.

Peristiwa mencekam dimulai, jalan raya yang berkabut, kota-kota misterius, pasar malam mimpi buruk, berikut orang-orang yang tampak mencurigakan.

Gebi didera rasa paranoid. Tiap potongan puzzle pelan-pelan menyeretnya pada satu jawaban akhir.

*

Review:

Saya membaca buku ini di latar yang sama dengan latar bukunya, jalan lintas utama Sumatera. Waktu itu, dua tahun lalu, saya kebetulan sedang dalam perjalanan bolak-balik Jawa – Sumatera dan sekali waktu kehabisan tiket pesawat promo, lalu akhirnya memilih naik bis demi keamanan kantong :p

Sebenarnya tidak butuh waktu lama untuk melahap sebuah novel setebal 183 halaman, namun saya memilih membacanya perlahan guna menikmati alur cerita. Ya, saran saya, cukup alur dan inti ceritanya saja. Karena di buku cetakan pertama edisi Juli 2011 ini terdapat cukup banyak typo dan tanda baca yang berserakan penulisannya.

Ada banyak fiksi yang terkandung di dalam novel horror psikologi karangan Kak Vasca yang satu ini. Malah terlalu fiksi. Seperti nama “Kota Penyesalan” atau “Wisma Patah Hati”. Awalnya saya merasa ini agak janggal. Mana ada nama tempat seperti itu di wilayah lintas Sumatera. Tapi semakin jauh kebelakang, ternyata itu semua ada hubungannya dengan inti cerita dan perjalanan pikiran tokoh utamanya (Gebi). Kota Penyesalanlah yang kemudian menarik Gebi masuk kembali ke masa lalu yang buruk, masa lalu yang mencekamnya dan seakan menolak untuk dilupakan.

Kisahnya berawal dari pom bensin, ketika mobil Aldi berhenti dan lelaki itu pamit sebentar untuk ke toilet. Gebi menunggu sekian lama, namun lelakinya tak kunjung kembali. Hingga akhirnya, di tengah jalanan yang berkabut, matanya menangkap iring-iringan van yang menyekap Aldi, membawanya pergi. Gebi panik, apalagi mereka akan menikah dalam waktu dekat. Gadis itu lalu melaporkan kejadian tersebut ke pos polisi, namun tak ada seorang pun yang mempercayainya. Semua orang yang ia temui menuduhnya berbohong. Pikiran Gebi dilanda paranoid, ketakutan dan teror bermunculan dari dalam pikirannya sendiri, membawanya pada sisa-sisa kenangan lama yang seharusnya sudah ia lupakan.

Selanjutnya bisa kalian baca sendiri hingga ending :p

Jujur, novel ini adalah salah satu novel yang paling saya sukai sekaligus novel yang membuat saya langsung nge-fans sama Kak Vasca. Ini mungkin kebaca agak lebay, tapi Vasca Vannisa itu orang pertama yang saya temukan tulisannya ‘sejiwa’ dengan selera baca saya. Bahkan selera menulis saya, karena sebenernya saya bermula dari menulis cerita thriller *baiklah, lupakan curcol ini*

Saya suka semuanya; cover, inti cerita, penyajian, kecuali penataan bahasanya yang agak berantakan. Banyak typo bertebaran, banyak tanda baca yang salah tulis dan salah letak. Misalnya seperti yang ini,

“Kak, sebaiknya Kakak pergi sebelum malam dari tempat ini, di sini berbahaya buat cewek secantik Kakak”. Lelaki muda itu mengakhiri ucapannya dengan tersenyum. (hal. 7)

(Bukankah seharusnya titik dulu, baru tanda petik untuk menutup kalimat?)

atau seperti yang ini,

“Apa yang janggal? Anak kecil di toilet itu kan?”” Keantusiasan membuat suara Gebi berbuku-buku, seperti ada gumpalan kertas dalam mulutnya. (hal. 13)

(Typo sedikit, tanda petik penutup kalimatnya ada dua.)

            Dan ada juga kalimat yang memang ditutup dengan tanda petik, namun tidak menggunakan titik sama sekali, padahal sedang tidak diakhiri tanda tanya. Semacam itulah typo yang saya temukan di buku cetakan I ini. Tiga jenis typo ini jumlahnya cukup banyak terulang halaman demi halaman, hingga akhir cerita. Tadinya saya mengira buku ini tidak diedit sama sekali, tapi ternyata di halaman depan ada nama editornya. Sebenernya sangat disayangkan karena begitu banyak kesalahan tulis di novelnya, disayangkan karena nyatanya naskah yang sudah lewat dari tangan editorpun, tetep berpeluang memiliki banyak typo.

Tiga bintang untuk novel ini.

Untuk Gebi, untuk Kak Vasca, dan untuk inti ceritanya yang menarik. Sebenernya mau ngasih empat bintang, tapi ternyata banyak typo telah meruntuhkan niat memberi rate keempat. Hehe. :p

Advertisements

7 thoughts on “REVIEW: PARANOID – Vasca Vannisa

  1. Pingback: REVIEW: Psycopat Diary – Vasca Vannisa | Petronela Putri (books)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s