Review: (Kumpulan Puisi) Pinangan Orang Ladang

Judul: Pinangan Orang Ladang

Penulis: Esha Tegar Putra

Penerbit: Framepublishing

Tahun Terbit: 2009 (Cetakan I)

Harga: Rp. 25.000 (dibeli tahun 2013, harga aslinya kurang tahu)

Jumlah halaman: 123 hal.

ISBN: 978-979-16848-2-8

Kalo boleh jujur, gue bukan termasuk orang yang suka membeli dan membaca (apalagi nulis review) buku kumpulan puisi. Jadi, kalau ada buku kumpulan puisi yang gue tuliskan reviewnya di blog, ya itu tandanya bukunya benar-benar bagus atau berkesan buat gue. Seperti kumpulan puisi yang satu ini. Berjudul Pinangan Orang Ladang, ditulis oleh Esha Tegar, seorang lelaki yang pernah menempuh jurusan Sastra Indonesia di Unand, Padang. Termasuk juga salah satu penulis sajak yang gue idolakan. (Diantara tidak adanya idola yang lain kecuali tante dqueen, si penulis buku KPBU dan alm. Soe Hok Gie).

Mengapa tidak ada idola lain? Back to topic, gue nggak begitu suka baca puisi. Tapi hanya mereka bertiga yang mampu membuat gue memandang puisi dengan cara berbeda. Membuat puisi yang gue baca itu terasa lebih hidup, terasa lebih ngena. Bukan sekedar puisi-puisi galau yang marak bertebaran di mana-mana dan hanya memamerkan kesedihan semata. Maaf, ndak bermaksud menyinggung siapapun πŸ˜›

Berikut salah satu dan salah dua spoilernya, puisi yang paling gue suka di dalam buku ini.

Ombak Puruih

ingatlah ketakutanku yang berisyarat di gelegar ombak puruih

cinta yang semakin ngilu bergelantungan

di genting tali rebab

juga gunung padang, oh, bersitataplah dengan cuaca malam

antara bangunan-bangunan lampau, rindu kasih terbengkalai

pantai yang semakin asin dikarna gumam perempuan seberang

bukankah kenangan itu telah berlepasan di musim silam?

mengenai pertemuan, luput juga kekasih, ditikai jam malam

dan nyanyian ratus tahun menelan bunyi lecutan kusir bendi

serupa sauh terputus; aku mengingat kenangan yang berpasir

Kandangpadati, 2007

Kredo Untuk Dhini

emma haven makin sesak keberangkatan

kita di landai pantai yang riuh suara kendaraan

di petang yang penuh gumam berpasang-pasang orang

cahaya suar pecah di sebalik pandang

sebalik putaran padang. petang tercabik

sebab kita asing dalam lekat

β€œaku telah bertubuh ombak, sayang…

sebab esok atau lusa tak tahu hempas dimana”

kujeritkan

saat hilangku makin lengkap

berharap kau datang memandangi pantai

barang sejenak

2007

Susah untuk menjelaskan kenapa gue hanya bisa suka pada tulisan beberapa penyair saja. Ada satu alasan yang nggak bisa gue deskripsikan dalam bentuk kata-kata. Gue suka sajak yang ketika gue membacanya, maka akan ada ledakan-ledakan dalam diri. Gue merasa puisi itu hidup. Dan hanya mereka bertiga yang bisa memenuhi kriteria seperti itu. Sejauh ini, sih, ya. Belum tahu kalau nanti ketemu lagi penyair-penyair lain yang bakal gue idolakan πŸ˜€

Dan buku ini juga sempat menjadi sedikit masalah buat gue. Butuh perjuangan untuk membelinya karena ini buku lama. Gue memesannya di salah satu tokbuk online yang khusus menjual buku sastra. Saat itu gue bertekad, akan gue bayar berapapun ongkirnya, asalkan buku ini sampai di tangan. Padahal sebelumnya, gue ogah belanja buku kalau tokbuk onlinenya berlokasi diluar kota Jakarta atau Jabodetabek. Tapi waktu itu gue bela-belain cepet transfer duitnya karena takut keduluan orang; meskipun sebenernya gue tahu nggak akan ada yang mengincar buku lama ini. Tapi namanya juga sindrom ngebet pengen memiliki πŸ˜›

Nah, sampai lewat seminggu setelah membayar, paketnya nggak sampe-sampe juga ke Jakarta. Bikin gue agak keki. Setelah gue hubungi adminnya dan minta nomer resi, dikasih. Ternyata setelah dicek, resi itu tujuan kirimnya malah ke Jawa sana, dan namanya bukan nama gue. Makin keki! Setelah akhirnya berdebat sana-sini, disuruh ngecek segala ke kantor pos (gue paling males banget-banget berurusan sama yang namanya kantor pos!), dan akhirnya gue memutuskan untuk merelakan kalau buku ini hilang di jalan dan nggak ditemukan lagi. Pihak tokbuk online menawarkan menggantinya dengan buku lain, karena stok buku ini cuma ada sisa 1. Dan gue menolaknya mentah-mentah. Gue maunya buku itu, bukan buku lain. Diganti pake kamus harga sejuta pun gue nggak mau. Iya, sebut gue keras kepala, mungkin karena itu juga gue sering mendapatkan apa yang gue pengen πŸ˜›

Setelah akhirnya gue diem dan menahan rasa marah plus kecewa, ternyata mendadak buku itu mendarat sendiri ke Jakarta tanpa diketahui selama ini hilang ke mana -__-β€œ Asemnya, buku ini malah ketemu setelah gue keki, sebel, kecewa, dan berbagai rasa lainnya yang gue rasakan pasca dia menghilang di tengah perjalanan -_-β€œ

Tapi untungnya berjodoh juga dan sampai ke tangan. :)) Kayaknya sekian deh curhatnya. Intinya kalau penasaran tentang buku ini, silahkan nyari dan beli sendiri. Gue cuma bisa bilang, menurut penilaian gue, buku ini memang bagus dan sesuai selera gue. Dan bikin gue pengen punya cowok yang jago menghidupkan sebuah sajak. Sehingga bisa bikin stress gue berkurang :))

Entah kalau kalian πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s