Kesimpulan Review: ARSAS, SWTD, UH & FTDS – Santhy Agatha

Reviewnya satu-persatu bisa dibaca di sini:

1. A Romantic Story About Serena
2. Sleep With The Devil
3. Unforgiven Hero
4. From the Darkest Side

*

Di postingan-postingan sebelumnya gue udah membahas satu-persatu novel yang judulnya tersebut diatas *kelewat resmi, mput* :))

Kalau boleh gue bilang, dari 4 novelnya, tulisan Santhy Agatha selalu ‘kepleset’ di beberapa kalimat yang selalu dia ulang di semua novelnya.

1. Menggambarkan tokoh cowok yang serba sempurna, sebagai seorang taipan kaya yang arogan dan seenaknya. Hidup mereka serba perfect, bergelimang harta dan selalu… selaluuu dikelilingi cewek-cewek glamour.

Tapi dibalik kesempurnaan itu memang sih, digambarkan juga bahwa sebenarnya mereka lemah karena cinta dan perempuan-perempuan yang menjadi tokoh utamanya. Dan maaf, gue meralat kata-kata gue. Arogan bukan kesempurnaan, itu kekurangan. Jadi masih manusiawi-lah tokoh-tokoh di dalam keempat novel ini. Soalnya, gue pernah nemu tokoh cowok yang baik, ganteng, ramah, serba sempurna dan rasanya kurang manusiawi. Nggak ada cowok yang seperti malaikat. Tak pernah ada. Fiksi juga harus realistis *maap jadi curcol 😛

2. Menggambarkan si tokoh cewek sebagai cewek-cewek sederhana, lugu, tidak tahu apa-apa, namunt tertindas karena kekuasaan si cowok. Bagi gue ini klise; tokoh cowok ganteng jatuh cinta pada cewek sederhana plus dibumbui kisah-kisah kecil yaitu penolakan si cewek pada awalnya lalu akhirnya mereka tetap tak bisa memungkiri bahwa mereka saling mencinta. Dan menikah plus hidup bahagia selamanya. Inilah yang selalu disajikan dalam tiap novel roman. Dan gue merasa inti seperti ini ada di keempat novel tadi.

3. Menggambarkan tokoh-tokoh ceweknya yang tertidur seperti posisi janin meringkuk dalam rahim ibu. Baik cara tidur Serena, Lana, Elena, dan Sharin. Semuanya kayak gitu :)) mungkin penulis/pembaca lain kurang menyadari hal ini, tapi gue dejavu tiap membaca novel berikutnya (setelah membaca kisah pertama di novel Serena).

4. “Kau sudah siap untukku,” kalimat yang selalu diucapkan si tokoh utama cowok tiap si cewek udah yaaa.. begitulah. Lalu adegan selanjutnya 17+ :)) Kata-kata ini selalu ada bahkan banyak dan bertebaran di keempat novel tadi.

5. Gaya kepenulisan yang mirip novel terjemahan. Gue nggak akan komen soal ini, tiap penulis punya gaya penulisan yang berbeda kan 🙂

Intinya menurut gue, keempat novel ini punya banyak kesamaan, walaupun nama tokoh, judul dan pengemasan ceritanya berbeda. Tanpa disadari bahkan intinya sama, dan memberikan ending yang nyaris sama pula; tokoh cowok akan menikah dengan tokoh cewek, punya bayi, bahagia selamanya.

Tapi not bad-lah. Mengingat kisahnya yang soo drama dan gue memang butuh drama belakangan ini :p

*abis borong novel roman*

Sekian.

Sukses buat Santhy Agatha. :))

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s