Review: Jakarta Sebelum Pagi – Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Judul: Jakarta Sebelum Pagi
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Grasindo
Tahun Terbit: Februari 2017 (Cetakan Pertama)
Harga: – (hadiah ulang tahun. Ehe…)
Jumlah halaman: 280 hal.
ISBN: 9786023758449

*

Blurb:

“Jam tiga dini hari, sweter, dan jalanan yang gelap dan sepi …. Ada peta, petunjuk; dan Jakarta menjadi tempat yang belum pernah kami datangi sebelumnya.”

Mawar, hyacinth biru, dan melati. Dibawa balon perak, tiga bunga ini diantar setiap hari ke balkon apartemen Emina. Tanpa pengirim, tanpa pesan; hanya kemungkinan adanya stalker mencurigakan yang tahu alamat tempat tinggalnya.

Ketika—tanpa rasa takut—Emina mencoba menelusuri jejak sang stalker, pencariannya mengantarkan dirinya kepada gadis kecil misterius di toko bunga, kamar apartemen sebelah tanpa suara, dan setumpuk surat cinta berisi kisah yang terlewat di hadapan bangunan-bangunan tua Kota Jakarta.

*

Review:

Sebenarnya tak punya ekspektasi apa-apa tentang buku ini, sebab memilihnya hanya karena suka judulnya yang terdengar magis –setidaknya bagi saya, sih (saya sudah mengatakan ini hampir ratusan kali, entah di medsos atau orang-orang yang melihat saya sedang baca buku ini), bukan karena buku ini adalah fiksi terbaik versi Rolling Stones atau karena prestasi Ziggy di sayembara DKJ. Saya sudah punya bukunya yang Di Tanah Lada, tapi malah belum saya buka bungkusnya. (update: sekarang sudah)

Continue reading

Advertisements

Review: Di Tanah Lada – Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

Judul: Di Tanah Lada
Penulis: Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Oktober 2015 (Cetakan Pertama)
Harga: – (hadiah dari GPU)
Jumlah halaman: 244 hal.
ISBN: 9786020318967

*

Blurb:

Namanya Salva. Panggilannya Ava. Namun papanya memanggil dia Saliva atau ludah karena menganggapnya tidak berguna. Ava sekeluarga pindah ke Rusun Nero setelah Kakek Kia meninggal. Kakek Kia, ayahnya Papa, pernah memberi Ava kamus sebagai hadiah ulang tahun yang ketiga. Sejak itu Ava menjadi anak yang pintar berbahasa Indonesia. Sayangnya, kebanyakan orang dewasa lebih menganggap penting anak yang pintar berbahasa Inggris. Setelah pindah ke Rusun Nero, Ava bertemu dengan anak laki-laki bernama P. Iya, namanya hanya terdiri dari satu huruf P. Dari pertemuan itulah, petualangan Ava dan P bermula hingga sampai pada akhir yang mengejutkan.

Ditulis dengan alur yang penuh kejutan dan gaya bercerita yang unik, sudah selayaknya para juri sayembara memilih novel Di Tanah Lada sebagai salah satu juaranya.

*

Review:

Sebelum ini sudah membaca Jakarta Sebelum Pagi, dan usai menutup Di Tanah Lada, saya bertanya-tanya apakah Ziggy memang hobi membuat tokoh anak kecil yang lebih smart daripada seharusnya? Di Jakarta Sebelum Pagi, saya merasa bodoh ketika ‘berhadapan’ dengan Suki. Di buku ini, meski Ava (6thn) dan P (10thn) dibuat terkesan berpikiran seperti seorang anak kecil, tetapi saya tahu mereka bukan anak kecil biasa. Cara berpikir mereka, cara menganalisa sesuatu, cara memikirkan sebuah masalah, mereka sama sekali bukan anak kecil.

Continue reading

Review: Hororis Causa (13 Kengerian) – Komunitas Literasi Fiksimini

Judul: Hororis Causa – 13 Kengerian
Penulis: Komunitas Literasi Fiksi Mini
Penerbit: Penerbit AGPress
Tahun Terbit: September 2016 (Cetakan Pertama)
Harga: – (agak-agak lupa, belinya udah lama)
Jumlah halaman: 146 hal.
ISBN: 9786023960927

*

Blurb:

Hororis Causa adalah kumpulan cerpen yang ditulis oleh teman-teman yang tergabung dalam Komunitas Literasi Fiksimini. Berkat aktivitasnya di Fiksimini, beberapa teman mencoba untuk mengembangkan karya yang lebih panjang dari sekadar 140 karakter. Hasilnya adalah kumpulan cerpen bergenre horor. Sederhana saja ketika genre ini dipilih. Sebab kami adalah penulis pemula, maka genre horor lebih mudah dalam membangun drama, ketegangan, sekaligus kejutan. Tentu masih banyak kekurangan, namun siapa pun yang membaca buku ini, semoga mendapatkan hiburan lewat kengerian yang muncul dari setiap halamannya.

*

Review:

Sudah lama banget rasanya saya tidak membaca sekumpulan cerita. Apalagi horor. Duh, horor, beneran agak malas karena membayangkan horor adalah sekumpulan cerita tentang setan gentayangan yang sungguh sangat biasa dan sudah berulang kali diceritakan di film, buku, legenda, dan cerita lisan.

Tapi tenang, Hororis Causa berbeda dari itu, setidaknya setelah saya menyelesaikan seluruhnya. Memang tidak ada benang merah apa-apa dari 13 cerita di buku ini selain kengerian yang ditawarkan pada penulisnya. Hororis Causa sama sekali tidak menawarkan hantu cemen yang ketawa serem di atas pohon saat malam Jumat. Hororis Causa dan 13 penulisnya punya lebih dari itu –lebih dari sekadar horor biasa, ditambah sketsa-sketsa yang tak kalah menakutkan. Hem.

Continue reading

Sebuah Pengakuan Tentang BBI dan Ucapan Selamat Ulang Tahun

Sebenarnya saya belum menuliskan apa-apa seharian kemarin mengenai ulang tahun BBI, tapi akhirnya saya memutuskan menulis dan ikut menyuarakan apa yang saya rasa setelah membaca beberapa postingan member BBI –baik pengurus maupun member lainnya. Beberapa postingan saya pikir bagus dan cukup mewakili, salah satu yang paling saya sukai adalah postingan Kak Bzee dari Divisi Dana dan Usaha. Itu lho, divisi yang sering buat kalender sama mug kemudian sering nagihin utang abis tanggal gajian. *ditimpuk Kak Alvina*

Mengenai awal mula masuk BBI, saya tidak punya kisah manis seperti member lain. Sederhana saja, saya resmi menjadi member sekitar tahun 2013. Waktu itu saya anak perempuan yang patah hati karena banyak hal, dan kemudian seorang member BBI bernama Biru Cahya mengajak saya ngeblog buku. Waktu itu Biru sedang aktif-aktifnya, kemudian malah saya jadi polisi blog bukunya. Tukang bawel kalau beliau itu nggak kunjung update blog. Sungguh dunia yang lucu :))

Kembali ke topik. Karena sedang patah hati dan tidak bersemangat melakukan apa pun, akhirnya iseng saya mencoba buat blog buku dan mendaftarkannya ke BBI. Ternyata diterima. Sejak itu saya resmi menjadi anggota BBI. Sebelum di BBI, saya suka membaca tapi hampir tidak pernah menuliskan ulasan buku yang saya baca. Hanya sepatah dua patah kata di Goodreads. Tapi semenjak di BBI, saya bertemu banyak teman-teman baru yang seringnya bagus-bagus dalam menulis review buku dan itu cukup memotivasi juga.

Continue reading

Review: Lalita – Ayu Utami

Photo Credit: Dunia Buku

Judul: Lalita
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: Penerbit KPG
Tahun Terbit: September 2012 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp 50.000,-
Jumlah halaman: 256 hal.
ISBN: 9789799104939

*

Blurb:

Lalita menerima sejilid kertas tua berisi bagan-bagan mandala, dan sejak itu setiap hari pengetahuannya tentang sang kakek bertambah. Setiap kali pengetahuan itu bertambah banyak, setiap kali pula sang kakek bertambah muda dalam penglihatannya. Pada suatu titik ia bisa sepenuhnya melihat seorang remaja berumur tiga belas tahun, yang berdiri lurus kaku dan kepala sedikit miring seolah melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.

Apa hubungan semua itu dengan Candi Borobudur? itu akan menjadi petualangan Yuda, Marja, dan Parang Jati.

*

Review:

Agak lama jarak dari membaca Manjali dan Cakrabirawa sampai dengan membaca Lalita ini, sih. Ya, adalah beberapa bulan. Jadi setelah sejenak lupa dengan Sandi Yuda – Marja Manjali – Parang Jati, akhirnya ‘diingatkan’ dan ditarik lagi ke dalam kisah hidup ketiganya. Buku ini sejatinya masih kelanjutan dari Manjali dan Cakrabirawa. Jadi karena perseteruan Yuda dan Jati -serta kepergian Jati ke Jawa Timur dengan membawa serta Marja, hubungan mereka pun merenggang.

Sandi Yuda sendirian. Tapi kemudian ia bertemu seorang wanita 40-an bernama Lalita Vistara, seorang kurator dan pemilik galeri, perempuan kaya raya yang identik dengan warna Indigo. Perempuan itu misterius, namun awalnya Yuda tak tertarik. Tapi kemudian karena sebuah insiden di mana Yuda menyelamatkan hidupnya, Lalita pun mengundang Yuda masuk ke dalam kehidupannya yang kelam, menyusuri jejak masa lalu keluarganya yang keturunan Drakula.

Continue reading

Ketemu dan Ngobrol Santai dengan Eriko Ono Sensei, Komikus Hai Miiko!

Hari Minggu kemarin (26/3), saya mampir ke Gramedia Matraman karena diundang pihak Penerbit M&C! ke acara Meet & Greet with Eriko Ono Sensei. Buat kamu yang besar di tahun 1990-an dan 2000-an awal, pasti nggak asing dengan penerbit satu ini. Dulu waktu zaman saya (berasa tua banget sekarang), baca komik termasuk salah satu rutinitas harian yang menyenangkan, di antara apa-apa yang bikin mumet kepala (sok mumet, padahal cuma ulangan dan ngerjain PR tiap hari). Selain Elex Media yang komiknya rata-rata komik cowok, ada juga M&C! yang menerbitkan komik-komik dan sama-sama sepayung dengan Kompas Gramedia.

Salah satu komik yang mulai terbit sejak tahun 2002 silam adalah Hai Miiko. Awalnya Miiko diterbitkan di Jepang oleh sebuah penerbit besar bernama Shogakukan, tapi kemudian diterbitkan oleh M&C! dan dijual di Indonesia. Sebenarnya cerita Miiko ini sederhana banget, tentang seorang anak kelas 5 SD bernama Miiko Yamada dalam kesehariannya bersama keluarga dan kawan sekolahnya. Miiko seringkali minder karena tubuhnya lebih pendek dari anak seumuran, dan tak jarang dikira siswi kelas 2 SD! Ono Sensei juga kerap kali mendapat inspirasi dari kesehariannya. Beliau selalu berusaha mendekatkan pemikirannya dengan pikiran anak-anak, untuk bisa membuat cerita Miiko. Bahkan salah satu cerita dari komik terbaru Miiko, terinspirasi dari anak beliau sendiri.

Di Indonesia khususnya, ternyata penggemar Miiko sudah banyak –dan tidak hanya dari kalangan perempuan. Laki-laki juga ada yang suka baca Miiko, dan ketika Ono Sensei diberitahukan tentang ini di lokasi kemarin, dia tersenyum lebar dan mengatakan bahwa tidak menyangka Miiko begitu memikat di Indonesia. Ia mengatakan bahwa ia sangat menyayangi para pembacanya di Indonesia dan berharap Miiko akan selalu berjaya di hati para pembaca Indonesia. Selain itu, konon katanya pembaca Miiko di luar Jepang itu yang paling banyak memang di Indonesia sini. Terbukti sih dari keriuhan acara Meet & Greet yang digelar 2 hari berturut-turut di 3 tempat di Jakarta kemarin. Aulanya penuh, dan peserta bersorak gembira ketika Ono Sensi muncul dari belakang panggung.

Continue reading

Review: Imaji Terindah – Sitta Karina

Judul: Imaji Terindah
Penulis: Sitta Karina
Penerbit: Literati
Tahun Terbit: Desember 2016 (Cetakan Pertama)
Harga: Rp 69.000,-
Jumlah halaman: 290 hal.
ISBN: 9786028740609

*

Blurb:

“Jangan jatuh cinta kalau nggak berani sakit hati.”

Tertantang  ucapan  putra rekan  bisnis  keluarganya pada sebuah jamuan  makan  malam, Chris Hanafiah memulai permainan untuk memastikan dirinya tidak seperti yang pemuda itu katakan.

Dan Kianti Srihadi—Aki—adalah  sosok  ceria  yang  tepat untuk proyek kecilnya ini.

Saat Chris yakin semua akan berjalan sesuai rencana,  kejutan  demi  kejutan, termasuk rahasia Aki, menyapanya. Membuat hari-hari Chris tak lagi sama hingga  menghadapkannya pada sesuatu yang paling  tidak  ia antisipasi selama ini, yakni perasaannya sendiri.

*

Review:

Honestly, ini pertama kalinya membaca seri Hanafiah-nya Sitta Karina, sebab sebelumnya baca Aerial –itu juga udah beberapa tahun yang lalu. Salah satu alasan saya nggak baca cerita-cerita bergenre teenlit lagi belakangan ini sebab kelamaan rasanya teenlit isn’t my cup of tea, really no. Mungkin juga efek sugesti dalam kepala bahwa teenlit identik dengan cerita menye-menye. Tapi hari ini, barusan saja, Sitta Karina mengubah persepsi dalam kepala saya. Well, sebelum lebih lanjut, selewat tentang Imaji Terindah dulu, ya.

Imaji Terindah berkisah mengenai tentang Chris Hanafiah –seorang putra keluarga Hanafiah Group yang terkenal dan kaya raya, pemilik sepertiga wilayah Indonesia. Chris dibesarkan dalam keluarga yang berada, serba mewah, berkelimpahan harta, dan tak pernah kesulitan mendapatkan apa pun termasuk perempuan di usianya yang masih remaja. Semua perempuan di sekolah ingin menjadi gadisnya, mereka memanggilnya Prince Christopher. Hingga suatu kali, ada seorang gadis Jepang bernama Kianti –yang sebenarnya dipanggil Aki oleh orang terdekatnya, muncul di sekolah. Kali pertama, Christ tertawan. Ia merasa sosok Aki menarik. Perempuan ini kemudian kerap dipanggilnya Hime —princess, yang kemudian sudah berkali-kali pula dimintanya menjadi pacar, tapi Aki selalu menolak. Aki ingin mereka bersahabat untuk alasan yang tidak pernah Christ ketahui.

Tapi dengan kemunculan Aki ini pula kemudian hidup Christ berubah drastis. Meski harus melewati pertengkaran dan perselisihan bahkan dengan sahabatnya sendiri, tapi Chris mendapatkan banyak hal baik bersama Aki. Seolah gadis itu mengajarinya menjadi anak remaja dengan hati yang lebih manusia –berbeda dengan lelaki-lelaki Hanafiah yang kerap berganti perempuan, dan tak pernah ambil pusing dengan itu. Chris menyayangi Aki, dan berniat untuk terus menemani gadis itu selamanya –terlebih setelah tahu bahwa Aki mengidap sebuah penyakit. Tapi, seseorang selalu muncul di antara mereka, namanya Kei –karib Aki dari Jepang. Kei jauh, tapi bahkan bisa dengan mudah membangun mimpi buruk dalam kepala Chris!

Percayalah, kelanjutannya lebih seru daripada yang bisa kalian duga. Terlebih jika kalian pembaca serial Hanafiah dalam kasta newbie macam saya. Hehe.

Bagian ini yang saya tunggu-tunggu, bagian di mana saya bisa mengomentari seisi novel ini tanpa membahas isi ceritanya. Untuk kategori sebuah novel remaja, saya bisa mengatakan bahwa Sitta Karina menulisnya dengan elegan. Bukan, bukan sebab klan Hanafiah ini adalah orang tajir melintir yang hartanya nggak habis-habis, tapi sungguh penulisannya, diksinya, rapi sekali. Jauh dari teenlit yang pernah saya baca atau jenis teenlit yang pernah beberapa kali memusingkan kepala saya. Sitta Karina sama sekali tidak menuliskan background seorang prince charming muda kaya raya dengan deskripsi yang norak dan berlebihan. Banyak istilah Jepang juga dalam buku ini, tapi bukan masalah, sih. Ada penjelasannya. Dan dari deskripsi mengenai mobil favorit klan Hanafiah, jenis dessert yang diperkenalkan Chris pada Aki, maupun hal lainnya yang tak kalah penting dalam membangun cerita ini, saya berani taruhan, risetnya beneran serius. Hahaha. Diksinya beneran rapi, editingnya juga. Rasanya seperti membaca novel dewasa dengan tokoh remaja. Semuanya mengalir, dan sesaat saya lupa bahwa saya sedang membaca kisah percintaan anak remaja.

Tapi –ada tapinya juga, sih. Saya merasa di beberapa bagian saya mendapati bahwa percakapan anak-anak itu terlalu ‘berat’ untuk usia mereka. Berat, maksudnya mereka sesekali terlihat menggunakan istilah-istilah yang saya rasa kurang lazim digunakan anak umur segitu –menyelipkannya di tengah-tengah bahasa gaul (dan sialnya lupa bagian mana, akan diedit jika menemukan halamannya nanti). Tapi entah ya kalau di sekolah elit, mungkin anak-anaknya memang sudah mengenal istilah tersebut dan terbiasa mengucapkannya dalam keseharian. Kalau menggunakan beragam bahasa asing, saya maklum, sebab banyak memang anak remaja yang bisa menguasai banyak bahasa karena latar belakangnya yang beragam –mungkin pernah sekolah di negara lain, memang diajari orangtua, dan sebagainya.

Sisanya saya tidak tahu harus mengomentari apalagi dari Imaji Terindah. Ini kali pertama saya merasa bahagia usai membaca sebuah cerita teenlit. Saya masuk lagi ke dalam masa-masa sekolah yang penuh keriaan masa muda, dan kemudian saya merasa ceritanya nggak menye-menye, deskripsinya tidak berlebihan dan menyebalkan, dan tentu plotnya yang masih rasional dan ending yang masuk akal.

4 dari 5 bintang untuk Sitta Karina dan Imaji Terindah.

Salah satu bacaan bagus saya minggu ini.

*

“Legend says, when you can’t sleep at night, it’s because you’re awake in someone else’s dream.”pg. 205